WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
POLYANDRI


__ADS_3

Anindira dan Zia telah naik dan duduk bersantai di salah satu rumah yang bertengger di atas salah satu dahan pohon. Luas rumah itu lebih kecil dari rumah Halvir, hanya sekitar lima kali enam meter tapi Interiornya cukup lengkap. Ada beberapa kotak kayu tempat menyimpan pakaian dan kain, ada tempat tidur jerami yang di alasi kulit binatang, yang juga sama besarnya dengan tempat tidur Halvir.


Ada sebuah meja dan rak di samping tempat tidur, lengkap dengan peralatan untuk keseharian Zia, ada yang terbuat dari kayu, tanah, juga batu. Terlihat ada beberapa ornamen dan pernak-pernik perhiasan terjajar rapi di salah satu rak, di empat sudut ruangan terlihat tempat lilin berbentuk tiang yang sama tingginya dengan Zia.


''Mungkin barang-barang ini yang di cari Halvir, selain tempat tidur dan peti aku tidak melihat itu semua ada di rumah Halvir'' pikir Anindira dalam hati.


''Zia, aku tidak melihat ibumu?'' tanya Anindira.


''Dia pergi bersama Ayah Ruvi'' jawab Zia.


''Ayah ... Ruvi?!'' seru Anindira bertanya dengan wajah bingung. ''Lalu yang tadi? Paman Mischa ... '' tanya Anindira menyelidik.


''Ayah Mischa, dia juga ayahku, ayah Ruvi juga ayahku. Dia pasangan ibuku ... *Amethyst


dari Klan Jaguar juga seperti ayah Mischa, tapi Ayah Mischa sudah jauh lebih stabil darinya'' jawab Zia dengan wajah bangga.


''Pasangan?!'' seru Anindira terkejut. ''Ah maaf ... Aku tidak tahu, maafkan aku ... '' ujar Anindira terkejut dengan wajah menyesal, berpikir dia telah menyakiti perasaan Zia.


''Maaf?! Untuk apa?'' tanya Zia tidak bingung.


''Itu ... Aku pikir, aku telah menyakitimu, karena mengingatkanmu tentang ibumu'' ujar Anindira sambil menunduk malu.


''Memangnya apa yang salah dengan mengingat ibuku? Kalau dia ada di sini, dia juga akan mengobrol bersama kita ... '' sahut Zia masih dengan tingkah cerianya.

__ADS_1


 ''Tunggu ... Sedang pergi? ... Maksudmu, ibumu tinggal di sini bersamamu?!'' seru Anindira bertanya, kembali dengan wajah herannya.


''Tidak!'' seru Zia tegas menjawab, ''Ibu tinggal di rumah terbesar, itu rumah utama tepat di atas rumah ini'' ujar Zia melanjutkan jawabannya sambil jarinya menunjuk ke atas.


''Lalu ... Ayahmu?!'' seru Anindira bertanya dengan wajah lebih heran lagi.


''Kalau sedang tidak bersama ibu, ayah akan tidur di sini, ini rumah ayah'' jawab Zia polos.


''HA?!?!!! ... '' seru Anindira dengan wajah bertanya, dia tidak lagi bisa menahan ekspresi wajahnya yang sekarang terlihat sangat aneh.


Anindira masih tidak bisa memahami ucapan Zia yang membuatnya semakin keras berusaha memproses semua maksud dari ucapan Zia, semakin dalam, jauh ke dalam otak kecilnya yang terbatas.


''Kau bilang ibumu sudah punya pasangan baru?! ... Dan, itu pun di atas rumahmu? ... Bukankah ada banyak pohon yang lain?'' tanya Anindira dengan wajah gamang sambil mengernyitkan dahi.


''Apa maksudmu? ... Kenapa Harus di pohon lain? ... Apa yang salah dengan rumah ibu di atas rumah ayahku? ... '' Sahut Zia balik bertanya dengan wajah heran.


''Tentu tidak seperti itu!'' seru Zia langsung menghardik, ''Orang lain tentu masalah!'' seru Zia menjawab dengan tegas, ''Harus ada persetujuan dari ayahku, kalau tidak, bukan hanya ayahku tapi pasangan-pasangan ibu yang lain juga punya hak untuk membunuhnya karena mengganggu ibu tanpa ijin pasangan-pasangannya!!'' seru Zia melanjutkan menjawab dengan sangat serius.


