
"Kenapa Alexa lama sekali di toilet? "
"Andre, coba kau lihat kenapa Alexa lama sekali di toilet?! "
"Baiklah, tuan besar. "
Andre pun segera menuju toilet untuk memeriksa Alexa. Namun saat tiba di toilet Andre merasa heran karena ramai, dia pun menghentikan seseorang yang sedang berjalan untuk bertanya.
"Maaf, nona, kenapa disini ramai sekali? "
"Itu di dalam sepertinya ada orang yang sedang bertengkar. "
"Bertengkar..? " Andre mengerutkan keningnya.
"Iya benar, tuan. Bahkan pintu toilet terkunci dari dalam. "
"Apa...? "
"Baiklah, kalau begitu terima kasih.. "
Andre pun mempersilahkan wanita itu untuk pergi, lalu dia menuju toilet wanita dengan rasa penasaran yang amat tinggi.
Sedangkan di dalam toilet nona Albert masih saja mengamuk kepada Alexa.
"Kau wanita ja*ang, Alexa.... "
"Alexa...? "
Teriakan nona Albert yang begitu keras memantik rasa penasaran Andre semakin tinggi.
"Permisi, tuan... " Seorang wanita berpakaian clining service menghampiri Andre.
"Tuan, apa anda bisa mendobrak pintu ini? Karena dari tadi pihak restoran tidak bisa menemukan kunci cadangan untuk membukanya? " Kata wanita itu dengan rasa panik.
"Kenapa harus saya? " Kata Andre dengan datar.
"Maaf, tuan. Tetapi hanya anda yang ada disini, dan saya tidak bisa meminta bantuan pria lain, karena mereka tidak mau ikut campur. Tapi saya merasa kasihan dengan wanita cantik yang ada di dalam, sepertinya dia disiksa oleh nona tua itu. "
"Apa....? "
"Iya, tuan... Tolong bantu, kasihan wanita itu... "
Mendengar petugas itu yang sangat panik dan khawatir, Andre jadi memikirkan Alexa. Apalagi dia tidak menemukan Alexa ada disekitar toilet, jadi dia menyimpulkan bahwa Alexa masih ada di dalam toilet tersebut.
Andre pun segera mendobrak pintu kamar mandi untuk melihat, namun dua kali dia mendobrak pintu itu tetap kokoh tanpa terbuka sedikit pun, Andre pun semakin mengeluarkan tenaganya, akhir pintu terbuka saat di dobrak empat kali.
"Berhentilah nona... "
Petugas wanita itu pun langsung menyerobot masuk dan berusaha menghentikan nona Albert.
"Hei... Kau jangan ikut campur... " Teriak nona Albert dengan lantang.
"Nona, wanita itu sudah terlihat sangat ketakutan seperti itu..! "
"Itu bukan urusan mu... " Teriak nona Albert lagi lalu dia mendorong petugas itu hingga ke depan pintu toilet.
"Nona... "
PRANGGG...
Nona Albert melemparkan gelas hias yang ada di atas wastafel ke hadapan sang petugas.
"Diam disana, jangan ikut campur... "
Kata nona Claude dengan mata yang memerah.
"Alexa...?!! "
Andre yang masuk ke toilet wanita menemukan keberadaan Alexa yang meringkuk ketakutan di pojok kamar mandi.
Nona Albert kembali menatap Alexa, dan dia mengambil gelas hias lainnya lalu melemparkan gelas itu tepat ke kepala Alexa.
"AAAAAAAA... "
Alexa yang sekian lama tak bersuara akhirnya berteriak, kejadian itu membuat Andre agak terkejut dan menarik nona Albert.
"Apa yang anda lakukan, nona...? "
"Siapa lagi kau...? Jangan ikut campur dengan urusan ku! "
"Wanita ini adalah urusan ku... "
Nada bicara Andre tidak kalah tinggi serta menatap tajam nona Albert, tetapi nona Albert tidak merasakan takut sama sekali dengan tatapan Andre.
__ADS_1
"Arghhhh... Dasar kau wanita ja*ang.... Rupanya kau mencari mangsa lain... "
Nona Albert berteriak sambil melangkah untuk mendekati Alexa, tetapi Andre dengan cepat mencegahnya.
'Aku ingat, wanita itu ini adalah nona Albert, wanita yang aku temukan saat mengorek masalah Alexa. '
Andre bergumam dalam hatinya saat dia tahu jelas wanita yang sedang dia tahan ini.
