Valou

Valou
Bab. 5


__ADS_3

Tiga iblis kemudia mendekat kearahku.


"Namaku Dou, Tuanku."


"Namaku Ling, Tuanku."


"Namaku Triton, Tuanku."


"Y-ya..." aku masih terkejut.


Mereka berenam masuk kedalam diriku seperti biasa, "a-ah iya aku harus mengantar roti terakhir, ini sudah gelap."


"Eh? Mayat mereka belum dikuburkan? Aku tidak meminta untuk dibunuh. Namun jika dibiarkan mereka akan mengungkapkan jenis sihirku."


"Sane."


"All right, my lord." Sane keluar lagi dari tubuku dan menghilangkan mayat mereka.


*


*


*


*


*


*


*


*


"Valou? Lama sekali kau mengantarnya." tanya Theodore.


"Iya tadi aku dihadang preman, jadi lama." jawabku.


"Astaga! Benarkah? Lalu bagaimana keadaanmu? Apa kau baik baik saja?"


"Iya, aku baik."


"Preman disini kebanyakan levelnya melebihi 60, Valou. Mereka berbahaya. Kau melawan mereka sendiri?" Theodore kebingungan.


"Tidak... Aku dibantu oleh seseorang." bohongku.


"Syukurlah. Aku akan pulang. Sampai jumpa! Eh tunggu, kau punya rumah?"


"Y-ya, aku mempunyai rumah disekitar sini..."


"Baiklah! Aku akan menjemput mu besok. Sampai jumpa besok, Valou!"


"Iya..."


Aku pergi meninggalkan pabrik yang sudah kosong. Lalu, aku menuju ke gubuk tua yang ku temukan saat aku sedang mengantar roti.


Sesampainya disana, aku naik ke gubuk tua itu dan merebahkan diriku. Sepi sekali. Hidupku sekarang sangatlah sepi. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.


***


Keesokan harinya sebelum Theodore menemukan ku, aku segera pergi untuk mencari Theodore terlebih dahulu.

__ADS_1


"Permisi tuan, apa kau mengenal anak yang bernama Theodore?" tanyaku pada salah satu penduduk setempat.


"Oh, Theodore. Iya aku mengenalnya. Kenapa?"


"Aku ingin tahu dimana rumahnya. Apa paman tau?"


"Iya aku tau, kau lurus saja kesana nanti jika ada pertigaan, kau tinggal pergi ke kiri. Jika kau melihat gang, masuk saja. Disana rumah Theodore."


"Baiklah paman. Terimakasih." aku langsung pergi menuju rumah Theodore.


"Gang ini?" aku memasuki gang itu.


Aku terkejut karena aku bertemu Theodore. Dia seperti ingin pergi keluar gang.


"Valou? Kenapa kau ada disini?" tanya Theodore.


"Aku kesini untuk mencarimu."


"Aku juga mau mencarimu. Jam segini biasanya aku berjalan-jalan dulu. Karena pabriknya buka jam 8 pagi." kata Theodore sambil berjalan keluar gang. Aku pun begitu.


"Jadi, ayo kita pergi jalan jalan!" ajak Theodore.


Aku hanya mengangguk. Dan aku mengikuti Theodore. Theodore membawaku ke berbagai tempat, mengelilingi seisi kota.


"Oh ya, disini ada pertandingan tahunan lho, Valou!"


"Pertandingan apa?" tanyaku.


"Pertandingan sihir. Siapa yang menang akan mendapatkan hadiahnya! Katanya hadiah tahun ini adalah pedang legendaris yang sudah lama hilang beratus ratus tahun lalu. Namanya Pedang Zhou. Itu adalah pedang yang digunakan penyihir terhebat sedunia waktu itu. Karena levelnya mencapai 1000."


Aku merasa tertarik, aku ingin bertanding.


"Pedang itu sangat menguntungkan untuk Tuan Valou. Lebih baik, Tuan Valou mendapatkan pedang itu, Tuan." kata Sane didalam diriku.


"Ada apa? Kau ingin mengikuti pertandingan itu?" tanya Theodore.


"Ya, aku ingin ikut."


"Tapi pertandingan ini diperbolehkan untuk umur 17 tahun keatas, Valou. Kita masih kecil."


"Apa?! Lalu bagaimana?!" aku terkejut.


"Sepertinya kau sangat menginginkan Pedang Zhou? Hmmm wajar saja menurutku. Karena pedang itu sangat ampuh melawan monster diluar sana. Kekuatan Attack nya sangat kuat."


"Ayo kita lihat pertandingannya sekarang!" aku menarik tangan Theodore.


"Tunggu, Valou!"


"Dimana tempatnya?"


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


*


"Pertandingan akan segera dimulai! Penonton harap mempersiapkan diri."


"Sudah mau mulai." batinku.


"Pertandingan pertama! Fei melawan Dee!"


"Siap? Mulai!"


Mereka bertarung. Semua sihir yang mereka tau mereka kerahkan hingga batas akhir.


Pertandingan terakhir pun telah tiba dan di sinilah penentuan terakhir. Siapa yang akan mendapatkan Pedang Zhou.


"Siap? Mulai!"


Pemenang babak final mengerahkan seluruh tenaga nya.


"Aku yang akan menang dan mendapatkan Pedang Zhou!"


"Tidak! Akulah pemenangnya!"


Pertandingan itu sangat hebat. Saking dahsyatnya kekuatan mereka berdua, arena pertandingan pun sampai retak.


Pandanganku terhalang sinar yang memancar karena sihir itu. Setelah cahaya itu memudar, kulihat mereka berdua terbaring lemas tak berdaya dan tidak bisa bergerak lagi karena kekuatan mereka sudah terkuras habis.


"Tidak ada pemenang!"


"Syukurlah. Pedang Zhou aman." batinku.


"Pertandingan ini selesai! Terimakasih yang sudah berpartisipasi dan menonton tahun ini. Sampai jumpa tahun depan! Hadiah pemenang masih tetap, yaitu Pedagang Zhou."


"Ayo, Valou. Kita berangkat. Ini sudah hampir terlambat." ajak Theodore.


"Y-ya, baiklah."


***


Di perjalanan ku mengantar roti, aku selalu memikirkan Pedang Zhou. Aku tertarik dan aku menginginkan nya. Pedang itu sangat indah dimataku saat ini.


"Tuan Valou, ada apa?" tanya Sane didalam tubuh ku.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan Pedang Zhou. Entah kenapa aku selalu membayangkannya."


"Sepertinya Tuan harus bersabar. Tunggu sampai Tuan Valou memenuhi syarat mengikuti pertandingan itu."


"Ya, aku tau itu."


Aku pun sampai di toko. Aku masuk kedalam dan mencari sang pemilik toko tersebut.


"Ehh, kau lagi. Roti ya? Terimakasih sudah mengantarnya kemari." ucap salah satu pegawai ditoko itu.


"Iya. Ini, silahkan rotinya." aku memberikan roti yang kubawa kepada si pegawai.


"Terimakasih! Ini koin perak untukmu." pegawai itu memberiku koin sebesar 50 koin perak. Itu cukup untuk membeli makanan untuk tiga hari. Namun aku bingung, haruskah aku menerimanya? Lagi pula, sebelum pulang kami diberi roti dari pabrik. Makan roti saja aku sudah kenyang.


"Tidak. Terimakasih atas tawarannya, kak!" aku menolak pemberian itu.

__ADS_1


"Benarkah? Hmmm, baiklah tidak apa-apa. Kembali lagi lain kali ya!" pegawai itu melambaikan tangannya padaku saat aku hendak keluar toko. Aku membalasnya.


__ADS_2