
Rose berjalan memasuki kafe yang ia kunjungi dengan Annie bersama Zi dan Elga. Salah satu pegawai menyambut kedatangan mereka di dekat pintu masuk.
“Selamat datang, mau pesan yang biasanya?” tanya pegawai itu.
“Yes, kamu mau minum apa?” tanya Zi pada Rose.
“Milkshake,” kata Rose. Pegawai itu mengangguk dan beranjak membuatkan pesanan mereka.
Dari cara mereka memesan dan keakraban mereka dengan para pegawai, tampaknya mereka sudah sering mengunjungi kafe ini.
“Aku kira kamu ingin membicarakan sesuatu yang rahasia denganku? Kenapa kamu malah memilih kafe ini?” tanya Rose.
Kafe ini cukup ramai dengan pengunjung, dan beberapa kali para pegawai kafe melintasi meja mereka. Tentunya ini bukan tempat yang ideal untuk membicarakan hal yang rahasia.
“Jangan khawatir, semua orang yang lain focus dengan pembicaraan masing-masing. Lagipula semua pegawai disini adalah sepupuku,” kata Zi.
Hanya saja ada hal yang tidak Zi beritahukan kepada Rose. Dia sengaja memilih kafe ini karena pastinya tidak akan ada musuh yang bisa memasuki kafe ini. Selain itu, dia juga bisa memberitahu sepupunya kalau Rose adalah seseorang yang perlu mereka awasi.
“Lalu, apa maksudmu kalau aku berada dalam bahaya?” tanya Rose setelah pesanan mereka sampai. Dua cangkir kopi hitam untuk Zi dan Elga, serta secangkir milkshake milik Rose.
“Apa kamu tahu siapa orang yang memesan jasamu dari perusahaan itu?”
“Bagaimana aku bisa tahu? Aku hanya mengambil paket itu dan bertugas untuk mengantarnya. Siapapun mereka, itu bukan urusanku,” ujar Rose dengan kesal.
“Kamu benar. Tapi, sebenarnya mereke menjadikanmu umpan. Mereka adalah sebuah organisasi berbahaya yang berusaha mengirimkan barang yang berbahaya melalui jasamu. Mereka tahu kalau mereka mengirimkan barang itu sendiri, mereka tidak akan selamat. Itu sebabnya mereka menyuruhmu mengantarkan barang itu. Mereka juga ingin melihat bagaimana nasibmu setelah itu, dan ajaibnya kamu selamat,” jelas Zi.
“Kalau memang itu adalah hal yang berbahaya, kenapa aku selamat? Dan kenapa aku harus percaya dengan kalian? Bisa saja kalian hanya mengarang alasan. Kalau mereka organisasi berbahaya, kenapa polisi tidak menangkap mereka?” cecar Rose.
“Polisi tidak akan bisa menangkap mereka jika tidak memiliki bukti apa-apa. Cara kerja mereka sangat bersih, mereka tidak akan meninggalkan jejak atau bukti. Itu sebabnya, sekalipun kamu selamat, pada akhirnya mereka akan membunuhmu untuk menghilangkan jejak.”
Rose memandangi Zi yang tampak serius dan Elga yang tampak tidak peduli. Dalam hatinya dia tak bisa berhenti berpikir apakah dua sosok di depannya ini serius atau sedang bercanda. Organisasi berbahaya? Rose lebih percaya kalau mereka bilang mereka adalah sindikat pencuri.
“Sepertinya tidak ada hal lain yang bisa kita bicarakan. Aku harap kalian tidak lagi mengangguku,” kata Rose.
“Tunggu, kalau kamu tidak percaya dengan perkataan kami, bagaimana jika kamu buktikan sendiri? Setelah pulang dari sini, bilanglah pada orang yang memberimu paket itu kalau kamu bertemu dan mengobrol dengan kami. Kami juga menitipkan suatu barang padamu. Tapi, jangan bilang isi obrolan kita apa, bilang saja kalau kami adalah Aeternum. Bagaimana?” ujar Zi.
