
Alex termangu menatap Alexa sekilas. Lalu dia menyerahkan Alya kepada Alexa. Dan benar saja, Alya langsung berhenti menangis, dan dia langsung tersenyum lebar ketika berada ada di gendongan Alexa. Alexa juga sekilas mengulas senyuman diwajahnya yang masih tampak sembab itu.
"Tuan besar, jika anda tidak keberatan saya akan mengurus nona kecil sebentar, sehingga anda bisa santai berbicara dengan nona Claude. "
"Baiklah...! "
Entah apa yang terjadi kepada Alex, dia dengan begitu gampangnya menyetujui perkataan Alexa. Namun yang lebih mengejutkan lagi, dia berkata dengan nada lembut kepada Alexa.
"Terima kasih, tuan besar...!! " Tiba-tiba Alexa mengulas senyum bahagia di wajahnya.
"Nona kecil... Mari kita bermain...! " Alexa begitu bersemangat.
"Ma-mi... " Alya berkata dengan riangnya sembari bertepuk tangan.
Alexa tidak sadar bahwa tatapan Alex dan Claude sedang menuju ke arah dirinya dengan penuh tanda tanya saat Alya mengucap kata mami kepada Alexa. Alexa pun membawa Alya menjauh dari Alex dan Claude, lalu mengajaknya bermain.
********
"Wush... Wush.... " Alexa berpura-pura melempar mainan bebek-bebek kepada Alya.
"Ehehe... Hehehehe... Hehehe... "
Alya terlihat begitu senang sehingga dia tertawa lebar dan menunjukkan dua giginya yang baru tumbuh.
"Alexa.... "
"Aaaa... "
Alexa begitu terkejut saat namanya dipanggil, sehingga dia hampir terjatuh karena tersandung oleh meja, namun Alex menangkap tubuhnya, pandangan mereka bertemu selama beberapa detik, sehingga menimbulkan suasana yang agak romantis.
"Pa-pi... Ma-mi... "
Alex dan Alexa yang tidak sengaja mendengar dua kata yang disebutkan oleh Alya dengan terputus-putus membuat mereka heran. Alex pun langsung melepaskan Alexa, dan Alexa segera menjaga jarak dari Alex.
"Maaf, tuan besar, dan terima kasih...! " Ucap Alexa sambil menundukkan pandangannya.
"Tidak masalah. Sekarang duduklah, ada yang ingin saya bahas dengan mu! "
Alex memerintah dengan nada dingin namun terkesan lembut, Alexa pun hanya mengangguk dan mengikuti perintah Alex.
"Alexa, mulai besok kau akan kembali menjadi pengasuh putri ku. "
"Ha-ahh..... " Alexa begitu sangat terkejut mendengar perkataan dari Alex.
"Andre..! "
"Baik, tuan besar. "
Andre pun mendekati Alexa lalu memberikan map coklat kepada Alexa, sehingga membuat dia mengerutkan keningnya.
"Apa ini, tuan? "
"Kau bisa membacanya terlebih dahulu, dan setelah itu kau bisa menandatanganinya. " Kata Alex dengan nada datar.
"Tapi, tuan--"
"Aku akan membawa Alya pulang, terima kasih telah merawat putri ku hari ini. "
Alex pun langsung menggendong Alya, sedangkan Alexa masih bingung dan tidak mengerti akan maksud Alex yang memintanya untuk kembali mengasuh Alya. Bukankah dia yang memecat Alexa beberapa minggu yang lalu, lalu kenapa saat ini dia ingin Alexa kembali bekerja kepadanya.
Alex dan Andre pun meninggalkan Alexa. Alexa hanya menatap kepergian mereka dari kejauhan.
'Aneh... Apa yang membuat tuan besar berubah pikiran? Dan apa dia merasa yakin dengan keputusannya? ' gumam Alexa dalam hati.
"Tuan besar, apa anda yakin dengan keputusan anda? " Di dalam mobil Andre juga memiliki pertanyaan yang sama.
"Kali ini aku akan mencoba dengan yakin! " Kata Alex yang terdengar masih agak ragu.
"Ayo pergi. "
"Baik, tuan besar! "
Andre pun langsung melajukan mobil dan pergi dari restoran milik Claude.
Claude pun menepuk pundak Alexa yang masih termangu.
