Wanita Berprinsip

Wanita Berprinsip
Part 2 Liburan


__ADS_3

Mengisi libur sekolah aku bersama Dewi, Ersa, Sarah dan Ninik berencana pergi berlibur. Sarah dengan kebaikan hatinya berjanji akan membiayai semua kebutuhan kami selama liburan baik itu akomodasi, makan, dan hotel tempat menginap.


Semenjak menikah dengan pria bule bernama Frans kehidupan Sarah memang terbilang luar biasa. Suaminya yang notabene pengusaha sukses mampu memanjakan Sarah dengan kemewahan. Berkelana ke negeri orang sudah biasa dilakulannya setiap waktu.


Terlalu serakah rasanya jika berharap mendapat kehidupan seperti Sarah. Dengan mendapatkan seseorang yang bisa mengangkat kehidupan keluargaku saja rasanya sudah cukup. Setidaknya mampu membuat ibu untuk tidak meminum kopi pahit lagi.


**


Liburan tiba.


Sarah dengan mobil mewahnya memboyong kita kesuatu tempat yang sangat mengagumkan.


“friends kita menginap di Villa ini saja ya, lumayan dekat pantai” kata Sarah kepada Kita


“mudah-mudahan kalian senang” lanjut Sarah


“tempat ini sieh WOW banget bagi kami Sar” jawab Dewi sumringah.


“betul….pakai banget…..” tambah Ninik


Villa dekat pantai yang terkesan mewah dengan 3 kamar di dalamnya. Tentu saja kami akan menghabiskan waktu untuk berkumpul mengingat kembali kenangan-kenangan saat kuliah dulu.


Kami sangat senang masuk ke kamar masing-masing. Aku yang kebetulan sekamar dengan Dewi berjingkrak-jingkrak di atas bad kingsize seperti anak TK yang sedang main trampolin.


Sore harinya Sarah, Dewi, Ersa dan Ninik melakukan jalan-jalan di seputaran Pantai, sementara aku lebih memilih diam saja di villa. Ternyata sangat membosankan lama berdiam sendiri, akhirnya aku memutuskan jalan-jalan di taman Villa. Aku baru menyadari jika villa tempatku menginap terdapat beberapa bangunan yang sama dengan vilaku hanya saja setiap bangunan dipisahkan oleh tanaman bunga.


Aku sangat senang karena memang aku sangat penyuka berbagai jenis bunga.Tidak mau melewatkan hal indah ini akhirnya ku abadikan semua lewat ponsel canggihku.


“Bruuukkk. …..” seseorang menyenggol pundak kananku


“prakkkk” bunyi ponselku terjatuh


“ponselku” teriakku dengan mata menatap benda yang sudah hancur


“maaf, besok-besok jalan pakai mata jangan pakai HP” ucap seseorang pria yang telah menabrakku


Aku memandang geram pria yang menabrakku. Tidak sedikitpun dia merasa bersalah


“anda harus bertanggung jawab” kataku dengan air mata yang mulai basah


aku semakin geram ketika melihat ekpresi pria tersebut yang tetap tidak merasa bersalah justru berlalu meninggalkanku. Untung saja aku sempat mendikte muka pria pendosa itu.


aku putuskan untuk kembali ke kamarku. walaupun aku berusaha mengejar pria itu sepertinya akan sia-sia karena pria itu sudah berlalu entah kemana.


Sepanjang perjalanan aku merasa kesal tingkat tinggi. Andai kejadiannya bisa diundo tentu aku lebih memilih ikut jalan-jalan bersama teman-teman sehingga tidak harus kehilangan ponsel. ponsel yang kubeli dengan harga setara 2 kali gajiku.


Beberapa meter dari kamarku kulihat ada dua orang pria muda dan paruh baya yang sedang duduk-duduk santai sepertinya sehabis melakukan olah raga. saat mataku tertuju pada pria yang lebih muda tersebut. aku sadar jika pria tersebut yang mengakibatkan ponselku hancur.


Reflek kakiku melangkah kearahnya.


“ternyata disini ya? dasar orang tidak bertanggung jawab, ganti rugi ponselku ini!” kataku dengan marah sehingga kedua pria itupun terkejut.


“pergi dari sini! Aku tak peduli dengan masalah sepele seperti itu” bentak pria tersebut.


Mendengar nada bentakan tersebut nyaliku tiba-tiba menciut, telingaku tak terbiasa mendengarkan suara keras seperti itu. Lalu aku memilih membalikkan badanku untuk segera pergi dari hadapan pria yang mirip monster tersebut.


“jangan seperti itu pada wanita Zack!


