
Pagi harinya, aku melakukan kegiatan ku seperti biasa. Mengantarkan roti-roti pada pelanggan. Yang pertama ku datangi adalah pelanggan yang semalam rotinya berhamburan dan berantakan. Untung saja aku tidak dimarahi oleh nenek Sara.
"Permisi."
Seseorang membuka pintu, "iya? Oh, roti ya."
"Iya, maaf karena semalam rotinya rusak. Aku kesini secepat mungkin."
"Tidak apa-apa, maafkan adikku ya karena kemarin tidak sopan denganmu." orang itu pun menerima roti nya. Lalu dia tersenyum padaku, "terimakasih."
"Sama-sama. Jangan lupa untuk memesan lagi lain kali, ya." aku pun pergi meninggalkan rumah itu dan melanjutkan pengiriman lainnya.
***
"Kau mau, Valou?" Theodore menawariku makanan.
"Tidak, terimakasih. Aku akan makan roti saja." aku menolak.
"Ini masih jam istirahat mu, sebaiknya kau makan nasi supaya kau tidak lemas saat mengantar pesanan, bukan?"
"Aku kuat, Theodore. Tidak perlu khawatir padaku."
"Hmmph! Aku tau levelmu lebih tinggi dariku." Theodore cemberut padaku.
"Tapi, Theodore? Aku benar-benar tidak masalah dengan makanan dan level. Aku memang kuat mengantarnya walau hanya memakan roti saja."
"Aku sudah terbiasa seperti ini, aku tidak merasa lelah." lanjutku.
"Hmmph, baiklah kalau begitu. Aku tidak masalah jika memang maumu seperti itu." Theodore tersenyum padaku.
Aku tidak membalas senyuman Theodore. Aku tidak bisa tersenyum lagi semejak kejadian orang tuaku. Bahkan para penerima selalu bingung denganku yang terlihat murung, padahal aku biasa-biasa saja.
"Valou, tersenyum lah sedikit. Wajahmu selalu datar."
"Aku tidak tahu caranya tersenyum, Theodore."
"Apakah ada sesuatu yang selalu membuatmu sedih? Karena itu kau tidak mau tersenyum?" Theodore memegang pundakku.
"Aku tidak apa-apa. Tidak ada masalah. Hidupku sangat damai."
"Benarkah?" Theodore mendekatkan wajahnya padaku dengan mengangkat satu alisnya.
"Benar."
"Baiklah! Ayo kita lanjutkan pekerjaan kita."
Aku melanjutkan pekerjaanku sampai malam seperti biasa. Setelah kejadian saat aku diserang, untunglah tidak ada lagi masalah dalam pengiriman. Hari-hari ku mengantar pesanan sudah cukup baik tanpa halangan apapun.
*
__ADS_1
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Satu bulan sudah aku bekerja disana. Nenek Sara memberi ku gaji sesuai apa yang dia janjikan. Untunglah, ini pasti cukup untuk membeli makanan selama seminggu, mungkin. Aku akan menghemat nya.
Aku pergi ke tengah kota untuk mencari makanan siap saji. Aku pergi ke restoran terdekat.
Aku masuk kedalam dan aku langsung menuju ke tempat pemesanan makanan, aku duduk tak jauh dari sana. Setelah sedikit lama aku menunggu, makanan pun sudah datang. Aku memakannya sampai habis.
"Tuan." panggil Sane.
"Apakah Tuan tidak merasa sedang diawasi seseorang disekitar sini?"
"Ya, aku tau itu. Tapi aku tidak tau dia ada dimana." aku melanjutkan makan ku.
"Apa perlu aku periksa?"
"Tidak perlu, biarkan saja. Jika dia tidak mengganggu biarkan saja dia. Dan aku tidak mau terlihat mencolok disini."
Aku pun selesai dengan makanku, aku pergi ke kasir untuk membayar.
"Kau anak baru ya?" tanya kasir itu.
"Emmm... Iya."
"Pantas saja aku baru pernah melihatmu. Terimakasih sudah datang! Datanglah lagi lain kali." kasir itu tersenyum padaku. Aku pun meninggalkan restoran itu.
"Untuk restoran seperti itu seperti cocok untukku, makanannya tak terlalu mahal." aku pun berjalan meninggalkan restoran itu.
"Hmmm..." aku bingung.
"Aku harus pergi kemana sekarang?" tanyaku.
__ADS_1
"Hey, kau." seseorang memanggilku. Aku pun berbalik.
Terlihat seorang remaja laki-laki yang menggunakan jaket dan topi untuk menutupi dirinya. Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya.
"Siapa kau?" tanyaku.
"Aku ingin bertanya beberapa hal tentangmu." dia mendekat kearahku.
"Tunggu. Siapa dirimu?" aku menyuruhnya untuk berhenti.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin bertanya."
"Apakah kau..."
"Penyihir pengendali iblis?" lanjutnya.
"Aku terkejut. Untung saja tidak ada yang mendengarnya."
"Apa? Tidak. Itu tidak benar."
"Bagaimana dia bisa tau? Padahal aku tidak pernah mempublikasikan sihirku pada siapapun."
"Tuan Valou, sepertinya dia berbahaya untuk Tuan. Lebih baik kita langsung pergi saja." suruh Sane padaku.
Aku pun berbalik san meninggalkan pria itu. Namun tiba-tiba dia sudah berada di depanku. Aku terkejut dan mundur perlahan.
"Apa maumu?" tanyaku.
"Aku hanya ingin kau berkata jujur. Benar kau penyihir pengendali iblis?"
"Bukan. Bagaimana bisa seorang anak kecil seperti ku bisa mengendalikan iblis? Aku hanya penyihir biasa. Tinggalkan aku sendiri."
"Oh? Benarkah? Aku bisa melihat aura yang dahsyat dalam dirimu. Apa kau yakin?"
"Sihir perasa! Pantas dia bisa menebak ku dengan sangat benar. Dia berbahaya. Dia bisa menbocorkan rahasiaku."
"Sihir perisai. Penutup aura level 60. Aktif."
Dia terdiam ditempat, "Hahaha... Kau cukup hebat."
"Baiklah, aku akan pergi. Sampai jumpa nanti." dia pergi meninggalkan ku.
"Untunglah."
"Siapa sebenarnya orang itu? Tidak di kota ataupun di hutan. Semuanya sama-sama berbahaya. Tidak ada tempat untukku berpulang dan berlindung lagi. Hidupku tamat."
"Tuan Valou tidak boleh berputus asa, Tuan. Perjalanan Tuan Valou masih sangat jauh. Tuan harus bersemangat." kata Sane.
"Kau benar. Aku tidak mungkin tamat disini hanya karena penyihir yang hampir mengetahui rahasia sihirku. Aku tidak boleh tertangkap. Kira-kira, apa yang akan terjadi jika mereka tahu soal sihir ku?"
__ADS_1
"Biarkanlah. Aku ingin pergi mengelilingi kota. Aku belum mengetahui hal-hal di kota." aku menghiraukannya. Aku pun pergi tanpa arah, karena aku belum tahu jalanan di kota.