"Alexa, jika kau masih bisa bekerja hari ini, kau boleh melanjutkannya, tetapi jika tidak lebih baik kau istirahat saja. "
"Saya baik-baik saja, nona Claude. Kalau begitu saya akan kembali bekerja! "
Alexa menundukkan kepalanya dengan sopan, lalu dia membawa map yang diberikan oleh Andre untuk menyimpannya, dan setelah itu dia kembali bekerja.
********
Malam harinya di rumah Claude, Alexa sedang menonton televisi, tetapi pikirannya sedang memikirkan hal lain, sehingga Claude yang melihatnya jadi merasa penasaran.
"Why are you, Alexa? Why did you look like you were thinking about something? "
{Kenapa kamu, Alexa? Kenapa kamu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu?}
"Tidak ada, nona Claude. "
"Jangan bohong... Kau pasti sedang memikirkan tentang tawaran yang diberikan oleh tuan besar Alex bukan? "
"Nona Claude, darimana anda tahu...? " Alexa menatap Claude sambil mengerutkan keningnya.
"Tentu saja saya tahu! " Ujar Claude, lalu dia duduk disebelah Alexa.
"Tuan besar Alex adalah majikan mu yang terakhir, bukan? "
Alexa merasa semakin bingung, bagaimana Claude bisa tahu? Padahal dia saja tidak menceritakan nama majikan terakhirnya.
"Tuan besar Alex yang mengatakan hal itu kepada saya. "
"Oh ya, saya belum pernah mengatakan kalau saya dulu juga pernah bekerja sebagai ART sekaligus pengasuh ya? "
Alexa hanya menggelengkan kepalanya akan perkataan Claude.
__ADS_1
"Dulu saya bekerja di kediaman keluarga Alexander. Saya bekerja disana sejak tuan Alex berumur sepuluh tahun dan nona Lydia, yaitu kakak perempuan tuan Alex berumur tujuh belas tahun. "
"Namun satu tahun lalu saya memutuskan untuk berhenti, saat keluarga tuan Alex meninggal. Bukan karena saya tidak mau bekerja di tempat itu lagi, tetapi saya divonis oleh dokter kalau saya memiliki kanker paru-paru. "
"Astaga... Saya tidak tahu kalau anda memiliki penyakit mengerikan itu, nona Claude? " Alexa terkejut.
"Tentu saja, kau tidak tahu, karena saya baru memberitahu dirimu. " Claude tersenyum dengan tegar.
"Tapi, nona Claude, kenapa anda menceritakan hal ini kepada saya? "
"Karena saya ingin, kau kembali bekerja untuk tuan besar Alex! " Pinta Claude yang membuat Alexa terheran-heran.
"Kenapa, nona Claude? Saya sudah bekerja dengan anda, lalu kenapa anda meminta saya untuk bekerja dengan tuan besar Alex lagi? "
"Apalagi jika dilihat sepertinya tuan besar membenci saya, karena saya dicap sebagai pelakor. Bagaimana jika suatu saat istri tuan Alex salah paham kepada saya? "
Alexa mulai bergetar dan dia juga kembali berpikir macam-macam, apalagi jika mengingat kejadian di tempat sebelum-sebelumnya dia bekerja. Wajahnya pun terlihat pucat pasi dan mulai merasa takut yang berlebihan. Claude pun meraih tangan Alexa berusaha untuk membuatnya tenang.
"Alexa kamu tenang ya...! "
Tiba-tiba ponsel milik Claude yang diletakan di kamar berbunyi.
"Sebentar ya, saya mau angkat panggilan dulu! "
Claude pun menuju ke kamarnya lalu langsung meraih ponsel tersebut, namun seketika matanya terbelalak dan keningnya berkerut.
"Tuan besar Alex.. ? Ada apa menelpon di jam seperti ini ya? " Gumam Claude.
"Halo, tuan besar Alex. "
Baru mengangkat panggilan dari Alex, suara tangisan anak kecil yang begitu keras dari sebrang sana sudah terdengar, dan siapa lagi kalau bukan suara tangisan Alya.
".... "
"Iya, baiklah, tuan besar, saya akan memberikannya kepada Alexa. "
Claude pun segera bergegas menghampiri Alexa, sedangkan Alexa masih memasang wajah yang pucat dan ketakutan karena memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Alexa... Kau tenanglah sebentar...!! " Claude berkata dengan nada lembut, "ini, tuan besar ingin berbicara dengan mu! " Claude memberikan ponselnya.
