
“Hei, kamu anak baru ya?” sapa salah satu anak yang kamarnya berada di lantai sama dengan Rose.
Mata biru gadis itu menyipit dan senyum manis terulas di wajahnya yang berbintik. “Namaku Gea, kamu siapa?”
“Aku Rose, apa kamu sudah lama tinggal disini?”
“Lumayan sih, aku sudah disini selama setahun. Kamu pasti dimasukkan kesini karena kamu tidak sengaja mengetahui rahasia mereka kan?”
“Iya, apa mereka melakukan itu pada semua orang?”
“Tentu saja tidak, kita termasuk orang yang beruntung. Biasanya mereka akan menyingkirkan orang yang dinilai ancaman. Hanya orang yang mereka percaya akan tutup mulut yang ada disini. Kamu pasti belum tahu dimana ruang makan berada kan? Ayo, kita sama-sama kesana.”
“Okay, terimakasih.”
Gadis itu tersenyum dan menggandeng tangan Rose menuju lift, jarinya memencet tombol nomor satu. Tak lama kemudian, lift itu sampai di lantai tujuan mereka. Gea menarik Rose menuju sebuah ruangan besar dengan beberapa meja dan bangku Panjang, dan beberapa konter yang menyediakan makanan.
“Biasanya menunya akan berubah setiap hari, jadi kamu ambil saja yang ingin kamu makan. Tapi jangan sampai tidak habis, nanti kamu bisa dimarahi.”
Rose mengikuti Langkah Gea, mengambil nampan piring, serta sendok dan garpu. Dia melirik makanan yang disediakan hari itu. Ada ayam panggang, sayur sop, sosis goreng, ikan yang dibumbu pedas, dan telur goreng. Rose mengambil nasi, ayam, dan sosis. Dia menunggu hingga Gea selesai mengambil makanan dan duduk di meja yang sama dengan gadis itu.
“Apakah setiap hari makanannya enak seperti ini?”
Gea tertawa kecil mendengar pertanyaan Rose, “Memang menunya enak setiap hari, kamu tidak perlu khawatir.”
Rose mengangguk, mereka berdua pun makan sambil mengobrol. Kebanyakan Rose bertanya pada Gea seperti apa kehidupan di tempat ini, dan apa saja yang harus dia perhatikan. Tiba-tiba terdengar sorak sorai dari tempat pengambilan makanan. Segerombolan remaja tengah mengerumuni seorang gadis yang kini basah kuyup terkena kuah makanan.
Gadis itu menundukkan kepalanya, rambut perak panjangnya yang tergerai kini basah dan kotor dengan beberapa potongan sayur. Telinganya yang lancip bergerak ke bawah, seakan mencerminkan perasaan si pemilik. Tunggu, telinga lancip? Rose memincingkan mata, berusaha memastikan kalau dia tak salah liat. Namun tak peduli berapa kali ia melihat, gadis yang basah kuyup itu tetap punya telinga yang lancip.
“Gea, siapa gadis itu?” tanya Rose sambil melirik ke arah gerombolan yang masih berkerumun.
Gea menolehkan kepala dan melihat dengan tatapan datar. “Oh, itu Gina, dia elf.”
“Elf katamu? Mereka benar-benar ada?”
“Ah, aku lupa. Kamu pasti belum pernah melihat mereka sebelumnya. Aku juga kaget waktu pertama kali tahu. Elf sebenarnya ada, dan jumlah mereka cukup banyak. Hanya saja mereka menyembunyikan diri. Gadis itu tidak memiliki keluarga lagi, itu sebabnya dia tinggal disini.”
“Lalu, kenapa mereka menganggu gadis itu? Apa dia melakukan kesalahan?”
“Tidak, Gina tidak pernah menganggu yang lain. Mereka menganggunya karena Elf tidak bisa membenci orang. Jadi apapun yang mereka lakukan padanya, dia akan memaafkan mereka.”
“Hey, that’s rude. Mereka tidak seharusnya melakukan itu. Apa tidak ada yang menghentikan mereka?”
“Pengurus tempat ini sudah beberapa kali menegur mereka, tapi mereka tetap saja melakukannya. Lagipula, yang mereka lakukan itu tidak membahayakan, jadi akhirnya mereka dibiarkan.”
“Aku kira peraturan tempat ini tidak boleh bertengkar dengan sesama penghuni?”
__ADS_1
“Itu bukan pertengkaran karena Gina tak pernah melawan.”
“Aku tak bisa membiarkan semua ini,” kata Rose.
Sebelum Gea sempat menghentikannya, Rose sudah menghampiri gerombolan itu.
“Hei kalian, hentikan itu! Apa kalian tidak malu menganggu satu gadis beramai-ramai?!”
