
Rose melihat arloji di pergelangan tangannya, sudah pukul lima sore. Wanita itu meregangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama berada di posisi duduk. Hari ini adalah hari pertama Rose bekerja di perusahaan yang dia lamar. Perusahaan itu bukan sebuah perusahaan besar, hanya sebuah kantor penerjemahan dengan dua lantai dan sepuluh karyawan. Wanita itu membereskan barang-barangnya an bersiap untuk mengambil paket yang sudah ditunggunya.
Seperti harapan Rose, dia menerima pesanan untuk mengantarkan paket dari perusahaan itu kemarin setelah bertemu dengan Annie. Rose sudah memberitahu si pemesan kalau dia baru bisa mengambil paket itu setelah pulang kerja. Rose pun melajukan motornya menuju area perusahaan. Kali ini si penjaga langsung mempersilahkan Rose untuk masuk tanpa memeriksanya lagi. Sesampainya di depan gedung, Rose kembali bertemu dengan wanita yang sama.
Wanita itu tersenyum saat melihat Rose, “Terimakasih sudah datang.”
“Tak masalah, aku dibayar untuk melakukan ini. Maaf untuk paket yang terakhir,” ujar Rose.
“Jangan dipikirkan, hal seperti itu cukup sering terjadi di daerah ini. Aku lega kamu baik-baik saja,” kata wanita itu dengan senyum janggal.
“Aku akan usahakan paket itu sampai ke tujuan kali ini,” jawab Rose berusaha meyakinkan.
“Aku harap kamu mengutamakan keselamatanmu. Kita tidak tahu apakah mereka akan menyakitimu atau tidak.”
“Hahaha, tentu saja,” ujar Rose dengan kaku.
Entah hanya perasaannya atau memang wanita ini menyiratkan pesan kalau Rose ada dalam bahaya? Rose tak mau berpikir lebih lanjut mengenai arti perkataan wanita itu dan memilih untuk segera pergi.
Rose melewati jalan yang sama seperti yang ia lewati terakhir kali. Bukannya dia tidak ingin mencari jalan lain, namun ini satu-satunya jalan menuju alamat tujuan. Mata hijau gadis itu mengamati keadaan sekeliling dengan awas. Kemudian dia melihat beberapa sosok sudah menghadang jalannya. Rose tak punya pilihan lain selain menghentikan motornya.
“Mau apa kalian?” tanya Rose.
Meskipun sudah berusaha menenangkan diri, tetap saja Rose merasa takut. Kata-kata wanita berambut putih itu terngiang kembali di kepalanya. Bagaimana jika kali ini mereka menyakitinya? Rose tidak memiliki kemampuan untuk membela diri.
“Serahkan paket itu dan kamu bisa pergi,” kata salah satu dari mereka.
Dari suaranya yang berat, dan bentuk tubuhnya, Rose tau dia laki-laki. Laki-laki ini juga sepertinya adalah pemimpin mereka.
“Apa sebenarnya mau kalian? Kenapa kalian terus mengambil paket yang kukirim?” tanya Rose.
“Lebih baik kamu tidak perlu tahu,” kata laki-laki itu sambil member isyarat yang lain, dan lagi-lagi Rose hanya bisa melihat mereka mengambil paket itu darinya. Rose juga memperhatikan bahwa gelang yang sama masih dipakai oleh salah satu dari mereka.
__ADS_1
Rose membiarkan mereka pergi sebelum mengambil HPnya. Wanita itu membuka sebuah aplikasi tracker di HP dengan seulas senyum. “Kena kalian,” katanya.
Sementara itu, Elga yang sedang berlari bersama dengan yang lain tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Ada apa El?” tanya Zi.
Gadis itu tidak menjawab dan malah mengotak-atik jam di pergelangan tangannya. “Ini gawat kak. Sepertinya wanita tadi menaruh tracker di paket ini. Aku baru saja mematikan sinyalnya dengan EMP tadi. Tapi mungkin dia akan segera menyusul kita.”
