VEGARDDIAN

VEGARDDIAN
Bab 15


__ADS_3

Di tempat perkampungan kecil pada Negeri Grimorine.


Viseus, Ephile, Nansiline, Noko dan Ruby bersama Jhinta pada tempat pemukiman kampung kecil itu.


kedatangan Jhinta bersama ke lima orang itu di sambut baik dengan ramah oleh penduduk di tempat itu.


kampung itu terdiri dari 50 gubuk dan masih terlihat sebagian besar hutan lebat di wilayah Grimorine itu. Jhinta dan ke lima orang itu ber istirahat pada kedai gubuk kecil. lalu kemudian mereka memulai perbincangan.


Viseus mulai mengatakan pada Jhinta, bahwa dari saat perjalanan kenapa Jhinta tidak bisa di ajak bicara. sampai setengah hari itu dia tidak berbicara sepatah kata pun.


Jhinta pun mulai menjawab nya setelah minuman itu datang. bahwa jika kalau berbicara sambil berjalan akan menghambat waktu untuk menuju ke tempat tujuan. Karena hutan seluas ini hampir tidak ada sebuah lahan untuk di jadikan jalan. dan tidak akan pernah ada jalan masuk dan keluar menuju hutan dan tempat ini. Siapa pun yang tidak memiliki niat tujuan yang pasti, untuk menuju tempat itu. Mereka akan tersesat.


Noko pasko dengan curiga menatap melihat-lihat tempat pemukiman sekitar itu. Tampak nya seperti orang biasa saja. gubuk dan orang-orang di tempat itu senang melihat kehadiran nya.


Ruby yang sangat lahap memakan hidangan di kedai itu sangat merasa menikmati nya.


Namun beda hal nya dengan Ephile yang mengamati jelas dengan perasaan hampa yang membuat nya tidak bisa menikmati untuk sebuah perjalanan yang panjang yang di lalui.

__ADS_1


Ephile mengatakan pada Jhinta tentang pendapat yang saat itu di ingat. Bahwa sebelum nya, Mereka mendapati belahan Negeri yang sangat mengerikan akan muncul nya peperangan besar pada semua penjuru negeri. Dan mengatakan juga bahwa seluruh Negeri itu berperang pada titik terang dan gelap.


Ephile juga menceritakan bahwa Negeri nya tempat mereka berasal sudah hancur rata dengan tanah. Ephile merasa berterimakasih dengan anugerah yang telah di berikan kesempatan hidup pada Negeri Grimorine ini.


Yang di mana negeri ini sangat tenang dan tentram, bahkan dari mereka berlima juga merasakan keberuntungan untuk anugerah yang mereka dapati saat itu. Mereka berlima telah menemukan sebuah negeri yang terkesan ajaib ini.


Setelah Ephile dan mereka semua termenung menikmati makanan dan minuman di kedai itu. Sedikit demi sedikit mereka menemui kejanggalan pada tempat kedai tersebut.


Mereka semua mabuk bersenang-senang dengan merayakan kebahagian. tidak sadar di bawah meja tempat mereka makan menampak kan. sebuah sarang laba-laba, beralih pada kursi yang terlihat tua dan berdebu. Pintu berdecit dengan penampakan gubuk yang sebenarnya tidak berpenghuni, dan seluruh kampung kecil itu adalah kampung mati yang sudah tidak berpenghuni.


Jhinta sedikit menjelaskan pada mereka semua dan menanyakan tujuan mereka untuk kehidupan kedua yang mereka inginkan. akan karena mereka yang sebenar nya itu telah memilih untuk bertekad untuk berusaha mencari kehidupan pada negeri lain.


mereka berlima yang sebenar nya sudah sadar dengan ke adaan tersebut. mereka semua yang saat itu mabuk meminum arak piseru dan yang jelas raga mereka di ambang pada rakit yang telah sekarat pada titik antara hidup dan mati.


Pada saat mereka berlima mabuk di meja itu sama persis yang di alami pada rakit. sehingga sudah di simpulkan bahwa Jhinta mengembalikan jiwa perasaan ke lima orang itu pada saat mereka mempertaruhkan kehidupan nya pada luas lautan demi anugrah yang di inginkan.


Viseus yang mengira itu adalah sebuah halusinasi mencoba membangkang kata dari Jhinta bahwa hal itu tidak nyata untuk di pilih sebagai jawaban yang tepat.

