Wanita Ku Bukan Pelakor

Wanita Ku Bukan Pelakor
Acting


__ADS_3

"Ini adalah milik Alexa, tuan Andre. Sepertinya ini tertinggal, karena biasanya setiap nona kecil tertidur Alexa selalu melepaskan ini dan mengenakannya di leher nona kecil. "


"Apa maksudnya itu? " Andre kembali meninggikan suaranya mendengar penuturan Anggi.


"Kelihatannya selain menyukai Alexa. Nona kecil sangat menyeggani kalungnya itu, setiap kali nona kecil tertidur dia selalu memegang kalung Alexa. Oleh sebab itu Alexa melepaskan kalungnya saat nona kecil tertidur. "


"Alexa bilang kalung itu adalah identitas dirinya, karena selama ini dia tidak tahu siapa orang tua dan keluarganya, dan kalung itu selalu ada bersamanya dari dia kecil. "


"Lalu apa hubungannya dengan semua ini? " Andre berkata dengan dinginnya sembari mengerutkan keningnya.


"Tidak ada, tuan Andre. Saya hanya ingin mengatakan, kadang apa yang kita ketahui dan apa yang dikatakan oleh orang lain tidak sepenuhnya benar, jadi saya tidak percaya jika Alexa gadis seperti itu. "


"Atau, mungkin... Ada faktor lain yang menyebabkan Alexa dijuluki seperti itu.


"Heeh... " Andre tersenyum kecut, dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan Anggi, tetapi bagi saya informasi yang saya dapatkan sudah real. Jadi Alexa adalah sungguh-sungguh wanita yang tidak bermoral. "


Andre berkata dengan begitu cetus, mungkin jika Alexa mendengarnya, dia mungkin akan sakit hati.


"Berikan kalung itu kepada saya, besok saya akan mengembalikannya kepada wanita itu. Dirumah ini tidak boleh ada barang kotor. "


Anggi pun memberikan kalung yang masih ada ditangannya dengan ragu-ragu. Andre pun segera mengambil kalung itu dengan kasar, dan dia pun langsung pergi dari sana.


"Sungguh kejam sekali perkataan anda, tuan Andre! " Kata Anggi dengan geram sekaligus kecewa untuk mewakili Alexa.


********


Keesokan harinya di rumah nona Claude. Alexa terlihat sedang sibuk mencari kalungnya, dia tidak ingat bahwa kalungnya tertinggal di kediaman Alexander.


***


"Tuan besar... "


"Bagaimana, apa sudah mendapatkan pengganti Alexa? "


Alex yang masih menggunakan pakaian tidur dan menimang-nimang Alya, bertanya dengan nada pelan.


"Maaf, tuan besar. Saya belum mendapatkannya. Tetapi saya akan kembali ke yayasan itu untuk mencarinya, sekalian mengembalikan barang Alexa yang tertinggal. "


"Barang..? Barang apa? " Alex mengerutkan keningnya.


"Oo... " Andre pun mengeluarkan kalung Alexa dari saku kemejanya, "kalung ini, tuan..., Ini adalah milik Alexa. "


Alex yang sedang menimang-nimang Alya, tiba-tiba membelalakan matanya dengan sempurna saat melihat kalung Alexa yang ada di tangan Andre.


"Kau bilang kalung itu milik Alexa? " Alex bertanya untuk memastikan.


"Benar, tuan besar. "


Alex yang mendengar jawaban Andre yang begitu pasti langsung menaruh putrinya di ranjang dengan hati-hati, lalu setelah itu dia membuka brankas untuk mencari sesuatu. Andre yang melihat aksi tuan besarnya, seketika mengerutkan keningnya dengan penuh tanda tanya, karena dia tidak tahu apa yang sedang dicari tuan besarnya di dalam brankas itu.


Alex pun menemukan sesuatu yang dia cari, lalu dia membuka kotak yang dia pegang saat ini.


"Andre, siapa yang mengatakan kepada mu kalau itu adalah kalung Alexa? "


"Anggi yang mengatakannya, tuan. Dia bilang kalung ini tertinggal saat Alexa mengenakan benda ini di leher nona kecil, karena dia bilang nona kecil senang sekali memainkan kalung ini, terutama saat nona kecil ingin tertidur. "


"Apa dia mengatakan bagaimana Alexa memiliki kalung itu? "


"Anggi bilang, kalung ini adalah identitas Alexa, karena hanya ini yang dia miliki dari dia kecil. "


"Andre, saya akan memberikan tugas pada mu. Periksa identitas Alexa sekali lagi secara mendetail dan benar, temukan kehidupannya dari akar. "


Perintah Alex dengan begitu tegas dan nafasnya begitu menggebu-gebu. Sedangkan Andre yang diperintahkan seperti itu malah terlihat keheranan dan bingung.


"Maaf, tuan besar atas kelancangan saya. Tetapi jika boleh saya tau, apa penyebabnya? "


"Sepertinya kita melewatkan hal besar tentang identitas wanita itu! " Kata Alex dengan nada begitu datar dan tenang.


