
Namaku Keysia Wijaya, usiaku 25 tahun dan baru saja menyelesaikan kuliah S1 di salah satu universitas pendidikan.
Saat ini aku telah diterima sebagai guru pengajar di salah satu sekolah kejuruan yang cukup terkenal di kotaku.
Hidupku tidaklah mudah, untuk mencapai apa yang kucita-citakan aku harus berjuang ekstra keras. Bahkan aku tidak sempat merasakan yang namanya cinta monyet dalam hidupku.
Tapi sudahlah, aku akan fokus dengan pasangan ketika aku telah bekerja dan telah mampu menfkahi diriku sendiri. Tuhan tentu saja telah menyiapkan jodoh kepada semua manusianya ciptaannya, hanya menunggu waktu.
Tapi, kalau boleh jujur aku sangat menginginkan pasangan yang mafan dan cukup kaya. Bukannya aku wanita materialistik atau sebagainya, aku hanya ingin hidupku lebih baik keluar dari zona kesederhanaan selama ini.
Bukannya aku tidak bersyukur dengan hidupku selama ini. Aku hanya ingin mempunyai materi lebih sehingga aku bisa membantu orang-orang terdekatku terutama ibuku.
Aku ingin memenuhi kebutuhan ibu, selama ini ibu sudah terlalu membanting tulang agar mampu memenuhi kebutuhanku bersama kakak perempuanku.
Ibuku seorang wanita tangguh. Dia mampu berperan ganda yakni sebagai Ibu sekaligus sebagai ayah bagi anaknya. Bisa dibilang ibu adalah manusia yang kelak akan menjadi penghuni sorga.
Menjadi single farent bukanlah pilihannya. Suami yang selama ini menjadi imam telah menghilang tanpa satupun jejak yang ditinggalkan. Luka dan sakit sudah pasti ibu rasakan dengan nasib yang dialaminya. Namun luka tersebut seakan dipaksa mengering dengan berjalannya waktu.
Ibu mampu bangkit demi anak-anaknya. Bekerja melebihi kemampuannya demi pendidikan mereka pula. Sekalipun dia tidak berpikir untuk meninggalkan putri-putrinya demi kepusan batin yang ditawarkan oleh insan yang disebut laki-laki.
Ibu hanya ingin bekerja, bekerja dan terus bekerja tanpa satupun putrinya diijinkan membantunya. Dia hanya ingin anaknya agar fokus belajar agar hidupnya tidak seperti dirinya.
Ibu sangat hobby minum kopi, karena kopi dapat mengurangi rasa rindu kepada laki-laki yang paling berharga dalam hidupnya. Kopi pahit yang dikonsumsinya seakan mengutarakan jika hidupnya sama dengan rasa kopi tersebut.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa aku harus selektif mencari pasangan. Tapi dengan penghasilan yang aku miliki tentu belum cukup untuk memanjakan ibuku sehingga aku perlu pasangan yang mapan.
Kata orang aku wanita cantik dan body goal makanya banyak laki-laki yang pernah mengungkapkan perasaan kepadaku. Tapi tidak satupun diantara mereka menjadi kekasihku.
sekali lagi aku ingin keluar dari zona kederhanaan.
Hal ini seakan-akan telah menjadi komitmen dalam diri. Dan akupun begutu sangat konsisten untuk mewujudkannya sehingga teman-temannya menjulukiku dengan sebutan wanita yang berprinsip.
__ADS_1
**
Setelah setahun bekerja aku mulai dekat dengan seorang pria, pria yang kebetulan satu profesi denganku namanya Leo Ananta. Sayangnya Tuhan lebih dahulu menciptakanku ketimbang Leo, dengan rentang usia Leo tiga tahun lebih muda.
Jika dilihat dari penampilan, Leo sih OK dengan body atletis, tampan dan perawakan tinggi yang sangat menunjang profesinya sebagai guru olah raga.
Namun sampai saat ini aku belum bisa membuka hati untuk Leo bukan karena selisih usia kita tapi dia tidak masuk dalam kreteria yang kuharapkan. aku tidak yakin jika dia akan mampu mengeluarkanku dari zona kesederhanaan.
***
Pagi hari saat aku sampai di sekolah tempatku bekerja. Aku melihat Leo sudah mengajar dengan fokusnya. Tidak lupa dia memberikan senyum terbaiknya ketika menyadari kehadiranku. Aku berusaha mengabaikan perlakuannya karena tidak mau menjadi bahan perbincangan murid-murid.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Leo menghampiriku untuk sekedar memberikan perhatian disaat jam istirahat. Tidak jarang pula dia mengajakku untuk makan di kantin atau di luar sekolah. Tapi sejauh ini kami masih belum memiliki hubungan spesial hanya sebuah teman baik.
