WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
Halvir akan pergi


__ADS_3

Melihat luapan emosi Anindira, Halvir tahu ada kata-katanya yang menyinggung Anindira walau dia tidak terlalu mengerti di bagian mananya, dia diam menatap Anindira, meski wajahnya masih gagah menatap Anindira tapi Anindira bisa melihat sorot mata Halvir yang melembut.


Anindira mendesah melihat Halvir yang terdiam menatapnya, walau hanya sedikit tapi Anindira cukup bisa merasakan bahwa Halvir juga ikut naik emosinya dengan kemarahan Anindira. Terbersit juga rasa takut di hatinya, nalurinya memberitahu kalau dia harus mengalah kalau mau tetap hidup. Dia menghirup nafas menenangkan degup jantungnya yang mulai naik, dia berusaha meredakan ketegangan, bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk Halvir.


''Kak ... ''panggil Anindira sambil menegang tangan Halvir, ''Duniaku berbeda dengan duniamu, bahkan orang terkuat di negaraku mungkin tidak ada apa-apanya di banding dengan dirimu, tapi ... '' ujar Anindira mencoba menjelaskan dengan lembut, ''Kekuatan fisik, bukan segalanya di Duniaku ... '' ujar Anindira melanjutkan kata-katanya sambil sedikit menggelengkan kepalanya. ''Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu ... '' ujar Anindira kembali melanjutkan sambil menelan ludah karena merasa gugup. ''Tapi, seperti yang telah kau ketahui, populasiku jauh lebih banyak berkali-kali lipat dari populasi penduduk yang ada di sini. Bukankah hal itu sudah cukup membuktikan kalau kami tidak lemah seperti dugaan kalian ... '' tambah Anindira dengan sedikit senyum di wajahnya menunjukkan kebanggaan atas kaumnya. ''Tapi, itu juga tetap tidak bisa jadi tolak ukur, jumlah juga bukan penentu sebuah kemenangan atau keberhasilan sesuatu ... Intinya ada banyak aspek pertimbangan atas segala sesuatunya, situasi dan kondisi juga turut mempengaruhi. Hanya itu yang bisa kukatakan, seandainya ayah atau ibuku, pasti bisa lebih baik menjelaskannya ... '' ujar Anindira, menutup penjelasannya dia menghela nafas panjang merasa lega masih punya kesempatan untuk menjelaskan kenapa dia marah karena ayahnya di hina.


Keduanya kemudian terdiam, larut dengan pikiran mereka masing-masing memikirkan hasil dari pembicaraan mereka. Setelah beberapa waktu kemudian daging sudah siap untuk di makan. Halvir merobek bagian paha dan meletakkan di atas daun memberikannya pada Anindira, memecah keheningan mereka tadi. Anindira segera mengambilnya dan seperti biasa Anindira mencubit daging membungkusnya dengan daun dan memakannya, begitulah biasanya dia makan.


''Ah!... Kak sejak tadi aku sangat ingin bertanya, apa kau sangat lapar?'' tanya Anindira mulai bicara sambil makan. Dia berani bicara lagi setelah merasa kalau Halvir menurunkan ketegangannya dan mulai ramah lagi saat memberikan potongan besar paha padanya tadi.


''Kenapa?'' Halvir balik bertanya sambil terus menggigit dan mengunyah daging di tangannya.


''Ada dua macan besar yang kau buru, dan juga keduanya masih dalam keadaan hidup, mau di apakan? ... Apa mau di pelihara?'' tanya Anindira penasaran.


''Aku kebetulan menemukan mereka, saat sedang memperebutkan betina yang birahi'' jawab Halvir acuh.


Saat ini yang sedang di makan oleh mereka hanya kambing gunung, sedangkan dua ekor 'Saber tooth' di biarkan hidup dan di ikat oleh tali dari kulit kayu, mereka di gantung untuk melemahkan pergerakannya.


