
Aku kembali dan melanjutkan pekerjaan ku sampai pesanan terakhir.
***
Hari sudah mulai gelap. Tersisa satu pesanan terakhir. Kali ini, Theodore menemaniku karena pekerjaannya sudah selesai.
"Jalan lurus lalu belok ke kanan. Oke." aku membaca alamat penerima terakhir.
"Valou." panggil Theodore.
"Hmmm? Kenapa?"
"Apa kau tidak lelah? Kau bolak-balik mengantarkan pesanan dari pagi sampai malam." tanya Theodore.
"Lelah. Namun saat siang selalu istirahat kan?"
"Ada benarnya sih... Kalau bisa aku ingin membantumu mengantar roti." Theodore tersenyum padaku.
"Tidak perlu repot-repot. Pekerjaan mu dan aku berbeda. Kita harus melakukannya sesuai apa tugas kita. Aku tidak masalah dengan tugas ini." terangku.
"Tuan Valou memang sangat baik, ya."
"Tidak juga, Sane."
"Oh, kita sudah sampai." kata Theodore sambil menunjuk tempat penerimaan terakhir.
"Oh ya, kau benar." aku segera pergi kesana. Aku mengetuk pintu, "permisi? Pesanan Anda sudah datang."
Seseorang membuka pintu. Ternyata seorang anak yang seumuran denganku, dan dia laki-laki.
"Siapa kau?" tanya dia.
"Aku kesini untuk mengantar pesanan roti terakhir. Aku kurir." jawabku.
"Apakah benar?" anak itu terlihat tidak percaya padaku. Dan terlihat curiga denganku.
Tiba-tiba anak itu menyerangku dengan sihir. Sihir api. Theodore yang melihatnya terkejut. Aku terpental agak jauh. Roti-roti berhamburan dan kotor terkena tanah.
"Pergi dari sini." usir anak itu.
"Hey! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyerang Valou dengan sihir?" Theodore protes pada anak itu.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku hanya mengetes sihirku. Aku sudah mencapai level 59. Sebentar lagi aku akan mencapai level 60!" anak itu pun tertawa. Theodore terlihat kesal.
"Sihir itu pasti sangat kuat!" Theodore menoleh kearah ku.
"Apa itu tadi?" aku terbaring di tanah dan merasa bingung dengan apa yang tadi terjadi padaku.
"Apa?! Kau bisa menahannya? Anak seumuran kau dan aku pasti sudah kepanasan dan kesakitan! Itu akan membuatmu pingsan." anak itu terkejut melihatku. Begitu juga dengan Theodore.
Aku berdiri dan membersihkan bajuku yang kotor karena terpental tadi, "ahh, rotinya sudah hancur semua. Aku pasti akan dimarahi oleh nenek."
"Siapa kau? Berapa level mu? Bagaimana bisa kau..."
"Sebenarnya kau berlevel berapa, Valou?! Kalau aku, pasti sudah pingsan! Levelku hanya 55." Theodore ikut bertanya mengenai level. Kenapa orang-orang disini sangat mementingkan level?
"Rahasia." jawabku singkat.
"Cepat beritahu aku!" anak itu menyerangku lagi dengan sihir apinya. Theodore tidak bisa menghentikannya.
Saat api hendak mendekat kearahku, aku mengibasnya. Lalu api itu lenyap dalam sekejap.
"Valou... Kau...!"
"Tidak mungkin!" anak itu pun berlari masuk kedalam.
"Yah... Pesanan ini gagal di antar." aku melihat roti-roti yang berhamburan ditanah. Aku pun memungutinya.
Keluarlah seorang laki-laki dari rumah itu lagi. Itu pasti ayah si anak tadi.
"A-anu... Begini paman..." Theodore berusaha menghentikan pria itu. Anak yang tadi menyerangku sekarang seperti pecundang. Dia bersembunyi dibalik ayahnya.
"Hey, nak. Apa yang kau lakukan pada anakku?" tanya pria itu.
"Paman, anak paman yang menyerangku. Aku tidak menyerangnya. Aku hanya menangkis serangan anak paman. Oh ya paman, maaf untuk pesanan paman karena sudah rusak. Dikarenakan anak paman yang menyerangku, jadi rotinya berhamburan. Akan kami kirimkan lagi besok." jelasku jujur.
"Benarkah? Tapi anakku bilang kalau kau menyerangnya."
"Paman, itu bohong! Itu adalah kebohongan! Aku saksinya." Theodore membelaku.
"Lalu, bagaimana cara mu menangkis serangan anakku?"
"Aku hanya mengibas tanganku pada serangan anak paman. Itu saja."
__ADS_1
"Sepertinya levelmu 60 atau melebihi 60, ya? Hanya level seperti itu yang bisa menangkis serangan sihir."
"Tentu saja! Level Tuan ku sudah melebihi 600."
"Diamlah, Sane."
"Siapa Sane? Jawab pertanyaan ku, nak. Apakah levelmu benar seperti apa yang aku katakan tadi? Aku tidak percaya anak seumuran dirimu sudah bisa menangkis serangan anakku yang levelnya menuju 60."
"A-aku.. Berlevel... 52 Ya, levelku 52." jawabku.
"Itu sangat tidak mungkin kau bisa menangkis serangan sihir."
"Benar, Valou."
"Sebelumnya, paman, kenapa disini sangat penasaran dengan level seseorang? Apakah semua orang harus tahu level seseorang selain dia?" tanyaku.
"Iya, nak. Orang yang berlevel kurang dari 60 akan di keluarkan dari kota dan di asingkan ke hutan. Kecuali anak-anak, karena mereka dalam masa perkembangan."
"Jadi? Jika disini ada orang yang levelnya kurang dari 60 akan di eksekusi?"
"Benar."
"Levelku... Sebenarnya levelku..."
"65, paman." lanjutku.
"Kau anak yang hebat. Rou, minta maaf padanya. Dan masalah roti tidak apa-apa, besok juga tidak masalah."
"Aku tidak mau." anak itu pun berlari masuk kedalam rumah.
"Kalau begitu aku permisi, paman." aku pun berpamitan dan pergi bersama Theodore.
Diperjalanan suasananya sangat hening. Tak ada percakapan beberapa saat. Lalu, Theodore membuka topik pembicaraan.
"Aku tidak percaya dengan levelmu. Benar benar tinggi. Melampaui level ayahku. Ayahku hanya berlevel 61."
"Benarkah?"
"Bagaimana dengan ayahku yang berlevel 30?" batinku.
"Tuan Valou tidak perlu khawatir. Tidak apa-apa. Ayah Tuan sudah tenang di alam sana." Sane memenangkan pikiranku karena aku kembali teringat dengan kejadian dimana ayahku dibunuh didepan mataku.
__ADS_1