"Baiklah, kalau itu perintah anda, tuan! " Andre membungkukkan badannya.


"Berikan benda itu kepada ku! " Alex meminta kalung Alexa yang masih ada ditangan Andre.


Andre pun melangkah menuju kepada atasannya untuk memberikan kalung yang dia pegang.


"Kalau begitu, saya izin undur diri! " Pamit Andre.


"Hem... "


Andre pun segera pergi dari kamar Alex. Sedangkan Alex mengamati kalung milik Alexa yang ada di mejanya, lalu bergantian menatap isi yang ada di dalam kotak miliknya.

__ADS_1


"Siapa dirimu sebenarnya Alexa? Apa kau adalah orang yang dimaksud itu? " Gumam Alex dengan rasa ingin tahu.


****


"Alexa, kamu dari tadi saya liatin kayaknya sibuk sekali. Apa yang sedang kamu cari? "


Claude ternyata merasa jengah melihat Alexa yang dari tadi mondar-mandir seperti setrika yang belum panas.


"Maafkan saya nona Claude, " Alexa membungkukkan tubuh, "sebenarnya saya sedang mencari kalung saya. Saya lupa meletakkannya dimana?! "


"Kalung...? " Claude mengerutkan sedikit keningnya.


"Kalung seperti apa? Sepertinya saya belum pernah melihat kamu mengenakan kalung. "


Claude begitu penasaran, karena dia tidak pernah melihat benda yang dibicarakan oleh Alexa, sejak dari awal bertemu dia juga tidak pernah melihat Alexa menggunakan kalung yang dibicarakannya tersebut.


"Benarkah..? Nona sama sekali belum pernah melihat saya menggunakan kalung? "


Claude menggelengkan kepalanya dengan cepat saat Alexa bertanya kepada dirinya dengan begitu menggebu-gebu. Alexa yang mendapat jawaban seperti itu tiba-tiba terkulai lemas, lalu dia tiba-tiba teringat akan sesuatu.


"Gawat...!! Apa kalung ku tertinggal di kediaman Alexander?!! " Gumam Alexa dengan begitu resah dan pasrah.


Claude pun menjadi sangat penasaran dengan keadaan Alexa. Lalu sesaat dia menengok jam dinding, dan matanya membulat sempurna saat jam dinding menunjukkan pukul delapan tiga puluh.


"Alexa, jika kau masih mencari kalung mu itu, maka cepat segera temukan. Tapi jika belum ketemu juga maka tunda dulu saja pencarian mu itu, segeralah pergi bersiap karena setengah jam lagi kita akan membuka toko. "


Perkataan dari Claude sepertinya tidak digubris oleh Alexa. Karena gadis itu masih memikirkan kalungnya.


"Ckk.. "


Claude pun berdecak, lalu dia segera pergi ke kamarnya untuk bersiap.


Beberapa menit kemudian Claude pun keluar dari kamar.


"Baiklah Alexa, saya akan ke restoran terlebih dahulu. Kau segeralah bersiap dan menyusul. "


Claude pun mengambil sepatu di rak dan mengenakannya, lalu dia langsung pergi ke restoran. Sedangkan Alexa yang masih setengah-setengah itu, langsung beranjak dan langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap.


"Arrrggghhh.... Kenapa aku bisa sampai seceroboh ini, meninggalkan barang yang tidak seharusnya aku tinggal. "


Di kamar mandi Alexa masih saja memikirkan kalungnya tersebut sambil mengacak-acak rambutnya.


*******


"Alexa, hari ini saya akan keluar untuk membeli beberapa bahan. Kamu bisa kan jaga restoran sebentar?! "


"Tenang saja nona Claude, pasti semuanya akan aman. "


Alexa menyanggupi perkataan Claude dengan begitu entengnya, lalu Claude pun meninggalkan restoran.


"Eh... Ternyata sampahnya sudah menumpuk, aku buang sampah dulu deh, lagi pula tidak terlalu ramai juga. "


"Jos.. Saya buang sampah sebentar ya! "


"Ya, baik, kak...! "


Alexa pun mengangkat garbage sampah dan membawanya ke tempat pembuangan.


"Huuaa.... Huuaa.... "


"Sttt... Diam... Jika kau tidak bisa diam nanti akan ketahuan. "


"Huuaa.... Huuaa... "


Alexa yang ingin kembali ke restoran setelah membuang sampah, secara kebetulan mendengar suara tangisan anak kecil.


"Sepertinya ada anak kecil yang menangis?! " Gumam Alexa sambil mengerutkan keningnya.


"Huuaa... Huuaa... "


"Tuhkan... Benar suara anak kecil menangis! " Alexa merasa sangat yakin setelah mendengar suara itu lagi, lalu dia pun mencari sumber suara.


Alexa pun menelusuri gang sempit yang ada di samping restoran. Dan dia melihat seorang wanita berpakaian gelap yang sedang membawa anak kecil.


"Huuaa... Huuuaaa.... "


"Diam... Jangan menangis...!! "


Alexa pun sontak terkejut mendengar wanita itu membentak anak yang ada di gendongannya, dan anak kecil itu semakin menangis keras.


