Valou

Valou
Bab. 4


__ADS_3

Aku pergi ke tengah kota untuk mencari makan. Ya benar, persediaan makananku sudah habis.


Saat aku sedang menengok kearah kiri dan kanan, aku melihat seorang anak yang sedang dipukuli. Aku segera menghampirinya, "hey! Hentikan itu!"


Salah satu anak berhenti memukuli, "kau siapa berani mengentikan ku?"


"Aku memang bukan siapa-siapa, namun apa salahnya? Kau memukulinya." jawabku.


"Kau ini anak darimana hah?! Aku belum pernah melihatmu? Apa kau anak siluman? Hahahahaha." ledeknya.


Aku hanya diam. Aku tidak ingin ada keributan ditengah-tengah kota yang ramai ini. Namun, didalam diriku sepertinya ada yang sedang kesal karena dia menyebutku anak siluman.


Sane berlahan keluar dari tubuhku dan menampakan dirinya pada anak itu, "beraninya kau memanggl Tuanku anak siluman!"


Anak itu ketakutan, "Sane, berhenti. Kembalilah." suruhku.


"All right, my lord." Sane pun kembali masuk dalam diriku.


"A-apa itu tadi?! Monster!! Lari!" anak itu berlari disusul dengan temannya.


Aku mendekati anak yang dipukuli tadi, "kau tidak apa-apa?"


"Kau monster! Pergi dariku."


"Aku bukan monster. Tenang saja dia tidak akan menyerang mu." bujukku.


"Benarkah?"


"Hmm, benar." aku mengulurkan tanganku padanya.


Dia memegang tanganku, "terimakasih sudah membantuku."


"Tidak masalah."


Dia pun berdiri, "Namaku Theodore. Salam kenal!"


"Namaku Valou. Salam kenal juga."


"Valou? Aku belum pernah mendengar nama itu disini. Kau berasal darimana?" tanya Theodore.


"Aku berasal di hutan. Aku kesini untuk menyelamatkan ibuku, namun saat aku hendak menyelamatkannya dia sudah tidak terselamatkan. Sebenarnya sudah dua tahun lalu ibuku diculik." jelasku.


"Benarkah? Aku turut berduka cita untukmu, Valou." jawabnya dengan wajah sedih.


"Itu tidak masalah. Aku baik."


"Hmmm kalau begitu, kau mau kemana?" tanya Theodore.


"Aku ingin mencari makanan. Tapi aku tidak punya koin perak. Maka dari itu aku mau mencari pekerjaan kecil." jawabku.


"Kau ingin mencari pekerjaan? Bekerja saja bersamaku! Aku punya pekerjaan untuk seumuran kita. Namun sepertinya lebih tua dirimu?"


"Umurku... Baru 12 tahun."


"Umurku 11 tahun. Kalau begitu ayo? Kita ke tempat kerjaku." ajakknya.


Karena tidak ada pilihan lain, aku menurut pada Theodore. Aku mengikutinya.

__ADS_1


***


Setelah berjalan beberapa saat, kami sampai di tempat kerja Theodore. Terlihat usang.


"Ini dia! Maaf karena aku tidak punya kendaraan, jadi kita hanya jalan kaki. Sedikit memakan banyak waktu ya?"


"Tidak masalah untuk itu. Aku baik. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik!"


Theodore masuk kedalam. Aku mengikuti. Saat masuk kedalam, ternyata didalamnya adalah sebuah pabrik pembuat roti. Tak banyak pekerja disini.


"Ini... Pabrik roti, Theodore? Kau bekerja sebagai apa?" tanyaku.


"Ohh, untuk anak kecil seperti kita, kita hanya perlu mengemas roti-roti dan menaruhnya di tempatnya masing-masing. Gaji disini memang tidak seberapa... Tapi yang penting kita bisa makan." jawab Theodore.


"Baiklah. Bagaimana caranya aku mulai bekerja?"


Theodore tertawa, "kau harus pergi ke pemilik pabrik roti ini, Valou. Minta izin ke dia untuk di izinkan bekerja disini. Lalu kau akan diberi tugas dari dia."


"Dimana dia?"


