
"Tapi harus bagaimana lagi?! Jika tidak, dia bisa mengejar."
"Lari saja secepat mungkin."
"Kau baik? Aku mau pergi. Sampai jumpa lagi." aku berlalu meninggalkan Lia untuk kedua kalinya.
Aku melanjutkan perjalananku hingga sore. Setelah sore, aku kembali ke kota lewat belakang, aku memanjat dinding nya dan turun di area sepi. Tidak ada yang curiga denganku.
"Kau lagi?"
"Lia?"
"Kenapa aku terus bertemu denganmu?" Lia protes padaku.
"Aku tidak tahu. Aku tidak peduli."
"Kau! Kau terlalu dingin untukku."
"Lagi pula, siapa yang ingin hangat padamu?" aku menatap Lia dengan tatapan datar.
"Kau sangat menyebalkan!"
Aku tidak menghiraukan perkataan Lia. Aku pergi meninggalkannya lagi, kali ini aku akan pergi ke restoran tadi pagi.
"Valou?"
"Theodore?"
"Kau sedang apa berjalan sendirian disini malam-malam?" Theodore menghampiri ku.
"Tidak ada. Aku hanya sedang mencari udara saja. Sebentar lagi aku akan pulang." jawabku.
"Dimana rumah mu? Aku ingin bermain dirumah mu! Ayo."
"Rumahku... Itu itu..."
"Kenapa?"
"Jangan main dirumahku."
"Kenapa memangnya? Apakah sedang ada masalah?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Sebenarnya aku tidak punya rumah, aku hanya ikut tidur di gubuk tua."
"Apa?! Emmm, kalau begitu tidur dirumahku saja! Tidak apa-apa." ajak Theodore.
"Tidak, itu terlalu merepotkan untukmu."
__ADS_1
"Tidak masalah! Ayo, jangan tidur di gubuk lagi."
Karena aku tidak punya pilihan, aku pun mengikuti Theodore dan tidur dirumahnya. Aku disambut hangat oleh ayahnya. Ayahnya pun mengizinkanku untuk tidur dirumahnya.
Theodore mengajakku ke kamarnya dan menyiapkan dua tempat tidur, satu untukku dan satu untuk Theodore. Aku merebahkan diriku. Kucoba untuk tidur, namun tidak bisa. Entahlah, aku sedang tidak memikirkan apapun, dan tidak bisa tidur. Mungkin aku insomnia.
"Valou? Kenapa?" tanya Theodore.
"Tidak ada. Aku hanya susah tidur saja." jawabku.
"Kalau begitu cepatlah tidur. Besok kita berangkat bekerja lagi. Kita hanya libur di hari gajian saja."
"Benar. Kasihan nenek Sara, aku harus segera tidur." aku memejamkan mataku dan berusaha untuk tidur.
"Kenapa Lia terus mengikutiku?" batinku.
Aku menyadari bahwa Lia sedari tadi terus mengikuti kemana-mana. Bahkan sekarang dia berada di balik tembok kamar Theodore bagian luar. Aku menyadarinya.
"Kenapa kau mengikuti ku?"
Lia terkejut, "telepati?"
"Apa kau punya masalah dengan ku? Atau kau punya sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku? Besok saja. Kau pergi lah. Jangan mengikuti ku terus." aku pun langsung menutup mataku dan tidur.
"Jadi dia sedari tadi tahu aku mengikuti dirinya?"
"Aku tertarik denganmu. Aku akan menemui mu besok." Lia pergi meninggalkan rumah Theodore.
"Hey Valou! Ayo makan siang bersama." ajak Theodore.
"Baiklah. Tapi dimana?"
"Disana! Ada banyak makanan enak disana. Ayo!" Theodore menarik tanganku.
"Berhenti."
"Siapa kau?"
"Lia?" aku mengangkat satu alisku.
"Kau kenal dia, Valou?" bisik Theodore.
"Aku ingin bicara sebentar dengan orang yang dibelakang mu." kata Lia.
"Kau punya urusan apa dengan Valou? Kami akan makan siang bersama lalu melanjutkan pekerjaan kami. Jika kau ingin bicara dengannya, maka tunggulah..." Theodore berbicara sambil memejamkan matanya.
"Eh?! Valou?!" Theodore mencariku. Aku sudah di tarik duluan oleh Lia.
"Kembalikan Valou!" sorak Theodore.
"Valou? Jadi namamu Valou? Nama yang bagus." Lia tidak berhenti menyeretku.
__ADS_1
"Setidaknya jika kau mau berbicara denganku, undanglah aku dengan sopan. Bukan seperti ini."
"Maaf." Lia langsung melepaskan tangannya dari kerah bajuku. Aku terjatuh dan aku langsung berdiri.
"Kau ini wanita yang sangat barbar dan liar. Tidak sopan denganku." aku membersihkan bajuku.
"Apa kau bilang?!" Lia melotot kearahku.
"Hmmmmm....?" bayangan Sane keluar dariku.
"Sane!" aku melirik keatas.
"All right, my lord." Sane kembali.
"Jika kau mau berbicara denganku, benar apa kata Theodore. Aku harus segera makan siang dan bekerja. Sampai jumpa lain waktu." aku pergi meninggalkan Lia yang terdiam dengan ekspresi ketakutan.
"Sepertinya aku sudah membuat beberapa orang syok karena kemunculan Sane..." batinku.
"Valou?! Kau tidak apa-apa kan? Kenapa wanita tadi membawamu? Dan dia siapa? Kenalanmu?" Theodore melempari ku berbagai pertanyaan.
"Satu-satu, Theodore. Ya aku tidak apa-apa. Dan aku tidak tau kenapa dia membawaku. Sebenarnya bukan kenalanku, aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya."
"Apakah benar? Aku pikir dia pacarmu."
"Aku tidak tertarik dengan percintaan dan wanita. Aku tidak peduli..."
"... Ayolah, aku harus segera bekerja, Theodore." lanjutku
"Ah iya. Mari."
"Valou anak yang menarik."
"Katanya ikan danau yang ganas di luar pinggiran kota sudah lenyap? Siapa yang melakukannya ya?"
"Entahlah tapi yang membunuhnya terlihat sangat kuat. Lubang di perut ikan itu sangat..."
"Apa yang dibicarakan oleh orang-orang?" aku melihat sekeliling. Terdengar sedang membicarakan seekor ikan. Mungkinkah itu ikan yang ku bunuh kemarin?
Aku kembali ke pabrik roti dan mendapati Theodore yang sedang duduk di depan pabrik, "Theodore?"
"Oi." panggilku.
"Akhirnya kau datang juga, Valou."
"Memangnya ada apa?"
"Nenek Sara akan pergi ke kota lain untuk bisnis rotinya. Jadi kita di liburkan sampai dia pulang. Dan aku ada berita untukmu, berita ini sangat banyak dibicarakan orang-orang hari ini. Ikut aku." Theodore memintaku untuk mengikutinya.
"Berita apa?" aku hanya mengikuti Theodore.
Theodore membawaku ke balai kota, disana sangat ramai penduduk. Entah apa yang ada disana. Aku menerobos untuk bisa melihat apa yang tergantung di depan sana. Ternyata itu adalah ikan yang ku bunuh kemarin dengan satu serangan.
__ADS_1
"Ikan ini?"