"Jika kau menangis, nanti ayah mu akan tau keberadaan kita! "

__ADS_1


"Penculik...? " Kata-kata itulah yang terlintas di benak Alexa saat ini setelah mendengar apa yang dikatakan oleh wanita berpakaian hitam itu.


"Aku harus menghubungi polisi secepatnya! "


"Ya ampun... Aku lupa bahwa aku tidak memiliki ponsel. "


"Lalu apa yang harus aku lakukan? "


Alexa mondar-mandir kecil ditempat tersebut untuk mencari ide dengan hati-hati agar tidak ketauan oleh sang penculik. Karena dia tidak mungkin menghampiri begitu saja tanpa persiapan.


Tangisan suara anak itu pun semakin keras dan membuat Alexa sulit menemukannya ide. Dia pun langsung menghampiri wanita dan anak kecil tersebut.


"Maaf nona, anak anda menangis terus, apa ada yang bisa saya bantu? "


Wanita itu pun langsung terkejut bukan main saat Alexa menegur dirinya.


"Oh, ti-tidak usah... Sa-saya bisa mengurusnya sendiri! " Kata wanita itu dengan gugup sambil menutupi setengah dari wajah anak yang dia gendong.


"Nona, saya bisa membantu anda. Kasihan anak anda menangis terus! " Alexa berkata dengan ramahnya.


Gubrak...


Wanita itu mendorong Alexa sehingga dia jatuh dan tangannya tergores oleh aspal.


"Saya bilang tidak usah ya tidak usah... " Bentak wanita itu, sehingga anak kecil yang dia gendong kembali menangis.


Alexa pun berusaha tenang, lalu dia berdiri, dan dia secara kebetulan melihat anak yang di gendong oleh wanita itu, dan mata Alexa tiba-tiba membulat sempurna.


'Nona kecil Alya....?!! ' gumam Alexa dalam hatinya.


"Nona anak siapa ini? "


"Apa yang kau tanyakan? tentu saja ini anak ku!! "


'Astaga... Bodohnya aku, sudah tau kalau dia ini penculik, lalu untuk apa aku bertanya? ' gumam Alexa lagi dalam hatinya merutuki kebodohannya.


Sedangkan di jalur lain, para bawahan Andre terlihat sedang sibuk mencari keberadaan nona kecil mereka.


Kembali ke Alexa. Alexa kembali memikirkan cara untuk menyelamatkan Alya, dan tentunya dengan cara yang aman agar nona kecil yang dia sayangi itu tidak terluka.


"Maaf nona, saya tau kalau anak ini adalah anak dari pengusaha besar yang bernama Alexander. "


Mata penculik itu pun tiba-tiba membulat sempurna dan wajahnya langsung pias ketakutan.


"Jika anda punya dendam kepada pria itu, anda bisa bekerja sama dengan saya. "


Wanita itu pun terkejut dengan perkataan Alexa, dan Alexa juga ikut terkejut dan bingung dengan apa yang dia katakan, tetapi dia masih melanjutkan aktingnya.


"Bekerja sama...? Apa maksud anda? "


"Iya, saya memiliki dendam kepada pria itu, karena dia sudah memecat saya seenaknya. "


'Heeh... Apa yang aku katakan? Aku tidak punya pemikiran seperti itu!! '


"Jika anda mau bekerja sama dengan saya, dan memberikan bayi itu kepada saya, mungkin itu akan saling menguntungkan! "


'Astaga... Apa yang sebenarnya aku katakan dari tadi...? Maafkan aku tuhan, aku sebenarnya tidak memiliki pemikiran itu sama sekali! ' gumam Alexa dalam hatinya dengan rasa tidak enak.


Wanita itu terdiam sesaat, lalu dia tersenyum kecut karena percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alexa. Dia pun menyetujui perkataan Alexa dan memberikan Alya kepada Alexa.


"Baiklah... Sekarang anak itu sudah ada ditangan mu. Katakan sekarang apa rencana kerja sama kita? " Tanya wanita itu.


'Ternyata dia percaya dengan akting ku. Sekarang waktunya bereaksi! '


"HELPPPP.... HELPPPP.... "


Wanita itu langsung ketakutan saat Alexa berteriak dengan keras. Dan tentu saja teriakan itu menarik perhatian Andre dan beberapa bawahannya.


"Hei... Apa yang kau lakukan...? " Wanita itu berkata dengan geram.


"HELPPPP.... DISINI ADA YANG MENCULIK ANAK KECIL.... "


Wanita itu pun semakin kelabakan, lalu dia kembali mendorong Alexa sehingga terjatuh, tetapi untunglah Alya aman di pelukannya.


"Dasar... Penipu.... Kembalikan anak itu kepada ku... "


"Tidak... "


Alya akhirnya menjadi bahan rebutan wanita penculik itu dengan Alexa. Alexa pun menggendong Alya dengan begitu kuat, sehingga Alya menangis dengan begitu keras, mungkin karena merasa sakit atau ketakutan.


"Diam disana... "

__ADS_1


__ADS_2