
Zi mengetuk kamar nomor 106 beberapa kali. Dia bisa mendengar suara nafas, detak jantung, dan juga gerakan dari dalam kamar. Dari suaranya, nampaknya Rose sedang bangun dari tempat tidur.
“Siapa?” tanya wanita itu dari dalam tanpa membuka pintu.
“Ini aku, Zi.”
Beberapa detik kemudian pintu kamar itu terbuka. Rose menatap Zi dengan ekspresi curiga. “Ada apa kamu kesini?”
“Well, tidak perlu menatapku dengan curiga seperti itu. Aku kesini hanya untuk mengajakmu bicara.”
“Masuklah,” kata Rose. Bagaimanapun juga, laki-laki itu sudah menyelamatkannya dua kali. Dia tak bisa menolaknya begitu saja.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Whoa, easy there, apa kamu selalu seperti itu pada semua orang?"
“Seperti apa maksudmu?”
“Galak.”
“Aku masih belum lupa kalau kamu membuatku mencari-cari selama tiga bulan, sebelum tiba-tiba muncul di hadapanku.”
“Aku minta maaf soal itu, we passed that, right?”
“Fine, apa yang mau kamu bicarakan?”
“Aku ingin tahu kenapa reaksimu biasa saja setelah melihat hal yang kami lakukan? Tentu saja kamu takut, tapi taka da reaksi lain selain itu. Biasanya, manusia yang mengetahui soal ini akan jadi histeris, stress, atau melihat kami dengan tatapan seakan kami akan membunuh mereka.”
Rose melihat Zi dengan wajah tak percaya, “Kamu kesini hanya untuk menanyakan hal itu?”
“Aku penasaran, dan daripada aku harus berputar-putar mencari jawaban, aku bisa menanyaimu langsung.”
“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan memberitahumu?”
“Nothing, tak ada salahnya mencoba kan?”
Rose menghela nafas. Dirinya merasa kalau dia tak menjawab pertanyaan Zi, laki-laki itu akan mencari jawaban dengan cara lain. Cara yang bisa saja membuat semua rahasia Rose ketahuan. Lebih baik kalau dia memberitahu Zi apa yang bisa ia beritahu. Dengan begitu, rahasianya akan tetap aman.
“Aku pernah melihat hal yang mengerikan sebelumnya.”
Rose menunggu beberapa detik untuk melihat reaksi pria itu. Apakah dia akan bertanya lebih lanjut hal apa yang dia lihat? Bagaimana dirinya harus menjelaskan tanpa membuat Zi curiga?
“Oh, jadi begitu.”
Tak disangka-sangka ternyata reaksi Zi biasa saja, hingga Rose tak percaya. Bagaimana tidak, laki-laki ini cukup penasaran sampai mendatanginya, tapi dia menerima jawaban singkat itu begitu saja?
“Kamu tidak ada pertanyaan lain?”
“No, aku tahu setiap orang punya rahasia masing-masing. Itu privasimu. Terimakasih sudah memberitahuku,” ujarnya sambil beranjak pergi.
“Okay,” jawab Rose masih penuh kebingungan. Dirinya benar-benar tak bisa memahami laki-laki ini.
__ADS_1
...****************...
Suatu sore, Rose dan Gina tengah duduk di bawah pohon besar di halaman safe house. Sudah dua bulan berlalu sejak mereka berdua menjadi teman. Rose kini mengetahui lebih banyak hal tentang Elf dari Gina. Hal yang paling mengejutkan adalah, ternyata Gina adalah seorang penyihir. Rose pernah melihat Gina menyihir akar untuk keluar dari dalam tanah. Tentu saja, meski dia banyak bertanya, Rose tak berniat menjadi penyihir. Dia tak punya bakat untuk hal itu.
“Kamu tahu Rose, sejak bertemu denganmu aku ingin memberitahumu sesuatu.”
“Apa itu?”
Gina menolehkan kepalanya ke arah Rose, jarinya menunjuk ke dada Rose, “You have something powerful inside.”
“Huh? Apa maksudmu?” tanya Rose dengan sedikit takut. Apakah Gina tahu rahasianya?
“Kamu memiliki kekuatan jauh melebihi yang kamu tahu. Kalau kamu ingin tahu aku akan menjelaskannya padamu besok. Aku harus pergi sekarang, ada urusan yang mau kuselesaikan.”
“Tunggu, kamu mau kemana?”
“Jangan khawatir, aku akan kembali besok,” kata Gina.
Rose memandangi kepergian Gina dengan cemas. Apa yang gadis itu ingin jelaskan padanya? Mungkinkah Gina tahu apa yang sebenarnya ada dalam dirinya?
Keesokan harinya.