''Aku akan menukarnya dengan beberapa tembikar, mereka harus tetap segar agar nilai tukarnya tinggi'' jawab Halvir.

__ADS_1


''Tem-bi-kar ... Apa itu kak?'' tanya Anindira tidak mengerti dengan kata-kata itu.


''Akan kuperlihatkan padamu nanti, aku juga akan membuatkanmu baju ... '' ujar Halvir dengan mood yang tampak sudah baik.


''Baju? ... Kakak akan menjahit?'' Anindira bertanya dengan sangat antusias.


''Tidak! '' seru Halvir menjawab, ''Aku tidak tahu ...'' tambahnya lagi.


''Lalu? ...'' tanya Anindira mengerutkan dahi sambil memiringkan kepalanya, ''Kak, aku tidak tahu caranya menjahit .... '' ujar Anindira melanjutkan dengan wajah memelas.


''Aku tidak menyuruhmu menjahit'' ujar Halvir menjawab Anindira, dengan dahi yang juga ikut mengerut, '' Aku akan pergi ke Kerajaan Singa, di sana ada Klan Herbivora ... Kita akan menyediakan bahan yang akan di jahit, dan upahnya adalah *Amber atau daging dan kulit yang mereka butuh kan'' lanjut Halvir menjelaskan.


''Enam hari ... Pulang dan pergi setidaknya 2 minggu'' jawab Halvir yang juga sambil makan.


''Wah lama ... Pasti jauh ... '' ujar Anindira terkejut, ''Merepotkan membawaku dan dua ekor harimau besar'' ujarnya lagi melanjutkan.


''Aku tidak akan membawamu ... '' ujar Halvir menjawab, mengejutkan Anindira.


Anindira langsung berbalik menengok ke arah Halvir dan menghentikan makannya, dengan wajah hampir menangis.

__ADS_1


''Dira, jangan melihatku begitu! Bersabarlah sedikit ... '' seru Halvir dengan tangan besarnya membelai kepala Anindira. ''Aku memang salah ... Aku selama ini terlalu acuh dan tidak peduli ... Sungguh, aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi padaku ... Aku tidak pernah menyiapkan apa pun ... '' lanjut Halvir dengan wajah teduh, ''Seperti yang kau lihat, di rumahku tidak ada barang apa pun yang bisa membantu keseharianmu sebagai seorang wanita.'' ujar Halvir meneruskan penjelasannya karena melihat wajah Anindira yang mulai memelas menatapnya. ''Bukan hanya itu, aku juga hanya punya sedikit cadangan makanan untuk musim dingin nanti. Biasanya musim di panas ini, adalah waktu yang tepat untuk menyimpan cadangan makanan. Tapi, aku sudah melewatkan setengah dari musim panas.'' tambahnya lagi dengan wajah semakin sayu. ''Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu, kalau aku tahu, tentu aku akan lebih mempersiapkannya'' ujarnya melanjutkan


''Jadi, karena aku? ... '' tanya Anindira memelas, ''Kak, aku janji, aku tidak akan mengeluh lagi, aku akan makan lebih sedikit kalau memang hanya sedikit, aku makan tidak banyak. Kakak hebat dalam berburu, walau tidak banyak cadangan makanan, kita tidak akan kelaparan'' ujar Anindira merayu Halvir.


