Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia

Wanita Malam Melahirkan Anak Seorang Mafia
Jatah tiga kali seminggu


__ADS_3

Tidak beberapa lama Gavin sampai di rumah sewa Elsa sebelumnya, karena dia kembali lagi ke sana.


Dia masuk membawa Ari dan Ani. Namun yang mereka lihat pertama kali bukan kah Elsa melainkan Citra adik Elsa.


"Ari.. Ani.. Akhirnya kalian datang," ucap Citra memeluk Keponakan nya.


"Di mana Elsa?" tanya Gavin. Citra menunjuk ke arah kamar. Gavin memeriksa nya.


Ternyata Elsa sakit, dan wajah nya begitu pucat. Dokter Kimdan di dalam sedang menemani Elsa.


"Mamah..." Ani berlari terlebih dahulu kepada Elsa.


Elsa terbangun mendengar suara anak-anak nya, dia sangat senang ketika melihat anak nya dan memeluk nya begitu erat.


"Mamah kenapa sakit?" tanya Ari.


"Mamah sangat merindukan kalian nak, jangan tinggalkan mamah lagi yah," ucap Elsa.


Elsa melihat ke arah Gavin. Dia memeluk erat-erat kedua anak nya.


"Puas Bapak melakukan ini semua? Puas Bapak sudah memisahkan aku dengan anak-anak ku?" tanya Elsa.


Gavin diam. "Sebaiknya Bapak segera keluar dari sini, aku tidak ingin melihat bapak!" ucap Kimdan m


Setelah dari kejadian itu dua minggu Gavin tidak datang ke rumah Elsa. Dia berfikir kedatangan nya akan membuat Elsa marah dan anak-anak nya membenci nya.


Kehidupan Elsa kembali normal setelah dua minggu tidak di datangi oleh Gavin.


Namun baru saja pulang kuliah dia kaget melihat Tv baru, mainan anak-anak yang banyak, dan juga pakaian anak-anak di kirim ke rumah nya.


"Siapa yang mengirim ini?" tanya Elsa kepada kurir pengantar barang.


"Aku," tiba-tiba Gavin datang entah dari mana.


"Aku ingin anak-anak ku mendapatkan fasilitas yang baik, aku membeli ini semua untuk mereka."


"Kenapa bapak datang lagi? Apa Bapak mau mengambil Ari dan Ani?" tanya Elsa.


"Saya tidak akan melakukan itu, asal kamu tidak melarang saya bertemu dengan mereka."


Elsa menggeleng kan kepala nya. Dia tidak setuju.


"Kalau begitu, saya tidak akan berhenti membuat kamu tidak tenang."


Elsa menghela nafas panjang. "Baiklah, bapak bisa menemui mereka dua kali seminggu."


"Saya tidak mau, itu terlalu singkat."


"Kalau begitu tiga kali."


"Baiklah," ucap Gavin dari pada tidak bisa sama sekali.


Semua barang-barang sudah di tata rapi. Elsa menatap Gavin dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Ari... Ani.. Papah datang," ucap Gavin berteriak.


"Papah?" tanya Elsa.


"Apa yang salah dengan itu? Saya adalah Papah mereka."


Elsa menghela nafas panjang. Tidak beberapa lama Ari keluar.


"Hum, kenapa Papah di sini? Kami tidak mau ikut papah karena kami mau jagain mamah," ucap Ari.


Gavin terdiam sejenak, ternyata dia sudah membuat trauma dan ketakutan kepada anak-anak nya.


"Enggak kok, Papah ke sini mau mengantar kan ini semua," ucap Gavin.


"Wahhh... Mainan Barbie, dokter-dokteran," ucap Ani.


"Ada Tv besar juga untuk kamu dan Abang nonton," ucap Gavin.


"Wauuuu... aku sangat suka," ucap Ani dia tampak bahagia sekali.


Elsa juga ikut bahagia melihat anak-anak nya bahagia, tapi dia merasa sedih karena selama ini belum bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak nya.


Ari dan Ani sibuk dengan mainan baru mereka yang tentunya harga nya pasti sangat mahal.


Mereka juga langsung mencoba baju-baju bermerek yang di beli oleh Gavin.


Gavin menghabiskan waktunya seharian bermain bersama Ari dan Ani, melakukan pendekatan dengan mereka.