Zi tampak berpikir sebentar sambil melihat ke sekeliling. Ini adalah area yang sepi dekat dengan perbatasan. Tak ada orang yang lewat daerah ini pada sore hari seperti ini. “Biarkan saja dia, kita lanjut saja. Dia tidak akan bisa menemukan kita setelah kamu matikan trackernya.”
Elga diam beberapa menit sebelum berkata, “Kalian duluan saja, aku akan menunggu disini dan mengamati.”
“Baiklah, let’s go,” kata Zi pada yang lain. Dia tidak melarang keinginan Elga untuk tinggal. Dirinya tau gadis itu khawatir pada kurir wanita tersebut. Karena ini daerah yang berbahaya, dan bisa saja sesuatu terjadi padanya.
Sepuluh menit setelah Zi dan yang lain pergi dari tempat itu, Rose tiba. Wanita itu mengamati sinyal terakhir dari tracker yang ia pasang. Tak ada apa-apa disana, hanya ada jalanan yang sepi dan gedung apartemen di kejauhan. Rose mendecakkan lidahnya, tampaknya para pengambil paket itu tahu kalau dia mengikuti mereka.
Namun Rose tak akan menyerah begitu saja. Wanita itu mulai mencari-cari di sekitar area tersebut. Dia mengamati dengan seksama setiap tempat yang mungkin bisa dijadikan persembunyian. Dia juga melihat peta di HP untuk memastikan posisinya saat ini. Setelah satu jam mencari, masih belum ada hal yang ia temukan. Sementara itu, hari semakin menjadi gelap, dan cahaya yang ada semakin sedikit. Banyak lampu jalanan yang ada tak menyala, hanya ada satu atau dua yang berfungsi dengan baik.
Elga menoleh dan menatap Zi yang menyusulnya ke atas atap bangunan apartemen. “Ya, ini sudah hampir gelap. Wanita ini cukup keras kepala,” jawab Elga.
“Mungkin dia akan menyerah sebentar lagi, tak aka nada yang bisa dia temukan saat hari benar-benar menjadi gelap.”
Benar saja apa yang dikatakan Zi, karena pada akhirnya Rose memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
“Siapa katamu nama kurir itu?” tanya Zi memecah keheningan.
“Rose, Rose Nightingale. Kamu tertarik padanya kak?” tanya Elga.
“No, hanya saja kita akan lebih sering berurusan dengannya. Tak ada salahnya mengetahui namanya.”
Elga hanya melihat kakaknya itu dengan memicingkan mata. Jangan kira hanya karena usianya yang lebih muda dia tidak bisa mengenali sorot ketertarikan yang ada di Zi. Namun gadis itu memutuskan untuk diam saja. Siapa tahu apakah ketertarikan ini akan bertahan lama atau tidak.
...****************...
Keesokan harinya, Rose ijin keluar kantor pada saat istirahat makan siang. Dia pun langsung menuju sekolah Annie. Sesampainya disana, dia bilang ke guru piket yang menjaga kalau dia ingin bertemu dengan Elga. Rose bahkan mengaku kalau dia keluarga Elga hanya untuk bertemu dengan gadis itu.
Beberapa saat kemudian Elga muncul di hadapannya. Raut wajah itu seketika berubah saat melihat Rose lah yang ingin menemuinya. “Untuk apa kamu kesini?” tanyanya dengan ketus.
__ADS_1
“Aku ada perlu sebentar denganmu,” kata Rose.
“Perlu apa sampai-sampai kamu bohong ke guruku?”
“Aku ingin tanya kenapa kamu mengambil paket itu?” tanya Rose langsung ke poin.
“Apa maksudmu? Paket apa?” jawab Elga dengan raut muka bingung.
“Sudah kamu tidak perlu pura-pura lagi, aku melihatmu kemarin saat kamu mengambil paket yang kubawa. Lebih tepatnya aku melihat orang yang memakai gelang yang sama denganmu. Kamu bilang padaku kalau gelang itu tidak dijual dimana-mana."
