
"Tuan Andre, ada disini? "
Alexa merasa begitu heran, tetapi sang Andre keliatannya acuh sekali dengan pertanyaan Alexa.
"Nona Claude, Alexa. Tuan besar sudah menunggu kalian di dalam. "
"Ha-ah...? " Alexa menganga.
"Mari saya antarkan. "
Andre pun jalan terlebih dahulu untuk menjadi petunjuk jalan. Mereka pun memasuki gedung tersebut, yang rupanya adalah restoran mewah untuk kalangan orang-orang teratas.
Alexa jalan dengan menundukkan wajahnya, karena saat dia masuk ke tempat tersebut, banyak mata yang menatap dirinya dengan tatapan heran dan juga nakal serta sinis, mungkin karena berita dirinya yang sudah menyebar melalui media cetak beberapa waktu lalu.
"Silahkan.... "
Akhirnya mereka sampai di tempat yang telah dipesan Andre. Masih dengan wajah tertunduk Alexa masuk ke ruangan itu, sehingga Alex yang melihatnya berpikir, mungkin karena Alexa tidak ingin menatap dirinya maupun Andre.
"Jika kau menunduk seperti itu terus, kau akan menabrak orang saat berjalan, Alexa... " Nada bicara Alex yang terdengar dingin tapi begitu lembut.
"Maaf, tuan Alex... "
"Sudah saya bilang, saya tidak butuh maaf mu. " Alex langsung terlihat memasang wajah dingin yang agak kesal.
Alexa pun hanya mengangguk dan perlahan mengangkat kepalanya.
"Duduklah... " Perintah Alex kepada Alexa.
"Nona Claude, kenapa anda tidak segera duduk? " Alex berkata dengan sopan kepada Claude.
"Anda belum meminta saya untuk duduk, tuan... "
Alex pun bangkit dari duduknya sambil tersenyum tipis, lalu dia menarik kursi untuk melayani Claude duduk.
"Silahkan, nona Claude... "
"Tuan besar... Anda tidak perlu repot-repot seperti ini... "
"Tidak masalah, nona Claude. "
Claude pun akhirnya duduk di kursi tersebut. Sedangkan Alexa ingin duduk di sebelah Claude, tetapi Alex menahan tangannya saat dia ingin menarik kursi tersebut.
"Kamu duduk di sebelah saya. "
"Ha-ah...? "
Alexa terlihat kebingungan dan gugup, dan dia langsung menghempaskan tangan Alex.
"Ti-tidak usah, tuan besar. Biar saya duduk di sebelah nona Claude saja. "
"Jangan membantah saya! " Alex berkata dengan nada agak kesal.
"Alexa, tidak apa-apa... Kau bisa duduk di sebelah, tuan besar. "
Claude justru menyetujui perkataan Alex sehingga membuat gadis yang sedang menggendong Alya itu semakin kebingungan.
__ADS_1
Akhirnya tanpa sepatah kata bantahan lagi Alexa pun bergeser ke kursi yang bersebelahan dengan Alex. Dan seperti seperti yang dia lakukan kepada Claude, Alex menarik kursi untuk Alexa duduk, tetapi dia melakukannya dengan wajah dingin.
Beberapa pelayan dari restoran tersebut masuk untuk menyajikan beberapa hidangan yang telah dipesan. Begitu banyak makanan ada di meja itu, sehingga membuat Alexa yang pertama kali melihat makanan sebanyak itu jadi kebingungan.
"Berikan Alya kepada ku. "
Alex meminta Alya dari Alexa, tanpa bertanya Alexa pun memberikan Alya yang dari tadi ada gendongannya itu kepada Alex. Alya juga tidak merasa keberatan sama sekali saat ayahnya itu mengambil dirinya dari Alexa.
"Sekarang kau makanlah, biar saya yang akan menjaga Alya. "
"Oh, baiklah, tuan besar. "
Entah kenapa Alexa terlihat penurut sekali dengan perkataan Alex saat ini, dia pun mengambil sendok garpu dan langsung menyantap hidangan yang ada di hadapannya.
Alex juga mempersilahkan Claude untuk makan, sedangkan dirinya menjaga Alya dengan begitu telaten.
Alexa makan dengan lahapnya, mungkin karena dia begitu lapar, jadi dia dengan senang memakan hidangan yang ada di hadapannya saat ini. Claude dan Alex yang memperhatikan Alexa hanya bisa menggelengkan kepala mereka dengan pelan.
'Segitu laparnya dia, sehingga makan dengan begitu lahap. ' Gumam Claude dalam hatinya.
'Sebenarnya sudah berapa hari gadis ini tidak makan? ' Alex bergumam dalam hatinya sembari mengerutkan keningnya.
Setelah selesai Alexa meletakkan sendok garpu dengan rapi, dan tiba-tiba dia bersendawa dengan keras, sehingga dia merasa sangat malu.
"Sebegitu kenyangnya sehingga angin keluar dari mulut. " Claude bergumam dengan penuh candaan sembari tersenyum kecil.
