Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia

Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia
Deg-degan


__ADS_3

Waktunya pulang dari tempat liburan...


Gavin mengantarkan Elsa ke rumah nya. Setelah itu dia pergi mengurus beberapa urusan nya sendiri.


Elsa tidak banyak berbicara setelah pulang.


Malam nya dia bekerja seperti biasanya.


"Bagaimana perjalanan dengan Pak Gavin?" tanya Cikita.


"Bisa gak sih jangan bahas itu? Akhir-akhir ini kamu sangat sering membahas pak Gavin kepada ku!"


"Yah kan aku cuma nanya doang."


Elsa menghela nafas panjang. "Aku sudah tau tujuan dia melakukan ini semua hanya ingin mengambil hati anak-anak dan ingin mengambil mereka."


"Kenapa kamu suuzon mulu sih, coba aja lihat sisi baik nya."


"Aku tidak tau harus melihat dari mana sisi baik nya!"


Elsa merasa sangat kesal setiap kali membahas Gavin.


Keesokan harinya...


Elsa baru saja selesai kelas. Nadira dan Diana mengajak nya untuk nongkrong di Cafe karena sudah lama mereka tidak nongkrong.


Elsa mau karena kelas cukup cepat selesai. Nongkrong sebentar melepaskan penat tidak lah masalah.


Namun tengah sedang asik duduk dan berbincang-bincang dia melihat Dimas keluar dari salah satu gedung dan di ikuti pengawal nya.


Elsa segera bersembunyi di balik badan Nadira.


"Ekhem-ekhem!!!" Gavin menyadari Elsa ada di sana.


"Bagaimana bisa kamu di sini santai, sementara anak-anak ka-" tiba-tiba Elsa langsung menarik Gavin keluar dari sana.


"Apa yang Bapak lakukan? Kenapa Bapak berbicara di depan semua orang seperti itu?" tanya Elsa.


Gavin menatap tangan Elsa yang masih menggenggam kuat pergelangan tangan nya.


Dan jarak mereka berdiri cukup dekat sekali. "Sial.. Kenapa jantung ku berdetak begitu cepat?" batin Gavin.


"Kenapa bapak diam?" tanya Elsa.


Elsa baru menyadari dia masih memegang tangan Gavin.


"Aku minta maaf," ucap nya.


"Kamu membiarkan Ari dan Ani berdua di rumah sementara kamu duduk di sini bersama teman-teman kamu," ucap Gavin.


"Aku butuh waktu untuk me time bersama teman-teman ku," ucap Elsa.


Gavin menarik Elsa ke dalam mobil memaksa nya masuk.


"Aku akan berteriak kalau bapak memaksa ku seperti ini, bapak mau membawa ku kemana?"


Elsa berontak ketika di paksa masuk. Karena dia berontak Kedua nya hilang kendali sehingga Gavin tertarik dan jatuh di atas Elsa.

__ADS_1


Gavin menatap wajah Elsa sangat dekat sekali.


"Deg!! Deg!! Deg!!" Detak jantung Gavin yang tidak berhenti berdetak begitu cepat ketika bersentuhan dengan Elsa.


"Kenapa wajah ini semakin hari semakin mirip dengan nya?" batin Gavin.


"Pak Gavin ganteng banget? Wajah nya sangat mirip kepada Ari," batin Elsa.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya supir nya yang duduk di depan.


Elsa dan Gavin langsung membenarkan tempat duduk masing-masing.


"Jalan pak, langsung ke rumah Elsa."


Tidak beberapa lama akhirnya sampai..


"Terimakasih banyak sudah mengantarkan aku pak, Bapak bisa langsung pulang," ucap Elsa.


"Saya ingin bertemu dengan anak-anak saya."


Elsa menahan Gavin.


"Kenapa? Saya sudah merindukan mereka."


"Apa Bapak lupa dengan perjanjian sebelumnya?"


Gavin mengingat nya, dia menghela nafas panjang sambil mengusap wajah nya.


"Baiklah saya akan datang minggu depan," ucap Gavin.


Elsa mengangguk. Gavin mengeluarkan sesuatu dari dompet nya.


"Ini kartu kredit untuk keperluan anak-anak, kamu bisa memakai nya ketika mereka menginginkan sesuatu, karena saya yakin dengan hasilmu merayu para pria itu tidak cukup."


