
“Hei kak, bagaimana dengan wanita itu?” tanya Elga.
“Oh, right. Hampir saja aku lupa,” ujar Zi menepuk dahinya.
Laki-laki itu berjalan menuju keluar bangunan dan menemui Rose yang masih memegang pistol di tangannya dengan raut muka tegang.
“Oi, it’s done,” kata Zi.
“Huh? Sudah selesai?”
“Yes, ayo kita ke dalam menemui teman Elfmu.”
Rose berjalan mengikuti Zi, “Ugh,” erangnya menahan muntah.
Wanita berambut merah itu tak bisa menahan perasaan mual saal melihat ceceran daging dan darah dimana-mana. Apalagi saat dia melihat Shane mengunyah daging dengan santainya.
“Dimana Gina?” tanya Rose sambil memalingkan wajah.
“She’s upstair. I smell someone with her, he bring iron knife,” kata Elga.
“Itu mudah, we can subdue him before he does anything. Let me do that,” kata Shane.
“Jangan gegabah, seharusnya dia sudah mendengar keributan yang kita lakukan di bawah. Tapi bukannya kabur, dia malah tetap berjaga,” ujar Zi.
“Mungkin dia tahu, sekalipun dia kabur, dia akan tertangkap juga? Lebih aman mengancam kita dengan sandera,” timpal Elga.
“Kita akan tahu setelah melihatnya langsung. Ayolah, aku ingin segera menyelesaikan ini,” gerutu Shane.
Mereka pun berjalan menuju tempat Gina. Sesampainya di lantai dua, mata Rose terbelalak dengan pemandangan yang ada. Tubuh mungil Gina diikat dengan kawat besi, di lehernya tertempel sebuah pisau dengan darah menetes. Tampaknya pisau itu sudah mengiris leher Gina cukup dalam.
“Berhenti disitu atau aku bunuh Elf ini,” kata laki-laki yang memegang pisau.
“Sure, lakukan saja,” kata Zi santai.
“Hei! Apa yang kau katakan?!” protes Rose.
“You see, personally I don’t care about that Elf. Begitu juga dua Noctacian yang bersamaku. Satu-satunya yang peduli dengan Elf itu hanya wanita ini. Jadi, kalau targetmu adalah kami, kamu membuat ancaman yang salah.”
“Apa kau akan membiarkan temanmu mati?” tanya laki-laki itu pada Rose.
“Kalau kau ingin Elf ini selamat, ambil pisau yang ada di sebelah kananmu dan tusuk para monster itu.”
Rose menggigit bibirnya keras-keras. Dia tak mungkin menuruti permintaan laki-laki itu, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Gina mati di depannya. Dia sudah berjanji pada Gina untuk melindunginya. Rose melirik pada tiga mahluk yang datang bersamanya, dirinya bingung kenapa mereka sekarang malah tidak melakukan apa-apa setelah sampai sejauh ini. Bahkan Shane yang tadi tampak tak sabaran sekarang menyilangkan kedua tangannya, seperti menunggu sesuatu yang menarik terjadi.
“Cepat!” bentak laki-laki itu sembari menekan pisau yang dipegangnya ke leher Gina. Lebih banyak darah keluar dari luka itu.
“Apa kau akan melihatnya mati begitu saja sama sepertiku?” sebuah suara bisikan terdengar di telinga Rose.
Rose tahu bisikan itu tidak nyata, itu hanya ada di pikirannya. Namun sekali bisikan itu kembali, Rose tak bisa menghentikan kilasan masa lalu yang menghantuinya.
“Apa kau akan membiarkannya mati?” bisik suara itu lagi.
“No.. NO…NO….!” ucap Rose menutup telinganya dengan kedua tangan.
“I think she’s snapped kak,” ujar Elga.
“Maybe it’s too much for her,” timpal Shane.
“Just wait,” kata Zi.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?! Cepat tusuk mereka!” teriak si penculik.
“I SAID, STOP IT!!!” teriak Rose.
Mendadak, Zi, Elga dan Shane merasa seperti kepala mereka sakit. Shane terbatuk-batuk, Elga memegang perutnya, sementara Zi menutup hidungnya yang mimisan. Laki-laki yang tadinya masih menyandera Gina kini sudah tergeletak bersimbah darah.
“What just happened?” tanya Elga. Perutnya terasa ditusuk-tusuk oleh jarum yang tak kelihatan.
Mereka bertiga menoleh ke arah Rose.
“Hei, apa itu tadi?” tanya Shane.
Namun Rose tak menggubris pertanyaan laki-laki itu. Wanita itu melangkah menuju arah Gina dengan tatapan mata kosong.
“Rose, are you okay?” kata Zi. Ada yang tak beres disini.
Rose mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya diatas tubuh si penculik. “I’ll protect her…” gumamnya.
