Valou

Valou
Bab. 8


__ADS_3

Sampai pada saat aku tiba di pinggiran kota, dan itu adalah sebuah hutan. Namun, terhalang oleh dinding besar. Pasti karena takut akan monster yang menyerang kota.


"Aku penasaran dengan yang ada di balik dinding ini. Aku sepertinya belum pernah melihat nya. Aku akan kesana."


"Tunggu, Tuan? Tuan akan kesana?" Sane menghentikan ku.


"Ya. Aku ingin melihatnya."


"Tapi..."


"Jika ada bahaya aku bisa melawan, tenang saja."


Aku pun segera pergi ke gerbang kota untuk melihat sisi dibalik tembok yang menghalangi.


"Sial, disana ada penjaga. Bagaimana caranya aku keluar?" aku bersembunyi dibalik tong dekat gerbang.


"Ah, naik itu." aku melihat sebuah gerobak muatan yang akan keluar dari kota, mungkin akan mengekspor barang ke kota lain. Aku segera menyelinap kedalamnya.


Aku segera bersembunyi agar tidak ketahuan si penjaga, karena dia melakukan pengecekan sebelum gerobak muatan ini pergi.


"Hm, baiklah. Kau boleh pergi." penjaga itu mengizinkan.


Gerobak muatan itu langsung berjalan keluar gerbang. Setelah sedikit jauh dan terlihat kalau penjaga tersebut pergi, aku langsung melompat keluar dan langsung berlari menuju hutan samping kota.


Setelah sampai, kulihat hutannya sangat sepi. Memang tidak ada yang ada disini. Namun aku merasakan aura aneh. Seperti ada yang akan menyerang, namun itu sepertinya masih sedikit jauh. Aku membiarkannya.


"Tembok ini tebal sekali." aku menyentuh tembok yang menghalangi kota dengan hutan.


"Apakah disini memang ada bahaya atau apapun? Mereka membuat tembok yang sangat tebal dan kuat.


Aku terus menelusuri tembok, pada saat aku menengok ke kanan, aku terkejut, "ini bekas cakaran?! Cakaran apa? Ada banyak sekali."


"Mungkin itu adakah cakaran harimau atau beruang, Tuan."


"Kau benar, Sane."


Terdengar suara langkah kaki yang sedang menuju kearahku. Semakin lama langkah kaki itu terdengar seperti berlari.


"Siapa itu?"

__ADS_1


"Tuan, itu monster!"


"Dimana?!" aku melihat sekeliling. Suara langkah kaki itu pun mulai berhenti sejenak.


"Di atas!" aku menengok keatas. Lalu, aku menghindar kedepan.


"Ck. Ini cukup..." aku memperhatikan setiap bagian monster itu.


"Mungkin monster ini akan sulit kuhadapi."


"Apanya? Monster itu masih berlevel rendah, itu mudah untuk dihadapi." ucap salah seorang yang tidak ada wujudnya. Suara itu terdengar seperti suara wanita.


"Siapa kau?"


Tanpa berlama-lama, seseorang berbadan agak kecil menebas kepala monster itu yang sedang diam.


"Monster ini sedang mengumpulkan kekuatan. Jadi, jika kau melihatnya seperti itu, maka kau harus langsung membunuhnya. Dia akan langsung menggunakan kekuatan utama nya." seorang gadis berdiri didepan monster yang sudah terpenggal itu dengan membawa pedang.


"Tapi, kau ini siapa?"


"Aku Lia." dia membalikkan badannya.


"Dasar sialan! Bukannya berterima kasih karena sudah ku tolong kau malah pergi meninggalkan ku sendirian bersama bangkai monster ini!" Lia mengoceh padaku.


"Oh ya? Terimakasih, sebelumnya aku bisa membunuhnya sendiri. Sampai jumpa." jawabku tampa membalikkan badanku.


"Siapa kau? Kau penduduk baru disini?" tanya Lia.


"Ya."


"Laki-laki ini cuek banget!" batin Lia.


"Bisakah aku pergi?" aku menoleh pada Lia.


"Diluar sana banyak monster, lebih baik kau masuk saja kedalam tembok. Disana aman. Ikutlah denganku, aku akan membawamu kedalam menggunakan jalan rahasia, jika lewat depan kemungkinan tidak boleh." ajak Lia.


"Aku tidak takut, tidak peduli, dan tidak tertarik. Terimakasih ajakan nya." aku pun pergi meninggalkan Lia.


"Tuan Valou dingin sekali terhadap wanita..." kata Sane.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana?"


Sane hanya diam. Aku terus melihat sekeliling sambil berjalan lurus kedepan. Sampai pada saat aku menemukan sebuah danau. Ternyata disini ada danau.


"Danau." aku melihat danau itu.


"Hey kau!!" terdengar suara Lia dari kejauhan.


"Hey kau! Berhenti." Lia menghentikanku.


"Kau lagi? Kenapa kau mengikuti ku? Kau penguntit ya?"


"Bukan! Jangan mendekat ke danau itu."


"Memangnya kenapa?"


"Danau itu di diami oleh monster ikan yang ganas. Jika kau kesana mungkin kau akan langsung ditarik ke dalam air dan dimakan sampai habis tak bersisa." jelas Lia.


"Oh? Begitu. Baiklah." aku berjalan kembali dan mendekati danau itu.


"Dasar keras kepala! Jangan dekati danau itu bodoh!!" Lia berteriak padaku.


Saat aku tiba di tepi danau, terasa sangat tenang dan sejuk. Namun, beberapa saat kemudian, aku merasakan energi yang akan datang. Dan itu dari bawah. Aku pun menunduk untuk melihat danau itu.


"Hey kau cepat pergi dari sana! Aku tidak bisa melawannya. Cepat pergi, dia akan segera datang." Lia menarik tanganku untuk segera pergi, namun ikan yang sangat besar dan mengerikan muncul dari dalam danau dan hendak menarik kami beruda kedalam danau.


Aku berhasil kabur, namun Lia mencoba melawan monster ikan tersebut, "Lia, jangan lawan ikan itu!"


"Tidak ada pilihan lain, kau membuatku kerepotan." Lia menodongkam pedangnya pada ikan itu.


Ikan itu menebas pedang milik Lia dengan ekornya, dan pedangnya terhempas cukup jauh.


"Sial!" umpat Lia.


Aku segera menembakkan sihir angin yang berbentuk pusaran pada ikan itu dan membuat perutnya bolong dalam sekejap, "ck, sihirku terlalu kuat hanya untuk sihir angin."


Lia membeku ditempat, "apa itu tadi?" dia hanya melihat ikan itu mati mengambang di danau dengan perut yang bolong.


"Ku bilang jangan melawan, ya jangan dilawan! Ikan itu tidak selevel denganmu. Jika aku tidak menyerangnya, kau sudah ditelan hidup-hidup."

__ADS_1


__ADS_2