Di malam hari nya Elsa berangkat ke Club.


"Aku gak apa-apa," jawab nya.


Cikita menggenggam tangan Elsa.


"Aku tau hidup yang kamu jalani sangat berat, tapi kamu harus ambil hal positif nya."


"Positif apa yang harus aku ambil?" tanya Elsa.


"Ayah dari anak-anak kamu adalah Gavin, dia pria kaya raya, sukses, terkenal dan juga dia bertanggung jawab kepada anak-anak nya, kamu harus bersyukur karena dia masih perduli kepada anak kamu."


"Aku sangat membenci nya, aku bahagia dia bertanggung jawab kepada anak-anak ku, tapi aku tidak bisa melupakan keburukan nya."


"Itu tidak di sengaja, anggap saja rejeki bagi mu berkenalan dengan pria seperti Gavin. Banyak orang yang ingin diposisi kamu sekarang."


"Pak Gavin adalah incaran para wanita, bahkan mereka sengaja menjebak pak Gavin agar mereka hamil," ucap Cikita.


Elsa menggeleng kan kepala nya. "Kalau bisa waktu di putar, aku tidak ingin bertemu dengan nya," ucap Elsa.


Keesokan harinya....


"Mah.. Papah gak ke sini?" tanya Ani.


"Tumben-tumbenan banget kamu nanyain, biasanya kamu sangat membenci nya," ucap Elsa.

__ADS_1


"Papah janji dia akan bawa makanan enak kalau datang," ucap Ani.


"Humm pantesan saja, ada mau nya," batin Elsa.


"Dalam satu Minggu kalian hanya bisa bertemu dengannya tiga kali, tidak bisa lebih," ucap Elsa.


Selesai berbicara dengan mamah nya Ani pergi.


"Apa yang kamu gambar nak?" tanya Elsa.


"Aku lagi gambar pemandangan Mah," ucap Ari.


"Oh iya, apa boleh mamah tanya sesuatu?"


"Boleh mah," Ari meletakkan pewarna yang ada di tangan nya.


"Apakah Ari senang punya Papah?" tanya Elsa.


Ari mengangguk. "Aku sangat senang Mah, Papah bisa bantuin mamah untuk merawat kami."


"Aku juga senang karena Papah selalu memberi ku semangat untuk sembuh."


"Oh iya papah juga janji akan membawa ku berobat keluar negeri."


"Berobat?" tanya Elsa kaget.


"Iyah Mah.


"Berobat ke luar negeri cukup mahal nak, kita tidak boleh terlalu berharap di tambah lagi Om Gavin belum terlalu dekat dengan kita."


"Ekhem-ekhem!!!!" Ternyata Gavin sudah datang.


"Papah... Aku sudah menunggu papah dari tadi," ucap Ani.


Gavin hendak memeluk Ani, namun ternyata Ani hanya mengambil makanan yang dia bawa.


Ari dan Ani langsung pergi menghabiskan makanan itu. Gavin hanya bisa tersenyum melihat nya.


"Apa yang kamu lakukan kepada anak ku? Apa kau berusaha menghasut nya untuk tidak suka kepada ku?" tanya Gavin.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, tidak perlu menjanjikan apapun kepada Ari membuat nya terlalu berharap!" ucap Elsa dan langsung pergi.


Gavin menghela nafas panjang.


"Anak-anak jangan makan terlalu banyak, nanti perut kalian akan sakit," ucap Elsa.


Ketika milik mereka di kurangi oleh Elsa, Ani dan Ari hanya bisa cemberut dan diam.


"Tidak perlu khawatir, papah masih punya di sini," ucap Gavin mengeluarkan dari saku jas nya.


Untung nya Elsa sudah masuk ke dapur. Di dapur Elsa melihat makanan yang seperti nya sangat enak.


"Anak-anak pasti akan sangat suka dengan ini, bagaimana kalau mereka ketagihan?" batin Elsa.

__ADS_1


Sampai malam Gavin akan di sana, karena hanya di sore hari dia bisa menyempatkan ke rumah Elsa.


Gavin melihat Elsa mau berangkat bekerja. Dia memerhatikan penampilan Elsa yang semakin hari semakin terbuka.


__ADS_2