"Maaf, tuan besar. Saya mau izin ke toilet terlebih dahulu! "
Alex hanya menganggukkan kepalanya saja untuk mengiyakan perkataan Alexa. Alexa pun segera pergi ke toilet dengan rasa malu atas kejadian barusan.
"Bisa-bisanya aku bersendawa sekeras itu di hadapan nona Claude dan tuan besar?!! "
Alexa bergumam kesal kepada dirinya sendiri, karena dia tidak pernah bersendawa sekeras itu.
Dia pun menyalakan keran wastafel untuk mencuci tangan. Saat dia sedang mencuci tangan tiba-tiba ada seseorang yang mencengkram bahunya dari belakang.
Alexa pun melihat ke kaca untuk melihat siapa yang ada dibelakang dirinya, seketika wajah Alexa langsung pucat pasi ketika melihat orang itu dari kaca.
"Saya menemukan mu Alexa.... "
Tubuh Alexa langsung bergetar ketakutan saat mendengar suara itu. Suara seorang wanita kejam yang sudah lama tidak dia dengar.
"N-n-no-nona A-a-al-bert...... "
Alexa kesusahan bicara karena dia sangat takut dengan wanita yang sedang bersamanya ini.
Wanita itu pun membalikkan tubuh Alexa, sehingga Alexa berhadapan dengan dirinya.
"Lama tidak berjumpa Alexa.... "
Tatapan wanita itu begitu penuh dendam dan kebencian kepada Alexa.
"Nona Albert... "
Alexa semakin gemetar ketakutan, dan bayang-bayang masa lalu yang menakutkan kembali melintas di pikirannya.
__ADS_1
Seketika wanita yang bernama Albert itu mendorong Alexa dengan keras sehingga Alexa jatuh tersungkur di pojok kamar mandi.
Alexa meringis kesakitan di sela rasa takutnya. Matanya seakan ingin meneteskan air mata, tapi dia tidak bisa melakukannya.
"Kau masih ingat apa yang saya lakukan kepada mu, Alexa...?!! "
"Nona Albert... Tolong maafkan saya, tolong lepaskan saya nona Albert...! "
Alexa berkata dengan penuh ketakutan sembari mencoba menghindari nona Albert, tetapi tidak bisa.
"Apa...? Kau ingin saya lepaskan...? "
Alexa pun mengangguk cepat dengan penuh rasa takut.
"HAHAHHAHA... HAHAHAHAHA.... HAHAHAHA.... "
Nona Albert tertawa dengan begitu keras seperti orang kerasukan.
Nona Albert seketika menjauh dari Alexa, sehingga Alexa berpikir nona Albert benar-benar melepaskannya.
Tapi kenyataannya salah, nona Albert justru mengambil termos kecil dari dalam tasnya dan kembali mendekati Alexa.
BYUURRR....
"AAAAAAAAA..... "
Alexa memekik dengan kencang, saat nona Albert menyiram dirinya, dan bukan dengan air biasa, melainkan dengan air panas sehingga tangan Alexa yang melindungi wajahnya langsung melepuh.
"Shitt... Kenapa bukan wajah mu saja yang terkena air itu... " Teriak nona Albert dengan keras seperti orang kesetanan.
"Kenapa harus sama seperti empat tahun lalu...? "
"Empat tahun yang lalu aku juga melempar mu dengan besi panas, tetapi kenapa yang terkena adalah punggung mu..? "
Alexa semakin ketakutan luar biasa setelah nona Albert berkata begitu, dia teringat kembali bagaimana empat tahun yang lalu dirinya diperlakukan dengan kasar dan bengis oleh wanita paruh baya di hadapannya itu.
Seketika Alexa langsung meringkuk ketakutan dan menutupi wajahnya serta sekujur tubuhnya bergetar ketakutan hebat.
"Dasar wanita jal*ng... Kau yang telah merusak hidup ku.. "
"Kau telah membuat hidup ku hancur sehancur-hancurnya.... Kau wanita pelakor yang berani menggoda suami ku... "
"Kau adalah pe*acur kecil yang ingin aku bunuh.... "
Nona Albert berkata dengan gila sambil menendangi Alexa dengan dengan sepatu hak tingginya secara brutal.
Bukan hanya menendang saja, melainkan dia memukul Alexa dengan kasar menggunakan termos kecil yang ada ditangannya.
Alexa yang ketakutan tidak bisa menangis karena rasa sakit itu, karena dia kembali terngiang-ngiang dengan kejadian empat tahun lalu.
Suara gaduh itu menarik perhatian orang-orang, beberapa orang menggedor pintu toilet, karena ternyata pintu toilet dikunci oleh nona Albert dari dalam.
Nona Albert tidak menanggapi hal itu, dia masih terus saja mengamuk secara membabi buta kepada Alexa. Seakan-akan Alexa adalah sasaran yang sangat empuk untuk semua masalah yang ditanggung selama hidupnya.
Sedangkan di meja makan, Alex bingung dan gelisah karena sudah sepuluh menit Alexa belum kembali dari toilet.
__ADS_1