
Melihat Mamah nya terasa tidak aman dan terancam mereka berdua berusaha menyelematkan Mamah nya.
Gavin melepaskan tangan nya dari Elsa. Dia melihat kedua anak itu. Tidak lama pengawal nya dari dan menahan kedua nya.
"Lepaskan mereka pak, mereka anak kecil, lepaskan mereka," ucap Elsa.
Gavin mendekati Ari dan Ani menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Berani-beraninya kalian menggigit kaki saya!"
"Om Kenapa menahan mamah," ucap Ani.
"Mamah? Jadi mereka adalah anak mu?" tanya Gavin kepada Elsa.
"Lepaskan mereka pak, mereka tidak tau apa-apa."
Mereka berontak sehingga pengawal melepaskan nya. Mereka langsung bersembunyi di belakang Elsa.
"Pikirkan tawaran saya sebelumnya, saya akan kembali lagi besok ke sini," ucap Gavin dan pergi.
Tidak lupa dia menatap tajam menunjukkan wajah dendam kepada anak-anak itu.
"Bapak tidak apa-apa kan?" tanya pengawal nya.
"Tidak apa-apa," ucap Gavin.
"Seperti nya kedua anak itu kembar karena wajah nya sangat mirip dan lagi besar mereka sama," ucap Gavin.
"Setelah di teliti lebih dalam, Elsa hanya tinggal bersama kedua anak nya dan dokter itu bukan lah suami nya," ucap pengawal di depan.
"Bagus kalau begitu," ucap Gavin.
Sesampainya di rumah Gavin baru saja selesai mandi. Dia masih melilit kan handuk di pinggang nya melihat kopi di atas meja dia menikmati kopi itu terlebih dahulu sambil berjalan ke arah kaca balkon.
Dari sana dia bisa melihat pemandangan kota itu di malam hari karena dia tidur di salah satu hotel milik nya.
"Tok... tok.. tok.." ketukan pintu.
"Masuk!"
Wanita cantik seksi tersenyum melihat Gavin.
Setelah beberapa bulan tidak menyewa wanita karena masih mengharapkan Elsa mau menjadi wanita pemuas nya.
"Selamat malam Pak Gavin, perkenalkan nama saya Cintia," wanita itu memperkenalkan diri.
"Tidak perlu basa-basi langsung saja," ucap Gavin.
Wanita itu tersenyum dia membuka dress nya menunjukkan seluruh lekuk tubuh nya kepada Gavin yang masih memasang wajah datar.
Wanita itu mulai mendekati Gavin, menyentuh dan menggoda Gavin.
Sudah tugas nya untuk menggoda Gavin karena tidak mungkin Gavin melakukan hal itu kepada wanita lain selain Elsa.
Wanita itu duduk di pangkuan Gavin, sudah setengah jam dia melakukan pemanasan, dia hampir prustasi karena Gavin tidak menunjukkan hasrat nya sama sekali.
__ADS_1
Tapi karena sudah di bayar mahal, dia harus melakukan yang terbaik. Namun tiba-tiba Gavin mendorong nya dari tubuhnya.
"Sebaiknya kau keluar dari sini!" ucap Gavin.
"Tapi pak, kita bahkan belum melakukan nya."
"Keluar!" Akhirnya Cintia pun langsung keluar dari kamar hotel itu.
"Aarghhhh!!" Gavin menghela nafas berat.
Gavin juga tidak tau apa yang salah dengan nya, dia sama sekali tidak berhasrat bersama wanita lain walaupun mereka sungguh seksi.
"Aku rasa sekarang dia benar-benar mengutuk ku," ucap Gavin.
Gavin berfikir kalau Elsa mengutuk nya. Karena sebelum berhubungan dengan Elsa, dia masih bisa berhubungan dengan wanita lain yang berganti-ganti setiap hari nya.
Lagi-lagi dia bergadang di depan laptop nya.
Keesokan harinya..
"Anak-anak, nanti kalau ada yang mengetuk pintu jangan di buka yah, siapa pun itu kalau tidak persetujuan Mamah."
"Oke Mamah. Mamah semangat yah kuliah nya," ucap Ani.
