WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
Pertempuran Gavriel melawan Hyena


__ADS_3

Gavriel tanpa ragu dan mantap langsung melepaskan serangannya, dia mengincar lehernya tapi langsung di tepis dan Gavriel seketika itu juga di serang Hyena terkecil di antara empat Hyena itu. Tak kalah tangkas dengan akselerasi yang baru saja aktif membuat kekuatannya masih di puncak, Gavriel menghindari serangannya dan langsung menyerang balik, hanya satu kali serangan Gavriel mendapatkan lehernya.


Satu Hyena tumbang dengan leher robek hanya dalam beberapa menit sebagai pembuka awal pertempuran. Dua Hyena berlian langsung maju dengan emosi melihat salah satu temannya tewas begitu saja, Gavriel berhasil menghindari serangan mereka tapi Gavriel jatuh tersungkur terlempar oleh Hyena Emerald, dan dalam sekejap dua hyena tidak melepaskan kesempatan, mereka segera menggigit bahu dan perut Gavriel, seketika itu juga merobek dagingnya mengakibatkan darah mengalir deras. Satu lagi Hyena berlian tewas di tangan Gavriel, karena Gavriel dengan sigap menangkap leher Hyena yang menggigit perutnya dan mematahkannya segera.


''AKH!!! ... Gavriel!!! ... '' Anindira berteriak histeris melihat Gavriel tersungkur bersimbah darah.


Anindira semakin panik melihat darah segar langsung menyembur keluar dari tubuh Gavriel, ini kali pertama Anindira melihat pertempuran antara Manusia Buas. Bagi Anindira yang terbiasa hidup dalam kedamaian, kebrutalan ini membuat air matanya mengalir tak terbendung. Remaja muda, Singa perak yang menolongnya sekarang dalam kondisi mengenaskan bermandikan darah hampir di sekujur tubuhnya.


Gavriel terluka dan terpojok tapi dia tetap tidak menyerah, dengan gigih dia berusaha mengumpulkan kekuatan untuk tetap melawan dua Hyena yang tersisa. Hyena berlian yang tersisa mulai ciut nyalinya karena tak di sangkan Singa kecil yang diremehkan mampu menjatuhkan dua Hyena hanya dalam beberapa menit. Serangan berikutnya Gavriel memperhitungkannya dengan matang, dalam satu gebrakan, Gavriel menghindari dua serangan sekaligus dari kedua Hyena itu. Gavriel juga sempat memberikan perlawanan, dia melempar salah satu Hyena sampai tersungkur. Tapi, kembali Hyena Emerald menyerang tanpa ampun, dia beradu badan dengan Gavriel dan saat itu juga terdengar suara retakan tulang dan membuat Gavriel memuntahkan darah dan jatuh tersungkur.


Melihat itu Anindira secara spontan lari dan memeluk tubuh Gavriel, tidak memedulikan apa yang akan terjadi pada dirinya. Anindira menghalangi serangan yang akan di lancarkan Hyena Emerald menggunakan tubuhnya untuk jadi perisai pelindung bagi Gavriel. Anindira beruntung karena Hyena itu bisa segera menghentikan serangannya tepat waktu, kalau tidak Anindira mungkin akan terbunuh saat itu juga.


''Agh ... Gavriel, tidak! ... Pergilah! ... Lari! ... Gavriel, lari! .... '' seru Anindira merengek dan menangis, tidak tahan melihat Gavriel yang penuh luka, bahkan Anindira sekarang seperti mandi dengan darah, dengan cepat darah terus merembes membasahi baju dan tubuh Anindira saat memeluknya.

__ADS_1


''Kumohon hentikan! ... Dia terluka ... '' seru Anindira memohon dan terus meratap, merayu Hyena Emerald yang juga terluka oleh serangan Gavriel.


Gavriel yang masih dalam kesadaran penuh memandang Anindira yang dengan berani memblokir serangan dari Hyena, dia juga tetap memeluknya berusaha melindungi Gavriel dengan sekuat tenaga. Rasa bangga karena ada wanita yang rela melakukan hal berbahaya untuknya, sekaligus juga perasaan malu dan terpukul. Harga dirinya sebagai seorang pria merasa terhina, dia merasa kalau dia terlalu lemah sampai wanita harus bergerak dan menghalau serangan untuknya.


