Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia

Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia
Memuji Elsa dalam keadaan mabuk


__ADS_3

Elsa berjalan memastikan kalau yang dia lihat itu adalah Gavin.


Gavin sadar Elsa sudah datang dan berdiri di depan nya. "Kamu sudah pulang? Aku sudah menunggu kamu dari tadi," ucap Gavin.


"Kenapa Bapak di sini? kenapa bapak tidak pulang?"


Gavin berusaha berdiri dia mendekati Elsa. "Saya ke sini mau bertemu kamu dan juga anak-anak kita."


"Bapak mabuk, mana handphone Bapak, aku akan meminta anak buah bapak jemput ke sini."


Gavin menahan tangan Elsa sambil menatap dengan tatapan sayu.


"Kenapa Bapak datang ke sini kalau lagi mabuk? Apa bapak mau anak-anak melihat ini?"


"Ini semua karena kamu!" Elsa heran karena di tuduh.


"Seandainya saja kamu tidak lebih percaya kepada dokter itu, saya tidak akan mabuk."


Elsa menghela nafas panjang. "Hanya karena itu Bapak mabuk seperti ini?"


Gavin dengan polos nya mengangguk.


"Huff seharusnya Bapak bukan ayah dari anak-anak ku, pemabuk seperti bapak tidak pantas menjadi Ayah mereka."


"Kamu benar, saya tidak pantas menjadi orang tua mereka."


Namun tiba-tiba Gavin menangis. "Hiks.. Hiks.. Hiks.."


Elsa Menatap bingung. Tadi nya terlihat baik-baik saja, sekarang malah nangis.


"Kenapa Bapak menangis?" tanya Elsa.


"Saya tidak memiliki keluarga yang perduli kepada saya, saya ingin memiliki keluarga sendiri. Tapi saya tidak pantas."


Elsa bingung dengan apa yang di katakan oleh Gavin, namun dari pada menjadi tontonan tetangga dia membawa Gavin masuk.


Elsa tidak mau anak-anak nya mencium aroma alkohol Gavin dia memandikan Gavin.


Namun saat memandikan nya dia baru menyadari ternyata ada banyak bekas luka lama di punggung nya.


"Dingin..." Gavin kedinginan.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai.


Elsa menghela nafas panjang ketika sudah selesai. "Huff selalu saja menyusahkan aku," ucap Elsa.


Saat Elsa mau pergi tangan nya di tahan oleh Gavin. "Ada apa?" tanya Elsa.


"Saya minta maaf sudah merepotkan kamu."


"Bisa minta maaf juga," ucap Elsa.

__ADS_1


Gavin menatap wajah Elsa. "Lain kali kalau Bapak mabuk seperti ini jangan coba-coba datang ke sini, untung saja Ari dan Ani sudah tidur."


Gavin tersenyum sambil mengangguk. Untuk pertama kalinya Elsa melihat senyuman tulus Gavin tampa di buat-buat.


"Kamu sangat mirip dengan almarhum ibu saya," ucap Gavin.


"Saat saya masih kecil dia sangat cerewet, dia tidak akan berhenti marah-marah kalau saya melakukan kesalahan. Sama seperti yang kamu lakukan."


"Dia juga sangat cantik sama seperti kamu," ucap Gavin.


"Apa-apaan ini, apa dia sedang memuji ku?" batin Elsa. Gavin tersenyum. "Pertama kali melihat kamu, mengingat kan saya kepada wajah ibu saya waktu muda."


"Bapak mabuk, sebaik nya Bapak tidur dan istirahat."


Elsa mau pergi namun tangan nya di tahan oleh Gavin.


"Sebenarnya saya tidak tau ibu saya sudah meninggal atau belum, kami sudah berpisah di saat saya umur 15 tahun."


Elsa semakin penasaran dia mendengar kan cerita Gavin.


"Ayah saya juga meninggal karena di bunuh oleh musuh nya. Sebenarnya saya tidak sedih Ayah saya di bunuh oleh orang lain, karena saya sangat membenci nya."


"Kenapa?" tanya Elsa penasaran.


Tidak terasa air mata Gavin mengalir, Elsa belum paham sama sekali tapi dia tau di balik cerita itu pasti ada banyak kesedihan.