Mendengar kata-kata Rose, raut wajah Elga berubah menjadi tanpa ekspresi. “Maaf aku tidak tahu apa yang kamu katakana. Aku tidak mengambil paket apapun darimu, dan mungkin saja ada orang lain yang memiliki gelang yang sama denganku. Lagipula kamu tidak bisa menuduhku hanya karena gelang ini. Kalau tidak ada hal lain yang ingin kamu katakan, aku permisi dulu. Kelasku sudah dimulai.”
Rose hanya memandangi kepergian Elga dengan tatapan tajam. “Heh, tunggu saja nanti sore. Aku akan mengungkap kebohonganmu nanti.”
Rose sudah menerima pesanan dari perusahaan itu lagi, dan kali ini dia akan menaruh sesuatu dalam paket itu yang tak akan disangka oleh Elga.
...****************...
Sore harinya.
Rose menghentikan motornya beberapa meter setelah mengambil paket di perusahaan. Dia membuka bagasi motornya dan mengeluarkan paket palsu yang sudah dia siapkan dan menukarnya dengan paket asli. Kemudian Rose melanjutkan kembali perjalanannya. Tiba-tiba di tengah perjalanan, ban sepeda motornya bocor. Rose pun menghentikan motornya dan melihat sebuah paku besar bersarang di ban sepedanya.
“Shit!” maki Rose. Dirinya yakin, bahwa yang menaruh paku itu di jalan adalah para pengambil paket itu lagi.
Benar saja, pada saat Rose memeriksa ban motornya, sebuah sosok dengan cepat menghampiri motornya dan mengambil paket yang ia bawa.
“Hei! Berhenti!” teriak Rose.
Namun sosok itu terus berlari dan meninggalkan Rose.
“Sial! Bagaimana ini?” Rose tak bisa mengejar sosok itu dengan cepat karena kondisi motornya.
Setelah beberapa saat berada dalam kebingungan, Rose pun meminggirkan motornya dan menguncinya. Wanita itu lalu mengikuti GPS yang ada di HPnya. Setelah setengah jam mengikuti, Rose berhenti di area perumahan yang sepi. Sekali lagi, dia tidak mendapati ada siapa-siapa disana. Rose pun menekan tombol panggil di ponselnya. Beberapa saat kemudian, sebuah bunyi dering yang keras terdengar dari gang sebelah kanan Rose.
Rose pun bergegas menuju suara dering tersebut. Saat disana dia melihat sosok yang sedang merobek robek paketnya dan membanting HP yang bordering di dalamnya ke tanah. Sosok itu menoleh ke arah Rose dengan raut muka marah.
“Kamu menipuku?!” katanya dengan marah.
“Kenapa kamu yang marah? Harusnya aku yang marah karena kamu mengambil paketku. Tidak tau apa-apa eh? Lihat siapa yang tertangkap basah sekarang?” kata Rose dengan nada mengejek. Ya, sosok yang tertangkap basah itu adalah Elga.
“Kamu!” kata Elga sembari hendak menyerang Rose.
Namun, tiba-tiba sebuah sosok menghentikan Elga. Sosok tinggi itu berdiri dan menahan tubuh Elga.
“Hentikan,” ujarnya.
“Tapi kak,” protes Elga.
“Kamu tidak benar-benar ingin menyakitinya El. Ingat yang kamu katakan kemarin padaku,” kata laki-laki itu.
Elga dengan terpaksa menghentikan apa yang dia lakukan, dan menatap kesal ke arah Rose. Laki-laki yang menghentikan Elga itu juga melihat Rose. Dari suaranya, Rose tahu kalau laki-laki ini adalah pemimpin mereka.
“Rose kan? Maafkan kami beberapa hari ini terus menerus mengambil paketmu. Tapi kami punya alasan untuk itu,” katanya.
“Siapa kamu?” tanya Rose.
“Namaku Nicholaz Addams, kamu bisa memanggilku Zi. Apa kita bisa berbicara sebentar?”
“Kenapa aku harus berbicara dengan kalian? Kalian hanya pencuri paket,” kata Rose.
“Kamu harus berbicara dengan kami karena kamu ada dalam bahaya. Bagaimana? Apa kamu punya waktu luang sekarang?”
__ADS_1
~[See you in next chap]