WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
Cerita di balik penyerangan Gavriel terhadap Anindira


__ADS_3

Sejak awal Hans sudah menyadarinya, bahwa Halvir pasti akan segera tahu kalau Gavriel yang memperkosa Anindira, dan Hans menyembunyikan dan merawatnya selama ini. Manusia buas memiliki indra penciuman yang sangat peka, tidak mungkin jika Halvir tidak menyadari aroma Gavriel yang tertinggal pada tubuh Hans saat merawat Gavriel.


Bukan hanya Hans, tapi, Halvir juga menyadarinya, kalau Hans juga tidak pernah berusaha menyembunyikannya.


Sama seperti Hans, Halvir juga sangat mengenal Hans, dia tidak sebodoh apalagi seceroboh itu membiarkan Halvir mengetahuinya begitu saja. Sekuat apapun Halvir, jika Hans sudah ingin melakukan sesuatu, Halvir tidak akan menyadarinya jika Hans memang ingin menyembunyikannya.


Hans sebetulnya cukup senang, karena pada akhirnya Halvir mengetahui hal ini, dia tidak suka menyembunyikan sesuatu dari Halvir, apa lagi, hal ini juga bukan masalah sepele.


''Eum,'' angguk Hans kemudian menghampiri Halvir, ''Aku juga tahu, kau pasti akan menyadari tindakanku, tapi... Dengarkan penjelasanku dulu! Baru setelah itu kau ambil keputusanmu, aku akan menerimanya... apa pun itu.''


Hans yang tadinya berdiri sekarang duduk bersila menghadap Halvir.


''Hal pertama yang harus kau tahu… Kalau kita terlambat sedikit saja, dan, kalau aku tidak memberikan Amber Ku padanya... yang akan tewas lebih dulu adalah Gavriel! Bukan Anindira...'' ujar Hans dengan wajah serius, ''Jika kita datang satu menit saja lebih lambat, aku bisa pastikan Gavriel akan mati. Saat kita datang, jantung Gavriel sudah hampir meledak, dia nyaris tidak sanggup menahan lonjakan perpindahan levelnya... Kurasa, hal itulah yang membuat Berlian muda sepertinya bisa menjatuhkan seorang Emerald dan tiga Berlian yang jadi lawannya. Dia punya potensi besar, dia mirip denganmu Halvir, dia naik level tidak di waktu yang wajar.''


''Lalu...'' jawab Halvir masih dengan wajah menyeramkannya.


''Anak itu, dia, tidak sedang dalam pikiran waras, dia kehilangan nalarnya karena perpindahan level tiba-tiba. Saat itu... Anindira yang memancingnya,’’  jawab Hans dengan hati-hati.

__ADS_1


''Apa maksudmu?... Maksudmu Anindira dengan sengaja melakukannya pada Gavriel?!'' seru Halvir bertanya dengan wajah lebih menyeramkan lagi.


Hans berusaha untuk tetap bersikap tenang, dia juga sebisa mungkin, menuntun, menenangkan Halvir, agar dia bisa bicara tanpa membuat Halvir lebih marah lagi.


''Lebih tepatnya... tubuh Anindira, saat itu... Anindira sedang dalam *siklus masa suburnya. Tubuhnya memproduksi feromon yang memancing gairah para pria. Dia sedang dalam masa suburnya sebagai seorang wanita. Aku tahu, kalau kau sudah mulai bisa menebak apa yang terjadi…'' ujar Hans dengan tenang dan penuh percaya diri menjelaskannya pada Halvir.


Halvir dengan sangat tenang, dia fokus mendengar penjelasan Hans. Perlahan, Hans sudah mengungkapkan semua yang selama ini dia simpan di dalam benaknya.


''Maksudmu...'' ujar Halvir menjawab Hans, ''Hyena itu sudah memasuki desa kemudian membunuh penjaga... Karena tidak ada penjaga, Anindira tanpa sadar keluar melewati perbatasan...'' ujar Halvir melanjutkan hipotesisnya, ''Siklus masa subur Anindira, memancing para Hyena yang sudah memasuki desa, untuk kembali keluar dari desa dan masuk Hutan Biru mengikuti aroma siklus masa subur Anindira. Karena Kaj sudah punya pasangan, dia tidak menyadari bau siklus *masa subur Anindira, dan...'' tiba-tiba Halvir terdiam, dia tidak melanjutkan kata-katanya.