Elsa mengangguk sambil tersenyum, dia mencium Ani dan Ari bergantian.
Elsa keluar dari rumah tidak lupa menutup pintu, pagar dan bisa pergi dengan tenang.
"Abang... aku mau di ajarin gambar dong," ucap Ani.
"Abang gambar apa?"
"Ini adalah gedung pencakar langit, suatu saat nanti kakak ingin memiliki gedung dan menjadi pengusaha."
Mereka selalu berbincang-bincang berdua di rumah.
"Nadira, Diana." panggil Elsa.
Mereka bareng masuk ke dalam kelas.
Sementara Di hotel tempat Gavin tidur dia baru saja bangun ketika matahari hari menembus masuk ke ruangan nya.
"Permisi Pak, Pak Ericsson sudah menunggu di bawah."
Pengawal nya masuk membuat nya kaget karena dia sama sekali tidak menggunakan busana.
"Maaf Pak,"
Gavin menghela nafas panjang, dia duduk menatap pengawal nya.
"Untuk apa dia datang mencari ku ke sini?"
"Tidak tau Pak, beliau ingin bertemu dengan bapak."
"Baiklah, tunggu saja di bawah."
__ADS_1
Tidak beberapa lama dia turun kebawah dia melihat ke arah Pria yang duduk di loby hotel itu.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Gavin. Pria yang tidak kalah tampan dari nya itu berdiri ketika melihat Gavin datang.
"Mamah ingin Kakak pulang," ucap pria itu.
Gavin menghela nafas panjang. "Apa tidak memiliki waktu untuk pulang," ucap Gavin.
Faris Aditama adalah adik Gavin.
"Tapi Mamah sakit," ucap Faris, dia ingin bertemu dengan kakak."
"Buang-buang waktu saja kau ke sini, aku tidak akan pernah menemui nya."
Gavin langsung pergi meninggalkan Faris.
Faris menelpon Mamah nya. Mendengar Gavin tidak mau pulang membuat wanita yang ada di balik telpon itu sedih.
Wanita itu terus meminta Faris membujuk Gavin pulang.
Waktu makan siang. Gavin memasuki salah satu restoran karena dia memiliki janji makan siang bersama rekan kerjanya yang dari jauh.
Restoran terpaksa di kosongkan beberapa jam, karena Gavin tetap harus menjaga privasi nya.
Tidak semua orang tau dengan nya, karena dia jarang berada di Jakarta.
"Apa kabar Pak Gavin, sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana perjalan bisnis anda di luar negeri?" tanya Pria yang berjas hitam tinggi serta sudah lanjut usia.
"Semua nya lancar Pak, Bapak sendiri bagaimana kabar nya?" tanya Gavin.
"Ya seperti ini lah, tidak banyak yang berubah."
"Saya turut berdukacita atas kepergian istri anda. Saya tidak bisa datang."
"Tidak apa-apa, kita ke sini mau membahas pekerjaan," ucap pria itu.
Gavin tersenyum dia duduk dan berbicara dengan pria itu.
Setelah selesai makan siang, mereka berpisah lagi. Gavin kembali ke perusahaan nya.
Baru saja sampai dia melihat adiknya duduk di lobby.
"Sudah ku bilang aku tidak akan kembali ke rumah, untuk apa kau masih menunggu ku di sini?" tanya Gavin.
Faris menatap Gavin. "Sudah tiga tahun kakak tidak pulang ke rumah, dan kakak baru saja kembali ke Jakarta sebaiknya kakak menemui Mamah."
Gavin mendekati Faris. "Apa kau tidak mengerti dengan kata-kata? Aku tidak ingin pulang ke rumah!"
"Mamah sama Papah melakukan itu demi kebaikan kakak, untuk masa depan kakak."
Gavin menggeleng kan kepala nya. "Jangan pernah muncul di hadapan ku kalau kau tidak ingin aku melakukan kekerasan."
Faris selalu takut dengan Gavin karena Gavin adalah pria yang kasar dan emosian kepada adik nya itu.
Akhirnya Faris mengalah, Percuma saja dia memaksa Gavin karena Gavin tidak akan pernah merubah keputusan nya itu untuk tidak pulang ke rumah.
__ADS_1