Tiba-tiba tubuh si penculik yang masih tergeletak hilang begitu saja. Sementara itu Rose langsung jatuh tak sadarkan diri.
“What the hell?” ujar Shane.
“Did you see that? The body suddenly vanished,” kata Elga.
“Yes… I think Rose did that,” kata Zi.
“What is exactly this girl kak? Is she a threat?” tanya Elga.
“She is human, but she has special ability. Aku rasa kita harus menemui keluarga Mavis untuk kasus ini.”
“You predicted this right? That’s why you signaled us not to do anything,” kata Elga.
...****************...
“Ugh…” Rose mengerang saat membuka mata. Kepalanya terasa pusing dan perutnya seperti diaduk-aduk. Sudah lama dia tak merasakan sensasi ini sejak kejadian setahun yang lalu.
“Ah, kamu sudah siuman?” kata sebuah suara yang taka sing.
“Hazel?” gumam Rose.
“Aku senang kamu masih mengingatku. Kamu ada di klinik desa sekarang.”
“Apa yang terjadi?” tanya Rose.
“Kamu tidak ingat? Kamu jatuh tak sadarkan diri setelah menyelamatkan temanmu.”
“Ah! Gina!” ujar Rose.
“Pelan-pelan saja, temanmu masih tidur di ruangan sebelah.”
“Apa dia baik-baik saja?”
“Dia baik-baik saja, dia akan segera pulih dalam tiga hari.”
“Syukurlah…” kata Rose menghela nafas lega.
“Aku minta maaf harus mengatakan hal ini, tapi ada beberapa Noctacian yang ingin bicara denganmu.”
Rose terdiam sejenak, “Ini soal apa yang kulakukan?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu pasti, tapi jangan khawatir. Selama kamu tidak berniat buruk, kamu akan baik-baik saja,” kata Hazel.
“Sure, bisakah aku bertemu mereka disini? Aku rasa aku belum bisa bergerak terlalu banyak.”
“Tentu saja, tunggu sebentar. Aku akan panggilkan mereka kesini.”
Beberapa saat kemudian.
Seorang gadis yang tampak berusia dua puluh tahun melihat Rose sambil tersenyum. Mata coklatnya menatap Rose dengan tatapan ramah. “Hai, namamu Rose kan?”
Rose mengangguk sambil mengamati gadis didepannya. Rambut hitamnya yang bergelombang terurai dengan sebuah jepit merah tersemat di kepalanya. “Kenalkan, namaku Leah.”
“Apa aku ada dalam masalah?” tanya Rose.
“Tidak, jangan terlalu takut. Aku kesini hanya untuk bertanya beberapa hal padamu.”
“Okay…”
“Apakah kemarin pertama kalinya kamu menggunakan kemampuanmu?”
“Tidak… aku pertama kali menggunakannya setahun yang lalu.”
“Kamu bisa mengendalikannya?”
Rose mengalihkan pandangannya ke dinding, merasa dia tak mampu menatap gadis di depannya. Entah mengapa, rasanya gadis itu bisa melihat ke dalam jiwanya.
“No…” jawab Rose lirih.
“I see. Apakah kamu tahu apa kemampuanmu?”
“No… aku tidak tahu itu apa. Gina berkata dia akan memberitahuku, tapi…”
“Jadi begitu. Kalau begitu, aku rasa aku bisa memberitahumu sekarang. Dari apa yang sudah kami pelajari dan apa yang kamu lakukan, kamu memiliki Vortex.”
“Apa itu?”
“Vortex adalah kemampuan untuk memindahkan apa saja ke Void. Void sendiri adalah satu ruang hampa, apapun yang masuk kesana tak akan bisa kembali lagi kecuali kamu mengeluarkan mereka.”
“You mean like walking black hole?”
“Benar sekali, kalau pemilik vortex tidak bisa mengontrol diri, mereka akan memindahkan benda-benda di sekitar mereka tanpa mereka sadari. Mulai dari benda kecil seperti pensil hingga benda yang besar seperti bangunan.”
“Bagaimana dengan tubuh orang?”
“Itu juga.”
“Sekalipun mereka masih hidup?”
“Yes, sekalipun mereka masih hidup mereka tak akan bertahan lama disana. Manusia mungkin hanya akan bertahan hidup sehari jika mereka tertelan.”
Wajah Rose menjadi semakin pucat seiring dengan penjelasan Leah. Leah menepuk pelan tangan Rose yang terkepal.
“Jangan khawatir, kami bisa membantumu untuk mengendalikan kemampuanmu.”
Rose melihat Leah dengan tatapan penuh tekat.“Please, teach me.”
“Tentu,” jawab Leah sambil tersenyum.
~[See ya in next chapter]
__ADS_1