Valou

Valou
Bab. 12


__ADS_3

Pintu di ketuk oleh seseorang. Saat dibuka oleh Theodore, ternyata itu adalah Lia yang sudah siap pergi ke pesta. Lia yang tadinya hanya berbaju biasa dan hanya terlihat seperti anak tanpa orang tua kini terlihat sangat anggun dan cantik. Bagi Theodore.


"Sudahkah?" Lia bertanya.


"Sudah. Ayo berangkat." jawabku dari dalam.


"Waww... Valou, kau terlihat tampan dengan baju itu. Sangat bagus. Aku menyukainya." ujar Lia dengan pipi sedikit merah.


"Oh ya? Tapi menurutku ini tidak nyaman. Sedikit panas disini." aku mengangkat satu alisku.


"Sudahlah! Nanti kita bisa terlambat. Ayo semua kita berangkat!" Theodore sangat bersemangat untuk datang ke pesta. Lia mengejar Theodore, aku hanya berjalan kaki seperti biasa. Mereka cocok.


"Valou! Cepatlah sedikit nanti kita terlambat." sorak Theodore dari kejauhan.


"Aku tidak berniat ikut jadi jika aku tidak di izinkan masuk karena terlambat aku bisa pulang lalu bersantai." jawabku. Aku masih berjalan kaki.


"Kau ini lambat sekali! Ayo." Theodore berlari kearahku dan langsung menarikku. Aku pun tertarik.


"T-theodore, jangan berlarian." aku sedikit tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku karena ditarik Theodore.


"Makanya kita harus cepat."


Sebuah istana megah dengan banyaknya gemerlap lampu yang indah terlihat didepan sana. Jadi ini yang dinamakan istana ya? Di kehidupan ku, aku hanya melihat pohon-pohon dan rerumputan saja.


"Kita sampai! Yoohoooo!" Theodore melompat kegirangan.


"Diamlah hey kau." Lia menyuruh Theodore untuk berhenti melompat.


"Apakah anda Valou Lauckade?" seorang penjaga dengan seragam lengkap berjalan kearah ku.


"Iya. Itu aku."


"Sebuah kehormatan anda datang ke istana ini. Mari, saya antarkan anda ke tempat duduk anda di dalam sana." si penjaga itu memberiku jalan dengan sopan dan penuh hormat.


"Eeemmm... Iya baiklah. Namun selanjutnya bisakah anda bersikap normal saja denganku?" aku bertanya.


"Apa? Eh, b-baiklah, tuan Valou."

__ADS_1


"Panggil saja Valou."


"Baiklah tuan, eh Valou."


Kami bertiga pun masuk kedalam. Di dalam, terdapat banyak sekali orang yang menggunakan baju-baju yang sangat bagus dan mewah. Ada yang sedang memakan jamuan makan malam, ada yang sedang mengobrol sambil tertawa, dan ada yang sedang berdandan. Disana sangat ramai dan megah sekali. Baru pertama kalinya aku melihat hal seperti ini.


"Ehhh, itu anak yang membunuh ikan itu, ya?" sekelompok gadis menghadap ke arahku.


"Iya. Itu dia. Dia seumuran kita?"


"Ada apa, Valou?" tanya Theodore.


"Tidak ada apa-apa." aku mengalihkan pandanganku.


Setelah aku mengalihkan pandanganku, seorang gadis yang berada di tengah sekelompok gadis itu menatap kearahku. Namun aku berusaha untuk tidak menghiraukan nya. Mereka pasti sedang membicarakan ku yang tidak-tidak.


Gadis itu mendekat kearahku. Dia tidak menghiraukan omongan para gadis yang lain, padahal mereka menyuruh nya untuk berhenti.


"Hey, Valou. Lihat dia." Theodore menyuruhku untuk menengok ke kiri.


"Apa?" aku pun menengok ke kiri.


"Ah, maaf maaf. Apa kau terluka?" gadis itu pun jongkok di depanku.


"Tidak. Aku tidak apa-apa." aku segera bangun.


"Emmm... Anu... Bolehkah kita berkenalan?" tanya gadis berambut hitam pekat yang indah dengan hiasan dan tiara di kepalanya.


"Iya..? Silahkan." aku membersihkan bajuku.


"Ah! Namaku Chaterine, panggil saja Rin! Senang bertemu denganmu." gadis yang bernama Rin itu tersenyum padaku.


"Iya... Namaku Valou. Senang bertemu denganmu juga."


"Valou? Wahhhh nama yang bagus!" Rin tidak berhenti tersenyum padaku. Senyumannya manis.


Sementara itu, Lia terlihat tidak senang saat aku berkenalan dengan Rin. Begitu juga dengan Theodore yang memandangku dengan tatapan datarnya. Aku merasa bingung dengan tingkah laku mereka. Apakah aku berbuat kesalahan?

__ADS_1


"Theodore?" aku menatap Theodore dengan tatapan bingung.


"Kau sangat beruntung! Bisa berkenalan seperti itu dengan putri Chaterine. Aku saja hanya bisa melihatnya."


"Putri?"


"Ya lah, dia itu anak sang raja. Chaterine Lancester."


"Apa? Kau tidak bercanda padaku kan?" aku segera mendekat kearah Theodore dan berbicara sambil berbisik.


"Memangnya aku bercanda apa!?" Theodore memasang wajah ngambeknya padaku.


"Baiklah... Aku hanya terkejut dengan identitas asli si Rin ini." aku menoleh kearah Rin.


"Hmm? Kenapa? Apa aku membuat masalah?" tanya Rin.


"Tidak ada masalah. Hanya sedikit... Sedikit... Sedikit candaan dengan nya." aku melirik Theodore.


"Benarkah? Kalau begitu ayo kita ke tempat duduk kita! Kata ayah, ada seorang tamu istimewa, dia seumuran denganku dan dia laki-laki. Itu pasti kau!" Rin menebak-nebak.


"Bagaimana kau tau?"


Rin menggeleng pelan sambil sedikit terkekeh kecil, "lihatlah pakaian mu, Valou. Itu baju khusus. Hehehe." Rin terkekeh.


"Apa?"


"Yang benar saja."


"Ada apa, Tuan Valou?" tanya Sane.


"Tidak, tidak ada apa-apa."


"Apanya yang tidak apa-apa?" tanya Theodore.


"Tidak."


"Kalau begitu ayo!"

__ADS_1


Aku pun mengikuti Rin. Namun aku sedikit aneh dengan Lia, dia sedari tadi hanya diam dengan wajah yang tidak ceria. Ada apa dengannya? Dia tidak suka ya saat aku berbicara dengan Rin? Apa dia menyukaiku? Tidak mungkin.


__ADS_2