Melihat Anindira yang hanya seorang wanita berjuang sekuat tenaga melindunginya membuat Gavriel semakin bersikeras untuk tetap bangkit melawan. Adrenalin Gavriel yang memang sudah terpacu sejak awal pecah pertempuran, karena emosinya melihat Anindira jadi semakin naik ke tahap tertinggi. Saat itu juga, Aliran kekuatan mengalir deras di dalam tubuh Gavriel. Dia ingat dengan perasaan ini, perasaan yang sama saat dia naik level, Gavriel mengalami lonjakan tenaga dan tubuhnya yang nyaris tak mampu bergerak tiba-tiba penuh tenaga bahkan berkali-kali lipat dari tenaganya saat awal bertarung tadi.


Dengan segera Gavriel menyingkirkan Anindira ke belakang, melindunginya di balik pohon. Gavriel kembali menyerang Hyena bermata Emerald, mereka saling beradu tubuh dan menggigit dengan ganas, merobek daging dengan cakar dan taring mereka. Pertempuran berakhir saat Hyena Emerald tumbang dengan kepala nyaris pecah, tepat seperti apa yang telah dijanjikan Gavriel di awal pertemuan mereka tadi. Saat itu juga Gavriel pun tumbang dengan nafas tidak karuan, perlahan Gavriel berusaha mengatur kesadarannya yang mulai berontak karena terganggu aroma manis menggoda yang keluar dari tubuh Anindira.


''Lari! Anindira, lari! ... '' perintah Gavriel dengan suara lirih dan lemah, dengan tanga yang terus berusaha mendorong Aninidra untuk menjauh darinya.


''Bodoh!'' seru Gavriel memekik, ''Baumu menggangguku ... Kumohon pergilah! Sekarang Anindira ... '' seru Gavriel lagi dengan tangannya yang terus saja berusaha menyingkirkan Anindira agar segera menjauh darinya.


''Gavriel!'' seru Anindira memanggilnya dengan wajah kesal, ''Diamlah dulu! ... Darahmu terus mengalir keluar ... '' ujar Anindira tidak menggubris peringatan Gavriel.

__ADS_1


''Anindira, kumohon pergi dariku ... Aku tidak akan bisa menahan diriku lagi ... Sebentar lagi aku akan menggila'' ujar Gavriel memelas, wajahnya tampak tersiksa menahan sesuatu.


''Apa kau masih belum puas, kau sudah menjatuhkan mereka berempat, apa lagi?!'' sahut Anindira sambil terus memberikan pertolongan pertama pada Gavriel.


''Anindira, aku tidak mau kau menyesal nanti, pergilah ku mohon ... Sekarang!'' seru Gavriel memelas memerintahkan Anindira dalam keadaan lemah.


''Aku tidak mengerti maksudmu?! ... '' seru Anindira menjawab, ''Sudahlah! Biarkan aku melakukan sesuatu!'' seru Anindira lagi sambil tetap melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Gavriel agar tidak kehilangan semakin banyak darah. ''Kalau tidak segera di obati kau bisa mati ... '' ucapan Anindira terpotong, saat melihat Gavriel tiba-tiba terlihat sangat aneh.


Gavriel perlahan bangun dengan mata yang tidak fokus tapi memandang nanar ke arah Anindira, tangannya segera meraih tubuh Anindira, meremasnya kuat dan membuat Anindira berteriak kesakitan, tapi itu tidak menghentikannya.


''Gavriel!'' seru Anindira memekik dengan wajah kaget melihat kelakuan aneh Gavriel.


Selain suara nafas yang memburu tidak karuan dan tatapan kosong dari Gavriel, Anindira tidak mendapat respons apa pun dari Gavriel. Anindira mulai merasa ketakutan dengan Gavriel yang tampak sangat menyeramkan, Anindira tidak bisa mengenalinya, dia sama sekali tidak seperti Gavriel yang di kenalnya.

__ADS_1


Berapa kali pun Anindira berteriak dan meronta Gavriel tidak menanggapi apa pun, Anindira berusaha melarikan diri darinya tapi tidak bisa. Cengkeraman tangan Gavriel sampai membuat tangan Anindira memar, tapi yang lebih membuat Anindira bergidik adalah Gavriel yang dingin tanpa ekspresi tidak memedulikan air mata Anindira sama sekali.


__ADS_2