Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia

Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia
Akal Gavin agar bisa jalan-jalan bersama Elsa dan si kembar


__ADS_3

Gavin memerhatikan Elsa sampai Elsa sangat risih.


"Apa yang kamu tutup?" ucap Gavin karena Elsa menutupi bagian paha nya.


"Kenapa Bapak Menatap ku seperti itu?" tanya Elsa.


"Saya sudah melihat semua nya, bahkan anak saya sudah keluar dari sana," ucap Gavin.


Elsa merasa kurang suka dengan kata-kata Gavin, dia menatap kesal.


Gavin tersenyum. "Bukan kah yang saya katakan benar?"


"Apakah tidak ada pakaian yang lebih bagus dari pakaian itu?" tanya Gavin.


"Ini sudah peraturan dari Club bapak. Bukan kah peraturan ini bapak yang buat? Karena semua Pria sama saja, mereka ingin memanfaatkan semua perempuan untuk pemuas nafsu mereka."


"Bukan kah perempuan juga mendapatkan hal yang setimpal dengan itu?" tanya Gavin.


"Sudah lah, berdebat dengan bapak tidak ada gunanya," Ucap Elsa.


Setelah beberapa lama akhirnya Elsa sampai di Club.


"Bagaimana? Apakah pak Gavin bersama anak-anak mu sekarang?" tanya Cikita.


"Jangan keras-keras, bagaimana kalau yang lain tau?" tanya Elsa.


"Iyah-iyah, aku minta maaf."


"Kamu lihat semua pria-pria berjas hitam itu?" sambil menunjuk ke arah meja VIP.


"Emangnya kenapa?"


"Itu adalah salah satu rombongan Pak Gavin."


"Mereka terlihat sangat menakutkan," ucap Elsa.


"Ya benar, mereka ke sini mau mencari pak Gavin. Untung saja pak Gavin memiliki tempat bersembunyi di rumah mu."


"Emangnya mereka mau ngapain?" tanya Elsa.


"Mereka itu dulu adalah rekan-rekan ayah nya pak Gavin. Namun setelah pekerjaan Ayah nya di urus oleh pak Gavin dia berhenti melakukan bisnis ilegal."


"Jadi mereka ke sini mau memberikan pelajaran atau mau membujuk pak Gavin agar melakukan pekerjaan itu lagi."


Mendengar nya saja sudah membuat Elsa takut. "Humm pantesan saja pak Gavin terlihat sangat menakutkan, ternyata dia seorang Mafia yang jahat."


"Kamu jangan salah paham, dia memang Mafia tapi semua bisnis nya Legal." ucap Cikita.


"Percuma saja, dia keturunan dari seorang Mafia. Aku yakin mereka pasti sangat banyak membunuh orang."


Tiba-tiba ada yang panggil mereka. Minta di layani. Mereka berhenti bergosip.


"Papah... Papah..." panggil Ari.


Gavin yang sedang fokus dengan laptop nya langsung merespon panggilan Ari.


"Ada apa?" tanya Gavin.


Ari menunjukkan gambaran nya. "Apa ini nak?" tanya Gavin.


"Ini adalah air terjun, aku melihat ini dari bayangan mimpi ku."

__ADS_1


"Akhir-akhir ini kamu sangat sering menggambar pemandangan, apa kamu ingin melihat itu semua secara nyata?"


Ari mengangguk. "Tapi gak mungkin bisa Pah. Mamah tidak boleh kan aku pergi jauh-jauh karena sangat muda lelah."


Gavin terdiam sejenak.


"Apakah papah hari ini tidak pulang?" tanya Ari.


Gavin melihat jam. "Bolehkah Papah tidur di sini?" tanya Gavin.


"Boleh banget Pah, tapi bagaimana dengan Ani?"


Gavin menoleh ke arah Ani yang masih kurang dekat dengan nya.


"Ani, apakah papah boleh tidur di sini?" tanya Ari.


"Tidak boleh, om jahat tidak boleh di sini. Lagian tempat tidur kita sangat kecil," ucap Ani.


"Bagaimana kalau kamu mengijinkan papah tidur di sini, papah akan membelikan kamu Buku dokter?" tanya Gavin.


"Humm... Buku dokter? Baiklah papah bisa tidur di sini, aku akan tidur di kamar mamah."


"Humm kalau ada mau nya saja baru panggil papah," ucap Ari.


