
“Kamu sudah bangun?” suara wanita yang lembut menyambut Rose saat ia membuka mata. Rose meringis kesakitan saat menekuk tubuhnya untuk duduk.
“Pelan-pelan saja,” kata wanita itu lagi.
Rose menatap wanita cantik dengan rambut coklat muda panjang yang berdiri di hadapannya. Wanita itu mengenakan jas lab berwarna putih dan memegang papan dada dan juga pena. Di saku jasnya, tampak sebuah stetoskop menggantung.
“Siapa kamu?” tanya Rose dengan suara serak.
“Namaku Hazel, aku kepala perawat di klinik ini. Kamu sudah tidak sadar selama dua jam.”
“Klinik?” seketika itu juga Rose mengingat apa yang terjadi padanya.
“Dimana Zi dan Elga?”
“Mereka sedang pergi dan membereskan beberapa hal. Jangan khawatir, mereka akan kembali sebentar lagi.”
“Apa sebenarnya mereka itu? Aku melihat mereka punya taring dan kuku… apa mereka bukan manusia?”
“Aku tidak bisa menjelaskan itu, mereka akan menjawab pertanyaanmu nanti. Untuk sementara ini, apa kamu mau makan?”
Rose menatap Hazel dengan tatapan curiga, “Apa kamu tahu siapa sebenarnya mereka? Jangan-jangan kamu juga sama seperti mereka?”
“Tenanglah, tak penting aku ini apa. Yang penting sekarang, kamu harus pulih dulu,” kata Hazel berusaha menenangkan Rose.
“Biarkan saja dia Hazel, aku akan menjawab pertanyaannya,” ujar Zi yang baru saja memasuki ruangan.
Hazel pun mengangguk dan meninggalkan Rose bersama Zi.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Menurutmu bagaimana? Aku baru saja menyaksikan sesuatu yang diluar nalar. Kenapa mereka dan Elga punya cakar dan juga taring? Mahluk apa sebenarnya kalian?”
“Keluarga Claus menyebut kami Aeternum, tapi nama kami sebenarnya adalah Noctacian. Kami adalah mahluk yang memakan daging manusia yang sudah mati. Kami biasanya menggali kuburan untuk mendapatkan makanan kami, atau membeli mayat di rumah sakit dan rumah duka.”
Rose menatap kedua mata Zi, berusaha melihat apa laki-laki itu mengatakan hal yang sesungguhnya. “Apa kalian akan memakanku?”
“Tentu saja tidak. Sudah kubilang kami hanya makan yang sudah mati.”
“Tapi itu artinya kalian bisa saja membunuh seseorang untuk memakan mereka kan?”
__ADS_1
“Ya kami bisa melakukan hal itu, tapi kami hanya melakukan hal tersebut pada musuh kami, atau orang yang menjadi ancaman bagi kami.”
“Maksudmu orang yang mengetahui rahasia kalian?”
“Kalau mereka tetap diam, kami akan membiarkan mereka. I’m sure you’re a smart woman. You know what to do, right?”
“Aku tak akan mengatakan pada siapapun soal ini. Tapi bagaimana dengan pekerjaan dan tempat aku tinggal?”
“Kami akan menempatkanmu di fasilitas perlindungan. Disana kamu bisa tinggal dengan aman. Untuk pekerjaanmu, aku akan bertanya pada kenalanku di salah satu sekolah. Mungkin kamu bisa bekerja sebagai penjaga perpustakaan atau admin.”
“Terimakasih. Maaf aku sudah meragukanmu. Tapi aku juga merasa kesal karena kalian menghilang begitu saja.”
“Kami menghilang untuk keselamatanmu. Keluarga Claus akan mengintrogasimu jika mereka mendapati bahwa kamu berhubungan dengan kami.”
“Yah, pada akhirnya mereka tetap saja menculikku.”
“Jangan khawatir, kamu akan aman di fasilitas itu nanti. Apa ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?”
“Bisa aku pindah kesana malam ini?”
“Lebih cepat lebih baik. Aku akan menyuruh Elga menjemputmu nanti.”
Sementara itu, Zi yang ada di luar ruangan menghampiri Elga. Laki-laki itu mengamati luka-luka Elga yang sudah menutup dan digantikan oleh kulit baru.
“El, kamu antar Rose ke safe house nanti,” ujarnya.
“Hah? Kenapa harus aku?” gerutu gadis itu.
“Diantara kita, hanya kamu yang dikenalnya. Dia akan lebih tenang kalau dengan sosok yang sudah dia kenal.”
Elga mengamati ekspresi wajah kakaknya dengan seksama. Dia paham kalau kakaknya melakukan ini karena mereka telah melibatkan Rose ke dalam dunia mereka. Wanita itu mungkin tak memiliki pilihan lain selain tinggal di safe house untuk waktu yang lama. Tapi Elga juga bisa menangkap sorot mata kakaknya yang penuh dengan rasa penasaran.
“Hati-hati kak, jangan terlalu penasaran.”
