Unravel

Unravel
Chapter 13


__ADS_3

Seorang gadis tengah berlutut di sebuah ruangan. Di depan gadis itu ada sebuah meja dengan beberapa lilin yang menyala dan sebuah kepala kambing yang diletakkan di tengah-tengah lingkaran dengan berbagai macam simbol. Meja itu tepat berada di depan dinding dengan hiasan salib terbalik yang berwarna hitam. Gadis itu menggumamkan beberapa kata yang terdengar seperti doa tapi lebih menyeramkan.


“Praise the lord satan,” ujar gadis itu mengakhiri doanya.


“Apa kamu merasakannya?” tanya seorang gadis lain yang entah sejak kapan ada di ruangan itu.


“Ya, aku merasakan gerbang vortex yang terbuka. Akhirnya saat yang kita tunggu sudah tiba.”


“Aku merasakan lokasinya ada di desa Noctacian. Kalau kita kesana dan menyelidiki kejadian aneh yang baru saja terjadi, kita bisa menemukannya dengan mudah.”


“Desa Noctacian ya? Menurutmu apa ini ada hubungannya dengan mereka?” gadis pertama bertanya.


“It doesn’t matter, the lord has ordered us to capture the vortex user. Kalau mereka menghalangi kita, kita akan menyingkirkan mereka,” kata gadis kedua.


Sementara itu di sebuah bangunan.


“Leah,” panggil seorang wanita.


Leah menoleh dan melihat kakaknya Ennid berdiri di belakangnya. Iris matanya yang hijau menatap Leah dengan serius.


“Ada apa kak?”


“Aku dengar ada pengguna vortex muncul.”


“Yes, I’m teaching her.”


“Be careful, you know that they’re looking for her.”


“I know that, aku prediksi mereka akan segera mencari kesini begitu mendeteksi gerbang itu.”


“Apa kamu sudah bilang hal ini pada manusia itu?”


“Belum, aku kira tidak perlu menakut-nakutinya dengan hal ini. Sudah menjadi tugas kita untuk mencegah para hexian mendapatkan pengguna vortex.”


“Tetap saja kamu harus memberitahunya, dia perlu tahu kalau dirinya diincar.”


“Iya, aku akan memberitahunya nanti.”


Tiba-tiba Ennid dan Leah menolehkan kepala mereka ke satu arah secara bersamaan.


“Speaking of the devil and it will comes,” ujar Ennid.


“Aku permisi dulu kak, I have to secure her first.”


“Pergilah, aku akan menyiapkan bantuan. Ingat, jangan sampai pengguna vortex jatuh ke tangan mereka.”


“I know.”


...****************...


Di tempat lain.

__ADS_1


Rose meletakkan kepalanya di meja. Hari ini perpustakaan sepi dan jarang pengunjung. Dirinya merasa bosan dan malas membaca buku, setelah membuka media sosial tanpa tujuan, kini dirinya merasa mengantuk. Mungkin bagi sebagian orang, mereka akan menggerutu karena merasa bosan. Tapi Rose justru menikmati rasa bosan itu, hanya pada saat damai dirinya bisa merasa bosan. Wanita itu tahu betul, pada saat dia merasa cemas atau takut, tak mungkin dirinya bisa merasa bosan.


Mata hijaunya melirik ke arah arloji yang dia pakai, masih ada sisa waktu dua jam sebelum bel pulang berbunyi.


“Tok-Tok-Tok” suara ketukan mengangetkan Rose.


Wanita itu mengangkat kepalanya dan tersenyum malu pada gadis di hadapannya. Diam-diam dia berharap gadis itu tidak protes.


“Ada yang bisa dibantu?” tanya Rose.


Gadis di hadapannya sepertinya bukan siswi sekolah ini. Terbukti dari pakaian casual yang dia kenakan. Mungkin saja gadis ini kemari untuk bertanya arah menuju ruang guru.


“Are you Rose?” tanya gadis itu.


Rose melihat gadis di hadapannya dengan tatapan curiga. Siapa gadis ini? Bagaimana dia tahu namanya?


“And you are?”


Gadis itu tersenyum dan menampakkan kedua lesung di pipinya. Matanya yang berwarna ungu menyipit.


“Aku Nella, bisa aku bicara sebentar denganmu? Jangan khawatir, aku tak bermaksud jahat.”


“Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku tidak kenal denganmu,” kata Rose.


