WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
Kebersamaan


__ADS_3

Seperti yang biasa mereka lakukan sehari-hari, Anindira akan duduk di hadapan Halvir membelakanginya, sedang Halvir mendekap Anindira dalam pelukannya. Anindira yang sudah terbiasa dengan Halvir, begitu menikmatinya perhatiannya tanpa canggung.


''Anindira ... '' panggil Halvir membuka percakapan pertama mereka di rumah Halvir.


''Dira kak ... '' ujar Anindira menjawab, sambil mendongak ke arah Halvir walau dia tidak mampu melihat apa pun.


''Hmh?! ... '' seru Halvir heran, dia tidak mengerti maksud Anindira.


''Dira, itu panggilan kesayanganku di rumah'' ujar Anindira menjawab, dia senyum-senyum sendiri sambil mengelus-elus tangan Halvir yang sedang mendekap bahunya. ''Kakak bisa memanggilku seperti itu ... '' lanjut Anindira masih dengan hal yang biasa di lakukannya saat duduk bersama Halvir saat malam tiba.


''Jadi itu panggilan spesialmu?! ... '' seru Havir bertanya.


''Iya ... Keluargaku selalu memanggilku seperti itu'' ujar Anindira menjawab dengan perasaan senang.


''Baiklah ... Kau ingin aku memanggilmu begitu?!'' jawab Halvir, kalau saja Anindira bisa melihatnya, Halvir tersenyum senang saat ini.


''Tentu! ... '' seru Anindira menjawab sambil mengangguk dengan semringah.


Tiga bulan sudah sejak Anindira dan Halvir bertemu, Halvir dan Anindira telah terbiasa melewati waktu hanya berdua, apa lagi saat malam tiba, moment kebersamaan itu jadi lebih indah karena sunyinya malam yang pekat di dalam hutan.


''Dira ... '' panggil Halvir lembut, ''Kau bicara banyak dengan Hans, kau juga memanggilnya kakak sama seperti kau memanggilku'' lanjutnya lagi, sambil menempelkan dagunya di bahu Anindira.


''Iya? ... '' tanya Anindira menjawab tapi dengan nada bertanya, ''Lalu apa ada yang salah?'' tanya Anindira heran, ''Kalian berdua terlihat sepantar dengan kakakku ... '' ujar Anindira melanjutkan. Lagi-lagi dia mendongak ke arah Halvir, Anindira tidak tahu bahwa wajahnya nyaris menempel dengan wajah Halvir, membuat Halvir terkejut dan tersipu.


''Kau menyukainya?'' tanya Halvir dengan nada yang sedikit berbeda, terasa kalau Halvir tidak nyaman.


''Kak?!'' panggil Anindira dengan nada suara keheranan, ''Aku heran denganmu ... Untuk hari ini saja, kau sudah dua kali menanyakan pertanyaan itu, memangnya kenapa?'' tanya Anindira dengan polosnya.


''Kau bicara dengan sangat mudah pada para pria ... '' ujar Halvir menjawab dengan nada kecewa.

__ADS_1


''Kak, apa yang salah? ... '' tanya Anindira mengernyitkan dahi, ''Aku hanya bicara dengan mereka ... '' ujar Anindira menjelaskan.


Anindira tidak tahu kalau di Dunia ini seorang wanita menjaga jarak dengan para pria. Karena *imprint, baik pria dan wanita secara naluri menjaga diri mereka agar tidak terimprint secara sembarangan, karenanya banyak wanita yang akan selalu menunduk jika bicara degan pria. Para wanita lebih sering mengacuhkan pria yang mencoba bicara dengan mereka jika mereka merasa tidak akan menjalin hubungan dengannya.


''Tidak ada ... '' ujar Halvir acuh, ''Tapi, mereka harus bisa menjatuhkanku dulu ... ''ujarnya lagi melanjutkan dengan nada angkuh, penuh percaya diri.


''Kenapa harus begitu?! ... '' seru Aninidra bertanya, dia tidak memahami maksud sebenar Halvir dari kata-katanya. ''Kak, aku tahu kau kuat tapi terlalu sombong itu tidak baik ... Kak, kita tidak bisa hidup sendirian, entah kapan akan ada masanya kita butuh bantuan orang lain ... Jadi akan lebih baik jika kita selalu membina hubungan baik dengan sesama, apa lagi mereka semua berasal dari Desa yang sama denganmu .... '' [ujar Anindira melanjutkan menasihati Halvir.


