
Beberapa waktu kemudian pemuda itu sudah kembali dengan membawa beberapa buah dan dua ekor kelinci besar yang gemuk, kemudian memberikannya pada Anindira setelah dia duduk di hadapannya.
''Ini untukku?" tanya Anindira.
''Makanlah! ... " seru pemuda itu. Memberi perintah, masih tanpa ekspresi.
''Ma-kan ... " ujar Anindira, mengulangi mengikuti perkataan pemuda itu, menjeda setiap suku kata.
''Eum ... '' angguk pemuda itu, ''Makan'' ujar pemuda itu lagi mengulangi kata-katanya.
''Terima kasih'' Anindira menjawab dengan senyum manisnya dan mulai makan buah-buahan, ''Aku sangat lapar ... ''Terima kasih sekali lagi'' ujar Anindira sambil menjejalkan tiap gigitan buah yang di makannya.
Anindira makan lumayan lahap untuk ukuran anak gadis yang masih dalam keadaan syok tapi itu memang sudah sifatnya yang easy going dia cukup stres kemarin tapi sekarang dia harus terus menjalani keadaannya sekarang, kalau mau bertahan hidup di dunia yang tidak di kenalnya.
''Kau tampak sangat menyukai buah-buahan itu, tapi kau sama sekali tidak melirik kelinci yang kubawa ... '' ujar pemuda itu, menyelidik.
Anindira kembali menunjukkan reaksi yang sama seperti sebelumnya, karena tidak mengerti apa yang di katakan oleh pemuda itu. Mau tidak mau hanya wajah yang tampak bodoh yang bisa di perlihatkan Anindira.
''Kau ... '' ujar pemuda itu perlahan, ''Tidak ... '' dia mengucapkan kata demu kata putus-putus, ''makan ini?'' tanya pemuda itu sambil menunjuk kelinci di hadapannya, dia menyelesaikan kalimatnya.
''Hmm? ... '' ujar Anindira mengangkat alis, tapi dia kemudian tersenyum, ''Maksudnya makan itu?! ... '' seru Anindira bertanya dengan menegaskan, dia cukup senang juga karena ternyata dia bisa mengetahui maksud pemuda itu. ''Bagaimana makannya? ... Bukankah itu masih mentah?! ... '' seru Anindira menegaskan, sambil berusaha memperagakannya.
__ADS_1
Pemuda itu mengangguk menjawab peragaan konyol Anindira. Kali ini, Anindira menunjukkan reaksi sedikit berbeda. Anindira mengerutkan dahi memikirkan sesuatu yang aneh.
''Bagaimana makan kelinci masih penuh bulu begitu?'' tanya Anindira, dia mengeryitkan dahi sambil membuat tampang jijik.
Pemuda itu merogoh kantung kulit yang ada di pinggangnya, lalu mengeluarkan batu pipih. Setelah itu kemudian, dia mulai merobek dan menguliti kelinci dengan sangat cekatan. Tidak ada rasa jijik pada diri Anindira saat melihat pemuda itu mengolah kelinci di hadapannya. Anindira sudah terbiasa dia juga rajin membantu ibunya. Selain itu dia juga pernah beberapa kali ikut kakeknya berburu kemudian dia juga pernah mengolah sendiri tupai yang pernah di burunya. Setelah selesai mengolah kelinci, pemuda itu menyerahkannya pada Anindira.
Mata Anindira melotot, wajah Anindira berkerut melihatnya, refleks, tubuh Anindira sedikit mundur ke belakang, bukan hanya karena geli tapi karena bingung.
''Kelincinya mau di makan mentah?'' tanya Anindira dengan wajah yang menunjukkan tidak suka dan terlihat jijik.
Pemuda itu salah paham dengan ekspresi Anindira, ''TUNGGU!! ... '' seru Anindira, dia gerak cepat menghentikan pemuda itu yang hampir saja membuang kelinci itu. ''Mau di apain?'' tanya tanya Anindira selanjutnya dengan wajah sedikit terlihat marah. ''Jangan di buang, 'kan sayang! ... '' seru Anindira mencegah dan menahan pergelangan tangan kokoh dari pemuda itu. Anindira tidak suka melihatnya melakukan tindakan menyia-nyiakan makanan.
''Kau tidak suka kan? ... Kau tidak memakannya? ... '' tanya pemuda itu. Dia bingung, kenapa Anindira menahan tangannya.
Mereka berdua sama-sama terdiam beberapa saat, antara mengerti dan tidak mengerti dengan ucapan dan tindakan dari kedua belah pihak. Mencoba meraba-raba dan meneliti dari beberapa tindakan mereka sebelumnya. Sampai akhirnya setelah memikirkan semuanya sejenak, akhirnya mereka sampai pada kesimpulan.