''Ha?! Membunuh?!'' seru Anindira bertanya dengan terkejut, dia kaget mendengar hal ekstrem yang di ucapkan Zia. ''Tapi ... Tunggu! ... Tunggu dulu! ... Pasangan ... Pasangan??? ... Apa aku salah dengar atau salah mengartikan?'' tanya Anindira melihat ke arah Zia dengan wajah bodoh yang melongo.


Zia di buat heran oleh Anindira sampai memundurkan kepalanya, karena Anindira langsung menghampiri Zia melihatnya dengan sangat serius. ''Ada apa? Kenapa?" tanya Zia dengan wajah mengernyit. Mata Zia tampak sedikit takut melihat reaksi Anindira yang terkesan aneh.


''Anu ... Itu ... Jadi ... Ibumu, punya lebih dari satu pasangan?'' tanya Anindira dengan suara sedikit bergetar. dia takut kalau dia membuat kesalahan.

__ADS_1


''Ya!'' angguk Zia yakin, ''Lima orang'' jawab Zia kemudian sambil menujukan ke lima jarinya.


Anindira diam tidak bereaksi, matanya menerawang senada dengan pikirannya yang pergi meninggalkan dirinya. Perlahan Anindira mulai kembali pada kesadarannya, apa sudah sampai separah itu, Dia ingat cerita Hans yang mengatakan jumlah wanita yang sangat sedikit, berbanding sangat jauh dari jumlah para prianya. Anindira jadi ingat Suku Guanches yang pernah di bacanya dari sebuah artikel.


{Suku Guanches adalah penduduk asli Kepulauan Canary di barat laut pesisir Afrika. Pada saat terjadi bencana kelaparan di abad ke-14 dan ke-15, banyak anak perempuan tewas sehingga terjadi ketimpangan jumlah penduduk. Jumlah pria pun lebih banyak dibandingkan pria. Akibatnya, mereka mempraktikkan poliandri sehingga wanita di suku tersebut bisa menikahi maksimal lima pria.


Ada juga sebuah Suku di sebuah pegunungan terkenal, yang berada di pegunungan membuat sebagian lahan pertanian sulit ditanami dan butuh banyak kekuatan fisik. Perempuan akhirnya menikahi banyak suami karena mereka lebih kuat dan bisa membantu mengurus lahan pertanian.}


''Zia ... Apakah di sini wajar jika wanita punya lebih dari satu pasangan?'' tanya Anindira setelah menenangkan diri beberapa saat. Dia mencoba mencari informasi lebih sekarang.


''Tentu saja ... '' jawab Zia serius asih dengan dahinya yang mengernyit.


''Kenapa? Apa harus?'' tanya Anindira lagi, dengan sangat antusias.


''Eum? ... '' Zia semakin mengernyitkan dahinya, tapi, kali ini alasannya berbeda. Dia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Anindira. ''Aku tidak tahu, apa harus atau tidak, karena itu sudah lumrah di sini. Tapi, kata ibu seorang pria tidak bisa menjaga wanita sendirian, ibu selalu mengajarkanku untuk mencari pasangan yang bisa menjamin mampu menjagaku. Kata ibu untuk pilihan pertama sebaiknya cari dua orang yang bisa cocok sekaligus'' jawab Zia sambil matanya sedikit berputar-putar mengingat-ingat nasehat ibunya.


''Eh?! ... DUA SEKALIGUS?!?!?!'' seru Anindira bertanya, bahkan memekik. Dia masih terkejut dengan penjelasan Zia.


''Memang kau tidak di beritahu apa pun oleh ibumu?'' tanya Zia, balik menyelidik Anindira.


''Ehh ... Anu, itu ... Tidak'' Anindira ragu-ragu menjawab, dia bingung mengemukakan tentang dirinya.


''Mungkin karena kau cantik, keluargamu bersikap santai'' ujar Zia dengan wajah keki tapi dia tulus tidak membenci Anindira.

__ADS_1


''Cantik?! Siapa?! Aku?!'' seru Aninidra bertanya dengan wajah kembali heran ''Hahaha ... '' Anindira tertawa mendengar kata itu, tapi dia sedikit senang di bilang cantik, karena tidak pernah ada yang bilang itu padanya sebelumnya.


''Ya, kau cantik, kulitmu memang gelap tapi bagus, rambutmu juga seperti kebanyakan pria, indah ... '' jawab Zia dengan polos mengagumi Anindira.


__ADS_2