Alexa tidak segera mengambil ponsel tesebut, melainkan dia masih terdiam karena dia masih merasa takut.
Claude yang melihat Alexa masih ketakutan tidak bisa memaksa wanita itu.
"Tuan Alex, maaf--"
Belum selesai Claude berbicara tetapi perkataannya sudah dipotong oleh Alex dari sebrang sana.
"Ha-ahh...? "
"Iya, baiklah, tuan besar. Saya tinggal di jalan flora nomor dua belas. "
"Iya, ya, baik tuan besar. "
Setelah itu sang tuan besar tersebut pun mengakhiri panggilan secara sepihak dari sebrang sana, sehingga membuat Claude terheran-heran.
"Alexa, tenanglah... Maaf seharusnya saya tidak meminta kamu untuk kembali bekerja dengan tuan besar. "
'Sebenarnya apa yang sudah dilewati oleh gadis ini? Kenapa dia ketakutan seperti ini? Apakah sebelumnya dia juga seperti ini? ' gumam Claude dalam hatinya.
'Aneh... Kenapa aku menjadi seperti ini lagi? Bukankah seharusnya aku sudah tidak akan takut lagi? ' Alexa yang masih ketakutan juga merasa heran dengan keadaannya saat ini.
Selang beberapa lama kemudian bel rumah pun berbunyi, Claude segera pergi untuk membuka pintu.
"Tuan besar Alex...! " Claude benar-benar terkejut ketika membuka pintu dan mendapati Alex yang datang ke rumahnya sembari menggendong Alya.
"Maafkan saya, nona Claude. "
Kalimat sopan yang tidak pernah di dengar oleh siapapun dari mulut Andre, saat ini terdengar oleh Claude.
"Tidak ada masalah sama sekali, tuan besar. Mari silahkan masuk terlebih dahulu! "
Alex pun segera masuk setelah dipersilahkan.
"Kalau boleh saya tahu, ada tujuan apa, sehingga tuan besar datang kemari? "
"Eng--"
"Ma-mi.... "
Kalimat Alya seakan menjawab perkataan Claude, dan sekarang akhirnya Claude dan Alex mengerti siapa yang dimaksud oleh Alya.
"Dimana dia, nona Claude? "
"Dia ada diruang tengah, mari saya antar! "
"Mami... Mami.... Mami.... "
Alya seakan tidak sabar untuk bertemu dengan Alexa. Sedangkan Alex masih berpikir, bagaimana putrinya itu bisa memanggil seorang wanita yang belum lama mengasuhnya itu dengan sebutan mami?
"Alexa... " Panggilan dari Claude tidak tergubris oleh Alexa.
"Ma-mi... "
'Kenapa aku seperti mendengar suara Alya? ' gumam Alexa dalam mode ketakutan dan kegelisahannya.
"Alexa.... " Lagi-lagi panggilan Claude tidak digubris Alexa.
"Ma-mi.... Ma-mi.... "
Kali ini Alexa pun menengok ke arah sumber suara, wajah yang tadinya masih terlihat gelisah dan ketakutan, langsung berubah menjadi berseri-seri ketika melihat Alya.
"Nona kecil... "
Dia pun beranjak dari duduknya, lalu dia membungkuk hormat kepada Alex.
'Bisa-bisanya dia menyambut Alya terlebih dahulu daripada diriku. '
__ADS_1
Alex bergumam dalam hatinya dengan nada iri.
"Ma-mi... "
Alya mengulurkan kedua tangannya kepada Alexa untuk memberi isyarat kalau dia ingin digendong oleh Alexa.
"Tuan besar...! " Alexa berkata dengan ragu, tetapi menundukkan pandangannya.
"Hei... Kau ini sebenarnya sedang berbicara kepada lantai atau kepada ku? " Nada bicara Alex terdengar sewot.
"Maaf, maafkan saya tuan besar, saya tidak berani memandang anda! " Ujar Alexa sambil membungkukkan tubuhnya berulang kali.
"Kenapa tidak berani, memangnya wajah ku begitu seram sehingga kau begitu takut melihat ku? " Ketus Alex namun dengan nada rendah.
Claude yang menyadari suasana di tempat tersebut, tiba-tiba mundur perlahan dan pergi dari sana.