Pernah sekali Leo menyatakan perasaan kepadaku tapi aku tolak mentah-mentah. Aku masih diliputi keraguan dan gejolak dalam hati selalu menuntut pada prinsip yang kumiliki.
“Key nanti pulang sekolah kita makan di luar yuk!, ada tempat makan bagus dengan cita rasa enak ku yakin kamu pasti suka” ajakan Leo yang tiba-tiba sudah berada di hadapanku.
“tenang “ jawab Leo penuh semangat.
Sepulang kerja aku dan Leo menuju ke tempat makan seperti yang disepakati.
Perlakuan Leo terhadapku selalu membuatku nyaman. dia selalu mempunyai cara agar dapat membuatku senang. Aku sebenarnya sudah memiliki perasaan lebih terhadapnya, tapi aku masih enggan mengakuinya. Yang aku lakukan hanya berupaya mengacuhkan perasaan tersebut.
Di tempat makan
Aku dan Leo mengobrol tiada henti, kami paling nyambung jika sedang ngomongin kerjaan. Terkadang kami sampai tertawa terbahak-bahak mengekpresikan keseruan kami seakan-akan dunia hanya milik kami berdua.
“kamu pesan apa” Tanya Leo menghentikan obrolan
“mie ayam” jawabku penuh semangat karena perut sudah keroncongan.
__ADS_1
disaat menunggu pesanan kami kembali pada obrolan yang sempat terputus.
Setelah makan selesai, Leo terlihat menunjukkan ekpresi yang berbeda. entah apa yang ada dipikirannya.
"kamu baik-baik saja Le?" tanyaku mencairkan ketegangannya.
“key sudah ada jawaban mengenai pertanyaanku bulan lalu? Tanya Leo. Akhirnya aku sadar apa yang membuat sikapnya berubah dalam sekejap
“pertanyaan yang mana?” jawabku pura-pura lupa berharap Leo tidak memperpanjang pertanyaan
“jangan pura-pura deh Key!, aku sudah sebulan lho nunggu!” jawabnya sedikit kesal
“oh itu… apa mesti ku jawab sekarang?” jawabku santai
“sampai kapan aku harus menunggu Key? Apakah kamu masih ragu dengan perasaanku? Apakah aku tak pantas denganku karena usiaku lebih muda darimu?“ kata Leo dengan ekpresi kesal karena lawan biacaranya terkesan cuek tidak perduli.
“harusnya kamu tidak mempermasalahkan itu Key, banyak pasangan yang menikah beda usia dimana usia yang wanita jauh lebih tua dengan yang pria tapi dia bisa hidup bahagia. Coba lihat Dona Agnesia dengan Darius, Andika dengan Ussy ga masalahkan itu?” jelasnya panjang lebar dengan contoh. Mungkin sering nonton acara gosip
“ku mohon Key beri aku kepastian! Katakanlah jika kamu mau menjadi pacarku” Leo seperti anak kecil yang memelas dibelikan mainan.
Aku bukan ragu dengan perasaanmu Leo dan bukan pula perbedaan usia kita. Jujur aku sangat dilema dengan semua ini disatu sisi aku mungkin sudah mulai ada rasa lebih terhadapmu. Aku ragu untuk menerimamu karena jujur kamu bukanlah sosok pria yang masuk dalam prinsipku. Tapi aku tak rela jika kehilangan sosok pria yang tulus sepertimu.
"beri aku kesempatan" jawabku kembali
"sampai kapan?" balas Leo
"Aku tak tahu, aku hanya perlu waktu. aku ingin Tuhan memberiku jodoh seorang laki-laki seperti yang kuharapkan. Andai saja laki-laki itu kamu mungkin aku akan menerimamu. Maaf kan keegoisanku.
“sudah, aku ga mau bahas ini! kamu mau pulang sekarang atau aku pulang sendiri saja?” Tanyaku dengan nada meninggi berharap agar Leo tidak mendesakku. Aku sadar ini tidak baik egoku tentu saja menyakitinya. Leo adalah laki-laki baik yang tak pantas aku perlakulan seperti ini
Leo tidak berkata apa, memilih mengikuti kemauanku yang sudah bad mood. Dia bangkit dari tempat duduknya kemudian mengejarku yang telah pergi meninggalkanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Key. Tapi aku berharap kamu akan menerimaku karena aku sangat sudah mencintaimu" kata Leo masih berharap dan aku memilih melanjutkan langkahku dengan lebih cepat