''Dan...'' Hans kemudian menyahut saat melihat Halvir terdiam, ''Gavriel yang kehilangan kendali karena tidak bisa mengontrol kewarasannya.’’


''Gavriel kehilangan objektivitasnya karena mabuk oleh siklus *masa subur Anindira, kemudian...''  Hans dengan  sengaja menghentikan kata-katanya sambil menatap Halvir.


''Baiklah!'' sahut Halvir segera menyahut, ''Aku tahu... aku tahu selanjutnya.'


Halvir mengusap kasar wajahnya, menyisir rambutnya, memegang kepalanya karena merasa tertekan.

__ADS_1


''Halvir, mengenai Gavriel... dia cukup beruntung, begitu juga Anindira. Jika bukan karena dia mengalami lonjakan saat memaksakan diri menghadapi pertempuran di luar batas kekuatannya dia pasti mati, dan tidak menutup kemungkinan Anindira sudah pasti akan diculik Hyena. Dan, kita semua tahu, kalau sudah begitu, sudah pasti kecil kemungkinannya bagi kita untuk bisa menemukannya. Bisa saja kita mencarinya, tapi, kau juga tahu ada kemungkinan Anindira akan mati sebelum kita bisa menemukannya. Saat itu, lawan Gavriel adalah Emerald dan tiga Hyena Berlian... Kau juga tahu anak itu baru saja memasuki peringkat *Berlian, bahkan belum setahun sejak dia memasukinya. Ketangguhan mental dan kegigihan yang dimilikinya, jauh lebih baik dari pemuda kebanyakan. Dia punya potensi yang sangat besar Halvir... Dia memang baru delapan belas tahun, tapi, jika kau membimbingnya, tidak menutup kemungkinan dia akan melebihi dirimu di kemudian hari... dia berhasil menyelamatkan Anindira dari para Hyena, walau itu mengakibatkan hal yang buruk, tapi itu semua diluar kendali dirinya... beri dia kesempatan, itu adalah pendapat dariku.''


Akhirnya Hans mengungkapkan semua pemikiran dan memberi pendapatnya pada Halvir. Hans dengan jelas telah memberikan suaranya untuk Gavriel.


Walau Halvir tidak memberi respons pada penjelasannya, tapi Hans yang sudah cukup lama mengenalnya, tahu kalau sahabatnya itu tidak akan mengambil tindakan bodoh hanya karena keegoisannya. Halvir saat ini sangat marah, tapi dia adalah seseorang yang akan mampu mengendalikan dirinya, dibanding mengikuti emosi sesaatnya.


''Halvir!'' panggil Hans, ''Walau bagaimanapun Gavriel adalah pasangan Anindira sekarang, kau tahu apa yang terjadi pada Anindira jika terjadi sesuatu padanya?!''


Hans melanjutkan kalimatnya sambil menepuk bahu Halvir,.


''Entah Anindira menginginkannya sebagai pasangan atau tidak, jika terjadi sesuatu yang buruk pada Gavriel itu sudah pasti akan mempengaruhi mental Anindira di kemudian hari. Kau juga tahu, selama kepergianmu, Anindira cukup akrab dengan Gavriel selama ini... suka atau tidak, kita berempat sudah terseret, tidak satupun dari kita yang bisa dengan mudah menerimanya. Apa pun itu, kita hanya bisa menghadapinya sekarang.''


Setelah menyelesaikan semua diskusinya dengan Halvir, Hans kemudian pergi keluar meninggalkannya sendirian agar bisa menelaah semuanya dengan lebih baik.


Hans bisa memahami apa yang sedang dirasakan Halvir, dalam satu waktu dia harus merelakan wanita yang bahkan belum di sentuhnya memiliki dua pria lain, dalam situasi dan kondisi yang sangat buruk. Egonya sebagai seorang Safir memberontak, Halvir harus menekan egonya benar-benar berlapang dada menerima kenyataan bahwa, Gavriel, anak ingusan menjadi seorang kepala rumah tangga melangkahinya.


Apa yang sudah terjadi sangat tidak bisa terelakkan, dia juga bukan orang tidak berperasaan yang akan menyalahkan Gavriel untuk itu.

__ADS_1


''Aku bodoh karena meninggalkanmu,'' ujar Halvir sambil menatap Anindira yang terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur.


''Hans benar, kita semua terseret tanpa bisa mengeluh... meninggalkanmu waktu itu adalah keputusan pertama yang aku sesali seumur hidupku,'' ujar Halvir lagi dengan tatapan sendu dan penuh penyesalan.


__ADS_2