WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
Gavriel sudah sadar.


__ADS_3

Hans mengemas segala sesuatu yang dibutuhkannya, meminta tolong pada Axel untuk tetap menjaga Gavriel. Pendarahan Gavriel telah teratasi dengan perawatan yang diberikan Hans. Karena ada tiga tulang rusuknya yang patah, beberapa luka sobek tampak menganga di tubuhnya, akibat cakaran dan gigitan Hyena. Butuh waktu sampai dia sadar kembali, dan memulihkan kondisinya.


Hans dalam sehari, bolak-balik, berkali-kali mengecek. Dia mengganti perban dan memberi obat pada Gavriel dan Anindira, dia juga membersihkan tubuh mereka.


Bubur barley atau bubur jagung yang dicampur rempah obat menjadi jadi makanan sehari-hari Anindira dan Gavriel selama beberapa hari. Saat malam tiba, Halvir dan Hans, keduanya tidur di kedua sisi Anindira memberi kehangatan extra padanya.


**


Setelah lima hari, Gavriel akhirnya sadar, Axel memberi tahu keseluruhan keadaan Anindira. Gavriel syok dan segera beranjak dari tempat tidur untuk menemui Anindira, beruntung Hans datang dan segera menghentikannya.


''Jangan bodoh Gavriel!'' seru Hans, ''Kau tidak lagi sendiri... Kau punya pasangan sekarang, dia sudah jadi tanggung jawabmu.’’


''Diam dan rawat dirimu sampai sembuh, baru kau temui dia! Jika sekarang kau temui Anindira, bahkan belum sempat melihatnya kepalamu sudah terpisah lebih dulu dari tubuhmu,'' lanjut Hans memperingatkan Gavriel.


''Dalam keadaan sehat saja kau sama sekali bukan tandingannya, sayangi nyawamu! Lagi pula yang ada bersama Anindira sekarang adalah walinya, wali sahnya yang diakui oleh Anindira... Kau yang menikungnya, ingat itu!'' seru Hans menekan rasa bersalah Gavriel agar dia menurut.


Kepala Gavriel hanya bisa tertunduk menyesal, walau Gavriel kehilangan kewarasannya saat itu. Tapi perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dia mulai bisa mengingat apa saja yang terjadi di Hutan Biru. Ditambah lagi dengan penjelasan Axel tadi, semuanya semakin memperjelas ingatan yang awalnya samar-samar.


Dada gavriel langsung terasa penuh,  membuat nafasnya sesak, darahnya terasa panas, tapi, tubuhnya terasa dingin membuatnya menggigil gemetaran. Gavriel merasa marah pada dirinya sendiri, mengingat semua kebrutalannya saat menggagahi Anindira.


Rasa sesal dan patah hati, bercampur dengan koneksinya dari *ikatan pasangan yang telah tersemat antara dirinya dan pasangannya, yaitu Anindira.


Gavriel adalah pasangan Anindira sekarang, jiwanya dan jiwa Anindira saling terkait satu sama lain. Mulai sejak hari itu, Gavriel dan Anindira akan bisa merasakan keberadaan masing-masing begitu juga dengan emosinya. Seketika kakinya lemas dan membuatnya jatuh terduduk. Gavriel merasakan rasa sakit dan hancurnya hati Anindira. Air mata Gavriel jatuh mengalir di kedua pipinya, tangannya menekan dadanya, ada rasa sakit yang sulit dijelaskan di hatinya. Gavriel yang kalap karena emosi yang membuncah di hatinya, langsung bangkit berdiri, hendak berlari keluar.


Gavriel yang histeris segera ditahan oleh Hans di bantu Axel, mereka refleks segera menangkap tubuh Gavriel yang berjuang sekuat tenaga untuk melepaskan diri.


''Tenangkan dirimu!'' seru Axel sambil menarik Gavriel, dia berusaha mendorongnya ke tempat tidur.


''Tidak!'' seru Gavriel sambil meronta, dia berusaha menepis tangan Axel yang menahannya, ''Anindira... dia kesakitan, aku harus menemuinya!'


''Apa kau tidak mendengarku tadi?!'' seru Hans bertanya dengan tegas, ''Diam dan tenanglah!... Sembuhkan dirimu!'' seru Hans menghardik, dia marah sambil mendorongnya.

__ADS_1


''Kau tidak mengerti, dia kesakitan!'' seru Gavriel dengan wajah berang, dia balik marah pada Hans dan Axel, ''Aku bisa merasakannya...'' ujar Gavriel sambil terus meronta.


Tapi, segera di sambar oleh Axel yang juga jadi berang melihat kelakuan Gavriel..


BRAK


GUBRAKK


Axel melemparnya ke tempat tidur, kemudian segera menahan tubuh Gavriel dengan sikunya menekan leher Gavriel.


''BODOH!'' seru Axel melotot tepat di wajah Gavriel, ''Aku tahu!... Aku juga punya pasangan... Tapi, kau tidak bisa menemuinya sekarang!'' seru Axel lagi dengan nada suaranya yang tinggi.


''Dengar!'' seru Axel sambil menekan sikunya lebih kuat lagi menahan leher Gavriel, ''Tidak peduli bagaimanapun pikiran Anindira sekarang... dia telah berpasangan denganmu, jiwanya terkait denganmu... mungkin sekarang dia tidak tahu apa yang dirasakan oleh hatinya. Tapi, lambat laun dia akan menyadarinya…''


Axel mengungkapkan pemikirannya. Perlahan tangan yang menahan leher dan tubuh Gavriel mulai mengendur.