__ADS_1


Jhinta menjawab pada Viseus, Bahwa tidak mungkin ada dua perasaan yang berbeda dalam hati juga pikiran saat seorang itu memiliki sebuah simfoni kehidupan untuk di wakil kan pada sebuah lagu karangan nya sendiri dengan perasaan nya. Apa bila lagu itu dapat menuntun hatimu sendiri untuk menyukai nya. pilihlah pada satu perasaan yang pasti.


Ephile yang termenung bingung juga menjawab apakah sebuah mimpi atau kenyataan yang saat ini dia dengar, di lihat dan di rasakan. Ephile yang memiliki keraguan untuk memilih menjawab iya atau tidak. mengatakan pada Jhinta di mana dia bisa membuat nya percaya dengan hal tersebut. Kemudian Jhinta itu mengatakan, Bahwa setiap ukiran yang di ukir itu sebelum nya dia percaya dengan ukiran kayu yang dia akan buat. bahkan dia sudah tahu gambaran untuk apa yang telah di wujudkan. Bila boneka kayu yang tidak dapat bicara akan menanyakan untuk apa di buat. maka siapa yang akan menentukan pilihan untuk nya. Maka pilihlah lembaran baru untuk bisa menentukan nya.


Di sinilah mereka di hadapi dengan perdebatan batin nya diri sendiri. Jhinta sebagai penuntun dalam upaya untuk memilih jalan takdir mereka untuk segera bisa memeluk kematian nya dengan cara mereka sendiri. agar bisa menerima segala simfoni kehidupan mereka sebelum nya untuk menuju kemurnian dalam anugerah yang mereka inginkan, tanpa terbebani dengan banyak nya pertanyaan soal harapan yang terkesan berat untuk di lepaskan.


Dari mereka berlima Viseus, yang masih hidup dengan ephile juga yang masih sehat. sementara Noko dan Ruby serta Nansiline anak dari Viseus itu telah mati dengan membawa raga nya.


hanya tersisa Viseus dan Ephile dari ke lima orang menjadi dua orang pada tempat meja itu.


Ephile menanyakan pada Jhinta tentang apa yang telah terjadi pada mereka bertiga yang tiba-tiba menghilang. Jhinta menjawab nya karena dalam diri mereka Noko dan ruby tidak menanamkan ke inginan berada pada dunia di bumi ini. bahwa Anugerah nya telah menuntun mereka pada dunia cinta pada kehidupan yang abadi. Dan Nansiline juga tidak memiliki harapan untuk bisa menjalani kehidupan di bumi yang penuh dengan kehidupan yang penuh dengan warna. Nansiline hanya memilih satu warna yaitu ketentraman dan keheningan.


Viseus mengatakan mengapa dirinya juga tidak bisa menghilang seperti anak nya. Jhinta menjawab perbedaan nya hanya seperti memilih lembar kertas baru atau pun menghapus tinta pada lembar kertas itu.


Rasa tanggung jawab itulah yang membuatmu untuk ingin bisa memperbaiki sesuatu dalam dirimu. Viseus itu pun ingin menanyakan pada Jhinta apaka dia bisa menemui anak nya saat ini. Jhinta pun mengatakan, jika lembar itu sudah di pilih maka lembar kertas selanjut nya akan putih kosong. semua maka perlu untuk menulis kisah baru sebelum menentukan tujuan yang selanjut nya.


Tat kala kemudia Viseus memejamkan mata nya yang terjadi Viseus telah bisa melihat Nansiline anak nya itu bisa tersenyum melihat nya dalam dunia yang berbeda. sehingga Viseus jauh lebih merasa tenang dan tentram dapat bertemu dalam dunia kehidupan yang berbeda melalui pemikiran nya.

__ADS_1


Dan Ephile juga menanyakan pada Jhinta bahwa apakah mereka berdua ini masih hidup atau mati. lalu Jhinta mengatakan bahwa kalian berdua sudah memeluk kematian kalian sendiri. kalian telah menyatukan nafas dari raga kalian sendiri. yang dimana kalian sudah berdiri pada kepercayaan kalian masing-masing. maka di situlah tempat untuk bisa di di naungi oleh roh dari jiwa kalian sendiri.


Salah satunya yang tidak bisa seperti itu adalah seorang yang membohongi diri sendiri. maka yang seperti kalian adalah orang yang tepat untuk memegang teguh kepercayaan diri sendiri.


__ADS_2