
"Jadi... Alexa adalah...?! "
"Iya... Dia adalah seorang wanita yang dijuluki wanita pelakor. Sungguh sangat tidak bermoral bukan? Apakah kau akan membiarkan nona kecil diasuh oleh wanita tidak bermoral seperti itu? "
Andre berkata kepada Anggi yang masih shock dengan nada datar dan tatapan yang dingin. Anggi hanya menggelengkan kepalanya pelan, karena dia tidak percaya jika Alexa adalah gadis yang seperti itu. Tetapi sepertinya gelengan kepala dari Anggi untuk Alexa disalah artikan oleh Andre.
"Kau saja tidak ingin nona kecil diasuh oleh wanita seperti itu, apalagi dengan tuan besar? " Ujar Andre, lalu dia melangkah pergi dari hadapan Anggi.
"Apakah anda sudah menyelidiki hal itu dengan jelas, tuan Andre? " Pertanyaan Anggi yang tegas membuat Andre menghentikan langkahnya.
Andre hanya memutar kepalanya dan keningnya berkerut di wajahnya yang datar itu. "Apa maksud perkataan mu itu? "
Anggi pun menatap Andre dengan tatapan yang tidak kalah dingin dan penuh keyakinan.
"Jika benar Alexa gadis seperti itu, dia tidak mungkin bersikap tenang seperti tadi. Karena seorang pelakor biasanya memiliki sifat keras kepala dan ingin selalu berada di dekat pria. "
"Saya rasa anda sangat tahu, tuan Andre. Selama satu minggu bekerja disini, dia tidak pernah berbicara dengan para pekerja pria. Bahkan saat berbicara dengan anda saja, dia menjaga jarak satu setengah meter, lalu bagian dari dirinya yang mana, yang bisa dijuluki pelakor? "
Andre begitu tersentak dengan perkataan Anggi yang begitu tegas dan yakin dalam membela Alexa. Andre membenarkan perkataan Anggi tetapi tidak sepenuhnya perkataan Anggi benar. Andre tidak menyahuti perkataan Anggi, melainkan dia pergi dari hadapan Anggi dengan raut wajah yang ditekuk.
"Selama satu minggu dia bekerja disini, aku jadi mengenal Alexa. Dan tidak ada satu pun dari sifatnya yang layak seperti seorang perebut pria orang lain. Lalu bagian mana yang disebut pelakor dari dirinya? " Anggi bergumam seorang diri dengan heran dan bingung.
"Argghh... Masalahnya sekarang siapa yang bisa mengasuh nona kecil? Selama ini beberapa pengasuh tidak ada yang bisa menangani nona kecil dengan mudah seperti Alexa. "
*******
Setelah pergi dari rumah keluarga Alexander. Alexa terlihat kebingungan, karena dia tidak tahu harus pergi kemana. Sebenarnya dia bisa saja kembali ke yayasan, tetapi dia merasa takut dengan ketua yayasan, apalagi waktu itu ketua yayasan belum tuntas memberi hukuman kepada dirinya.
"Huft... " Alexa merasa agak lelah setelah berjalan yang kira-kira sudah hampir satu jam, tetapi tidak memiliki arah tujuan kemana dia akan pergi.
KRUYUK... KRUYUK... KRUYUK...
Tak terasa disaat merasa lelah, perut Alexa berbunyi dengan begitu kencang. Dia pun merogoh saku celananya, dan ternyata dia hanya memiliki sedikit uang, wajahnya pun langsung cemberut, dan mulai menggerutu.
"Kalo tau akan terjadi seperti ini, lebih baik tadi siang aku makan.. !! " Ujar Alexa sambil memasang tampang melas dan memegangi perutnya.
Alexa pun kembali berjalan lagi untuk mencari toko makanan kecil, agar dia bisa membeli roti dan air mineral untuk mengisi perut serta menghilangkan dahaganya. Beberapa meter dirinya berjalan, akhirnya dia menemukan toko kecil.
"Permisi, kak. Saya ingin beli roti dan air mineralnya. "
Pedagang toko tersebut pun langsung mengambil apa yang Alexa butuhkan, dan Alexa pun membayarnya. Setelah itu dia duduk di kursi yang disediakan oleh toko tersebut dan langsung memakan roti yang barusan dia beli dengan lahap.