''Dira ... '' panggil Halvir lembut, dia juga segera membawa Anindira duduk di atas pangkuannya. ''Masih ada kesempatan, setidaknya, aku ingin memanfaatkan itu. Aku hanya seorang diri Dira, sekuat apa pun aku. Itu tidak mungkin, aku akan kewalahan ... Dan aku tidak mau keadaan jadi lebih buruk jika terjadi sesuatu padamu'' ujar Halvir mengungkapkan perasaannya. ''Kita butuh banyak hal untukmu. Aku akui, ini kesalahanku ... Aku memang tidak menyangka kalau aku ... Akan mengalami juga hal ini, aku pikir, dengan karakterku, itu sesuatu yang tidak mungkin.'' ungkap Halvir tentang kecerobohannya, ''Dan sekarang, buruan yang kudapat akan aku tukar untuk kebutuhanmu. Musim panas sudah separuh jalan, sebentar lagi akan datang musim hujan, di musim itu kita tidak akan bisa menyamak kulit dan mengawetkan daging.'' ujar Halvir menjelaskan, ''Persediaan Amber yang aku miliki hanya tinggal sedikit, itu sangat jauh dari cukup ... '' Halvir terus melanjutkan penjelasan panjang lebarnya, dengan Anindira menyimak dengan serius penjelasan Halvir dia atas pangkuannya. ''Apa lagi untuk musim dingin nanti, kemungkinan besar musim dingin periode ini akan berlangsung dua tahun, untuk itu kita butuh ratusan Amber untukmu. aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu di musim dingin nanti, tapi setelah kuberikan pada Kepala Desa nanti ... Dan juga untuk pertukaran di Kerajaan Singa nanti *amber yang kumiliki bahkan tidak akan cukup untuk melewati sepertiga musim dingin. Aku harus segera kembali ke Hutan Larangan secepatnya'' lanjut Halvir menjelaskan degan wajah memelas meminta pengertian Anindira.


Anindira menatap Halvir dengan wajah cemas, dia menyimak dengan baik kata-kata Halvir tapi ada beberapa kata yang dia tidak paham. Tapi, karena hati Anindira sedang sedih karena tiba-tiba Halvir akan pergi meninggalkannya membuatnya tidak bisa berpikir apa-apa.


***


Di dunia ini musim dingin akan terjadi sangat panjang, dan banyak perempuan jatuh sakit karenanya. Amber wajib ada untuk setiap rumah tangga yang ada wanitanya. Amber menjadi komoditi yang sangat berharga, karena *Amber adalah obat untuk memperkuat kondisi fisik, baik itu pria mau pun wanita.


Di musim hujan dan musim dingin setiap rumah tangga harus punya persediaannya, wanita yang memang bertubuh lemah sangat mudah sakit di musim itu, suhu dingin yang ekstrem membuat mereka kedinginan dan akhirnya akan sangat mudah sakit. Saat musim dingin biasanya wanita yang dalam kondisi sehat dan bugar minimal satu kali dalam satu bulan harus memakan Amber, jika ingin kondisi fisiknya tetap terjaga dan sehat, tapi jika si wanita dalam kondisi sakit akan butuh lebih. Rata-rata untuk wanita yang sangat sehat sekalipun dalam dua tahun musim dingin panjang butuh minimal dua puluh Amber.


Hanya sekitar sepuluh sampai tiga puluh persen dari populasi Klan Herbivora yang bisa naik level, rata-rata mereka bahkan tidak bisa naik level sama sekali. Walau begitu, mereka di berikan kelebihan berupa ketekunan, keuletan, dan ketelitian yang luar biasa. Karenanya posisi penjahit, pembuat perhiasan, pembuat tembikar, menjadi petani, juga tak kalah penting, menjadi seorang dokter, mereka yang melakukannya.


Mereka juga butuh kulit dan daging sebagaimana para Predator, tapi karena mereka tidak cakap dalam berburu maka para Klan Predator yang melakukannya. Karenanya antara Predator dan Herbivora bisa tetap menjaga keseimbangannya, itu sebabnya jasa dari para Herbivora yang tidak bisa di kerjakan oleh para Predator bisa di tukar dengan *Amber.


Sebagian dari herbivora adalah dokter, berkat kemampuan itu mereka cukup di hormati. Hans sejatinya adalah salah satu dari Klan Predator, sangat langka seorang Predator bisa mengerti dengan baik tentang pengobatan dan obat-obatan, hanya sedikit Predator yang bisa menjadi seorang dokter kurang dari satu persen dari jumlah dokter di Klan Herbivora.

__ADS_1


***


__ADS_2