''Tuan ... '' panggil Anindira yang paling duluan mengalah, ''Aku tidak makan daging mentah ... '' ujar Anindira lagi-lagi denganperagaan konyolnya. ''Aahh!!! ... '' pekik Anindira kemudian, ''Betul, api! ... Harus ada api! ... Kau bisa membuat api?'' seru Anindira bertanya, dan lagi-lagi, dengan sedikit peragaan aneh yang di buatnya.
Pemuda itu yang awalnya terkesan selalu berwajah dingin tanpa perasaaan, tak di sangaka dua hari semenjak dia bersama Anindira selalu saja tersenyum, karena di salau saja melihat tindakan konyol dan aneh Anindira. Tapi, pada akhirnya pemuda berusaha untuk bijak melihat tindakan Anindira, perlahan dia mencoba menelah sesuatu.
Mata pemuda itu terbelalak, alisnya terangkat, akhirnya dia ingat seseuatu. ''Maaf ... Maafkan aku ... Aku lupa'' ujar pemuda itu tampak panik, kontras dengan sikap dinginnya selama ini, ''Kalian wanita tidak suka makan daging mentah ... Aku lupa ... '' ujar pemuda itu dengan tulus meminta maaf pada Anindira.
__ADS_1
Kembali pemuda itu mengeluarkan dua buah batu dari kantungnya, kali ini bentuknya bongkahan bukan pipih. Pemuda itu mengentakkan dua batu itu bersamaan. Dari hentakan dua batu itu kemudian terlihat percikan. Mata Anindira langsung terbuka lebar sesaat kemudian matanya langsung berbinar.
"YA! ... API!'' seru Anindira, lagi-lagi tangan dan wajahnya kompak dengan sikap dan peragaan konyolnya. ''Hehehe ... '' tawa aneh kembali terlihat di wajahnya yang sudah konyol. ''Tuan, kau pintar ... '' ujar Anindira tersenyum gembira karena maksudnya tersampaikan, sambil mengangkat jempol yang lengket karena cairan manis buah yang berlepotan di tangannya.
''Tung-gu ... di-sini! ... '' seru pemuda itu, lagi-lagi dia bicara dengan cara mendikte sambil menahan pundak Anindira. Mengisyaratkannya untuk menunggu.
Dengan gesit pemuda itu kembali menuruni pohon, lagi-lagi dia meninggalkan Anindira di atas pohon. Tapi, selang beberapa menit kemudian, dia naik dan membawa Anindira turun ke bawah.Ternyata pemuda itu tadi turun untuk menyiapkan api unggun. Saat membawa Anindira turun api sudah siap di bawah. Dia kemudian mengambil dua ekor kelinci yang di bungkus daun yang lebar mirip daun jati lalu menusukkan ke kayu kemudian mulai membakarnya. Sambil menunggu kelinci itu siap di makan, mereka berbincang dan memutuskan untuk berkenalan dan berlanjut berbicara lebih banyak.
''Halvir ... '' ujar pemuda itu sambil menunjuk pada dirinya, ''Halvir ... A-ku ... Halvir ... '' ujar pemuda itu mengulanginya, kemudian menunjuk Anindira.
''Hal ... Vir?! ... '' seru Anindira menjawab, kemudian menunjuk ke arah pemuda itu.
''Eum ... '' angguk pemuda itu, ''Kau?! ... '' seru Halvir bertanya, dia kemudian menunjuk Anindira.
''Anindira ... A-nin-di-ra ... '' ujar Anindira sambil menunjuk dirinya sendiri.
Perbincangan mereka terus berlanjut dengan Halvir menunjuk dan menyebutkan nama-nama benda di sekeliling mereka, sampai akhirnya daging kelinci pun matang dan siap di santap. Rasanya hambar tapi tetap enak, apa lagi Anindira sedang lapar saat ini. Dia tidak akan pilih-pilih makanan untuk saat seperti ini.
''Hambar ... '' ujar Anindira setelah menggigit secuil daging kemudian mengunyahnya, ''Tapi, rasanya tidak buruk ... masih layak makan, apa lagi di tempat seperti ini'' ujar Anindira sambil mengangkat menunjukkan daging yang sudah di cuil Anindira memamerkannya pada Halvir.
Daging kelinci itu punya rasa alami yang khas dengan aroma kayu bakar dan daun yang membungkusnya. Walau punya rasa yang biasa tapi tetap bisa di nikmati dengan nikmat.
__ADS_1
''Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tapi, melihatmu makan dengan baik. Itu artinya kau menyukai daging yang kumasak untukmu. Itu bagus ... Kau tidak akan kelaparan kalau begitu.'' ujar Halvir menanggapi Anindira. Wajahnya amat datar saat bicara tapi sorot matanya terlihat tersenyum memandangi Anindira.