Unravel

Unravel
Chapter 9


__ADS_3

Angin kencang menerbangkan dedaunan dari kejauhan, Elga masih mengendus-endus sesuatu. Tampaknya ia tak melakukan itu dengan iseng, ia memberikan isyarat dengan menggeleng ke arah Zi, menandakan bahwa ia tak mencium jejak si Elf dari jalan yang mereka ambil. Setelah mengajak Shane untuk pergi, Elga tiba-tiba menghentikan mereka dan mengatakan ia akan ikut dalam misi ini. Itulah alasan kenapa mereka jadi berempat sekarang.


"Bagaimana?" tanya Rose dengan wajah khawatir.


"How about you stop asking question, and let us do our job?" balas Elda dengan ketus.


" Elga..." tegur Zi pada gadis itu.


"I know kak, but siapa sih yang mengajak cewek ini? Kenapa tidak kita tinggalkan saja dia dengan kak Harvey?"


"Gina is my friend, you think it’s not normal if I want to find her too?" ucap Rose kali ini dia tampak pasrah.


"Kak, i found some tracks," ucap Shane, sosoknya muncul dari balik semak.


"Good.." balas Zi. tampaknya mereka sudah setengah jalan menuju tempat Gina ditahan oleh sosok yang bahkan tak mereka ketahui itu.


"I still can’t smell her, don’t you think its weird kak?" tanya Elga bingung.


"Tunggu sebentar," potong Rose.


"Great, now what? Another drama?" balas Elga semakin masam.


"Aku cuma punya pertanyaan pendek, teman kalian tadi bilang kalau Gina ada di gudang dekat bukit bunga. Kenapa kita masih mencari jejak?" tanya Rose panjang lebar.


"Elga..?" lirik Zi pada Gadis ketus itu.


"No..no...you tell her" sahutnya.


"Tell me what?" Rose makin bingung, sementara Shane hanya menikmati pembicaraan aneh ini.


"You go on, El. Tell her" balas Zi lagi, kali ini ia tampak sedikit menekan.


Elga hening sejenak "I'll make it short. Temanmu memang ditangkap dan ditahan di bukit bunga, tapi tak menutup kemungkinan kalau rute yang kita ambil ini bebas dari jebakan," jelas Elga.


"Jebakan?" tanya Rose.


"That’s right," sahut Zi.


"Why trap? Why they want to trap us?" tanya Rose lagi.


"Rose, siapapun yang menahan teman elf mu, pasti mengenal mu dan tau jelas kalau kamu berteman dengan Gina, dan dengan menangkap Gina…" ucap Zi menggantung.


"Dan dengan menangkap Gina mereka sudah memperkirakan kalau kau akan minta pertolongan kami," sambung Elga.


"Kami yang mereka inginkan, bukan Gina atau kau" lanjut Zi lagi.


"They only use you to get to us, me and kak Zi," sambung Elga.


"Oooh waw... kalian kompak sekali," cetus Rose. Sementara Elga hanya memutar bola matanya.


"Tapi kau paham pointnya kan, Rose?" tanya Zi lagi.


"Yes, i get it, but you leave one empty plot"


"What?"


"Shane bilang dia menemukan jejak, jejak siapa?"


"Itu jejak mereka yang memasang perangkap sepanjang perjalanan kita menuju temanmu Gina" sahut Shane.


"Luar biasa," cetus Rose.


Zi masih melihat-lihat sekeliling. arah angin berlawanan dari arah bukti bunga, membawa aroma apapun yang tertiup dari bukit itu. Ini memberi keuntungan bagi mereka yang punya penciuman tajam seperti Elga.


"Elga, can you sniff the air again?" tanya Zi.


"Kak, i told you, bau Elf itu ditutupi bau lain yang mengacaukan penciumanku," balas Elga.