Gerombolan remaja itu saling melihat satu sama lain, salah satu dari mereka menjawab, “Siapa kau? Jangan ikut urusan kami.”
“Tak penting aku siapa, sebaiknya kalian berhenti sebelum aku melaporkan kalian.”
“Aku tahu siapa dia, dia penghuni baru di kamar 106,” kata remaja yang lain.
“Kamu cuma penghuni baru disini, jangan sok jadi jagoan!” kata remaja pertama yang menjawab Rose.
“Ada apa ini?” sebuah suara menginterupsi mereka.
Mereka semua menoleh dan melihat Leona tengah berdiri dengan tangan disilangkan.
“Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?”
“Mereka menganggu gadis Elf ini,” kata Rose.
Leona memincingkan mata dan menatap para remaja itu dengan tajam. “Aku rasa kalian sudah tahu aturan disini. Tidak boleh ada pertengkaran antara penghuni. Apa aku harus menghukum kalian baru kalian paham?”
“Cukup. Jangan kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan pada Gina setiap hari. Mulai hari ini tidak ada yang boleh menganggu penghuni lain. Apa kalian mengerti?” potong Leona.
“Kami mengerti,” jawab para remaja itu.
“Sekarang bubar dan lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan. Kalian berdua, ikut aku.”
Rose dan Gina mengikuti Leona memasuki sebuah ruangan kosong. Dari beberapa sofa dan sebuah TV besar yang ada dalam ruangan, tampaknya itu adalah ruang santai.
“Aku memanggil kalian berdua untuk mengatakan beberapa hal. Kamu, Rose, ini hari pertamamu disini, jadi sebaiknya kamu tidak mencari terlalu banyak musuh. Sementara kamu Gina, seharusnya kamu melaporkan apa yang terjadi. Aku menunggu laporanmu tapi kamu tak mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa menghukum mereka atau membelamu jika kamu diam saja. Fasilitas ini besar, dan ada banyak penghuni di dalamnya, aku tidak bisa mengawasi kalian satu demi satu. Lain kali, jangan diam saja. Apa kalian berdua paham?”
“Aku paham,” jawab Rose.
“Iya, maafkan aku,” jawab Gina lirih.
“Sudah, bersihkan badanmu. Jangan sampai ini terulang lagi,” kata Leona kemudian meninggalkan mereka berdua.
Rose menoleh saat dia merasa Gina menarik lengan bajunya, “Ya?”
“Terimakasih,” kata Gina lirih.
__ADS_1
Bahkan dengan suara yang lirih pun Rose bisa mendengar nada suaranya yang merdu.
“Sama-sama. Namaku Rose, salam kenal,” ujar Rose sambil mengulurkan tangan.
“Gina,” jawab Elf itu sambil menyambut uluran tangan Rose.
“Kalau tidak keberatan, kamu mau jadi temanku?” tanya Rose dengan bersemangat.
Gina menatap Rose dengan terkejut, seakan tidak percaya dengan ucapannya, “Kamu ingin jadi temanku?” katanya sambil menunjuk diri sendiri.
“Iya, aku belum pernah bertemu dengan Elf sebelumnya. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Aku rasa kita bisa jadi teman yang baik.”
Gina terdiam beberapa saat dan tersenyum lebar. Matanya yang hijau menyiratkan perasaan senang,
“Tentu saja aku mau menjadi temanmu! Ini pertama kalinya aku memiliki teman.”
“Eh? Kenapa kamu tidak punya teman?”
“Aku tidak tahu, mungkin karena aku satu-satunya Elf disini. Penghuni yang lain selalu mengangguku, sementara yang lain menjauh karena mereka tidak ingin kena ganggu juga.”
“Jangan hiraukan mereka, mulai dari sekarang aku akan melindungimu.”
“Benarkah?”
“Aku janji,” kata Rose.
...****************...
“Kamu mau kemana kak?” tanya Elga pada Zi yang tampak bersiap keluar.
“Aku akan mengunjungi safe house,” jawab Zi.
“Bertemu dengan Rose?”
Zi memakai jaket hitam kesukaannya dan sebuah kacamata hitam bundar, “Ada hal yang ingin kupastikan.”
“Katakan padaku kak, apa kamu menyukai wanita itu?”
“No, no, it’s not like that. I’m just curious about something,” sanggah Zi.
“Baiklah,” kata Elga dengan tidak yakin. Entah kenapa dia merasa ucapan kakaknya itu akan berbalik menghantamnya kelak.
“Biarkan saja dia, nanti juga tahu sendiri,” sahut Harvey.
Sementara itu Zi bergegas pergi tanpa menyahut perkataan mereka.
__ADS_1
~[see ya in next chapter]