Halvir tersenyum mendengar ucapan Anindira yang panjang, dia pikir Anindira tidak tahu apa pun. Tapi, dia cukup terkejut karena ternyata dia bisa mengatakan hal yang sangat dewasa seperti ini.


''Kau memang mirip dengan Ezra ... Baiklah, aku tahu ... '' ujar Halvir menjawab.


''Eum ... '' angguk Anindira, '' Begini Kak ... Belum juga dua hari aku masuk di desa ini, kau juga tahu, kalau selain dirimu aku tidak perah bertemu siapapun beberapa bulan ini ... '' lanjut Aninidra ingin mengklarifikasi, karena nalurinya berkata kalau dia harus melakukannya. "Kak Hans, adalah satu-satunya orang yang pernah berbicara denganku melalui dirimu, aku bicara dengannya karena dia adalah orang pertama yang kau temui sesaat setelah memasuki Desa, makanya aku berasumsi bahwa kau sangat mempercayainya ... '' lanjut Anindira menjelaskannya, ''Apa aku salah?'' tanya Anindira kemudian, menegaskannya pada Halvir.


''Tidak, kau benar ... ''ujar Halvir menjawab, sekali lagi dia terkejut, Anindira secara detail bisa melihat semuanya. ''Tidak seperti kebanyakan orang lain, entah kenapa aku cocok dengan Hans, aku cukup akrab dengannya, walau dia tampak seperti itu tapi dia orang yang gigih dan bukan orang yang mudah terganggu dengan ucapan orang lain. Karena itu, aku cukup menyukainya ... '' lanjut Halvir menjelaskan seperti apa hubungannya dengan Hans.


''Lagi pula kak Hans juga sangat baik, aku melihatnya seperti kakakku, kalian sepertinya seumuran ... '' ujar Anindira kemudian.


''Hmm?! ... Benarkah?!'' seru Anindira tampak terkejut, ''Kalian tampak sepantar bagiku ... '' lanjut Anindira, ''Eum ... Kakakku yang tertua dua puluh satu tahun, berapa usiamu?'' tanya Aninidra kemudian.


''Kakakmu bahkan jauh lebih muda dari Hans, dan aku sudah berusia empat puluh lima tahun ... '' jawab Halvir.


''Bohong!'' seru Anindira menjawab tidak percaya.


''Dira, aku bukan pembohong ... '' ujar Halvir, mengklarifikasi tuduhan Aninidra dengan nada lembut tapi intonasinya tegas terdengar.


''Maaf kak, tapi kenapa aku merasa kau seperti sedang mempermainkan aku? ... '' tanya Anindira menyelidik, ''Kalau kak Halvir empat puluh lima tahun, dan kak Hans lebih muda sepuluh tahun, berarti kak Hans tiga puluh lima tahun. Apa kalian sedang bermain Black Orchid seperti di film Anaconda?!'' Seru Anindira tidak percaya, dan tetap dengan ingin minta penjelasan, itu adalah salah satu dari sifat keras kepalanya.


''Apa itu ''Black Orchid''? ... '' tanya Halvir.

__ADS_1


''Obat abadi, yang bisa membuatmu awet muda!'' seru Anindira menjawab dengan ketus.


''Oh! ... Di tempatmu di sebut seperti itu?'' jawab Halvir santai, dia semakin geli melihat ekspreksi Anindira yang malah semakin merajuk dan bersungut.


''Ha?! ... Memang ada?'' seru Aninidra bertanya, sekarang dia malah sangat antusias, tapi seketika wajahnya langsung cemberut.


''Ya, walau tidak bisa di sebut abadi, tapi membuatmu selalu tampak muda itu betul ... '' jawab Halvir yang semakin tersengih melihat wajah konyol Anindira.