“Sayang sekali,” ujar Nella masih tersenyum.


“Apa maksudmu?”


Tiba-tiba Rose merasakan matanya menjadi berat, dirinya berusaha melawan rasa kantuk yang menyerangnya. Rose mencoba menggunakan vortexnya untuk tetap terjaga. Perlahan, rasa kantuk yang menyerangnya hilang.


“As expected of vortex user,” kata Nella.


“But that’s only the start.”


“I will ask you to stop there,” sebuah suara menginterupsi mereka.


“Oh, you come faster than I thought.”


“Leah?” gumam Rose.


“It’s okay Rose, you will be safe.”


“I won’t be that sure if I’m you, witch.”


“I don’t need to hear critics from a devil servant.”


“If you give me this vortex user obediently, I can consider leaving your corpse intact.”


“Rose?” panggil Leah.


“Ya?”

__ADS_1


“Go on, swallow her.”


“Huh? Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.”


“Kamu tahu, cukup munculkan niat yang kuat dalam dirimu. Kamu sudah capek terus diincar kan? This is your chance to protect yourself.”


“Hah! Kamu pikir wanita ini bisa menelanku? Dia hanya pemula dan lemah. I’ll make both of you regret for underestimating me.”


“Now Rose!”


Rose melihat semua yang terjadi dengan raut muka bingung. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan apa yang diminta Leah secara spontan?


“Cepat!” seru Leah lagi.


Leah dan gadis itu beradu kekuatan dengan sihir mereka masing-masing. Rose tak bisa melihat dengan jelas sihir apa yang mereka lemparkan, karena yang dia lihat hanya momen dimana dua cahaya yang berbeda bertabrakan. Beberapa dari cahaya itu mengenai barang-barang yang ada di perpustakaan dan membuatnya hancur. Salah satu sihir yang dilontarkan gadis asing itu berhasil menghindari sihir yang dikendalikan Leah, dan menuju Rose.


“Rose!” teriak Leah.


Rose tahu bahwa dia tak memiliki cukup waktu untuk menghindar. Wanita itu menutup matanya dan mengeluarkan semua tenaga yang ia miliki untuk menelan sihir itu. Ini satu-satunya kesempatannya untuk bertahan hidup.


“Kau…!” teriak gadis yang menyerang Rose.


Rose membuka matanya dan melihat hampir separuh perpustakaan menghilang, meninggalkan lubang besar.


“Leah!” teriak Rose dengan cemas. Apakah gadis itu ikut tertelan olehnya?


Sebelum Rose bisa merasa khawatir sebuah suara menyahut, “Aku disini.”


Rose menghampiri asal suara tersebut, dan melihat Leah yang duduk diantara reruntuhan bangunan. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya.


“Ya, I’m good. That was close.”


“Bagaimana dengan gadis itu?” tanya Rose.


“Aku sudah tidak merasakan keberadaannya di sekitar sini. Sepertinya kamu berhasil menelannya. Apa yang kamu rasakan?”


“Aku merasa sangat berat dan sesak, lebih kuat dari yang sebelumnya.”


“Itu normal, kamu baru saja menelan seorang hexian. Mungkin kamu akan merasa seperti itu untuk beberapa hari sampai hexian itu mati.”


“Apa aku harus menunggu hexian itu mati? Tak bisakah aku mengeluarkannya dan kamu bisa menahannya?”


“Mengeluarkan sesuatu yang sudah ada di void lebih sulit daripada memasukkannya. Selain itu, dia berusaha membunuh kita berdua tadi. Aku tahu kamu masih belum terbiasa dengan semua ini, tapi ini kenyataan yang kamu hadapi sekarang. Kill or to be killed.”


Rose terdiam mendengar kata-kata Leah. Dia tahu betul kalau cepat atau lambat dia harus mempertahankan nyawanya dengan membunuh orang lain. Sekalipun dia tak mebunuh mereka secara langsung. Namun tetap saja, semua itu membuatnya merasa bersalah.


“I don’t know if I will get used to that,” gumamnya.


“We can work on that later. Untuk sekarang kita harus membereskan kekacauan ini,” kata Leah sambil melihat bangunan perpustakaan yang kini hanya tersisa separuh.


“Yeah, you’re right,” ujar Rose dengan rasa bersalah.

__ADS_1


~[See you next chapter]


__ADS_2