“Aku tahu, aku hanya penasaran kenapa reaksinya biasa saja. Orang lain yang ada dalam posisinya biasa bereaksi lebih buruk. Entah mereka histeris, mejadi depresi, atau berusaha membunuh diri mereka sendiri. Tapi selain merasa ketakutan, aku tak melihat reaksi lain darinya”
Elga hanya menggelengkan kepala, gadis itu tahu saat kakaknya penasaran, tak aka nada yang bisa menghentikannya. Laki-laki itu akan mencari tahu sampai menemukan jawaban yang membuatnya puas. Elga melihat Rose yang berjalan ke arah mereka.
“Aku pergi dulu kalau begitu.”
__ADS_1
Zi melihat kepergian mereka berdua dengan seulas senyum. Di kepalanya dia sudah menyusun beberapa rencana untuk memenuhi rasa penasarannya.
...****************...
Rose menatap jalanan dengan tatapan kosong. Wanita itu sedang berada dalam sebuah mobil bersama dengan Elga menuju ke safe house. Beberapa jam telah berlalu sejak mereka berdua meninggalkan klinik. Rose menghabiskan beberapa jam tersebut untuk membereskan barangnya, mengembalikan motor yang dia sewa, dan berpamitan dengan Annie.
Gadis itu tampak bingung kenapa Rose pindah lagi padahal dia baru beberapa bulan berada di kosnya. Namun gadis itu tak banyak bertanya saat melihat Elga bersama dengan Rose. Dalam hatinya, Rose menduga-duga kalau Annie mengetahui sesuatu. Hanya saja, sama seperti Annie, Rose memilih untuk tetap diam selama dia membereskan barangnya.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gerbang dengan beberapa penjaga. Salah satu penjaga itu mengetuk kaca mobil. Elga membuka kaca jendela dan mengatakan secara singkat kalau Rose datang bersamanya. Penjaga tersebut mengangguk dan mempersilahkan mobil mereka melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali berhenti di sebuah bangunan besar yang tampak seperti penginapan. Rose ikut turun saat dia melihat Elga turun. Mereka berdua lalu menurunkan kardus-kardus yang berisi barang Rose. Untungnya, Rose tak memiliki banyak barang. Setelah selesai menurunkan kardus, Rose kembali mengamati bangunan di depannya.
“Ayo, aku akan mengenalkanmu pada pengurus tempat ini.”
Rose mengikuti Elga dan berjalan memasuki bangunan itu sambil membawa kardusnya. Elga menyuruhnya menaruh barang yang ia bawa di sebuah lobby. Beberapa sofa panjang dengan satu buah meja besar ada di lobby itu. Seorang wanita seumuran Rose menghampiri mereka berdua.
“Elga, apa dia orangnya?” tanya wanita itu.
“Ya, kamu sudah menerima informasinya?”
“Sudah. Bawa saja dia ke kamar nomor 106, ini kuncinya. Pastikan kamu memberitahunya peraturan yang ada disini.”
“Bukannya itu pekerjaanmu?”
“Kamu yang membawanya kesini. Bersyukurlah ketua masih mengijinkannya masuk.”
Elga berbalik menatap Rose, “Wanita ini namanya Leona, dia adalah pengurus dari tempat ini. Jika ada apa-apa kamu bisa mencarinya. Untuk sekarang, ikuti aku ke kamar barumu.”
Rose mengangguk dan tersenyum pada Leona, kendati wanita itu tak membalas senyumnya dan hanya melihatnya dengan tatapan menyelidik. Rose dan Elga pun menaiki sebuah lift yang ada di dekat lobby dan menuju lantai tiga. Sesampainya disana, Rose mengikuti Elga hingga mereka mencapai kamar nomor 106. Elga membuka kunci kamar tersebut dan membiarkan Rose masuk ke dalam kamar lebih dulu.
“Kamar ini akan menjadi kamarmu selama kamu disini. Kamu tidak perlu membayar biaya kamar selama disini. Tapi kamu bisa membayar iuaran listrik, air, makanan, dan internet setiap bulan ke Leona. Peraturan yang ada disini tidak banyak, kamu harus kembali kesini maksimal pukul sepuluh malam, karena pintunya akan dikunci setelah itu. Sarapan dilaksanakan pukul tujuh, dan makan malam pukul enam. Ada piket untuk membersihkan setiap lantai dan juga kamar mandi. Nanti Leona akan memberitahumu kamu piket di hari apa. Kamu bisa menggunakan semua fasilitas yang ada disini, tapi kamu tidak boleh bertengkar dengan penghuni lain disini. Apa kamu paham?”
Rose mengangguk, baginya semua peraturan itu seperti asrama, hanya saja disini lebih leluasa. “Terimakasih,” ujarnya.
“Kalau begitu aku pergi dulu,” kata Elga menutup pintu kamar Rose.
Rose mengamati ruangan yang akan ditempatinya. Ruangan itu tak terlalu luas, tapi cukup untuk kegiatan sehari-hari. Ada sebuah jendela yang cukup besar dimana Rose bisa melihat pemandangan lapangan yang ada di bawah. Beberapa anak tampak bermain kasti dan kejar-kejaran di lapangan. Rose menyunggingkan seulas senyum di bibirnya.
“Yah, ini juga awal yang baru.”
__ADS_1
~[see ya in next chapter]