“maaf, ada masalah apa sebenarnya?” tanya pria paruh baya tersebut begitu lembut sehingga berhasil menghentikan langkahku


Aku memandang detail pria paruh baya tersebut. Semakin ku pandang rasanya tidak asing diingatanku.


“Tuan” kataku karena mulai ingat jika pria tersebut adalah CEO tempat kakaku belerja


“rasanya kita pernah bertemu, dimana ya?” Tanya pria tua ikut mengingat-ingat kebetulan otak sedang tidak bisa diajak komproni


Mungkin pria tua itu sudah lupa tapi itu wajar mengingat usianya yang tidak lagi muda justru yang masih mudapun bisa lupa


“maaf tuan saya yang beberapa bulan yang lalu mengantar orang interview ke hotel tuan” jawab ku mengingatkan.


Dengan tiba-tiba ingatanku dapat berfungsi dengan maksimal dan akupun mengingat nama pria itu. Namanya adalah Pak Gidion.


 


Flash Back


 


Enam bulan yang lalu aku mengantar kak Cintya melakukan interview di sebuah hotel mewah di kotaku. Entah bagaimana awalnya saat itu kulihat kak Cintya sedang bercengkrama dengan seorang paruh baya seusai proses interviewnya.


Saat itu aku yang telah merasa bosan menunggu akhirnya kudekati kakakku. Sehingga pada saat itulah awal aku mengenal pak Gidion yang notabene sebagai CEO dari hotel tersebut.


Meskipun perbincangan kami hanya sementara, tapi itu cukup membuatku mengagumi beliau. Seorang pemilik hotel ternama tapi dengan rendah hati mau sekedar berbincang dengan orang sepertiku.


Pak Gidion sepertinya tertarik dengan pekerjaanku. Beliau bercerita jika Ibunya sendiri memiliki profesi yang sama denganku.


Flash back off

__ADS_1


“oh iya namamu Keira kan?” kata tuan Gidion terdengar mulai mengingat meskipun sedikit melenceng


“Keysia tuan” aku meluruskan dan ditanggapi dengan tawanya yang ringan


“kamu menginap di sini juga Key, ?” kubalas dengan anggukan kepala


“sama pasangan” bertanya lagi dengan ekpresi penasaran


“sama teman kuliah” jawabku


“oya Key ada masalah apa kamu dengan anak saya, mungkin bisa saya bantu?” Tanya tuan Gidion kembali pada permasalahan awal


“maaf tuan. masalahnya tidak terlalu penting, saya pamit balik ke kamar dulu ada yang perlu saya kerjakan” Sedikit menyindir pria muda disebelahnya yang membuatku geregatan


“Key, apa kamu tak ingin kenal dengan pria muda di sebelahku?” sebuah panggilan yang mampu menghentikan langkahku


"cih......seujung jaripun aku tak ingin mengenalnya" aku bermonolog sendiri.


Tapi apalah daya mau tak mau aku harus menurunkan sedikit gengsiku demi menghormati pria tua yang memanggilku kembali.


“K E Y S I A Wijaya” kuulurkan tanganku meskipun tak iklas


“Zacky” ucapnya singkat seraya berlalu meninggalkanku tanpa membalas uluran tanganku. Hal ini membuat aku semakin kesal. namun Tuan Gidion malah senyum-senyum menyaksikan interaksi kami.


Keesokan harinya


Dipagi hari dengan sepatu olahraga aku berniat untuk berkeliling diseputaran villa. Aku ingin memanfaatkan moment liburan ini untuk mengetahui banyak hal. Ingin mengajak teman-temanku tapi mereka memilih masih meringkuk di tempat tidurnya.


Beberapa meter menyusuri jalanan kudengar suara memanggilku. Dia adalah Tuan Gidion yang kebetulan sedang melakukan aktifitas yang sama denganku.


“selamat pagi tuan Gidion” sapaku ramah


“selamat pagi juga key kamu kelihatan cantik dan segar pagi ini, gimana kalau kita jogingnya sama-sama” ajak tuan Gidion sambil tersenyum


“tidak bersama Zacky?” tanyaku keceplosan. Entah untuk apa aku harus menanyakan pria sombong menyebalkan tersebut.


“tidak, anak itu masih mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan rekan bisnisnya siang ini” jelasnya.


Sepanjang kita berlari-lari kecil, tuan Gidion banyak bercerita dan tak jarang aku tertawa dengan humor konyolnya.


Selain rendah hati dia juga suka humor, berbeda dengan anaknya yang katanya bernama Zacky.


Setelah sejam berolahraga aku memutuskan kembali ke kamar. Sesampainya di depan kamar aku melihat Sarah, Dewi, Ersa dan Ninik sedang ngobrol dengan seriusnya dengan tangan masing-masing memegang cangkir.