"Haizzzz.... Aku harus kemana sekarang? Aku tidak mungkin kembali ke yayasan, tapi... barang-barang ku masih ada di sana...!! "
"Permisi, nona. Ini saya ingin membagikan selebaran tentang lamaran kerja, di restoran kecil saya. "
Seorang wanita yang kira-kira seusia ketua yayasan datang kepada Alexa sambil memberikan selebaran. Alexa pun langsung mengambil selebaran itu dan membacanya sekilas, dan dia merasa tertarik dengan pekerjaan itu.
"Nona, kalau boleh tau, apa persyaratan untuk bekerja di tempat anda? "
"Tidak ada persyaratan, asalkan anda niat bekerja dan cakap, anda sudah bekerja di tempat saya. " Kata wanita tua paruh baya itu sembari mengulas senyuman ramah di wajahnya.
"Nona, saya berminat bekerja di tempat anda. Tetapi... Saya tidak punya tempat tinggal, apakah di tempat anda menyediakan mess? " Tanya Alexa dengan malu dan ragu-ragu.
Wanita tua itu terdiam sesaat mendengar perkataan Alexa. Alexa yang melihat ekspresi wanita itu, dan dia langsung tertunduk malu serta ketakutan. Tentu saja, siapa pun orangnya akan terlihat kesal jika belum bekerja dan mengenal karyawannya pasti akan kelihatan kesal jika ditanya seperti itu oleh calon karyawannya.
"Heeeh... " Tiba-tiba wanita itu tersenyum akan perkataan Alexa.
__ADS_1
"Siapa nama anda? "
"A-Alexa Prawitha. "
"Nona Alexa, selamat anda diterima bekerja di restoran saya. Dan masalah tempat tinggal anda tenang saja, walaupun di tempat saya tidak menyediakan mess, anda bisa tinggal di rumah saya. "
"Ha-ah...? Apa, nona..? Tidak, tidak... Saya tidak bisa tinggal di rumah anda! "
Alexa sedikit terkejut dengan perkataan wanita tersebut, dan buru-buru menolak tawaran dari wanita itu tentang tinggal di rumahnya.
"Anda tenang saja, kebetulan saya tinggal sendirian dan saya memiliki satu kamar kosong. Jika anda merasa keberatan tinggal di rumah saya, anda bisa membayar sewa setiap bulannya. "
"Benarkah...? " Alexa terlihat sumringah dengan perkataan wanita itu.
"Kalau begitu, mohon bantuannya, nona Alexa! "
Wanita itu mengulurkan tangannya, dan Alexa pun langsung sigap menjabat tangan wanita itu.
"Terima kasih, nona... Eng-- "
"Claude, nama saya Claude Smith. "
"Iya, terima kasih nona Smith. "
"Aaaa.. Panggil saya Claude saja! " Pinta wanita itu.
"Baiklah, nona Claude. "
Alexa benar-benar senang dengan kedatangan nona Claude, karena ditengah-tengah kesulitannya saat ini, dia datang membagikan selebaran dan langsung menerimanya bekerja, serta menampung Alexa di rumahnya.
*****
Alya terus saja menangis meraung-raung di gendongan Anggi. Anggi sudah kebingungan dan kehabisan akal untuk menghibur Alya, agar nona kecilnya itu berhenti menangis.
"Ada apa ini? " Suara bariton yang membuat Anggi merinding terdengar dengan begitu lantang.
Anggi pun dengan cepat menghadap kepada suara bariton itu.
"S-selamat datang, tuan besar...! " Sambut Anggi dengan gugup.
"Ada apa ini? Kenapa Alya menangis seperti itu? " Tanya tuan besar yang bernama Alex dengan nada dingin.
"Ini tuan besar, saya sudah mencoba menenangkan nona kecil, tetapi dia berhenti menangis. "
"Sejak kapan dia menangis seperti itu? " Tanya Alex lagi.
"Sejak sore tadi, tuan besar. "
"APAA...? "
Anggi terlonjak kaget mendengar nada bicara Alex yang begitu tinggi, seperti akan marah.
"Bagaimana putri ku bisa menangis selama itu? Apakah kau tidak bisa menenangkannya? "
Tangisan sang nona kecil pun semakin keras ketika Alex berkata dengan nada tinggi dan marah. Anggi pun ketakutan dan menimang-nimang Alya.
"Ckkk... " Alex berdecak kesal, "berikan pada saya..! "
__ADS_1
"Huuaaaaa.... Huuaaa.... "
Tangisan Alya semakin kencang saat Anggi menyerahkan nona kecil itu kepada Alex.