Keesokan harinya...


"Mamah baru pulang?" tanya Ari menghampiri Elsa yang langsung ke dapur setelah pulang dari kampus.


"Iyah nak, Mamah minta maaf yah belum masak, ini Mamah langsung masak," ucap Elsa.


"Mamah, aku mau membicarakan sesuatu," ucap Ari.


"Ada apa nak?"


"Aku mau jalan-jalan," ucap Ari.


"Jalan-jalan? Mana bisa nak, kita tidak punya uang, di sini sangat jauh tempat wisata. Lagian kita harus menyewa mobil mengingat penyakit kamu."


"Aku ingin menjual semua gambaran dan lukisan ku, Agar kita memiliki uang."


"Menjual nya? Sama siapa nak?"


Tiba-tiba Gavin datang entah dari mana.


"Sangat banyak yang menginginkan lukisan Gavin. Saya sudah mempromosikan nya dan semua nya laris." ucap Gavin sambil menunjukkan hasil penjualan di laptop nya.


Elsa terdiam melihat itu.


"Kurir akan mengantar kan semua nya ke alamat pembeli."


Elsa tau lukisan anak nya sudah sangat banyak, melihat nominal uang yang di dapat cukup banyak.


"Oke nak, kita bisa pergi, kita akan berangkat besok."


Ari memegang tangan Elsa. "Kita bisa ajak Papah kan? Papah juga sudah bantuin jual lukisan ku. Papah juga tau tempat yang bagus," ucap Ari.


"Tidak bisa nak, Papah pasti sangat sibuk."


"Kata siapa? Saya bisa, saya adalah bos, saya bisa libur kapan pun itu."


"Boleh yah Mah, aku mau naik mobil mewah Papah. Pasti sangat nyaman di dalam sana," ucap Ani.

__ADS_1


"Huff dasar matre," ucap Ari.


"Baiklah-baiklah, kalian pergi main, Mamah mau ngomong berdua sama Papah."


"Yeiiii/ Hore...." mereka berdua sangat senang sekali. Elsa sangat senang melihat anak nya bahagia.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Gavin.


"Ini semua Bapak yang ngatur kan? Bapak yang minta anak-anak melakukan ini kan?"


Gavin menggeleng kan kepala nya. "Jangan berbohong!"


"Ari ingin pergi jalan-jalan, saya bisa saja membawa nya, tapi apa kamu mengijinkan saya membawa mereka?"


"Apakah dengan cara seperti ini lebih baik?"


"Besok Sabtu, kamu ambil cuti saja dari Club, kita akan menginap."


"Tidak bisa menginap,"


"Ini permintaan anak-anak."


Elsa tidak bisa berdebat dengan Gavin.


"Terserah saja!" Elsa sangat jengkel.


Gavin tersenyum. "Kamu pikir, kamu bisa membuat ku jauh dari anak ku? Aku akan melakukan seribu cara," ucap Gavin sambil tersenyum.


Makanan yang di masak oleh Elsa sudah siap. Mereka kumpul di meja makan.


Elsa Menatap tidak suka kepada Gavin, namun seperti biasa Gavin mengandalkan anak-anak nya untuk melindungi nya.


Elsa sangat muak, dia langsung pergi ke kamar untuk mandi.


"Ayo makan yang banyak anak-anak, agar kalian cepat besar."


"Huff aku sangat bosan makan yang sama setiap hari nya," ucap Ani.


Gavin melihat sup ayam campur wortel, beberapa ikan yang di goreng.


"Masakan mamah sangat enak, adek gak boleh seperti itu," ucap Ari.


Gavin tersenyum melihat Ari yang sangat pintar berbicara kepada adiknya.


Gavin mencicipi makanan yang sangat jarang dia coba.


"Walaupun ini sederhana, tapi rasanya cukup enak," ucap Gavin.


Keesokan harinya...


Elsa dan anak-anak sedang menunggu jemputan Gavin.


"Mah, Papah kenapa sangat lama?" tanya Ani.


"Sabar nak," ucap Elsa.


"Tin!! Tin!!" bunyi klakson mobil di depan rumah.


"Huff kalau boleh menolak tidak ikut, aku tidak ingin ikut," batin Elsa.


"Melihat wajah nya saja sudah membuat ku muak," batin Elsa.

__ADS_1


__ADS_2