Unravel

Unravel
Chapter 11


__ADS_3

Rose mengetuk-ketukkan jarinya di meja mengikuti irama lagu yang didengarnya. Wanita itu menjilat bibirnya yang kering, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Hari ini dia akan belajar mengendalikan kemampuannya dengan Leah.


“Hai, maaf ya. Apa kamu menunggu lama? Aku tadi masih mengajar kelas,” tanya Leah.


“It’s okay, aku tidak buru-buru.”


“Ayo ikut aku,” ujar Leah.


Gadis itu menuntun Rose menuju sebuah tanah lapang dengan rumput hijau dan bunga-bunga di sekitarnya. “Duduklah di atas alas itu,” kata Leah menunjuk alas yang sudah disediakan.


Setelah duduk bersila, Rose melihat Leah, “Apa yang harus aku lakukan?”


“Pejamkan matamu, dan kosongkan pikiranmu. Fokus pada sensasi yang ada di sekitarmu, lalu fokus pada emosi positif yang kamu punya. Bayangkan sebuah tempat hampa, lalu bayangkan bagaimana kamu ingin mengubah tempat itu. Kamu bisa mengubah pemandangan, isi, atau apapun di dalamnya. Aku akan memberimu waktu sepuluh menit.”


Rose memejamkan matanya dan menghilangkan pikiran-pikiran khawatir yang ada di kepalanya. Dia menghirup dan menghela nafas perlahan, merasakan segarnya udara di pagi hari dan mendengarkan suara burung berkicau di kejauhan.


Rose memfokuskan dirinya pada semua emosi positif yang dirasakannya saat ini dan mulai membayangkan tempat yang dia inginkan. Rose membayangkan bangunan-bangunan dengan cahaya warna-warni, langit berwarna biru, orange dan kuning, serta matahari senja. Tempat itu kini terlihat seperti kota yang indah.


“Bagaimana?” tanya Leah saat Rose membuka matanya.


“That’s amazing. I feel at ease in there.”


“Of course, it’s part of you. But for other people, it will be deadly. Remember that. Apa kamu punya nama untuk void mu?”


“Nama?” Rose tertegun sejenak, “Aku akan menamainya Everglow.”


“Always shining huh? Good name. Pastikan kamu ingat bagaimana penampilan voidmu, karena nanti kamu akan memerlukannya.”


“Apa kita akan mencoba memindahkan sesuatu ke void sekarang?”


“Yes, aku sudah menyediakan barang untukmu,” kata Leah sambil mengeluarkan sebuah buku.


“Sekarang, perhatikan baik-baik. Caranya untuk memindahkan barang, atau apapun itu ke dalam void adalah, bayangkan kamu membuka sebuah pintu. Pintu ini bisa berbentuk seperti apapun yang kamu mau. Fokus pada emosi lega dan benda yang ingin kamu pindahkan. Jika kamu berhasil, maka benda itu akan pindah ke dalam void.”


“Apa yang terjadi jika aku gagal?”


“Ada dua kemungkinan, antara benda itu akan tetap disini, atau mungkin dia akan berpindah separuh.”


“Wait… jika yang ingin aku pindahkan adalah mahluk hidup, artinya mereka akan terbelah menjadi dua?” tanya Rose dengan wajah pucat.


“Yes.”


“Ada hal yang lebih buruk daripada itu?”


“Vortex tidak hanya bisa memindahkan barang tapi juga menyerap sihir dan kutukan. Artinya jika kamu gagal, kutukan itu akan mengenaimu. Tergantung dari seberapa lethal kutukannya, kamu bisa saja mati.”

__ADS_1


“You mean curse is real?” tanya Rose dengan terkejut.


“Tentu saja itu semua nyata. Aku bisa melakukannya,” jawab Leah.


“Apa kamu juga penyihir Leah?”


“Aku lebih suka jika kemu menyebutku Wiccan.”


“Apa ada tips agar aku bisa berhasil?” tanya Rose berusaha fokus pada permasalahannya sekarang.


“Jangan pernah ragu atau takut, hanya itu.”


“Great,” ujar Rose dengan terpaksa.


Rose merasa kemampuannya ini cukup menyusahkan. Semua orang pasti akan merasa takut secara alami saat mereka tahu mereka bisa saja terluka atau mati. Namun justru itu satu-satunya hal yang tidak boleh dia rasakan.


Wanita itu menatap lekat-lekat buku yang ada di hadapannya. Dia membayangkan perasaan lega setelah suatu masalah terselesaikan sambil terus fokus pada buku itu. Tiba-tiba buku itu lenyap dari hadapan Rose, bersamaan dengan perasaan berat di dadanya.


“Ugh.. apa aku berhasil?” tanya Rose.


“Yes, kamu berhasil. Apa yang kamu rasakan?”


“Aku merasa agak berat dan nyeri di dada.”


