Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia

Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia
Marah karena merasa tidak di percayai


__ADS_3

Elsa makan bersama kedua anak nya dan juga Ayah dari anak-anak nya.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai.


"Biar aku bantuin yah Mah," ucap Ari.


"Aku juga mau bantu Mamah," ucap Ani ikutan.


Elsa tersenyum saja melihat itu.


Gavin menemani Ari duduk sambil melukis di depan.


Namun dia teralihkan oleh Elsa yang terlihat sangat pusing di meja belajar nya.


"Mamah mau kemana?" tanya Ani.


Gavin melihat Elsa membawa buku nya cukup banyak.


"Mamah mau ke warnet dulu," ucap Elsa.


"Ngapain kamu ke sana?" tanya Gavin.


"Ada tugas dari kampus yang harus di selesaikan, aku tidak punya laptop."


"Aku titip anak-anak sebentar," ucap Elsa langsung pergi.


Elsa belum bisa membeli laptop untuk nya, dia tetap harus bersabar mengerjakan tugas di warnet.


Keesokan harinya...


"Selamat pagi Pak," sapa Bunga.


"Pagi," jawab Gavin.


"Bacakan jadwal saya hari ini."


Bunga membaca nya, ternyata cukup banyak.


"Apa saya tidak bisa pulang sore?" tanya Gavin.


"Tidak bisa Pak," jawab Bunga.


Gavin menghela nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu, bawa ini semua dan print," ucap nya memberikan tumpukan kertas.


Hari ini Elsa masuk siang, dia masih bisa bermain dengan anak-anak nya.


Elsa tidak ingin kemana-mana karena Kimdan berjanji akan datang. Tidak beberapa lama akhirnya dokter Kimdan datang.


Elsa tampak terlihat sangat senang sekali.


"Om dokter, aku sangat merindukan Om dokter," ucap Ani.


"Maaf yah, om jadi jarang ke sini, bagaimana kabar kalian?"


"Baik Om."


Kimdan menoleh ke arah Ari.


"Bagaimana kesehatan Ari?" tanya Kimdan karena Michael sudah kembali menjadi dokter Ari.


"Sejauh ini masih sama Dok, tapi Ari sudah jarang sakit."


"Bagus deh kalau begitu."


Kimdan menyadari banyak perubahan di rumah itu. Mainan, baju dan fasilitas rumah semakin lengkap.


Elsa menjelaskan hubungan nya dengan Gavin dan hubungan nya dengan anak-anak.


"Kamu sangat bijaksana sekali, aku sangat senang dengan keputusan kamu."

__ADS_1


"Lebih baik seperti ini dari pada Pak Gavin membawa anak-anak, aku belum siap Dok."


Kimdan tersenyum. "Apakah kamu tidak kuliah?"


"Kuliah Dok, hanya saja masuk siang."


"Bagaimana kalau anak-anak bersama saya? Saya ingin membawa mereka jalan-jalan."


"Tapi aku tidak mau merepotkan dokter."


"Tidak apa-apa, lagian mereka pasti jenuh di rumah saja."


"Sebenarnya kemarin kami baru saja jalan-jalan dengan Pak Gavin."


"Mah, aku mau ikut sama Om dokter, boleh yah mah."


Ani memohon untuk ikut. Elsa tidak bisa menahan anak nya akhirnya dia mengijinkan nya karena dia sudah sangat percaya kepada dokter.


Di sore hari nya.


"Berhenti sebentar," ucap Gavin. Dia tidak sengaja melihat Elsa sedang mencari tumpangan untuk pulang ke rumah.


Dia heran kenapa mobil berhenti di depan nya, ketika kaca mobil di buka dia menghela nafas panjang melihat Gavin.


"Masuk lah!"


Gavin meminta nya masuk namun Elsa tidak mau, dia menolak dengan alasan ingin menunggu bus saja.


Gavin memaksa nya masuk ke dalam mobil dengan sedikit keras.


Dari pada Elsa menjadi bahan tontonan di sana, akhirnya dia mau.


"Saya baru saja selesai bekerja tidak jauh dari kampus mu, untung saja saya melihat kamu."


"Aku tidak ingin tau, lagian aku tidak ingin pulang dengan Bapak."