Kata-kata itu membuat Elsa sangat marah, dia langsung mengembalikan kartu itu.


"Sebaik nya bapak ambil saja ini, kami bisa hidup sederhana tidak seperti bapak yang hidup dengan uang haram seperti ini," ucap Elsa dan pergi masuk.


"Mamah..." sapa anak-anak nya yang sedang asik main.


Elsa tersenyum. "Kami seperti mendengar suara papah, apa ada papah?" tanya Ari.


"Bisa gak sih kamu jangan tanya tentang dia terus? Mamah di sini kamu selalu menanyakan nya."


Elsa merasa cemburu dengan Gavin yang selalu di tanyain oleh Ari.


Dia melihat mereka berdua main dengan mainan yang baru di beli oleh Gavin.


"Kalian lanjut saja main."


Elsa masuk ke dalam kamar nya.


"Mamah kenapa yah marah-marah?" tanya Ari.


Mereka layaknya anak kecil masih belum terlalu paham dan lanjut main seperti biasa.


Empat hari kemudian...

__ADS_1


Gavin tidak memunculkan diri nya. Namun hari ini dia datang membawa mainan baru kepada Ari dan Ani. Hanya satu masing-masing tapi mainan itu pasti sangat mahal.


Elsa hanya bisa melihat dari arah dapur.


"Nih buah nya di makan dulu," ucap Elsa kepada anak-anak nya.


Namun mereka tidak perduli karena sudah ada Gavin yang membuat mereka senang.


Elsa tidak mengatakan apapun, dia meninggal kan ruang tamu.


Namun dia melihat mainan lama milik Ari dan Ani yang di beli oleh nya sudah tidak pernah di sentuh lagi bahkan berserak begitu saja.


Dia mengumpulkan nya dengan perasaan yang sangat sedih dia mengumpulkan dan memasukkan nya ke dalam kardus.


Gavin melihat itu. Dia mengikuti Elsa membawa mainan itu keluar.


"Apa yang kamu lakukan dengan itu?" tanya Gavin.


Elsa menghapus air mata nya dan menoleh ke arah Gavin.


"Aku rasa anak-anak tidak ingin memainkan ini lagi, aku akan membakar nya," ucap Elsa.


"Kenapa? Ini semua masih sangat bagus."


"Tidak apa-apa, mereka tidak akan mau main ini lagi, karena mainan yang Bapak jauh lebih bagus dan menarik."


Gavin merasa bersalah mendengar itu. "Saya tidak bermaksud untuk membuat mereka melupakan apa yang kamu beli. Saya hanya ingin mereka bahagia."


Elsa mengangguk. "Iyah aku tau."


Elsa mau memasukkan nya ke tong sampah namun di ambil langsung oleh Gavin.


Elsa kebingungan. Namun tidak beberapa lama lemari datang dan Gavin menyusun semua nya di lemari kaca khusus pajangan mainan.


"Percuma saja Bapak melakukan ini," ucap Elsa dia meninggal kan ruangan itu dan masuk ke dalam kamar.


Gavin kebingungan. Dia merasa itu sudah cukup menghargai.


Dia duduk memikirkan apa yang salah. "Arrhh!! Kenapa aku harus memikirkan nya? Bukan kah ini tujuan ku dari awal membuat Ari dan Ani menyukai ku dan melupakan nya?"


"Tapi setelah melihat nya menangis membuat ku tidak tega."


"Tok!! Tok!! Tok!!" ketukan pintu kamar. Elsa membuka nya.


"Humm saya sudah membeli makanan, ayo makan bersama anak-anak."


"Bapak makan saja dengan Ari dan Ani, aku belum lapar."


"Tapi saya tidak tau cara memanaskan nya, saya juga tidak tau bagaimana menyiapkan nya untuk anak-anak."


Elsa tidak bisa menolak, akhirnya dia keluar dan menyiapkan nya.


Gavin menepuk tempat duduk di samping nya saat semua makanan sudah tersedia.


Elsa menggeleng, namun Gavin menarik tangan Elsa.


Kedua anak nya menatap ke arah mereka berdua. Elsa terpaksa langsung duduk.

__ADS_1


Elsa duduk di samping Gavin walaupun sangat canggung.


__ADS_2