“Gue kira lo dah balik ke rumah Key karena saat kuterbangun lo sudah ga ada” canda Dewi kepadaku


“jalan-jalan sambil cari cowok ya Key?” canda Ersa


Aku memilih berlalu tanpa menghiraukan candaan mereka. Sedikitpun jawaban keluar dari mulutku dapat dipastikan aku akan kena bullyan dari mereka. Satu-satunya hal yang inginku lakukan adalah sesegera mungkin ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang terasa lengket karena keringat.


Saat asik mandi kudengar Sarah menggedor pintu kamar mandi “Key, cepetan mandi gue tunggu di depan!”


“ya tunggu saja di sana ntar gue samperin” jawabku


Selesai merias diri aku bergegas kelobi depan mencari keberadaan teman-temanku.


“Friends siang ini suamiku akan mengadakan pertemuan dengan partner bisnisnya, kalian ikut gabung di sana ya! Kita langsung makan siang juga” kata Sarah saat aku mulai mendudukkan bokongku


“ini hanya pertemuan biasa aj kok tidak resmi” tambah Sarah berharap teman-temannya tidak melakukan menolakan


“ga salah Sar lo ngajak kita?” Tanyaku tak percaya


“pokoknya lo harus datang, ga usah banyak komentar ini kan terakhir kita bersama setelah itu gue sudah harus kembali ke Australia dan belum tahu kapan akan ke sini lagi” jelas Sarah seraya bangkit dari duduknya.


"ingat dandan yang cantik!" sarah berlalu sambil tertawa.


“baiklah kalau begitu” jawabku, Dewi, Ersa dan Ninik dengan bersamaan.


**


Siang harinya di tempat yang berbeda, Leo sedang mondar mandir dikamarnya karena sangat mencemaskan Keysia. Dari kemarin sore dia tidak bisa menghubungi Keysia. Ia mencoba mencari nomor salah satu teman Keysia tapi tal satupun nomor yang dia dapatkam. Dia terlihat prustasi.


Setelah lama akhirnya mendapatkan contak Dewi dari akun media sosialnya.


Tanpa basa basi Leo menghubungi nomor tersebut.


“hallo” jawab wanita di ponselnya


“ wik aku Leo. Apa kamu sedang bersama Keysia?”


Tanpa menjawab Dewi langsung menyerahkan ponselnya kepada Keysia yang sedang berdiri di sebelahnya.


“ini Leo nanyain Lo”


“nanti bawa ponselku ke tempat makan ya Key, aku tunggu di sana!. Jangan lama-lama!” lanjut Dewi sambil berlalu.


“Key ini kamu? Mengapa ponselmu tidak aktif?” Tanya Leo mengejutkan Keysia dari seberang sana

__ADS_1


“maaf Le, ponselku jatuh dan tidak bisa aku pakai lagi” jawab Keysia sedikit kesal mengingat kondisi ponselnya


“ya ga apa-apa yang penting kamu baik-baik saja, aku kangen” ucap Leo.


Keysia sebenarnya sangat senang jika Leo merindukannya dan diapun sebenarnya ingin ngobrol lebih lama dengannya tapi dia sadar kalau ponsel yang dia pakai hanyalah ponsel pinjaman yang harus segera dikembalikan karena yang punya begitu sangat membutuhkannya.


Dewi tidak pernah bisa lepas dari ponselnya karena dia harus wajib lapor ke tunangannya, apapun aktivitasnya pasti akan dia laporkan.


“le, besok aku pulang. Nanti ketemu di rumahku saja! Ponsel ini akan aku balikin” jawab Keysia kemudian mematikan sambungan telponnya.


“tut…tut” Leo merasa frustasi karena telponnya diputus begitu saja oleh wanita kesayangannya. Lagi-lagi Leo harus bersabar akan sikap Keysia.


Keysia dengan cepat berjalan ke sebuah resto di hotel tempatnya menginap untuk memenuhi janjinya makan siang bersama Sarah. Ia tahu teman-temannya yang lain sudah pada ke sana sedari tadi. Dan benar saja ketika ia sampai di tempat yang dituju ia sudah melihat teman-temannya sudah duduk manis dengan beberapa orang yang belum dia lihat secara jelas.


“maaf sarah aku telat” Keysia meminta maaf


“Don’t wory key” jawab Frans sambil tersenyum. Frans memang pria yang jarang berbicara tapi sikapnya sangat ramah


“Kamu temannya Sarah Key?” Tanya pria tua di depannya yang setelah ia amati ternyata pak Gidion.


