Unravel

Unravel
Chapter 12


__ADS_3

“Rose,” panggil seorang laki-laki pada Rose.


Rose menoleh dan menatap kekasihnya, Felix. Laki-laki itu menatapnya dengan raut wajah marah. Entah sudah keberapa kalinya laki-laki itu marah pada Rose. Hubungan mereka berdua memang sedang tak baik-baik saja belakangan ini. Mereka sering bertengkar karena perbedaan pendapat. Rose merasa Felix tak bisa mengerti apa yang dia rasakan, sementara Felix berpikir bahwa Rose terlalu kekanakan.


Seperti kali ini, Felix dan dirinya kembali bertengkar karena hal sepele. Namun laki-laki itu menjadi semakin marah saat dia melihat Rose menangis.


“Bisakah kamu berhenti menangis? Aku lelah melihatmu menangis karena hal sepele. You made it like I hurt you badly or abusing you. Is that what you want?!” bentaknya.


“I don’t mean that. Aku cuma merasa sedih karena kita bertengkar. I don’t want to fight with you,” ujar Rose sambil terisak.


“Then stop f***ing crying!”


Rose menutup mulutnya dengan tangannya, berusaha menyembunyikan isakannya. Namun air mata wanita itu masih mengalir. Tatapan matanya penuh dengan ketakutan dan rasa terluka. Tak pernah dia sangka kalau kekasihnya akan bersikap seperti ini.


“Let’s break up,” kata Rose dengan suara gemetar.


Tak ada gunanya lagi bertahan dalam hubungan ini jika yang dia dapat hanya rasa sakit dan air mata. Rose mengelus lengannya yang tertutup oleh baju dengan perlahan. Dibalik baju yang ia kenakan, tersembunyi bekas luka akibat kekerasan yang dilakukan Felix. Laki-laki itu sudah membuatnya terluka secara fisik dan mental.


“Apa kamu bilang?!” teriak Felix.


“I said, let’s break up. Aku sudah tidak bisa lagi bertahan denganmu jika kita terus seperti ini. You hurt me, you make me broken, and I can’t take it anymore.”


Felix memandang Rose dengan tatapan tajam, sebelum tersenyum lebar, “Oh, my dear Rose… kamu pikir kamu bisa pergi dariku begitu saja?” ujarnya sambil memegang erat lengan Rose.


“Let me go! You’re hurting me!” kata Rose sambil memberontak.


“If you still want to be safe stop struggling,” ujar Felix sambil mengencangkan cengkeramannya.


“I said let me go!” teriak Rose, wanita itu lalu menggigit tangan Felix hingga berdarah.


“Argh!” teriak Felix.


Rose memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menjauhi Felix. Namun, sebelum dia berhasil keluar dari rumah, sebuah benda berat menghantamnya dari belakang dan membuatnya tersungkur. Rose merasakan cairan basah merembes di kepalanya. Dengan menahan sakit, dia melihat darah sudah menggenang di lantai.


Dalam hati Rose bertanya-tanya apakah dia akan mati? Tapi masih ada banyak hal yang ingin dia lakukan, dia bahkan masih berusia dua puluh empat tahun.


“Aku bilang berhenti berontak kalau kamu masih ingin selamat kan? Lihat kondisimu sekarang,” kata Felix yang kini sudah berhenti di hadapan Rose.


Laki-laki itu berjongkok dan mencengkeram wajah Rose. “Jangan khawatir, it will end soon.”


Rose berusaha terus membuka matanya yang semakin berat. Perasaan tidak rela memenuhi hatinya. Dia tidak bisa mati sekarang, paling tidak dia harus membalas Felix. Tangan Rose mengenggam kaki kanan Felix dengan gemetar.


“Heh, apa yang akan kamu lakukan? You can’t do anything to me with your condition.”

__ADS_1


Rose masih mengenggam kaki Felix, dalam hatinya dia mengulang-ngulang keinginan untuk membalas Felix sebelum kesadarannya perlahan menghilang.


“I told you-” Rose tak dapat mendengar kelanjutan kata-kata laki-laki itu karena tiba-tiba dia merasakan kaki yang digenggamnya menghilang.


Rose memicingkan matanya, berusaha fokus dengan sisa-sisa kesadaran yang ada, Felix tak ada di hadapannya. Pria itu menghilang entah kemana. Rose pun tak berpikir panjang bagaimana bisa seorang pria dewasa menghilang begitu saja. Hal pertama yang Rose lakukan adalah memanggil ambulans untuk dirinya sendiri sebelum tak sadarkan diri.


Beberapa hari kemudian, saat Rose sadar, sudah ada petugas polisi yang menunggunya. Rose menceritakan apa yang terjadi. Petugas polisi itu meragukan keterangan Rose, mustahil Felix menghilang begitu saja. Tapi karena tak ada CCTV di tempat kejadian, polisi akhirnya menyimpulkan bahwa Felix melarikan diri karena ketakutan setelah menyerang Rose.