“Baiklah."


Sepanjang pagi itu Rose habiskan dengan memindahkan benda-benda ke dalam void. Beberapa berhasil, dan ada juga yang gagal dan hanya masuk separuh. Leah melirik jam tangannya yang menunjukkan jam sebelas.


“Let’s stop here today,” katanya.


Rose menganggukkan kepalanya, kepalanya terasa pusing dan nafasnya sedikit tersengal-sengal. Meskipun Leah sempat memberikan waktu untuk beristirahat, dirinya masih merasa semua tenaganya terkuras.


“Good job Rose, pelajaran selanjutnya kita akan mencoba memindahkan sihir dan kutukan ke void.”


“Kapan pelajaran selanjutnya?”


“Aku akan menghubungimu nanti. I heard you will start working soon,” kata Leah.


“Yeah, aku akan menjadi penjaga perpustakaan di SMP terdekat mulai hari Senin.”


“Tunggu saja kabar dariku, sementara itu aku sarankan agar kamu melatih yang kuta pelajari sampai kamu bisa melakukannya dengan lancar.”


“I’ll do that, terimakasih Leah.”


...****************...

__ADS_1


“Ini buku yang kamu pinjam, jangan lupa kembalikan tiga hari lagi,” ujar Rose pada murid yang meminjam buku.


Sudah tiga hari sejak Rose bekerja menjadi penjaga perpustakaan. Tak seperti yang dia sangka, dirinya cukup menikmati pekerjaan ini. Suasana perpustakaan yang tenang, dan banyak buku yang bisa dia baca di saat senggang membuat Rose merasa senang.


Dirinya dan Gina juga semakin dekat setelah dia menyelamatkan Elf itu. Gina bahkan memberinya beberapa tips untuk memindahkan sesuatu ke void.


Rose membereskan barang-barangnya saat dia mendengar bel pulang sekolah. Dia melangkah dengan cepat menuju ke safe house, hari ini dia berjanji akan menemani Gina ke toko buku.


Sembari berjalan, Rose tak dapat menahan dirinya dari memikirkan masa lalunya. Tak pernah dia sangka kalau dia akan menjadi seperti ini sekarang. Meskipun dia masih sering mendengar suara-suara itu, paling tidak dia sudah bisa melanjutkan hidup seperti biasa.


“TIIIN!”


Suara klakson mengagetkan Rose dari lamunannya. Dia melihat sebuah truk pasir melaju kencang tanpa kendali menuju ke seorang anak kecil di depannya. Truk itu membunyikan klakson berkali-kali berusaha mengingatkan anak itu untuk menghindar, namun anak itu malah terdiam di tempat.


Rose melihat kejadian itu dengan tubuh gemetar, dia harus melakukan sesuatu untuk menolong anak itu. Bayangan darah dan organ tubuh yang berceceran memenuhi pikiran Rose.


“NO!!!” teriak Rose.


Mendadak dia merasakan tenaga besar yang meledak dari dalam tubuhnya, dan rasa sakit luar biasa di dadanya. Rose jatuh tergeletak di jalan. Sebelum kehilangan kesadarannya, samar-samar dia bisa melihat anak itu selamat, sementara truk pasir itu menghilang entah kemana. Kemudian semuanya menjadi gelap.


Di tempat lain.


“Ketua, ada laporan penting,” kata seorang wanita berambut pendek pada wanita lain dengan rambut panjang yang duduk di sebuah meja.


Wanita yang duduk di meja itu masih membolak-balikkan kertas-kertas di tangannya. Meja yang dia duduki sendiri penuh dengan tumpukan kertas-kertas. “Ada apa?” tanya wanita itu tanpa menoleh.


“Ada seorang manusia yang baru saja masuk ke safe house beberapa hari ini. Berdasarkan laporan, manusia ini memiliki kemampuan khusus yang disebut dengan vortex. Dia bisa memindahkan barang ke dalam void. Sejauh ini keluarga Mavis sudah menangani kasusnya. Tapi tadi ada laporan bahwa dia baru saja memindahkan sebuah truk pasir di jalan dengan beberapa saksi mata.”


“Apa katamu?!” kata wanita berambut panjang.


“Aku sudah mengirim beberapa orang dari keluarga Mavis ke tempat kejadian untuk menghapus ingatan para saksi. Manusia itu saat ini sedang ada di klinik. What’s your order?”


Wanita berambut panjang itu mengetuk-ketukkan jarinya di meja. “Seberapa besar kemampuan manusia ini?”


“Leah bilang dia masih belum bisa mengendalikan kemampuannya sepenuhnya.”


“Apa dia laki-laki atau perempuan?”


“It’s a she.”


“After she wake up I want to meet her. Give me the complete report about vortex ability.”


“Yes ma’am.”


[~See you next chapter]

__ADS_1


__ADS_2