“Akan ku pertimbangkan,” jawab Rose sambil beranjak pergi.
Zi dan Elga memandangi kepergian Rose dengan tatapan penuh makna. “Apakah kita akan membiarkannya begitu saja kak?” tanya Elga.
“Tentu saja tidak, kita sudah tahu apa yang pihak Claus akan lakukan selanjutnya. Kita akan menolongnya saat diperlukan.”
__ADS_1
Elga mengangguk tanda ia mengerti, dirinya hanya perlu menjalankan tugas sesuai dengan rencana kakaknya. Dalam hati dia merasa sedikit kasihan pada Rose, karena setelah ini, wanita itu tak memiliki jalan untuk kembali ke kehidupan normalnya.
...****************...
Rose menunggu ojek online di depan sebuah toko. Pikirannya berkelana ke kata-kata yang diucapkan oleh Zi. Benarkah apa yang dia bilang soal organisasi berbahaya? Rose membuka HPnya dan mengetikkan pesan ke pemesan paket seperti yang dibilang Zi. Sekarang, yang ia harus lakukan adalah menunggu mereka membalas pesannya.
“Tunggu, daripada mengkhawatirkan itu, aku harusnya cemas pada sepeda motorku! Kok bisa aku meninggalkan sepeda itu begitu saja. Bagaimana jika saat aku kembali, sepedanya sudah hilang?”
Rose menepuk dahinya sambil berdoa semoga saja sepeda yang dia tinggalkan masih ada di tempatnya. Kalau tidak, bisa-bisa dia harus mengganti sepeda motor itu. Untungnya, setelah sampai di tempat meninggalkannya, sepeda itu masih ada. Seorang laki-laki tampak menunggu di dekatnya.
“Apa kamu yang membantu menjaga motorku? Terimakasih,” ujar Rose.
“Tak masalah, kak Zi yang menyuruhku menjaga sepedamu. Kalau begitu aku pergi dulu.”
Rose memandang kepergian laki-laki itu dengan perasaan campur aduk. Dia tidak mengira Zi akan membantunya seperti ini. Jadi, sebenarnya dia itu baik atau tidak? Disaat Rose merasakan hal tersebut, sebuah pesan memasuki HPnya. Pihak perusahaan itu mengajaknya untuk bertemu malam ini di sebuah tempat, dan membicarakan soal paket mereka yang hilang. Tempat yang mereka pilih adalah sebuah restoran kecil tak jauh dari tempatnya bekerja. Rose pun mengiyakan ajakan tersebut. Bagaimana pun juga, dia harus mengetahui kebenaran dari semua ini.
Malam harinya.
Rose turun dari ojek yang ia naiki dan menatap restoran di hadapannya. Restoran itu tak terlalu ramai, hanya ada enam orang di dalamnya. Rose merapikan pakaian yang ia kenakan dan meraba pisau lipat yang dia sembunyikan di lengannya. Tak ada salahnya berhati-hati. Rose melihat ke sekeliling isi restoran dan melihat wanita yang biasa menemuinya di salah satu meja.
“Maaf membuatmu menunggu,” kata Rose.
“Tidak masalah, aku baru saja tiba. Duduklah dan pesan sesuatu.”
“Katamu kemarin kamu bertemu dan bicara dengan Aeternum?"
“Ya, mereka juga menitipkan sebuah paket padaku,” kata Rose sembari mengamati ekspresi wanita di hadapannya. Namun, usahanya sia-sia karena ekspresi wanita itu sama sekali tidak berubah.
“Apakah aku boleh lihat isi paketnya?”
“Maaf, aku tidak bisa memperlihatkannya padamu. Paket itu ditujukan untuk kepala sebuah desa.”
“Harus kuakui selama ini kerjamu sangat bagus, aku senang sekali sudah menggunakan jasamu,” kata wanita itu tiba-tiba.
“Terimakasih. Aku minta maaf sudah menghilangkan paketmu, tapi kalau kamu ingin mendapatkan paket itu kembali mungkin kamu bisa bicara dengan Aeternum.”
