Valou

Valou
Bab. 11


__ADS_3

"Apakah si raja ini tahu rahasia ku? Maka dari itu dia memberiku tugas untuk menjaga kota walau aku masih berumur 12 tahun?"


"Tidak, sepertinya tidak."


"Benarkah, Sane?" aku menjawab dengan bisikan.


"Sepertinya orang itu hanya tahu kalau level Tuan sangat tinggi, karena sihir waktu itu masih aktif. Hebat, dia bisa menebak walau Tuan sudah menggunakan level 60." jelas Sane.


"Tunggu, Baginda."


"Iya? Ada apa nak Valou?"


"Mungkin aku bisa melakukan pekerjaan ku ini saat aku sudah beranjak dewasa. Aku masih belum bisa menjaga kota untuk saat ini seperti nya. Dan aku membunuh ikan itu karena mendadak, ikan itu mau menyerang seseorang."


"Begitukah? Baiklah... Namun jika kami butuh bantuan harap kau membantu, bisakah? Dan memang, ikan itu selalu menyerang siapa saja yang lewat didepan danau atau ditepi danau."


"Baiklah. Dimengerti. Aku izin pergi." aku pun memberi hormat dan menuju kembali kepada Theodore.


"Semuanya boleh bubar! Malam nanti akan ada pesta perayaan! Semuanya bersiaplah." raja pun meninggalkan balai kota.


Semuanya ikut pergi, namun tidak dengan Theodore yang matanya berbinar kearahku. Dia tidak bercakap apapun. Hanya menatapku dengan tatapan kagum dengan mata berbinar itu.


"Eeem... Kau kenapa, Theodore?" aku sedikit mundur dari Theodore.


"Kau keren sekali! Aku tidak menyangka, kau lah yang membunuhnya! Padahal ikan itu sudah ada sangat lama sebelum aku lahir. Dan ikan itu sudah membunuh banyak penduduk di kota ini. Lagi pula disini juga banyak monster, jadi raja membuat dinding tebal untuk mencegah monster masuk ke dalam kota!" mata Theodore tak berhenti berbinar walau sambil menjelaskan tentang ikan itu panjang lebar.


"Santai lah, Theodore." aku menenangkan Theodore yang terlalu aktif.


"Hari ini ada pesta perayaan. Kalian akan datang?"


"Kau lagi hah?" Theodore menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Lia?"


"Hai."


"Aku tidak tahu aku akan datang atau tidak. Mungkin aku tidak datang."


"Bagaimana bisa begitu! Valou, kau harus ikut!" Lia memaksaku.


"Aku tidak punya baju untuk kesana, Lia. Kau saja yang pergi bersama Theodore." aku menunjuk Theodore.


"Aku juga tidak ada baju untuk kesana..."


"Kalian bertiga tidak perlu khawatir, kami akan menyediakan nya untuk kalian bersama juga nak Valou." raja datang kearahku. Aku tidak tahu ternyata dia masih disini.


"Apa? Tidak. Tidak perlu repot-repot..." aku menolak.


"Ayolah. Jangan menolak hal ini untuk saat ini. Datanglah, ya? Kau yang membunuh makhluk itu tapi kau tidak mau datang." raja membujukk.


"Y-ya... Baiklah kalau begitu..." aku tidak ada pilihan.


Aku, Theodore, dan Lia mengikuti raja pergi. Kami naik kereta kuda mewah, kendaraan yang sangat royal. Kami pergi kearah istana. Setelah sampai raja menuntunku ke sebuah tempat. Istana itu sangat berkilau.


Sampailah kami di depan sebuah pintu yang akan menuju ruangan tujuan kami. Raja membukanya. Aku terkejut karena disana banyak sekali baju-baju yang sangat banyak dan mewah. Theodore berbinar kembali melihat baju-baju itu.


"Silahkan, pilih saja apa yang ingin kalian pakai nanti malam."


Kami bertiga masuk. Theodore secepat kilat menyerbu baju-baju itu dan segera memilih yang menurutnya paling bagus untuk dipakainya. Lia pun begitu, namun dia memilihnya dengan teliti dan tenang, tidak seperti Theodore yang langsung menyeruduk baju-baju disana.


Aku terdiam. Aku tidak bisa memilih baju apa yang cocok untukku. Aku sedari tadi hanya melihat Lia dan Theodore yang memilih baju dan mencobanya satu persatu.


"Tuan, apakah Tuan tidak ingin memilih baju?" tanya Sane.

__ADS_1


"Tidak. Bukan begitu, aku hanya bingung... Disini banyak sekali bajunya. Aku jadi kesusahan memilih."


"Woii Valou! Kau tidak ingin memilih?" tanya Theodore sembari membawa beberapa baju yang ingin ia coba.


"Aku bingung, Theodore."


"Kenapa harus bingung? Kemari lah. Akan aku pilihkan baju untukmu." Theodore menyuruhku untuk mengikutinya. Aku menurut.


Theodore membawa beberapa baju untuk ku coba. Aku mencoba nya satu persatu. Cukup lama kami mencoba, aku sudah bilang agar menyerah saja untuk memilih baju untukku, tidak ada yang cocok. Namun Theodore tetap memilih baju dengan giatnya.


"Ini baju terakhir, yah cukup sederhana sih... Kau cobalah." Theodore memberiku baju. Aku mengambilnya dan aku segera masuk ke ruang ganti untuk mencobanya.


Aku keluar, "waw, Valou, itu cocok untukmu. Bukan bermaksud seperti itu karena bajunya cukup sederhana... Tapi itu benar-benar cocok untukmu!" kata Theodore.


"Benarkah? Aku pilih apa yang menurutmu bagus saja. Aku tidak bisa memilih baju, karena baju ku setiap harinya biasa-biasa saja asalkan enak dipakai."


Hari sudah sore dan kami pulang ke rumah masing-masing, tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Baginda Raja. Kami membawa pulang baju itu karena akan kami pakai dimalam harinya.


Sore pun telah usai dan bergantilah malam, pesta itu dimulai jam 8 malam. Ini baru jam 6, masih banyak waktu untukku bersiap bersama Theodore.


"Theo? Itu baju dari siapa?" tanya ayah Theodore.


"Oh, ini dari Baginda Raja, ayah. Dia memberiku baju ini untuk pergi ke pesta malam ini. Benar kan Valou?" Theodore melihat kearahku.


"Eh? Ah... Iya, benar begitu." aku segera melihat balik kearah Theodore.


"Kalau begitu berdandan lah yang tampan kalian berdua ya. Aku tidak ikut."


"Kenapa paman?" tanyaku.


"Kenapa ayah?"

__ADS_1


"Aku tidak punya baju juga. Aku tidak terlalu peduli pesta. Kalian saja yang datang ya." ayah Theodore pun kembali ke kamarnya.


Kami saling menatap satu sama lain. Tak lama setelah itu kami pun segera menyiapkan baju untuk dipakai hari ini.


__ADS_2