"Petugas, tolong bantu saya. Tolong panggilkan atasan saya, dia ada di ruangan VIP. Tolong katakan padanya bahwa kami dalam masalah. "
"Baiklah, tuan. "
Petugas itu pun segera pergi untuk melakukan apa yang Andre katakan, sedangkan Andre menahan nona Albert dengan kuat, sekilas dia melihat Alexa yang bergetar hebat di pojok sana, Andre menyimpulkan bahwa bukan hanya takut yang sedang Alexa rasakan saat ini, melainkan dia sangat trauma.
Di meja makan Alex lagi-lagi dibuat heran karena Andre tidak kunjung datang bersama Alexa.
'Kenapa Andre juga lama sekali? '
"Permisi, tuan... " Petugas yang diminta tolong oleh Andre datang ke hadapan Alex dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, kenapa anda tergesa-gesa seperti itu? " Claude bertanya kepada petugas tersebut sambil mengerutkan keningnya.
"Maaf, tuan, nona... Tadi saya disuruh menyampaikan sesuatu oleh seseorang kepada atasannya. "
"Apa..? " Andre bertanya tanpa ekspresi.
"Pria itu hanya mengatakan, kalau mereka dalam masalah. "
"Siapa pria yang kau maksud itu? " Claude bertanya lagi dengan heran.
"Saya tidak tau, nona. Tapi pria itu ada di toilet wanita saat ini. "
Andre dan Claude tersentak mendengar perkataan petugas itu. Alex dan Claude pun teringat kepada Andre serta Alexa, dan mereka sepertinya salah paham dengan perkataan petugas tersebut.
"Shitt... Andre... "
Alex berkata kasar, untunglah Alya tertidur saat ini dan dia juga belum mengerti apa yang dikatakan oleh Alex.
"Nona Claude, bisakah anda menangani putri ku sebentar. "
"Iya, baiklah. "
Claude pun menghampiri Alex, Alex memberikan putrinya dengan hati-hati, lalu setelah itu bergegas ke toilet dengan kemarahan.
Alex teriak dengan begitu keras saat memasuki toilet wanita. Namun dirinya terkejut dan bingung saat melihat hal yang dilakukan Andre.
"Apa yang kau lakukan Andre? Kenapa kau menahan wanita itu? Dimana Alexa? "
"Itu--"
"HAHAHAHA.... HAHAHA... HAHAHA... "
"Ternyata kau benar-benar wanita ja*ang, Alexa... " Nona Albert menatap Alexa, "bukan hanya satu tetapi kau menggoda semua pria dengan tindakan tidak bermoral itu.... "
Mata Alex tiba-tiba menangkap Alexa yang gemetar, rupanya dia baru paham sekarang dengan apa yang terjadi. Namun tiba-tiba dia merasa panik ketika melihat darah yang mengalir di wajah Alexa.
"Alexa... "
"JANGAN DEKATI SAYA... "
Alexa tiba-tiba bersuara dan berkata dengan histeris.
"Alexa, apa--"
"JANGAN DEKATI SAYA TUAN ALBERT... JANGAN DEKATI SAYA... "
Alexa berkata dengan suara yang gemetar ketakutan, dia mengira pria yang sedang mendekatinya adalah suami dari nona Albert.
Alex kembali melihat dengan jelas wanita yang sedang di tahan oleh Andre. Dan dia pun mengingat salah satu istri dari rekan bisnisnya.
"Jangan dekati saya tuan Albert, saya mohon... "
Suara Alexa yang begitu gemetar kembali menarik perhatian Alex. Alex sebenarnya masih belum paham dengan apa yang terjadi, tetapi dia bisa menyimpulkan bahwa Alexa mengalami trauma.
"Andre, bawa pergi wanita itu dari hadapan kami sekarang... " Perintah Alex dengan begitu dingin.
"Baiklah, tuan besar! "
"Hei... Lepaskan... Aku belum menyelesaikan urusan ku dengan pelakor itu... " Teriak nona Albert ketika Andre menyeret dirinya.
"Hei... Lepaskan aku... " Nona Albert terus meronta dengan kuat, sehingga dia hampir lepas dari Andre.
"Tidak... Saya tidak salah... Jangan.... "
__ADS_1
Entah kenapa hati Alex tiba-tiba terasa sakit ketika melihat Alexa yang gemetar ketakutan seperti itu. Dia pun mencoba mendekati Alexa lagi, tetapi Alexa kembali tersentak.