...****************...


Rose terbangun dengan air mata membasahi pipinya. Wanita itu baru saja bermimpi tentang kejadian yang dialaminya setahun yang lalu. Kini Rose tahu kemana hilangnya Felix. Dia pasti secara tidak sengaja memindahkan pria itu ke void. Dari apa yang Leah jelaskan, pastinya pria itu sudah meninggal sekarang. Rose merasakan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi dia merasa Felix pantas mendapatkan akhir seperti itu, di sisi lain dia merasa bersalah sudah merenggut nyawa Felix, meskipun secara tidak sengaja.


“Rose?” panggil Leah.


“Maaf, aku bermimpi buruk tadi,” gumam Rose dengan suara serak.


“Tak apa, how do you feel?”


“Aku baik-baik saja, ada apa Leah?”


“Aku kesini untuk memeriksa keadaanmu, dan juga, ketua kami ingin bertemu denganmu.”


“Ketua?”


“Wait, what happened after that? Aku melakukan hal itu di depan banyak orang."


“Don’t worry, kami sudah menghapus ingatan para saksi mata.”


“That’s good. Kapan aku harus bertemu dengan ketua?”


“She wants to meet you as soon as you’re awake. Jadi, kalau kamu sudah merasa baikan, kamu bisa mengikutiku sekarang.”


“Baiklah, bisakah kamu memanggilkan seseorang untuk melepas infus ini?” kata Rose menunjuk tangannya.


“Tidak perlu, aku akan melepaskannya untukmu.”


“Are you a nurse, Leah?”


“I’m the head nurse actually. I worked at my family clinic,” kata Leah sambil tersenyum.


Rose mengamati gerakan Leah yang dengan cekatan melepas jarum infus di tangannya. Wanita itu bernafas lega setelah jarumnya lepas. Dia sangat tidak suka dengan infus. Lebih baik dia disuntik daripada mendapat infus.


Setelah berganti pakaian yang baru, mencuci muka, dan menyikat gigi, Rose mengikuti Leah menuju sebuah bangunan. Bangunan itu berlantai satu dan tampak seperti kantor biasa. Di dalam bangunan, ada ruang rapat, ruangan dengan beberapa meja dan komputer, dan sebuah ruangan dengan meja besar. Seorang wanita duduk dibalik meja itu dengan tumpukan kertas di hadapannya.

__ADS_1


“Ketua, aku membawa Rose kemari,” kata Leah.


Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah mereka. Rose tak bisa menahan rasa terkejutnya saat melihat wajah wanita itu. Meskipun Rose sudah mendengar dan melihat bahwa keluarga Noctacian memiliki wajah yang cantik dan tampan, kecantikan wanita ini melebihi ekspektasi Rose. Wajahnya bahkan bisa mengalahkan model ternama yang Rose tahu.


“Duduklah,” ujar wanita itu singkat.


Rose bisa melihat dari ekspresi wajahnya kalau wanita ini tidak suka basa-basi. Benar saja, begitu Rose dan Leah duduk di kursi wanita itu langsung mengajukan pertanyaan.


“Jadi, apa dia ancaman?” tanyanya pada Leah.


“Tidak, dia bukan ancaman. Dia hanya perlu belajar mengendalikan kekuatannya. Sejauh ini, progresnya cukup baik.”


“Still, it means she can’t control her power now. Apa kamu yang akan menjamin dia?”


“Yes. Aku sudah menyiapkan artefak yang akan membatasi kekuatannya selama dia masih belajar.”


“Good. Now, you, namamu Rose kan?”


“Yes ma’am.”


“Aku tidak peduli bagaimana masa lalumu, dan apa tujuanmu. Tapi jika sampai kamu menjadi sebuah ancaman, aku akan menyingkirkanmu saat itu juga. Kamu mengerti?”


“Aku mengerti.”


“Selain itu, aku harap kamu bisa berkontribusi pada desa ini karena kami memberikan perlindungan padamu. Aku akan memberitahumu apa yang harus kamu lakukan begitu kamu sudah bisa mengendalikan kekuatan itu. I hope you will prepare her soon, Leah.”


“Akan aku usahakan,” kata Leah.


“I will do that. I will help this village in exchange of your protection,” jawab Rose.


“Alright, both of you are dismissed,” kata wanita itu.


Leah mengisyaratkan Rose untuk pergi, sementara wanita itu kembali tenggelam dalam kertas-kertas dokumen di hadapannya.


“That was unnerving,” kata Rose setelah mereka berjalan menjauhi bangunan itu.


“Rose?” panggil Leah.


“Hmm?”


“Welcome to this village,” katanya sambil tersenyum.


“Yeah…” jawab Rose sambil tersenyum balik.

__ADS_1


~[See you next chapter]


__ADS_2