Di sebelah lain, Rose hanya menatap Elga dengan seribu pikiran di kepalanya. Dia berpikiran soal aroma gas beracun yang ia keluarkan saat dia mules beberapa jam lalu, jangan-jangan mereka bisa mengendusnya? Gas itu tak bersuara, itu pasti sangat bau. Oh ayolah, bukan saatnya berpikir soal kentutnya yang bau.


"Rose, you okay?" tanya Zi membuyarkan lamunan Rose.

__ADS_1


"Ya, ya, I’m good," ucap Rose tergagap.


"Alright, kak what’s next?" tanya Elga.


" Sniff the air again," perintah Zi.


"I told u—" ucapan Elga terpotong.


"Cari tau... berapa banya mereka di sana," perintah Zi.


"Good idea kak," ucap Shane bersemangat, Zi tersenyum.


"Out of the box huh, alright gave me a sec," Elga mulai mengendus angin yang melintasinya.


Beberapa menit selanjutnya...


" Ada 4 orang, dengan senjata api juga peledak, mereka berseragam anti peluru, juga satu dari mereka menggunakan senjata perak," jelas Elga.


"Perfect..!" seru Zi bersemangat.


"Perfect you said? They have guns...are you crazy?"


"Lucky you... we all are," sahut Elga, ia mulai bergegas.


"Wait...wait..!" tahan Rose pada 3 sosok di depannya.


"What, Rose?" tanya Zi.


"How about calling cops?" tanya Rose.


"We pass this kak, let’s just go," Shane tanpak tak sabar.


"You can stay here if you afraid," timpal Elga.


"Hell no, I’m coming with you guys. Let’s go then," Rose buru-buru melangkah.


Setelah sekian jebakan yang mereka temukan dan berhasil mereka hindari, sampailah mereka pada satu gudang atau lebih tepatnya lumbung. Dulu tempat ini digunakan sebagai penyimpanan hasil panen, dan karena tanah ini sudah dibeli oleh perusahaan tak dikenal, jadi para petani harus berhenti dan mencari pekerjaan lain.


Bangunan itu tampak kusam, dibawah awan tebal, matahari tampak segan menyinari tempat kumuh itu.


Elga menatap Rose sinis.


"What? Why are you looking at me like that?" tanya Rose polos.


"Manusia dan senjata mereka" ucap Elga masih dengan tatapan sinisnya.


"Hei, aku cuma berusaha realistis. Kalian akan melawan mereka dengan apa? Kecuali kalian punya sesuatu yang lebih cepat dari peluru," ucap Rose. Wajahnya kini penuh harap.


"We have plan," Zi menimpali.


"Alright, obviously I don’t wanna be the bait this time," Shane tampak kesal.


Zi hanya menatapnya datar.


"Guess it’s my turn then," Elga berdiri dan melepaskan jaket hoodie nya.


Kini gadis itu hanya menggunakan tanktop hitam dan menampakkan keseluruhan dari otot perutnya.


"Hot..." komentar Shane.


“Focus,” Zi menjitak Shane.


"You sure, El?" tanya Zi meyakinkan.


" Wait, sure about what? Are u kidding? Are we even have a plan?" tanya Rose bertubi-tubi.


"Relax, normie , we know what we're doing," Elga bersiap.


"Rose, listen to me very carefully, here take it" ucap Zi.


Laki-laki itu menyerahkan sebuah Glock pada Rose, “Bangunan ini cuma punya satu pintu keluar, kamu tetap di posisi ini. Siapapun yang keluar dari bangunan itu dan bukan kami, tembak di tempat. Mengerti?" jelas Zi panjang lebar.

__ADS_1


"Wait, no, I can’t shot. I never do this before," tolak Rose penuh khawatir.


"Relax we will get your elf girl back," ucap Elga. Sesaat setelah sosoknya melesat menuju bangunan itu.


"WAIT...!" Rose berusaha menahannya, namun kecepatan Elga lebih membingungkan Rose lagi.


"Here we go!" sahut Shane.


"Guys, how did she run so fast?"


"Enough with the question, Rose," Zi menimpali.