Elsa menghapus air mata Gavin, Gavin merasa nyaman dengan sentuhan Elsa sehingga dia menahan tangan Elsa menyentuh pipi nya.


Keesokan paginya...


Gavin bangun, dia perlahan membuka mata nya.


"Ssttthh!!! Kepala ku sangat sakit sekali, aku terlalu banyak minum," ucap nya.


Dia melihat dia tidur di kamar Elsa. Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam sehingga dia bisa di sana, namun dia hanya ingat di depan pintu saja.


Gavin keluar dari kamar berharap masih bisa melihat Elsa namun ternyata Elsa sudah pergi ke kampus.


"Selamat pagi Papah.." sapa Ari.


"Pagi juga nak," Gavin langsung menggendong Ari.


"Mamah mana?" tanya Gavin.


"Sudah berangkat Pah. Oh iya Mamah bilang Papah harus makan yang di masak oleh mamah."


Gavin berjalan ke meja makan, adalah sarapan pagi, buah pisang dan juga minuman jahe.


Itu semua adalah pereda mabuk. Gavin langsung menghabiskan nya.


"Papah hari ini ikut kan?" tanya Ari.

__ADS_1


"Ikut kemana?" tanya Gavin.


"Hari ini aku harus perawatan di rumah sakit, aku sangat takut Pah."


"Kenapa Abang kasih tau sama Papah? Nanti mamah marah," ucap Ani.


Gavin menghela nafas panjang. "Elsa benar-benar ingin menutupi semua tentang Ari dan Ani dari ku," batin Gavin.


Gavin menyusul Elsa ke kampus nya. "Elsa, ikut dengan saya sebentar."


Gavin menarik tangan Elsa dan mencari tempat yang sepi."


"Apa yang Bapak lakukan di sini? Aku lagi di kampus," ucap Elsa.


"Apa maksud kamu menyembunyikan pemeriksaan Ari hari ini?" tanya Gavin.


Elsa kaget dari mana Gavin tau. "Kamu bisa membenci saya, tapi kalau tentang anak-anak kamu tidak bisa menyembunyikan nya seperti ini."


Elsa diam saja. "Saya akan pergi mendampingi Ari hari ini."


"Bapak tidak perlu pergi," ucap Elsa. Namun Gavin tidak mau mendengar kan nya dia langsung pergi begitu saja.


Gavin masuk ke dalam mobil. "Seharusnya aku tidak ingin marah kepada nya, namun dia membuat ku marah," ucap Gavin.


Gavin dan Ari sampai di rumah sakit bersama Michael.


"Seharusnya kamu tidak merasakan sakit yang seperti ini nak, ini semua karena papah," batin Gavin.


Ari di bawa masuk ke dalam, Gavin menunggu di luar.


"Di mana Ari Pak?" tanya Elsa baru datang bersama Ani.


"Kenapa kamu datang ke sini? Kamu istirahat dan menjaga Ani saja di rumah."


"Bagaimana bisa aku di rumah sementara anak ku di rumah sakit Pak."


"Saya bisa mengurus Ari, bukan hanya kamu saja yang bisa mengurus nya."


"Bapak harus ingat, dia seperti ini karena bapak. Kenapa harus Bapak yang menjadi Papah nya, kenapa Bapak memberikan penyakit itu kepada Ari?" ucap Elsa.


"Kamu pikir saya ingin memiliki penyakit ini? Apa kamu pikir saya bahagia melihat Ari merasakan ini?"


"Saya tidak ingin memiliki keturunan karena penyakit saya sekarang, namun takdir berkata lain!"


Gavin terpancing emosi, begitu juga dengan Elsa. Ani yang mendengar keributan itu hanya bisa diam saja.


Untung nya dokter keluar membuat mereka berhenti ribut.


"Dokter, bagaimana dengan anak saya? Apakah penyakit nya sudah sembuh?"


Dokter menjelaskan kalau Ari sejauh ini baik-baik saja, tetap harus di dampingi dokter khusus.

__ADS_1


Namun satu kenyataan yang harus di terima kalau penyakit itu tidak akan pernah sembuh total, dan bisa juga merenggut nyawa.


__ADS_2