"Maaf, tuan--"
"Aku tidak butuh maaf mu. Yang aku inginkan kau melihat ke arah ku saat kau sedang berbicara dengan ku! "
"Ta--"
"Tidak ada bantahan... "
"Ba-baik, tuan...!! "
Alexa pun perlahan mengangkat kepalanya dan mulai menatap pria tampan bertubuh tegap di depannya ini dengan rasa ragu-ragu.
'Ya tuhan, semoga hal ini tidak menjadi masalah! ' gumam Alexa dalam hatinya dengan rasa takut.
"Ma-mi... "
"Sekarang gendonglah Alya! "
Alex memberikan Alya kepada Alexa, namun secara tidak sengaja tangan Alexa menyentuh tangan Alex, sehingga suasana jadi membeku seketika.
"Maaf, tuan besar... Maaf, saya tidak sengaja... "
Alexa pun dengan cepat meminta maaf kepada Alex, seakan dia baru saja melakukan kesalahan besar dan diketahui oleh majikannya.
"Hufft... " Alex menghela nafas kasar dengan kesal.
"Saya bosan mendengar permintaan maaf mu Alexa! " Ujar Alex dengan dingin.
"Maaf... "
Baru saja Alex mengatakan kalau dia bosan mendengar kata maaf dari Alexa, Alexa justru mengulanginya lagi.
"Tuan besar, saya membuatkan anda kopi. Jika anda tidak keberatan maukah anda duduk sebentar meminum kopi yang telah saya buat, dan sembari berbincang-bincang? "
Claude kembali dengan membawa secangkir kopi dan beberapa camilan.
"Baiklah, saya tidak menolak! "
Alex pun menerima tawaran Claude dan dia langsung duduk.
"Alexa... "
"Iya, nona Claude?! "
"Saya ingin membicarakan sesuatu dengan tuan besar. Bisakah kau meninggalkan kami sebentar? "
"Baiklah kalau begitu, saya akan membawa nona kecil ke kamar saya. "
"Eh--"
"Baiklah tidak masalah. "
Claude menyergah Alex yang ingin berbicara, dan memperbolehkan perkataan Alexa. Lalu Alexa pun membawa Alya ke kamarnya.
"Nona Claude, kenapa anda mengizinkan dia membawa Alya ke kamarnya? " Tanya Alex dengan nada kesal namun tertahan.
"Tidak apa-apa, tuan besar. "
Claude pun tersenyum mengisyaratkan bahwa Alya akan aman dan baik-baik saja.
"Dari pada itu tuan besar, bolehkah kita menyambungkan perbincangan kita yang tadi siang? Dan mungkin ini juga menyangkut tentang kepribadian Alexa. "
"Baiklah, silahkan saja nona Claude. Saya akan mendengarkan apa perkataan dan nasihat dari anda. "
Alex tidak merasa keberatan sama sekali dengan perkataan dari Claude. Apalagi Claude pernah merawat dirinya semenjak dia masih berumur sepuluh tahun, Alex jadi begitu menghormati Claude, bahkan Alex menganggap Claude sebagai tetua.
*******
Alya dan Alexa bermain sampai tengah larut malam kemarin, entah apa yang mereka berdua mainkan sehingga bisa sampai selarut itu. Mereka berdua akhirnya tertidur sampai pagi, dan sampai saat ini, mereka pun belum juga bangun.
"Alexa.... " Claude tiba-tiba masuk ke kamar berniat untuk membangunkan Alexa. Namun saat melihat mereka yang tidur berpelukan membuat Claude tidak jadi membangunkan Alexa.
"Nona Claude--"
"Sssttt.... "
Ternyata Alex juga masih ada di rumah itu, dan dia melihat hal tersebut.
"Biarkan mereka tertidur sebentar lagi ya, tuan besar?! "
"Hem... Baiklah... "
Claude pun kembali menutup pintu kamar secara perlahan membiarkan mereka tertidur.
"Nona Claude, sebenarnya saya ingin kembali bersama Alya. Tetapi karena dia masih tertidur, saya akan menitipkan Alya bersama dengannya! Jika mereka sudah bangun, segera hubungi saya dan nanti ada mobil yang akan menjemput mereka. "
"Itu tidak masalah, tuan besar! "
"Kalau begitu terima kasih, nona Claude. "
"Sama-sama. Dan saya hanya ingin tuan besar mengingat apa yang telah saya katakan semalam kepada anda. "
__ADS_1