Rose menunggu di tempat dia dan Gina biasa bertemu, namun Elf itu tak juga kunjung muncul setelah dua jam. Tanpa pilihan lain, Rose pun menghampiri kamar Gina di ruang nomor 87. Tapi setelah mengetuk pintu berkali-kali Gina tak juga kunjung menjawab. Salah satu penghuni lain keluar kamar karena terganggu dengan ketukan Rose.
“Elf itu belum kembali dari kemarin,” katanya.
“Apa kamu tahu kemana dia pergi?”
“Kemana anak itu pergi?” gumam Rose.
Perasaan cemas kian menguasai diri Rose. Wanita itu tahu bahwa Gina tak akan lupa dengan janjinya. Kecuali jika ada sesuatu yang terjadi padanya.
“Aku harus mencarinya.”
Rose berjalan menuju lantai satu. Kepalanya dipenuhi pikiran bagaimana cara mencari Gina. Dia merasa tidak bisa meminta bantuan Leona karena Gina baru hilang beberapa jam. Kalau begitu, dia hanya punya satu pilihan.
“Leona?” panggil Rose.
“Ada apa?”
“Apa kamu bisa memberitahuku dimana aku bisa menemui Zi atau Elga?"
“Untuk apa kamu mencari mereka?”
“Aku ada bisnis dengan mereka.”
Leona menatap Rose dengan tajam, hingga Rose berpikir wanita itu tak akan memberitahunya.
“Kamu bisa menemukan mereka sekitar lima ratus meter ke arah barat dari sini. Rumah mereka berbentuk segitiga.”
“Terimakasih,” kata Rose sebelum bergegas pergi.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Rose berhenti di depan sebuah rumah yang sesuai dengan deskripsi Leona. Setelah menarik nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya, Rose mengetuk pintu rumah tersebut. Pintu itu terbuka dan menampakkan wanita berusia dua puluh lima tahun dengan rambut brunette dan wajah serius.
“Zi, ada orang mencarimu,” kata wanita itu sebelum Rose sempat menjelaskan apapun.
“Silahkan masuk,” katanya lagi.
Tak berapa lama kemudian, Rose melihat Zi datang dengan secangkir kopi di tangan.
“Hai, maaf, aku sedang minum kopi. Ada perlu apa kamu kesini?”
Rose memilih untuk menelan pertanyaan bagaimana wanita tadi bisa tahu dia mencari Zi dan fokus pada tujuannya. “Aku butuh bantuanmu.”
“Tentunya ini sesuatu yang besar hingga membuatmu mendatangiku kan?”
“Temanku Gina menghilang, dia Elf.”
“Kamu kesini hanya untuk itu? Siapa tahu mungkin temanmu itu sedang ada urusan dan belum selesai, atau mungkin dia sedang bersenang-senang di suatu tempat.”
“Tidak, Gina berjanji padaku kalau dia akan bertemu denganku pagi ini. Dia bukan gadis yang mengingkari janji tanpa alasan. Aku tidak bisa meminta tolong pengurus safe house karena dia baru hilang semalam. Bisakah kamu menolongku?”
“Hmm…”
“Sebaiknya kamu membantunya Zi,” kata wanita yang tadi.
“Kenapa Harvey? What do you see?”
“Aku lihat gadis Elf itu ada dalam bahaya. Sepertinya dia disekap di gudang barang yang sudah tidak dipakai dekat Bukit Bunga.”
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Rose dengan bingung.
“Itu tak penting, kita harus membantu temanmu dulu kan? Apa kamu tahu siapa yang mungkin melakukan itu padanya?”
“Tidak, Gina tidak pernah membuat orang lain marah. Dia anak yang pendiam.”
“Harvey?”
“Aku tak melihat ada siapa-siapa disana. Anak itu tak terluka, hanya tak sadarkan diri.”
“Shane,” panggil Zi.
“Ya kak?” sahut seorang laki-laki dari dalam kamar.
“Kamu ikut aku.”
“Kenapa aku? Aku sedang main game,” gerutu Shane.
“Karena kamu kalah main game denganku tadi. Ayo cepat.”
Seorang laki-laki yang kira-kira berusia dua puluh tahun keluar dari kamar. Rambutnya yang berwarna coklat tampak acak-acakan seperti baru saja bangun tidur. Dengan ekspresi malas, dia memasukkan beberapa pisau, granat, tali, senter, dan lain-lain. Rose hanya mengamati semua itu dengan diam. Kedua tangan wanita itu mengepal, berusaha menghilangkan kecemasannya. Dalam hati dia bertekat, apapun yang terjadi nanti, dia akan menyelamatkan Gina.
~[see ya in next chap]
__ADS_1