"Aku antarkan!"


Theodore membawaku ke sebuah ruangan. Ini pasti ruangannya.


"Masuklah, Valou." Theodore masuk lebih dulu.


Aku masuk bersama Theodore. Kulihat seorang wanita tua sedang duduk menghadap kearah jendela. Theodore memanggil nya.


"Nenek Sara, ada yang ingin bekerja lagi disini. Apakah boleh?"


"A-aku..." aku mengangkat tangan kanan ku.


"Oh adek kecil, apa kau ingin bekerja disini?" tanya nenek itu.


"Iya, nek. Aku ingin bekerja disini. Apakah boleh?" jawabku.


"Apa kau tidak punya orang tua nak?"


"Ini interogasi lagi atau apa?" batinku.


"Tidak ada. Mereka semua sudah meninggal, nek."


"Baiklah, maaf sudah bertanya demikian. Kau ahli dalam bidang apa nak? Kalau tidak ada aku akan menugaskan mu untuk mengantar roti pada pelanggan. Karena tugas untuk mengemas roti sudah penuh."


"Aku tidak tau aku ahli dalam bidang apa."


"Hmmm, baiklah. Kau bertugas mengantar roti ya? Apa kau bisa?"


"Ya, aku bisa."


"Baiklah, selamat bekerja, eee siapa namamu?"


"Valou Lauckade."


"Selamat bekerja, Valou. Gaji untuk ini satu bulan sebesar 100 koin perak. Apa itu cukup?"

__ADS_1


"Ya, nek. Itu cukup."


"Baiklah. Kau mulai bekerja sekarang ya, nak Valou."


"Baiklah."


Kami berdua pergi untuk melakukan tugas masing-masing. Aku mengantar roti yang sudah dikemas oleh Theodore dan yang lainnya pada toko toko dan pembeli yang memesan.


Saat pesanan terakhir sedang ku antar ke pemesan. Ada yang menghadang ku.


"Hey, nak. Apa kau punya uang?"


Sekelompok preman mengepungku, "aku tidak punya uang, paman."


"Benarkah?"


"Ya."


"Geledah dia."


Tiga orang maju untuk menggeledahku, aku menghindar. Namun malah di tangkap oleh preman lainnya. Jalan sudah sepi karena sudah malam. Tidak ada yang bisa ku mintai tolong.


"Sane." panggilku.


Sane keluar dari dalam tubuh ku. Preman yang menangkapku melepaskanku dan mundur perlahan.


"A-apa itu?!"


"Itu iblis!"


"Bagaimana mereka tahu kalau Sane adalah iblis?" batinku.


"Bocah ini punya iblis! Dia pasti pengguna sihir langka! Kita harus beritahu raja."


"Tidak! Jangan beritahu siapapun tentang jenis sihirku!" aku mencegah mereka berlari.


"Cepat kabur dan beritahu raja!"


"Zack! Laras!"


"All right, my lord."


Zack dan Laras memburu preman yang hendak lari tersebut. Mereka mencabut nyawanya.


Tubuhku bercahaya, "apa?"


"Tuan tenang. Itu adalah tanda kalau Tuan naik level. Mereka berdua berada di level 65, ditambah level ibumu dan yang ku cakar tadi siang. Level Tuan sekarang adalah 500."


"500???!!!! Itu gila!!!"


Sane ikut mencabut nyawa preman terakhir.


"Level Tuan sekarang 650."


"Sane, batas maximum level dunia sihir berapa?" tanyaku. Aku terkejut dengan kejadian ini. Roti di tanganku ikut bergetar.


"1000, Tuanku. Sepertinya, level Tuan akan melampaui batas. Di dunia ini, tidak ada yang melewati level 1000. Terakhir kali adalah dua ratus tahun lalu oleh seorang penyihir paling hebat yang telah mencapai level 1000. Dia sudah tiada sekarang." jelas Sane.

__ADS_1


"Tuan seharusnya menjadi raja dan menjadi orang paling tinggi disini." kata Laras.


"Di umur sedini ini, Tuanku sudah sangat hebat! Aku tidak pernah menyesal menjadi pengikutnya." lanjut Zack.


__ADS_2