"JANGAN.... JANGAN DEKATI SAYA, TUAN ALBERT..."
"Alexa, saya Alex, bukan tuan Albert.. " Nada bicara Alex terdengar lembut.
"Tidak.... Jangan dekati saya, tuan Albert... "
"Alexa, saya Alex. Saya bukan Albert... Ayo kita keluar dari sini, Alya sudah menunggu dirimu dari tadi.. "
"Alya...? " Alexa tiba-tiba sedikit tenang saat mendengar nama Alya.
"Iya, Alya... Nona kecil kesayangan mu..! " Alex berkata sambil perlahan mendekati Alexa.
"JANGAN MENDEKAT.... " Alexa kembali histeris, karena dia belum sepenuhnya tenang.
Alex pun terpaksa mundur kembali, dan dia juga sangat kebingungan bagaimana menangani Alexa yang begitu ketakutan tersebut.
Tapi... Tiba-tiba Alexa pingsan tidak sadarkan diri, sehingga membuat Alex begitu panik.
"Alexa.... "
Alex meneriaki nama Alexa sembari menepuk pipinya. Alex yang tahu kalau Alexa tidak sadarkan diri, dia segera menggendong Alexa dan membawanya pergi dari tempat itu.
****
"Dokter bagaimana keadaannya? " Alex begitu sangat khawatir akan kondisi Alexa.
"Untuk saat ini saya memastikan kalau kondisi mentalnya tidak baik-baik saja, tetapi dia hebat karena bisa menakan sebagian emosinya sehingga kondisi mentalnya tidak begitu parah. "
"Maksud anda, dok? "
"Iya, benar. Jika dia tidak bisa menahan emosinya sedikit, nona itu pasti sudah mengalami sakit jiwa dan dalam kondisi yang memprihatinkan. "
"Astaga... Separah itukah..? " Gumam Alex dengan penuh rasa iba dan khawatir.
"Kalau begitu saya permisi dulu, tuan besar Alex. "
"Tuan besar...! "
"Oh, nona Claude.. "
"Bagaimana keadaan Alexa? "
"Dokter bilang mentalnya sedikit terganggu. "
"Astaga... "
Claude menutup setengah mulutnya menggunakan tangan, sedangkan Alex meraup wajahnya dengan kasar.
"Tuan besar... "
"Ada apa...? " Raut wajah Alex begitu dingin tapi tidak menghilangkan kekhawatirannya untuk Alexa.
"Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya sudah menambahkan email untuk anda, ini tentang nona Albert. "
"Baiklah, nanti akan saya lihat. "
"Nona Claude, ini sudah larut, bagaimana jika anda menginap disini terlebih dahulu? " Alex memberikan tawaran.
"Tidak usah, tuan besar. Saya akan pulang saja, karena besok pagi saya harus mengurus restoran, apalagi Alexa sudah tidak bekerja dengan saya lagi. "
Claude menolak tawaran Alex. Alex yang sedang tidak ingin banyak bicara saat ini, dia pun memaklumi tolakan dari Claude, tetapi dia meminta maaf kepada Claude, karena membawa Alexa dari dirinya. Lalu dia pun meminta Andre untuk mengantar Claude pulang.
Setelah kepergian mereka berdua, Alex pun masuk ke kamar dimana Alexa berada.
"Alexa apa sebenarnya terjadi pada dirimu? Dan yang lebih membuat ku bertanya-tanya adalah, siapa sebenarnya dirimu? "
Alex bergumam dari kejauhan sambil menatap Alexa yang belum sadarkan diri itu.
******
Keesokan harinya, Alexa tersadar, tetapi dia merasa bingung dengan keberadaannya saat ini. Pasalnya dia tidak tahu ada di kamar milik siapa, karena kamar itu asing bagi dirinya.
"Alexa.... " Suara wanita yang sangat tidak asing di telinga Alexa, tetapi bukannya menatap ke arah sumber suara, Alexa justru terlihat ketakutan dan menutup wajahnya menggunakan bantal.
Wanita itu adalah Anggi, dia pun mendekati Alexa dengan perlahan, karena dia tahu apa yang sedang terjadi kepada Alexa, Anggi pun berhati-hati dalam bicara.
"Alexa, ini saya Anggi! "
"Anggi... " Alexa perlahan membuka bantal dan menjauhkannya dari wajah.
"Kau sudah merasa lebih baik, Alexa? "
__ADS_1