
''Jadi benar, kau memang menyukainya?!" seru Anindira bersungut, kali ini terdengar jelas Anindira merengek karena kesal.
Halvir menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke mata Anindira, matanya terlihat menyelidik dengan dahi berkerut, kepalanya sedikit di miringkan, diam beberapa saat, menegaskan pikirannya.
''Apa kau sedang marah?'' Halvir balik bertanya dengan tidak mengalihkan pandangannya dari Anindira.
''Kapan aku marah?'' tanya Anindira menjawab dengan dahi berkerut, sedikit melotot pada Halvir, tapi beberapa kali bola matanya berputar.
''Sekarang! ... '' seru Halvir tegas, ''Sekarang kau sedang marah! ... '' seru Halvir mengulangi dengan jelas.
''Tidak ... '' segera Anindira menjawab Halvir dengan wajah menantang, ''Di bagian mananya aku marah? ... Apa yang harus kumarahi? ... '' tanya Anindira kemudian, dia dengan tegas berusaha mengelak.
''Aku tidak tahu! ... '' seru Halvir menjawab, ''Tapi, aku tahu kau sedang marah sekarang .... '' lanjut Halvir dengan wajah tegas, dia masih berdiri, belum melangkahkan kaki dan tetap memandang mata Anindira.
''Aku?! ... ''seru Anindira dengan dahi mengernyit, ''Kapan? ... Di mana? ... Bagian mananya aku terlihat marah? ... '' tanya Anindira berentet dengan mata melotot, dan kedua tangannya sambil menangkup wajah Halvir. Dia sangat ingin menyangkal apa yang di katakan Halvir tapi detak jantungnya tidak bisa berbohong, jangankan Halvir, bahkan Anindira sendiri pun nyaris mendengarnya.
''Iya!'' seru Halvir mengangguk, ''Kau marah ... Sekarang! Di sini! Baru saja ... Bahkan jantungmu berisik sekali'' lanjut Halvir menjawab dengan tegas.
Anindira refleks membekap dadanya dengan kedua tangannya mendengar ucapan Halvir. Seketika itu juga dia sadar, bahwa sejak tadi pikiran dan ucapannya kacau. Wajah Anindira tidak lagi bisa menyembunyikan perasaannya, tapi kali ini yang terlihat bukanlah cemburunya, tapi perasaan malunya.
__ADS_1
''Anu ... Maaf, aku tidak marah ... Itu, anu ... '' sahut Anindira gelagapan, bingung dengan apa yang mau dia jelaskan, kalau dia sendiri juga tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Hatinya terasa berat seperti ada batu besar menghalangi pintu, tapi otaknya bingung.
''Dia tidak tahu, dia itu marah kenapa?'' ... , ''Apa salah anak perempuan Kepala Desa?'' ... , ''Kenapa dia kesal padanya?''... ,
Pertanyaan-pertanyaan itu tanpa di sadari sepenuhnya oleh pikiran Anindira terus berputar di kepalanya.
''Kau marah semenjak membahas Zia, nada suaramu berubah sejak membicarakannya ... '' ujar Halvir, dia kembali mempertegas persoalan tadi pada Anindira, dengan terus menatap Anindira mencari jawaban dari sorot matanya.
''Iya, aku tahu ... '' ujar Anindira keceplosan menjawab karena sibuk memikirkan rasa kesalnya pada Zia.
''Jadi benar karena Zia?! ... '' seru Halvir bertanya, menegaskan kembali apa yang di pikirkan olehnya juga oleh Anindira. Dia Akhirnya mendapatkan jawaban pasti, karena hal itu, wajah Halvir yang tegang sekarang sedikit mengendur.
''Kenapa? Apa kaitannya marahmu dengan Zia?'' kembali Halvir bertanya dengan nada tegas.
''Dira! ... '' panggil Halvir dengan nada tegas, ''Lihat aku! ... '' seru Halvir memerintah masih dengan ketegasannya, ''Dira ... '' panggil Halvir lagi dengan sedikit menekan suaranya, ''Lihat padaku! ... Jangan sembunyikan wajahmu! ... '' seru Halvir tegas, tapi tatapannya lembut saat Halvir mencubit dagu Anindira membuat wajahnya mendongak dan melihat lurus pada Halvir.
''Dira ... Aku suka matamu yang selalu melihat lurus padaku, aku suka pandangan tulus matamu yang selalu melihat ke dalam mataku ... Dira .... '' [jari Halvir menyentuh dagu Anindira, mengangkatnya perlahan dan lembut, membuat kepala Anindira akhirnya mendongak melihat Halvir]
''Dira ... '' panggil Halvir dengan lembut kali ini, ''Kita sedang dalam perjalanan menuju rumah kepala desa, aku akan menitipkanmu padanya ... Aku akan pergi ke Kerajaan Singa, itu perjalanan panjang ... '' ujar Halvir dengan lembut, ''Dalam perjalanan nanti, aku harus mencari tambahan buruan, hanya dua ekor Singa itu tidak akan cukup ... '' tambah Halvir, di jawab tatapan sendu dari Anindira. ''Dira ... Mengertilah! Semua itu harus kulakukan sekarang. Kalau tidak, tidak akan cukup waktu untuk menutup seluruh kebutuhan kita nanti ... Aku takut musim dingin tahun ini akan panjang, karenanya aku juga harus segera kembali ke Hutan Larangan untuk mencari *Amber ... Yang aku punya sekarang, aku takut tidak akan cukup untukmu'' Lanjut Halvir menjelaskan dengan pikiran tentang semua kebutuhan rumah tangganya dengan Anindira. ''Bersabarlah! Jangan merajuk! ... Dira, Kau wanita yang tangguh, aku mengagumimu ... Kalau kau seperti ini hatiku akan selalu resah nanti, aku akan selalu mengkhawatirkanmu di jalan nanti, itu akan membuatku gelisah ... '' ucapan Halvir langsung terhenti oleh jawaban Anindira.