''Kau berpikirlah sedikit jauh ke depan! Apa yang akan dipikirkannya nanti, jika sekarang kau tewas terbunuh oleh Halvir? Sebelum semuanya jelas antara kau dan Anindira, kau harus tenang dan berusaha untuk menyelesaikan semuanya…''


Axel menatap serius Gavriel dengan tangannya yang melintang di bawah leher Gavriel perlahan mulai dilepaskan.


"Dengarkan Axel, Gavriel... dia memahami perasaanmu dengan sangat baik. Halvir tidak akan membiarkannya begitu saja. Sembuh! Dan bertahanlah dari Halvir. Setidaknya kau harus tetap hidup untuk bisa terus bersama Anindira…" ujar Hans mulai bicara setelah melihat Gavriel tenang, ''Dia tahu apa itu '*ikatan pasangan'. Jadi jangan nakal!''


''Berusaha sembuhkan dirimu lebih cepat... dengan begitu, saat kau menemuinya nanti, minimal kau tidak mati,'' ujar Hans memperingatkan Gavriel, ''Istirahatkan dirimu dengan baik di sini! Ada obat-obatan yang sudah kusiapkan untukmu, minum dengan rutin!''


Hans memberi perintah sambil menunjukkan berbagai obat yang sudah disiapkannya pada Gavriel.


''Jangan pernah mencoba datang ke sana sebelum aku mengizinkannya!'' seru Hans sambil melotot pada Gavriel, dia serius memberi perintah sekaligus peringatan, ''Kau sudah sadar sekarang, aku hanya akan mengecek keadaanmu sekali sehari.''


Setelah selesai dengan semua wejangannya, Hans kemudian pergi meninggalkannya.


''Gavriel, karena kau sudah sadar sekarang aku pun tidak akan menungguimu lagi, aku akan membawakanmu hewan buruan setiap hari selebihnya kau bisa mengurus dirimu sendiri'' ujar Axel kemudian, ''Turuti semua saran Hans, itu semua untuk kebaikan kalian semua. Sekarang kau sudah punya pasangan, bersikaplah dewasa, kau tidak boleh hanya memikirkan dirimu saja sekarang!''

__ADS_1


Axel memberi nasihat tulus pada Gavriel.


''Jadilah anak baik! Istirahatkan dirimu! Semakin cepat kau pulih, semakin cepat kau bisa menemuinya…'' Axel menambahkan nasehatnya sambil menepuk bahunya, kemudian pergi meninggalkannya.


***


''Hans, Anindira tidak menunjukkan kemajuan sama sekali,'' ujar Halvir sambil menyeka tubuh Anindira, dia bicara mengungkapkan kekhawatirannya.


''Eum,'' jawab Hans mengangguk, ''Anindira memang masih dalam kondisi mengkhawatirkan, tapi dia sudah sedikit lebih baik. Pendarahan di dalam rahimnya belum sepenuhnya sembuh, tapi, sudah tidak lagi berdarah. Demamnya masih tinggi, karena luka-luka di tubuhnya... Halvir... seperti katamu, Anindira itu tangguh, dia bertahan dengan sangat baik... Anindira akan melewatinya, dia pasti bisa melaluinya,''


Walau kekhawatiran masih tersirat di wajah Hans, tapi matanya bersinar yakin dan percaya diri.


''Mau ke mana kau?'' tanya Halvir saat melihat Hans mengepak barang-barang ke dalam tas.


''Aku akan mencari rempah obat, ada beberapa yang sudah mulai menipis persediaannya,'' jawab Hans sambil terus memilah barang yang akan dibawanya.


''Lalu siapa yang akan merawat Anindira?'' tanya Halvir langsung berbalik menghadap Hans, dari sebelumnya duduk menghadap Anindira.


''Ada kau yang menjaganya, takut apa?... Lagi pula aku tak akan lama, sekarang masih pagi, aku bisa kembali sebelum malam…'' jawab Hans.


''Kau akan pergi jauh masuk ke dalam hutan, hutan mana kau akan pergi?'' tanya Halvir.


''Hutan Biru, ada banyak tanaman obat yang aku butuhkan tumbuh di sana.''


''Hans, bukankah masih ada satu Hyena yang lolos, ada kemungkinan dia memanggil kawanannya,'' ujar Halvir memperingatkan.


Ada satu Hyena yang lolos dalam keadaan terluka parah saat kejadian itu, di lokasi ada bau empat orang Hyena, tapi hanya ada tiga mayat Hyena yang ada di situ.


''Hm,'' angguk Hans, ''Aku juga telah mengkonfirmasinya…'' ujar Hans melanjutkan, dia sedikit tegang saat menjawab Halvir.


''Jadi, bajingan kecil itu sudah bangun?!'' seru Halvir dengan aura yang tiba-tiba terlihat menyeramkan sekarang.

__ADS_1


''Halvir!'' panggil Hans, dia kemudian berbalik dari tasnya dan menghadap ke arah Halvir.


''Aku tahu kau menyembunyikan dia, Hans...'' ujar Halvir dengan ekspresi yang membuat tubuh merinding.


__ADS_2