
Setelah melemparkan surat itu kepada Gavin, Elsa pergi begitu saja dari kediaman Gavin bak istana itu.
Gavin sempat tertegun dengan sikap Elsa kepada nya. Tapi dia langsung segera menghubungi orang suruhan nya untuk tidak menyentuh rumah pak David dan bila perlu di berikan jarak agar tidak menggangu kediaman pak David.
Warga sangat senang sekali melihat pak David bisa kembali ke rumah nya. Mereka tidak lupa memberikan kabar kepada Elsa.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Elsa.
"Bagaimana Elsa?" tanya Diana. "Semua nya sudah beres, Ayah bisa tinggal di rumah itu lagi."
"Alhamdulillah. Lalu bagaimana dengan pak Gavin? Apa kamu bernegosiasi dengan nya?"
Elsa terdiam sejenak. "Tidak mungkin aku bilang kepada mereka sekarang aku jadi wanita bayaran pak Gavin," batin Elsa.
Elsa berfikir hari ini masalah nya semua terselesaikan. Namun tiba-tiba saja bodyguard Gavin menjemput nya.
Dia kaget karena tidak tau sebelum nya, dengan keadaan terpaksa dia harus pergi mengingat perjanjian sebelumnya yang sudah di tanda tangani.
"Hotel?" batin Elsa.
Dia sudah tau untuk apa dia di jemput, tapi kali ini ingin rasanya kabur, dia tidak sanggup untuk melakukan itu dengan pria yang sangat dia benci.
Namun Gavin sudah tidak sabar, setelah Elsa masuk ke kamar dia langsung melakukan nya Tampa mengatakan apapun.
Elsa hanya bisa pasrah. Sekarang dia benar-benar menjadi wanita bayaran. Seseorang sudah membeli tubuh nya.
Berhubungan dengan Gavin cukup membuat seluruh tubuh nya lemah. Badan Gavin yang sangat kekar tidak sebanding dengan badan nya yang kecil dan lemah.
Di rumah Ari mencoba menenangkan adek nya yang tak kunjung berhenti menangis.
"Mamah... Mamah..." Ani memanggil Mamah nya seperti tau apa yang sedang terjadi kepada ibu nya itu.
Setelah puas Gavin langsung tidur di samping Elsa tampa memperdulikan Elsa.
Elsa menahan rasa sakit nya dia langsung ke kamar mandi, dia tidak ingin kesalahan nya sebelumnya terjadi lagi, dia harus membersihkan tubuhnya dan segera keluar dari hotel itu.
Sesampainya di rumah dia mendengar anak nya menangis. "Mamah... Mamah dari mana?" tanya Ani.
Mereka memeluk Elsa yang sangat pucat.
"Mamah baik-baik saja, kenapa kalian belum tidur?" tanya Elsa.
"Ani mencari mamah, dia tidak berhenti menangis dari tadi mah," ucap Ari.
"Jangan menangis lagi, Mamah di sini."
Elsa membawa kedua anak nya ke kamar dan istirahat bersama.
Elsa mengelus kepala Ani sampai pada akhirnya ia tertidur.
__ADS_1
Keesokan paginya...
"Hari ini Bapak terlihat lebih segar, apa Bapak siap bekerja hari ini?" tanya bodyguard nya.
Gavin mengangguk sambil tersenyum. Hari ini mood nya benar-benar sangat membaik.
"Oh iya jangan lupa untuk mengikuti perempuan itu, jangan sampai dia kabur."
"Baik Pak," jawab bodyguard nya.
Gavin sampai di perusahaan nya langsung di sambut oleh sekertaris nya yang bernama Bunga.
"Selamat pagi pak Gavin," sapa Bunga dengan senyuman ramah.
"Pagi."
Seperti biasa, Gavin tidak terlalu banyak basa-basi dia langsung masuk ke ruangan nya bekerja.
"Bacakan jadwal saya hari ini."
"Tidak terlalu banyak pak, hanya ada pertemuan di luar dengan klien membahas mengenai saham baru dan juga Bapak di undang ke universitas XXX."