__ADS_1
''Kak ... Bukan begitu ... Maaf, aku mengacau tadi ... Aku sudah banyak merepotkanmu, kau sudah melakukan semuanya untukku, sungguh ... Aku berusaha untuk tidak membebanimu, aku akan belajar lebih banyak agar bisa lebih mandiri, aku tidak bisa terus bergantung padamu, ak ... '' belum selesai ucapan Anindira, sekarang Halvir segera memotongnya. Menghentikan ucapan Anindira dengan membenturkan dahinya dengan dahi Anindira dengan lembut.
''Dira ... Apa yang beban? Kau sama sekali bukan bebanku, kebutuhanmu, keperluanmu, adalah tanggung jawabku ... '' jawab Halvir sambil terus menatap Anindira, ''Kenapa kau harus takut membuatku repot?! ... '' seru Halvir bertanya dengan tegas, ''Aku mengakui ... Aku tidak ada persiapan sama sekali, aku mengaku salah untuk itu ... Tapi, mulai sekarang, aku akan mempersiapkannya dengan matang. Jadi di periode berikutnya kita akan sudah siap, jangan pernah takut membuatku repot!'' lanjut Halvir dengan sorot mata yang tajam, ''Saat kau menahan perasaanmu ... Saat kau menahan keinginanmu, seperti yang kau lakukan sekarang ... Itu membuat hatiku sakit'' tambah Halvir dengan tegas, tangan Halvir menangkup wajah Anindira, membelainya.
''Tapi kak ... '' belum lagi selesai Anindira bicara Halvir menghentikannya dengan mencubit mulutnya.
''Dira ... Sepertinya kau tidak memahaminya. Dengarkan aku baik-baik! ... Sejak aku membawamu itu artinya aku adalah calon pasanganmu ... Dan, tentang Zia, aku tahu siapa dia, aku mengenalnya karena dia adalah anak Kepala Desa. Aku mengenalnya sejak dia di lahirkan, dia keponakanku Dira ... Tidak lebih!'' seru Halvir tegas menjelaskannya pada Anindira, ''Sejak aku menetapkan bahwa aku akan jadi pasanganmu, aku tidak akan melihat wanita lain! Itu yang harus kau tahu ... '' seru Halvir melanjutkan menegaskan tanpa berkedip, matanya terus menatap tajam ke arah Anindira.
Anindira diam terpaku dengan mata melotot, dia terperangah dengan pernyataan Halvir. Dia kaget tidak bisa berkata apa-apa, hanya diam menatap Halvir Dengan wajah memerah, Halvir mengangkat Anindira dan kembali menggendongnya.
''Ayo! ... '' ajak Halvir, ''Kita akan ke rumah Kepala Desa, Jangan lagi merasa kesal dengan Zia! Aku hanya melihatnya sebagai anak Kepala Desa, keponakanku, tidak lebih!'' seru Halvir, kembali dia menegaskan perasaannya dengan wajah kembali datar seperti biasa.
''Eum .... '' angguk Anindira menjawab. Untuk sesaat dia tiba-tiba terdiam seperti menggabungkan sesuatu yang putus di kepalanya tapi akhirnya setelah tersambung, senyum kembali terukir di wajahnya yang tersipu.
''Hanya Eum?!'' seru Halvir bertanya, ''Aku tidak mau kau terbebani pikiran tentang Zia! ... '' seru Halvir menegaskan kembali, ''Zia memang cantik tapi dia hanya keponakanku, di mataku hanya ada dirimu, tidak akan ada wanita lain! .... '' seru Halvir melanjutkan, dia terus menegaskan penjelasannya.
Anindira tersipu malu tapi senyum puas terukir di wajahnya. Akhirnya Halvir puas setelah melihat reaksi Anindira, itu sudah cukup untuk saat ini, karena Anindira sudah tenang Halvir kembali melangkahkan kakinya, melanjutkan rencana awal menuju rumah Kepala Desa.
''Dira ... '' panggil Halvir pada Anindira yang sedang berbunga-bunga dalam gendongannya, ''Aku serius, pikirkan ucapanku tadi! Aku melamarmu ... Berikan jawabanmu saat aku pulang nanti!'' seru Halvir tegas dan terus melangkah dengan memandang ke depan.
__ADS_1
Anindira terkejut sekali lagi, belum lama Halvir menegaskan kalau dia tidak akan melirik wanita lain dan sekarang dia melamar dirinya secara langsung. Jauh dari kesan romantis tapi itu sudah membuat bunga di hati Anindira semakin bertebaran di mana-mana. Anindira hanya diam memperhatikan Halvir tanpa bereaksi apa pun, jauh di dalam lubuk hatinya sedang bersorak-sorai tapi walau begitu ada keraguan dan perasaan cemas di hati Anindira yang tidak diketahui Halvir. Walau bagaimana pun, Anindira hanya gadis remaja yang masih sangat belia, dia paham betul hubungan yang di maksud oleh Halvir. Tapi, apakah dia harus menerimanya tanpa orang tuanya mengetahui, hal itu yang membuat Anindira frustrasi dalam diamnya.
**