"HEY...COME AT ME YOU SCUMBAG!!" suara teriakan Elga dari dalam bangunan tadi, disusul suara rentetan senapan otomatis. Sementara Rose berusaha terbiasa dengan suara pelurunya.


"She's so excited," komentar Shane.


"Rose you ready?"


"Ya I hope..so— " dua sosok laki-laki di dekat Rose sudah lenyap.


Di dalam bangunan.


Elga berlari zigzag menghindari ratusan peluru yang berterbangan ke arahnya, lalu melompat ke atas dan mendarat tepat di bahu pria dengan senapan otomatis tadi, ia meraih leher pria itu dan meremas tenggorokannya dengan satu tangan. Tenggorokan laki-laki itu langsung terburai penuh darah. Dia bahkan masih berusaha menahan darahnya agar tak ke mana-mana. Namun lubang yang dibuat kuku Elga tadi tampak tak bisa diperbaiki lagi. Pria itu langsung terkapar di lantai kayu berdebu, wajah puas Elga akhirnya terukir jelas.


“Bang....!!”


Suara Desert Eagle ditembakkan dari belakang Elga dan mengenai punggung kirinya. Gadis itu hanya bergeser sedikit, lalu mengayunkan kuku tajamnya ke arah laki-laki yang menembaknya barusan. Laki-laki itu langsung tumbang dengan luka menganga di wajahnya. Tampaknya satu serangan barusan langsung membunuh pria itu. Di sisi bangunan yang lain, Zi masih beradu fisik dengan seseorang berbadan besar. Otot-otot itu tampaknya mampu meremukkan tengkorak siapapun, sekalipun bukan manusia.


"Baiklah, aku hanya ke sini untuk membawa pulang elf itu. Killing u is not my intention," ucap Zi pada lawannya.


"We just want your head inside the tube for our newest collection," jawab lelaki di hadapan Zi.


"Uh… I don’t like that," sahut Zi sedikit datar.


Laki-laki itu mengayunkan tinjunya yang lebih besar daripada bola baseball dan Zi menerima pukulan itu seperti ia tak berniat untuk menghindar, atau dia terlalu lambat karena umurnya yang sudah tua. Suara dinding kayu ambruk di ujung ruangan, Zi tanpak menahan rasa sakit yang baru saja ia terima, namum masih bisa menyengir lebar.


" Something funny? " ucap si pria berbadan besar.


"Nothing " jawab Zi.


"Kau tau, dari semua monster yang aku bunuh, aku tak pernah punya masalah pribadi dengan mereka, tapi kau, Noctacian.. Aku akan menikmati penyiksaanmu ini," ucapnya.


Satu serangan dia lakukan lagi, kali ini Zi bisa menghindar dengan lancar. Si pria berbadan besar kebingungan.


"Mulai panas?" tanyanya.


"No, are you?" tanya Zi. Sesaat ia menunjukkan detonator C5 di tangannya.


"Untuk apa itu?" tanya si pria berotot.


"Check your belt, big boy," jawab Zi dengan sedikit terkekeh.


"You, *******..!" makinya pada Zi.


"Here’s one thing about human's perspective. When you get what you want, you forget what your enemy wants. You want to punch me, fine. But me? I just want to put that C5 in your belt. Small cost for big price," ucap Zi kali ini dia langsung menekan detonatornya.


“BOOM...!”


Tubuh pria berotot tadi tercecer disekeliling tempat itu. Zi menyeka wajahnya yang berlumuran isi perut dan serpihan tulang.


"I guess it’s too soon for dinner. Right, Shane?"


"Shane..?" panggilnya lagi.


"Hei El, mana Shane?" tanyanya pada Elga yang masih menahan nyeri di punggungnya.


"How should i know?"


"Here..!" sahut Shane. Pria itu tampak mengunyah beberapa isi dada lawannya.


"Yep, too soon for dinner," timpal Zi.

__ADS_1


Elga menggeleng melihat kelakuan keduanya.


~[See ya in next chapter]


__ADS_2