
Seiiring berjalan nya waktu Elsa mulai tergiur dengan uang yang selama ini yang di berikan oleh semua pelanggan nya.
Sekarang dia sudah bisa menyimpan uang untuk menyewa teman yang lebih bagus.
"Tumben sekali kamu datang mencari saya ke sini, ada apa?" tanya dokter Kimdan.
"Saya ke sini mau mengucapkan terimakasih kepada dokter. Sekarang saya dan anak-anak saya akan pindah dari kontrakan dokter."
"Kenapa? Kalian bisa tinggal di sana."
"Tapi kami tidak mau selalu menyusahkan dokter, saya juga sudah memiliki uang yang cukup untuk membayar sewaan rumah," ucap Elsa.
"Kalian bisa tinggal di sana, tempat itu sudah sangat bagus untuk kamu dan anak-anak mu," ucap Kimdan.
Elsa memberikan uang kepada Kimdan. "Terima lah ini dokter sebagai tanda terimakasih ku."
Dokter Kimdan tidak bisa menolak.
"Mumpung kamu dan anak-anak kamu di sini saya mau memeriksa kesehatan mereka."
"Mereka sehat-sehat saja Dok," ucap Elsa.
Namun dokter tetap memeriksa kesehatan mereka berdua.
Dokter menghela nafas panjang ketika mengetahui Ari dan Ani kekurangan vitamin dan juga fisik mereka sangat lemah, mereka sangat sering kelaparan.
Dokter menasehati Elsa pelan-pelan, setelah selesai dia kembali ke rumah dengan perasaan lelah.
"Mamah...." panggil Ani.
"Jangan ganggu Mamah dulu, kalian pergi lah main."
Elsa merasa kepala nya sangat pusing sekali.
Dia istirahat sejenak di ruang tamu. Satu jam kemudian dia bangun namun tidak melihat anak-anak nya.
Elsa mencari namun ternyata mereka tidur di kamar. Elsa mendekati mereka berdua.
"Ya Allah kenapa aku begitu jahat kepada anak-anak ku? seharusnya aku harus lebih perduli kepada mereka," batin Elsa.
Elsa mengelus kepala Ari, namun dia sangat kaget kenapa badan nya panas begitu juga dengan Ani.
Dia syok dan langsung menghubungi dokter Kimdan. Untung saja tadi dokter memberikan obat seperti sudah tau mereka Akan demam.
"Mamah.... Mamah..." Ani merengek.
"Mamah di sini..." ketika anak nya sakit seperti itu perasaan Elsa tidak karuan, dia tidak bisa tenang sama sekali.
Dia melihat jam. "Ya ampun sudah jam delapan malam, apa aku harus meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini?" batin Elsa.
__ADS_1
Akhirnya dia meminta bantuan teman-teman nya. Nadira dan Nadia ternyata tidak bisa karena mereka memiliki urusan.
Elsa tidak tega meninggalkan kedua anak nya, akhirnya dia memilih untuk libur.
Sepanjang malam dia tidak bisa tenang, dia berharap anak nya segera membaik.
Elsa sadar ternyata dia sangat marah selama ini sehingga dia mengabaikan anak-anak nya.
Sejak saat itu dia mulai sadar karena dia bisa bertahan sampai sekarang karena kedua anak nya itu.
Keesokan paginya...
"Ani.. Ari.. ayo makan nak.." panggil Elsa.
Mereka berlari ke meja makan.
"Mamah masak?" tanya Ari.
"Iyah nak, ini untuk Abang Ari dan ini untuk adek Ani, makan yang banyak yah."
"Mamah janji akan menebus semua kesalahan Mamah nak, Mamah benar-benar akan melakukan apapun untuk kalian."
Elsa bisa membayar baby sister untuk menjaga mereka di saat dia bekerja saja.
Di malam hari dia bekerja seperti biasa.
Elsa tertawa kecil. "Aku tidak menipu mereka, aku melakukan seperti apa yang mereka mau."
