
Rose terbangun dengan suara alarm yang menunjukkan pukul delapan. Wanita itu langsung mengambil HPnya dan melihat notifikasi yang masuk. Matanya langsung berbinar dan senyum lebar tersungging di bibirnya. Seperti harapannya, dia diterima bekerja di perusahaan yang ia lamar. Untungnya, dia baru harus bekerja minggu depan, jadi masih ada banyak waktu untuk membeli beberapa barang yang ia butuhkan serta menyesuaikan jadwal mengantar paket.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, dia pun melaju menuju area perusahaan tempat si pemesan. Sesampainya disana, dia menunjukkan chat kepada petugas keamanan seperti yang sudah disuruh. Tak ada yang aneh dari area perusahaan itu, hanya gedung besar biasa dengan beberapa penjaga di depannya. Rose melihat tampak ada seorang wanita dengan rambut putih panjang yang sudah menunggu di depan gedung.
“Permisi, saya mau ambil paket,” kata Rose.
“Ini paket dan juga uangnya, tolong antarkan sampai tujuan ya,” ujar wanita itu.
Rose hanya mengangguk mengiyakan kata-kata wanita itu, kendati dalam hati dia merasa agak aneh. ‘Apa dia pikir aku akan membawa kabur paket ini?’, batin Rose. Setelah itu, Rose mengambil beberapa paket yang lain sebelum mulai mengantar paket-paket itu ke tujuan. Semuanya berjalan lancer sampai tiba di paket terakhir, yaitu paket dari perusahaan itu. Rose sengaja mengantar paket itu terakhir karena jaraknya yang paling jauh.
Rose mengamati jalanan yang semakin lama semakin sepi dengan pepohonan berjejer di kiri dan kanan jalan. Perasaan cemas mulai menguasai pikirannya, apa yang harus dia lakukan jika ada begal? Baru saja berpikir seperti itu, tiba-tiba ada sosok yang melompat ke tengah jalan dan membuat Rose harus mengerem motornya. Beberapa sosok lain pun mulai mengepungnya.
“Ada apa ini? Siapa kalian? Kalian mau apa?” tanya Rose, berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
Salah satu dari mereka, sosok yang paling tinggi, menggerakkan tangannya memberi isyarat pada yang lain. Semua terjadi begitu cepat, beberapa detik berikutnya, salah satu dari mereka sudah menahan tubuh Rose sementara yang lain mengambil paket yang dia bawa.
“Lepaskan! Kembalikan paket itu!” teriak Rose, berharap ada yang mendengar suaranya.
Sosok yang mengambil paket itu menyerahkan paket yang ia pegang ke si pemberi isyarat. Sekilas, Rose bisa melihat sebuah gelang di tangan kanannya.
“Aku bilang kembalikan paketnya!” kata Rose sambil masih berusaha melepaskan diri dari orang yang menahannya.
Pemimpin mereka kembali member isyarat, dan mereka pun pergi dengan cepat dari tempat itu tanpa member Rose kesempatan untuk bereaksi.
“Sial!” maki Rose kesal.
Tiba-tiba ponsel Rose bergetar, dan saat Rose melihat isi pesan yang masuk, seketika raut wajahnya berubah menjadi cemas. Si pemilik paket menanyakan apakah paketnya sudah sampai tujuan.
“Mati aku, aku harus bilang apa sekarang? Bagaimana kalau dia memintaku mengganti isi paketnya?” gumam Rose.
Setelah beberapa menit berpikir, Rose memutuskan untuk jujur pada pemilik paket. Dirinya menunggu balasan dengan perasaan cemas. Namun, di luar dugaan Rose, si pemilik paket tidak menyalahkan dirinya dan berkata bahwa dia akan menitipkan paket lagi padanya lain kali. Pemilik paket itu juga menjelaskan kalau kejadian semacam itu sudah sering terjadi, dan Rose tidak harus mengganti isi paket yang hilang.
“Untung saja, tapi siapa mereka itu? Kenapa mereka mengambil paketnya? Apa mereka cuma pencuri?” gumam Rose. Rose pun pulang ke kosnya masih dengan pikiran yang penuh pertanyaan.
...****************...
“Apa yang akan kita lakukan dengan paket ini sekarang? Aku sudah memindai paketnya dengan X-Ray tadi, isinya hanya sebuah botol berisi sebuah cairan. Aku tidak bisa memastikan itu cairan apa,” kata Elga.
“Coba kamu buka isinya apa Shane,” kata Zi.
“Kenapa aku?” gerutu Shane.
“Itu karena kamu kalah dalam suit tadi,” ejek Elga.
Dengan setengah menggerutu, Shane membuka paket itu. Seperti kata Elga tadi, tidak ada apa-apa di dalam sana kecuali sebuah botol parfum. Shane mengangkat botol tersebut, berusaha melihat dengan lebih jelas. Namun tiba-tiba botol itu menyemprotkan isinya sendiri ke wajah Shane.
“Argh!” teriak Shane kesakitan.
“Oh sial, itu gas Capsicum! Cepat ambilkan dia air!” perintah Zi.
Elga dengan segera mengambilkan seember air yang dia guyur langsung ke wajah Shane.
“Uhuk, uhuk, uhuk!” Shane terbatuk-batuk dan memuntahkan beberapa air yang tak sengaja dia telan.
“Bisakah kamu lembut sedikit?” protes Shane.
“Lebih baik kamu basah kuyup daripada wajahmu luka bakar karena gas itu kan?” ujar Elga.