''Kak! ... '' seru Anindira memanggil dengan ketus, ''Apa aku sebodoh itu? ... '' tanya Anindira denganmata melotot, ''Senang membuatku terlihat bodoh?!'' seru Anindira melanjutkan, kemudian dia segera keluar dari dekapan Halvir, mengubah posisi sampai jadi berhadap-hadapan. Padahal walau seperti itu posisinya, Anindira tetap tidak bisa melihat apa pun dalam kegelapan malam. ''Kak ... Kau senang melihat wajah bodohku?'' tanya Anindira lagi, semakin manyun bibirnya karena kesal. ''Kau pasti senang, bisa melihat semuanya di kegelapan ini, terlihat olehmu sekarang?! ... Aku sedang kesal ... '' seru Anindira dengan nada ketus, dia berekspresi jelek sekali, meluapkan kekesalannya.


''Hahaha ... '' Halvir tertawa, tidak terbahak-bahak tapi jelas dia sedag tertawa, walau hanya suaranya yang terdengar oleh Anindira.


''Kak Halvir! ... Kau tertawa ... Kau jahat, kau mempermainkan aku ... Jahat, kau mengerjaiku, hampir saja aku percaya .... '' seru Anindira merengek-rengek sambil menggoyang-goyangkan bahu Halvir.


Lagi-lagi wajahnya mendekat ke wajah Halvir, nyaris tidak ada jarak antara wajah mereka, membuat Halvir kehilangan kesabarannya.


Cup


Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Anindira. Anindira yang sedang merengek tiba-tiba berhenti, dia mematung dengan wajahnya yang memanas, Anindira merasa heran karena dia senang menerima kecupan itu dari Halvir. Di masa lalu, jangankan mengecupnya, memegang tangan Anindira tanpa izin bisa di banting olehnya, mengingat dia pemegang sabuk hitam Jiu jitsu.


Halvir segera memegang ke dua bahu Anindira, memutarnya dan membuatnya duduk ke posisi awal. Halvir takut jika Anindira terus menatapnya seperti itu, dia bisa kehilangan kendali. Karena gelap, Anindira sama sekali tidak tahu kalau wajah Halvir sekarang sedang mengeluarkan 'asap', memerah seperti kepiting rebus.


''Dira ... '' panggil Halvir dengan suara yang sangat lembut, bergetar di belakang telinga Anindira. ''Aku tidak sedang membodohimu, usiaku empat puluh lima tahun, dan Hans tiga puluh lima tahun, itu benar adanya bukan mengada-ada ... '' ujar Halvir menjelaskan, ''di tempatmu ''Black Orchid'' di sini itu asdalah *Amber hijau ... Dan, aku tertawa bukan karena sedang membodohi atau mempermainkamu. Tapi, karena ekspresimu itu tampak sangat lucu. Apa yang salah kalau aku tertawa? ... Aku senang saat bersamamu, karena nyaman saat bersamamu, itu yang membuatku bisa tertawa'' ujar Halvir melanjutkan, dia masih menempelkan rahangnya di bahu Anindira.


''Kau yang pertama untukku, saat-saat bersamamu, memelukmu, berbicara denganmu, aku menikmatinya ... Kau membuatku tersenyum Dira. Aku menginginkanmu, tapi, tidak dengan cara seperti ini ... Kelak, saat kau memahami semuanya, jadilah pasanganku!'' gumam Halvir di dalam hati.


Hembusan nafas Halvir terus membelai leher Anindira, suaranya terdengar erotis di telinganya, tangannya yang terus membekap bahunya dan sebelah lagi melingkari perut Anindira. Anindira sebenarnya bingung dan gelagapan tapi dekapan Halvir membuatnya membeku, Anindira dalam keadaan sadar tapi jiwanya entah terbang ke mana?


Pikirannya kosong, dia mendengar Halvir bicara, tapi sama sekali tidak tahu apa yang di bicarakannya. Halvir merasa sangat bahagia saat ini, sunyi senyapnya malam membuat degup jantung Anindira yang tidak karuan membuat ruangan yang biasa sepi hanya ada dirinya seorang diri sekarang terasa riuh ramai.

__ADS_1


Menyadari perubahan sikap Anindira Halvir tersenyum kemudian bangun dan melepas pakaiannya. Mengubah dirinya dalam bentuk binatang dan membawa Anindira yang sedang 'terlelap dalam mimpi sadar'nya untuk segera tidur terlelap.


**


__ADS_2