"Huuaaa.... Huuaaa.... Ma.... Mi..... "
Alex dan Andre agak terkejut ketika mendengar Alya mengatakan sesuatu di sela-sela tangisannya.
"Apa baru saja putri ku mengatakan sesuatu? " Alex mengerutkan keningnya sembari menatap satu persatu semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Semua orang terdiam, tidak ada yang berani menjawab perkataan Alex. Walaupun mereka semua mendengar samar-samar apa yang dikatakan oleh nona kecil mereka di sela tangisannya tadi.
"Andre, apa kau belum juga menemukan pengasuh yang baik untuk putri ku? "
Alex tidak mau ambil pusing tentang apa yang diucapkan oleh Alya, melainkan dia bertanya kepada Andre tentang seorang babby sister untuk menggantikan posisi Alexa.
"Tuan, saya sudah mendapatkan pengasuh yang baru, tapi... "
"Tapi apa..? "
"Dia akan datang besok pagi. "
"Apa...? Pecat dia sekarang. Saya hanya ingin pekerja yang sudah benar-benar siap, karena putri ku tidak akan menunggu waktu. "
Alex berkata dengan nada kesal sambil menatap Andre begitu tajam.
"Baiklah, tuan besar, akan segera saya laksanakan. "
Andre pun hanya bisa mengikuti perintah dari Alex. Alex pun membawa pergi Alya yang masih menangis ke kamarnya, sedangkan para pekerja masih mematung di tempat.
'Saya tau apa yang nona sebutkan tadi, nona kecil tadi menyebutnya kata mami, dan orang yang disebut mami tidak lain adalah Alexa. '
Anggi bergumam dalam hatinya, sambil mengingat apa yang di dengar telinganya tadi ketika nona kecilnya itu menangis. Dan orang yang dimaksudkan oleh Alya pasti adalah Alexa, karena waktu Alexa masih menjadi pengasuh Alya, Anggi tidak sengaja mendengar nona kecil mereka itu menyebut Alexa dengan sebutan mami.
"Bagaimana caranya mencari pengasuh di malam-malam begini? " Gumam Andre kebingungan.
Anggi yang melihat Andre kebingungan seperti itu, dia pun langsung menghampirinya, karena dia tahu apa yang membuat Andre bingung saat ini.
"Tuan Andre. "
"Ada apa? " Nada bicara Andre tetap terdengar datar, walaupun dia sedang kebingungan.
"Saya hanya ingin memberitahu, sebenarnya nona kecil sudah menangis sejak bangun tidur. "
"Dia menangis karena tidak menemukan Alexa disampingnya, biasanya setelah bangun tidur jika dia tidak menemukan Alexa dia akan menangis, tetapi setelah dia melihat Alexa, nona kecil langsung berhenti menangis. "
"Apa maksud dari perkataan mu itu, Anggi? Apa kau mencoba untuk mengatakan bahwa Alexa harus kembali ke rumah ini untuk mengasuh nona kecil? " Andre bertanya kepada Anggi sambil menatapnya dengan tajam.
"Maaf, tuan Andre! " Anggi menundukkan kepalanya, "saya tidak bermaksud seperti itu, tetapi saya mengatakan hal itu karena saya sudah melihat kedekatan nona kecil dan juga Alexa. Apalagi Alexa terlihat begitu tulus menyayangi nona kecil Alya. "
Andre terdiam sesaat ketika mendengar perkataan Anggi, dan apa yang dikatakan oleh Anggi memang benar adanya. Karena belakangan ini dia melihat nona kecil mereka begitu dekat dengan mantan pengasuhnya, yaitu Alexa.
"Sudahlah, saya tidak ingin membahas hal itu. Dan ingat... Lain kali jangan membahas tentang Alexa lagi. " Kata Andre dengan nada memerintah yang begitu tegas.
Andre dengan wajah muramnya tiba-tiba menghela nafas kasar. Sedangkan Anggi tiba-tiba teringat sesuatu, lalu dia merogoh saku bajunya.
"Tuan Andre, saya ingin memberikan ini kepada anda. "
__ADS_1
Anggi menyerahkan sesuatu kepada Andre. Dan rupanya itu adalah kalung yang biasa dikenakan oleh Alexa.
"Milik siapa itu? "