“deg ” Keysia sangat terkejut karena pak Gidion juga ada di sana.


Oh ternyata partner kerja suami Sarah itu pak Gidion. Ternyata Zacky juga ikut. pikir Keysia


“selamat siang pak Gidion” sapa Keysia ramah


“siang Key” balas pak Gidion


“Mr. Gidion sudah kenal dengan Keysia ya? “ Tanya Sarah kepada pak Gidion dan dibalas dengan anggukan dari pak Gidion


“Ternyata dunia ini sempit” tambah Sarah sambil tersenyum


Sehingga semua mata tertuju pada Keysia.


Frans mempersilakan mereka semua untuk memesan menu yang ada.


Selama menunggu pesanan datang Keysia memanfaatkan waktu untuk mengembalikan ponsel Dewi yang telah dia pinjam saat komunikasi dengan Leo.


“Friends ada yang sudah merealisasikan prinsipnya nieh!” celetuk Dewi pelan jadi hanya dia, Keysia, Ersa, dan Ninik yang mendengar


“yang benar wik? tanya Ersa dan Ninik bersamaan.


“diam loe wik! Baru juga PDKT” jelas Keysia sambil mencubit pipi dewi


Sebenarnya Dewi, Ersa dan Ninik sangat senang jika Keysia sudah mulai membuka hatinya untuk pria dan mereka berharap pria yang dekat dengannya kali ini akan menjadi pacarnya sehingga Keysia bisa melepas status JOFOnya (Jomblo Forever).


Ketika makanan datang merekapun sangat focus pada makanan masing-masing tanpa ada yang berbicara, yang terdengar hanyalah suara sendok dan garpu yang saling beradu.


Saat itu pandangan Keysia tanpa sengaja tertuju pada Zacky dan ternyata orang yang dipandang pun sedang memandangnya. Mereka beradu pandang, namun secepat kilat mereka memalingkan pandangannya masing-masing.


Selesai menyantap makan siang, Zacky pun mulai membuka pembicaraan yang kurang lebih membahas proses kerja sama.


Keysia dan teman-temanya memilih diam dan hanya menonton prosesnya karena memang mereka tidak memiliki pemahaman tentang itu.


Melihat cara dan gaya bicara Zacky ternyata mampu menumbuhkan rasa kagum di hati Keysia.


“anda memiliki anak yang sangat pintar Mr.Gidion” ucap Frans memuji Zacky


“by the way, Mr.Zacky sudah menikah?’ Frans melanjutkan dengan logat bahasa Indonesia yang masih kaku


“Thank you Fran, Zaky masih tahap mencari jodohnya” jawab pak Godion.


“Mungkin gadis-gadis cantik yang sekarang duduk di sini ada yang mau dekat dengan anakku” sambung pak Gidion


“itu sih Keysia yang lebih tahu karena diantara kami hanya dia saja yang belum mempunyai pasangan” celoteh genit Sarah yang membuat Keysia sangat terkejut dan malu.


Keysia memilih menunduk untuk menyembunyikan mukanya yang sudah seperti kepiting rebus.


“Gimana Key?” tiba-tiba pertanyaan pak Gidion mengagetkan Keysia


Tak terdengar jawaban dari Keysia, dia hanya tersenyum karena menurutnya candaan tersebut konyol. Apalagi setelah melihat ekpresi Zacky yang terlihat biasa-biasa saja menyikapi candaan itu, yang menandakan ketidaksukaannya.


Untung saja Frans cepat mengalihkan pembicaraan dengan kembali membahas tentang kerja samanya. Kalau tidak mungkin saja pak Godion akan menuntutnya untuk menjawab pertanyaan tadi dan mungkin pula mengajukan pertanyaan yang lebih banyak lagi.


Saat para pengusaha sedang melanjutkan pembicaraannya lagi-lagi pandangan Keysia tertuju pada Zacky.


Betapa beruntungnya sosok Zacky ini, sudah tampan, mapan, dari anak pengusaha sukses lagi. Apapun yang dia inginkan pasti dengan mudah dia miliki.


alangkah beruntungnya wanita yang akan menjadi istrinya nanti.


Andai saja wanita itu adalah aku


Pasti hidupku akan sangat terjamin dan aku bisa keluar dari zona kesederhanaan yang selama ini kualami (Keysia menghayal).


“OMG…..apa yang telah aku pikirkan. Ini sangat tidak mungkin” pikir Keysia menyadarkan dirinya sendiri.


Meskipun itu tak mungkin namun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya dia berharap apa yang ada dalam pikirannya benar-benar terjadi karena pria itu masuk dalam prinsipnya

__ADS_1


__ADS_2