“Tidak perlu, aku rasa semuanya cukup sampai disini.”
Rose membelalakkan matanya saat wanita itu mengeluarkan sebuah pistol dan menodong Rose. “Maaf, tapi kamu harus mati.”
“Apa maksudmu? Kenapa kamu melakukan ini?!” teriak Rose.
__ADS_1
Rose melihat ke sekeliling restoran, berusaha meminta tolong dari para pengunjung restoran yang lain. Namun para pengunjung yang lain malah bergerak ke arah pintu keluar dan jendela. Mereka semua mengeluarkan pistol dan menghalangi jalan Rose untuk melarikan diri.
“Apa-apaan ini?!”
Kali ini Rose benar-benar memahami keadaannya. Dia sudah dijebak oleh wanita ini. Semua yang dikatakan Zi itu benar, mereka adalah organisasi berbahaya yang tak segan membunuh siapapun. Lalu, apa Zi sengaja menyuruhnya mengirim pesan itu padahal dia tahu akhirnya akan seperti ini? Rasa marah dan kecewa muncul dalam diri Rose. Dia datang ke kota ini untuk memulai hidup baru, bukannya malah mati gara-gara terlibat organisasi berbahaya.
Rose menggigit bibirnya dengan keras hingga berdarah, apakah dia tidak memiliki pilihan lagi? Sekalipun Rose berusaha melawan dengan pisau yang ia bawa, ia tidak akan cukup cepat untuk melawan pistol. Kalau sudah seperti ini Rose hanya punya satu pilihan, tapi itu artinya dia akan membongkar rahasianya sendiri.
“Splat” darah muncrat dari kepala wanita di hadapan Rose dan membasahi wajah Rose.
“Bruk” tubuh wanita itu jatuh ke lantai. Darah menggenang dari kepalanya dan mulai merambat ke sepatu Rose.
Rose berkedip beberapa kali, berusaha mencerna apa yang terjadi. “CRASH!”
Kaca restoran itu pecah dan beberapa sosok memasuki restoran dan menjatuhkan para penjaga. Salah satu dari sosok itu mengangkat Rose dan membawanya pergi menjauh. Rose hanya diam dan membiarkan sosok itu membawanya. Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di sebuah tempat yang berjarak dua kilometer dari restoran. Sosok itu menurunkan Rose.
“Sudah kubilang kan?” ujar Zi.
Rose menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam, “Kamu sudah menebak ini akan terjadi kan?”
Zi hanya diam sambil menatap muka kesal Rose.
“Apa kamu puas?” tanya Rose.
“Aku memang sudah menduga ini akan terjadi. Tapi aku tidak melakukan hal ini untuk membuatmu celaka. Aku tahu sekalipun kamu tidak mengirim pesan itu, mereka akan membunuhmu. Jadi, lebih baik kalau kita yang mengambil inisiatif. Aku sudah merancang semua, dan kamu tidak terluka.”
Rose tidak bisa menyangkal perkataan laki-laki itu. Dari apa yang terjadi mala mini, kalau tidak ada mereka, Rose pasti sudah mati.
“Sebaiknya kamu pindah tempat tinggal dan pindah tempat kerja. Mereka mungkin akan mengincarmu lagi.”
“Apa kamu bercanda? Aku baru saja bekerja di perusahaan itu dan kamu menyuruhku berhenti?!”
“Kalau kamu tidak mau terserah. Tapi jangan bilang kalau aku tidak memperingatkanmu,” kata Zi sambil beranjak meninggalkan Rose.
“Tunggu! Kamu mau kemana?”
“Urusanku sudah selesai disini. Jangan khawatir, setelah ini kamu tidak akan melihatku.”
Rose menatap kepergian Zi dengan tatapan kesal. Apa-apaan itu? Laki-laki itu bahkan tidak menjelaskan kepadanya organisasi berbahaya apa yang dia hadapi, atau siapa sebenarnya mereka.
“Heh, tunggu saja, aku akan menyelidiki semuanya sendiri,” gumam Rose.
__ADS_1
~[See you in next chap]