Tatapan Gavin yang sangat menakutkan membuat Elsa langsung diam.


"Apa yang kamu masak di rumah? Apakah anak-anak sudah makan? Kalau belum kita bisa membeli dari luar."


"Tidak perlu, mereka tidak di rumah."


Gavin kaget dengan jawaban Elsa, karena Kemana lagi anak-anak nya kalau tidak di rumah.


"Kemana mereka?"


"Bapak tidak perlu tau."


"Katakan! Mereka anak-anak saya."


Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari dokter Kimdan.


"Halo, Mamah? Lihat kami ada di mana?" ucap Ani sambil menunjukan kamera ke sekitar..


Ternyata lagi ada di playground.


"Anak-anak sangat senang, kalau kamu sudah pulang dari kampus, kamu bisa datang ke sini," ucap Kimdan.


Telpon langsung di rebut oleh Gavin.


"Berani-beraninya kamu membawa anak-anak ku!"


Namun tiba-tiba Elsa mematikan telpon.


"Kenapa? Kenapa kamu memberikan Ari dan Ani kepada dokter itu?"


"Mereka jalan-jalan."


"Kamu memberikan mereka begitu saja, sementara saya tidak kamu ijinkan!"

__ADS_1


"Katakan di mana mereka sekarang, saya akan menjemput mereka."


"Kalau Bapak menjemput mereka sekarang, anak-anak akan membenci Bapak karena menunjukkan sifat asli bapak!"


Gavin tidak bisa berkata-kata dia sangat kesal sekali sehingga emosi.


"Bapak mau membawa ku kemana?" tanya Elsa karena melewati jalan ke rumah nya.


Gavin tidak menjawab nya. Elsa meminta supir berhenti namun tidak di hiraukan sama sekali.


Tidak beberapa lama berhenti di sebuah rumah yang begitu besar, megah dan juga terlihat jauh dari pemukiman warga.


"Kenapa Bapak membawa ku ke rumah Bapak?"


Gavin menarik tangan Elsa. Di paksa masuk ke dalam rumah nya yang sangat sepi itu.


Elsa tidak berhenti berontak dan berteriak.


"Kamu harus diberikan hukuman!" Gavin mendorong nya ke sofa.


Baru saja melempar Elsa ke sofa, dia baru menyadari ada Faris di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Elsa langsung kabur dia berdiri di belakang Faris.


"Saya mohon jangan biarkan dia menyentuh saya," ucap Elsa.


"Apa yang kakak lakukan?" tanya Faris.


"Jangan ikut campur, pergi lah dari sini!"


Faris tidak membiarkan Gavin menyentuh Elsa yang ketakutan, dia berhasil membawa Elsa keluar dari rumah itu.


Gavin membuang nafas berat beberapa kali, dia melonggarkan dasi dan membuka jas nya.


"Bisa-bisanya dia lebih percaya kepada dokter sialan itu dari pada aku Papah dari anak nya sendiri."


"Terimakasih yah sudah membantu ku."


"Iyah gak apa-apa, saya akan mencari taksi."


Setelah Elsa berhasil naik Taksi dia baru merasa lega.


"Seharusnya aku tidak mengatakan kalau Ari dan Ani pergi dengan dokter Kimdan."


Keesokan harinya...


Gavin datang ke Club.


"Ekhem-ekhem, lihat siapa yang datang," ucap Cikita kepada Elsa.


Elsa menoleh ke arah orang yang baru saja datang ternyata itu Gavin.


"Huff, Kenapa dia harus datang ke sini," batin Elsa.


"eh aku lupa, ini kan tempat miliknya."


Gavin malam ini terlihat sangat dingin, dia minum dengan banyak orang namun dia lebih banyak diam dan minum cukup banyak.


Dia tidak rese namun dia minum sangat banyak sekali.


Tidak terasa Waktu nya Elsa pulang. Kali ini dia cepat pulang karena masuk lumayan cepat hari ini.


Saat keluar dia tidak melihat Gavin lagi di tempat duduk nya.


"Bagus deh kalau dia sudah pergi," ucap Elsa.


Elsa naik ojek. Sesampainya di depan rumah dia kaget melihat Gavin bersandar di pintu rumah nya.

__ADS_1


__ADS_2