"Tapi tidak bisa seperti itu, bagaimana kalau suatu saat nanti mereka marah dan tidak terima?"
"Baiklah aku mengerti," ucap Elsa.
"Oh iya malam ini seseorang membooking kamu, ini adalah pelanggan VIP, jangan mencoba untuk membuat nya kecewa."
"Biasa nya juga pelanggan VIP, kenapa ini terlihat sangat berbeda?"
"Ya jelas berbeda lah, dia adalah pemilik club ini," ucap Cikita.
"Kenapa tidak kamu saja? Kamu adalah primadona di sini."
"Apa kamu tidak sadar sudah merebut posisi ku? Seandainya saja kamu bukan teman ku dan kamu tidak memiliki anak, aku sudah menyaingi kamu," ucap Cikita.
Elsa tersenyum tipis. "Aku hanya melayani yang mau sama ku saja, aku tidak merebut semua nya," ucap Elsa.
"Ya sudah sana, kamu siap-siap saja," ucap Cikita.
"Oh iya kamu harus siap-siap," ucap Cikita.
"Kenapa?" tanya Elsa heran.
__ADS_1
Cikita menggeleng kan kepala nya.
"Kamu tidak jelas banget sih," ucap Elsa dan pergi.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya kalau dia bertemu dengan pria itu," batin Cikita.
Di malam hari nya Elsa kaget karena ruangan yang di tempati adalah kamar 017, kamar yang membuat Elsa trauma berat dan sudah lama dia tidak masuk ke kamar itu.
"Tidak mungkin, ini pasti pelanggan yang lain," batin Elsa.
Saat dia masuk ke dalam ruangan sangat dingin. Ruangan itu ternyata tidak ada berubah sama sekali.
"Kenapa harus di sini? apa tidak ada ruangan lain selain ini?" batin Elsa.
"Permisi pak, saya Elsa yang akan menemani Bapak malam ini," ucap Elsa.
Pria itu berdiri dia berbalik dan melihat ke arah Elsa yang masih berdiri di dekat pintu.
Elsa heran kenapa pria itu menatap nya dengan tatapan seperti itu.
"Ada apa yah pak? Apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Elsa.
Pria berbadan besar, wajah sangat datar, mata seperti mata elang dan juga badan yang tinggi.
"Apakah kamu melupakan saya?" tanya pria itu. Elsa terdiam sejenak.
"Saya tau Bapak adalah pemilik Club ini."
"Sekarang kamu sudah berpindah profesi yah, yang dulu nya hanya waiters sekarang sudah menjadi wanita bayaran."
Elsa semakin bingung. "Sudah berapa banyak Pria yang meniduri mu? Apakah mereka menikmati bekas ku?" tanya Pria itu.
Mendengar itu Elsa kaget, ingatan nya kembali ke tiga tahun yang lalu. Wajah nya mulai pucat.
Kini dia sudah mengenali suara Pria yang dari tadi familiar di telinga nya.
"Apa kamu belum mengingat nya? Kalau begitu saya akan membuat kamu mengingat nya kembali," ucap pria itu menarik tangan Elsa dan mendorong nya dengan kasar ke kasur.
"Pak.. pak lepas kan saya, lepas kan saya," ucap Elsa ketakutan.
Namum Pria itu sangat kuat, dia memaksa Elsa.
"Wahh... aku pikir kau akan berubah, ternyata kamu tidak jauh berubah, wajah mu semakin cantik badan mu semakin bagus."
Elsa seperti mati kata, badan nya lemas tidak berdaya. Pria itu mencium bibir Elsa sangat kasar.
"Saya sangat merindukan permainan kita di malam itu, saya ingin tau apakah rasanya masih sama atau tidak, tapi saya yakin ini rasanya pasti sudah tidak enak karena sudah banyak Pria yang membeli nya."
Namun tiba-tiba Elsa pingsan membuat Gavin Menzies itu panik. Dia tidak melakukan apapun yang kasar membuat Elsa pingsan.
__ADS_1