Gavin ternyata sudah lama menjadi donatur di universitas tempat Elsa kuliah, universitas ini tidak terlalu terkenal, namun ada satu hal yang membuat Gavin menjadi donatur di sana.
"Baiklah kalau begitu."
Saat sedang berbincang-bincang dengan pengurus universitas, beberapa Mahasiswa masuk.
Gavin melihat Elsa menjadi salah satu di antara mahasiswa yang berprestasi itu.
Elsa kaget melihat Gavin di sana, karena dia tidak perduli siapa awalnya yang menjadi donatur itu.
"Anak-anak perkenalkan ini pak Gavin, dia ingin bertemu dengan kalian semua."
Gavin ingin memilih di antara mereka orang yang beruntung bekerja di perusahaan nya dan juga bisa magang di perusahaan nya.
Namun mata nya tidak berpaling dengan Elsa. "Pak Gavin, ini data-data nya."
Gavin melihat semua nya. Namun Gavin mengeluarkan data Elsa.
Semua orang bingung kenapa Elsa tidak terpilih karena bisa di katakan nilai nya cukup bagus.
Acara selesai. "Kamu yang sabar yah," ucap teman-teman nya kepada Elsa.
"Gak apa-apa kok," ucap Elsa.
"Kamu pasti sangat sedih, karena hanya itu harapan kamu untuk berhenti bekerja di Club itu."
"Mungkin gak rejeki ku, sudah lah, sebaiknya aku pulang yah."
__ADS_1
"Ya sudah kamu hati-hati yah," ucap mereka berdua kepada Elsa dan segera pergi meninggalkan kedua teman nya.
Baru saja turun dari bus dia melihat mobil Gavin terparkir di depan rumah nya.
Dia langsung berlari karena mengingat anak-anak nya.
Elsa sangat kaget melihat Gavin sangat berantakan, badan nya penuh dengan tepung yang basah, dan juga kelereng dan banyak mainan berserak di lantai.
Ari dan Ani menyiram Gavin dengan air selang. Mereka tidak berhenti menertawakan Gavin yang sudah tidak bisa apa-apa.
"Anak-anak, apa yang kalian lakukan?!" Elsa datang mereka langsung bersembunyi di belakang Elsa.
"Mamah, om jahat itu mau membawa kami, om itu mau menculik kami."
Elsa menghela nafas panjang. Dia melihat Gavin yang berusaha untuk berdiri.
"Apa sih yang Bapak mau? Apa urusan kita belum selesai? Kenapa mengganggu anak-anak ku?" tanya Elsa.
Gavin menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak menggangu mereka, saya hanya datang menunggu kamu namun mereka melakukan ini semua."
"Bohong mamah, om itu menggendong Ani."
Elsa tidak bisa berkata-kata lagi. "Jawab dengan jujur Ari, Ani, apa kalian melakukan ini?"
"Iyah mah, tapi karena kami takut. Om itu sangat galak dan jahat."
Gavin menatap mereka berdua, mereka langsung takut. Elsa menyuruh mereka masuk.
"Apa yang bapak lakukan di sini?" tanya Elsa.
"Saya mencari kamu."
Elsa melihat keadaan Gavin, akhirnya dia membiarkan Gavin bersih-bersih terlebih dahulu di kamar mandi nya.
Elsa membersihkan kekacauan yang ada di luar.
Setelah selesai Elsa berbicara dengan Gavin.
"Anak-anak ku sangat takut kepada bapak, kalau bapak membutuhkan saya, bapak bisa menghubungi saya."
Gavin mengeluarkan sesuatu dari dompet nya. "Ambil lah ini untuk bayaran mu kemarin."
Elsa menolak nya. "Bapak bisa ambil kembali uang bapak dan keluar dari rumah ku."
Gavin bingung kenapa Elsa menolak nya. Elsa memaksa Gavin keluar dan setelah itu menutup pintu.
Gavin menghela nafas panjang. Dia keluar dari rumah itu.
"Sial! Karena anak-anak yang sangat nakal itu aku harus seperti ini," batin Gavin.
__ADS_1