“Sudah, berhenti bertengkar. Vin, periksa lukanya,” kata Zi pada Vina.
“Dia baik-baik saja kak, itu cuma luka bakar ringan,” ujar Vina.
“Lain kali kita harus lebih berhati-hati, pakai masker gas sebelum membuka paketnya,” usul Elga.
__ADS_1
“Lain kali?” tanya Shane.
“Ya, aku baru saja mendapat sinyal lagi. Sepertinya mereka akan menyuruh kurir itu untuk mengantar paket lagi.”
“Kamu awasi komunikasi mereka, kita akan bergerak segera setelah paket itu dikirim,” kata Zi.
“Baik kak.”
...****************...
Keesokan hari setelah kejadian pengambilan paket itu, Rose memutuskan untuk meliburkan jasa antarnya sehari. Dia membuat janji untuk bertemu Annie di sekolahnya dan berencana untuk main ke kafe. Saat ini Rose sudah menunggu Annie di depan gerbang sekolah sambil memperhatikan murid-murid SMA yang berlalu-lalang.
“Rose!” sebuah suara meneriakkan namanya.
Rose menoleh dan mendapati Annie tengah berjalan ke arahnya bersama dengan seorang gadis yang lain. Rose pun tersenyum dan melambaikan tangan.
“Apa kamu sudah menunggu lama?” tanya Annie.
“Baru sepuluh menit, ini temanmu?” tanya Rose sambil mengamati gadis yang bersama dengan Annie.
Gadis itu memiliki tinggi sekitar 156cm dengan rambut hitam yang dipotong sebahu dan tatapan yang tajam. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku jaket yang dia kenakan. Dalam sekali pengamatan saja Rose tahu kalau gadis ini bukan tipe yang suka banyak bicara.
“Iya, kenalkan namanya Elga,” kata Annie.
Elga memandangi tangan Rose yang terulur beberapa detik sebelum menjabatnya dan menjawab singkat, “Elga.”
Dalam hati Rose bertanya-tanya mengenai gelang yang baru saja dia lihat di tangan kanan Elga. Gelang itu mirip dengan yang Rose lihat di tangan pengambil paket.
“Oh iya Elga, kalau boleh tahu kamu dapat gelang yang kamu pakai darimana? Bentuknya unik, aku ingin beli juga,” tanya Rose.
Elga mengerutkan keningnya, tampak tak menduga pertanyaan Rose, “Aku mendapatkannya dari ibuku. Itu tidak dijual dimana pun.”
“Begitu ya? Sayang sekali,” ujar Rose sambil tersenyum.
“Aku duluan saja, kalian bersenang-senanglah,” kata Elga pada Annie.
“Maaf ya, Elga memang anaknya pendiam,” kata Annie.
“Tidak apa-apa kok, omong-omong kenapa dia tidak ikut kita?” tanya Rose.
“Elga tidak terlalu suka pergi ke tempat yang ramai. Dia juga tidak begitu bisa akrab dengan orang baru.”
“Oh, maaf ya. Mungkin kalian sudah ada janji dan gara-gara aku kalian tidak jadi keluar.”
__ADS_1
“Tidak apa, aku masih bisa bertemu dengan Elga lain kali.”
“Kalau boleh tahu dimana rumah temanmu tadi?” tanya Rose.
“Rumahnya ada di perumahan yang elit, kenapa?” tanya Annie.
“Tidak ada, aku cuma ingin berteman dengannya. Kamu tahu sendiri, cuma kamu temanku di kota ini,” kata Rose.
Sementara itu, dalam hatinya Rose membatin, ‘Kalau dia memang tinggal di kawasan elit, kenapa dia harus mencuri paket?”. Rose yakin bahwa Elga adalah salah satu orang yang mencuri paketnya kemarin. Tapi kenapa?.
“Rose?”
“Maaf, aku tadi sedang memikirkan hal lain,” kata Rose pada Annie.
Untuk sekarang dia akan menunggu pesanan paket dari perusahaan itu, karena Rose memiliki rencana yang akan ia lakukan jika dia menerima pesanan paket dari perusahaan itu lagi. Kali ini, Rose tidak akan membiarkan siapa pun mengambil paketnya lagi. Sebuah senyum terulas di bibir Rose, ‘Tunggu saja, aku akan tangkap kalian’.
...****************...
“Ada apa El?” tanya Zi pada Elga yang sejak tadi diam di sofa.
“Aku bertemu dengan kurir itu tadi di sekolah kak,” kata Elga.
“Bagaimana bisa? Apa dia mengantar paket kesana?”
“Tidak, dia ternyata kenalan Annie. Tadi aku sempat berkenalan dengannya, namanya Rose Nightingale.”
“Apa dia mencurigaimu?” tanya Zi.
“Tidak, tapi aku merasa tidak enak melibatkan seseorang yang dikenal Annie kedalam misi kita,” ujar Elga.
“Come on El, kita tidak akan menyakiti dia. Kita hanya akan mengambil paket itu darinya.”
“Aku tahu kak, tapi bagaimana jika mereka melakukan sesuatu padanya?” tanya Elga.
“Kalau itu terjadi, kita akan membantunya. Seperti yang biasa kita lakukan. Apa itu membuatmu merasa lebih baik?”
“Terimakasih kak,” kata Elga.
“Apakah mereka sudah menentukan pengiriman selanjutnya?”
“Iya, paket selanjutnya akan dikirim besok.”
__ADS_1
“Good, tell everyone to get ready,” ujar Zi.
#TBC