WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
Ganti baju


__ADS_3

Halvir keluar dari sungai setelah mendapat tiga ekor ikan besar, masing-masing beratnya antara 5-10kg. Selesai mandi dan mendapatkan ikan, Halvir naik ke tempat lebih kering, meletakkan ikan yang sudah di bersihkan di atas daun dan mengumpulkan ranting untuk di bakar. Anindira juga sudah selesai mandi dan segera naik menyusul Halvir.


''Kau tidak mengganti bajumu?'' Halvir bertanya dengan ekspresinya yang seperti biasa, masih tetap dengan wajah datarnya, dia melihat Anindira yang basah kuyup dengan baju basahnya membuatnya heran


''Ehmh ... Itu, nanti saja di rumah, aku akan ganti baju .... '' Anindira menjawab sambil menunduk malu-malu.


''Kenapa harus menunggu nanti? ... '' tanya Halvir dengan wajah tidak senang, ''Apa baju yang tadi kuberikan sudah di bawa?! ... '' tanya Halvir menyelidik, ''Apa kau tidak menyukainya? Akan kucarikan yang lain nanti, yang sesuai seleramu'' ujar Halvir dengan nada yang sedikit tinggi tapi tetap berusaha menjaga intonasinya agar Anindira tidak takut.


''Kak, maaf ... Bukan, bukan begitu ... '' ujar Anindira terkejut, ''Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggungmu ... '' ujar Anindira lagi dengan wajah cemas, ''Apa yang kau berikan padaku sudah lebih dari cukup, aku sangat bersyukur, aku tulus mengatakannya,'' ujar Anindira menjelaskan, dia takut Halvir tersu=inggung dengan perbuatannya, ''Hanya saja ... Itu ... Di sini .... '' ujar Anindira dengan kepala menunduk dan suara terbata-bata, dia sungkan karena sudah banyak merepotkan Halvir.


''Ada apa? ... '' tanya Halvir dia kasihan melihat Aninidra gugup, ''Ayo katakan!'' seru Halvir tegas, ''Aku tidak akan tahu kalau kau hanya diam ... '' ujar Halvir yang kemudian berseru mengingatkan Anindira agar mengatakan apa pun yang dia mau.


''Anu ... Kak Halvir ... Itu ... Tidak ada tempat untuk ganti baju di sini, aku ... Tidak nyaman membuka baju di tempat terbuka'' ujar Anindira menjawab dengan wajah tersipu.


Jawaban Anindira menyentak Halvir sekaligus membuatnya malu, dia lupa bahwa Anindira itu seorang wanita. Selama ini dia sudah terlalu nyaman bersamanya selama beberapa bulan ini. Semua hal itu membuatnya lupa, kalau yang bersamanya sekarang itu seorang wanita, bukan pria. Dia yang sudah empat puluh tahun hidup sendirian, tidak terbiasa dengan perhatian khusus untuk orang di sekitarnya. Kebanyakan wanita selalu terlihat tidak nyaman dengannya, dia tidak terlalu banyak berinteraksi dengan mereka kecuali dengan Ezra dan Zia.


''Maaf! ... Tidak, itu ... Maafkan aku Anindira, aku benar-benar lupa ... '' Halvir sedikit kikuk, tapi tetap tidak terlihat ekspresi apa pun di wajahnya.


Halvir segera bangun dan menengok ke sana kemari dan membawa Anindira ke belakang pohon besar dengan semak-semaknya yang rimbun.

__ADS_1


''Ganti bajumu di sini!'' seru Halvir memerintah, ''Jangan khawatir, aku akan berjaga di sini ... '' ucap Halvir pada Anindira kemudian berdiri di depannya.


''Di sini?! ... '' seru Anindira menjawab Halvir sambil mengerutkan dahinya.


''Eum! ... '' seru Halvir menjawab dengan anggukan, ''Kau akan sakit jika tidak segera mengganti bajumu, tenang saja aku akan berjaga untukmu di sini ... '' ujar Halvir melanjutkan.


Dahi Anindira semakin berkerut, wajahnya masam dan matanya sedikit melotot. Melihat Halvir dengan tidak senang, kemudian mendengus dengan sangat ketus karena kesal.


Halvir bisa melihat dengan jelas kalau Anindira dalam mood yang buruk sekarang tapi dengan santainya dia mengacuhkannya, dalam budaya Halvir, Anindira adalah miliknya, tapi Anindira yang datang dari dunia lain tidak mengerti akan hal itu.


''Kenapa?!'' seru Halvir bertanya, dia tidak mengerti, tapi dia tahu Anindira kesal padanya sekarang. ''Kalau kau tidak bicara aku tidak akan tahu ... '' ujar Halvir melanjutkan, karena Anindira diam saja dan hanya menatapnya dengan wajah kesal sambil terus bersungut.


''Aku akan ... Aku akan ganti baju, tapi kenapa kak Halvir harus ada di sini? ... '' ujar Anindira menjawab dengan ketus.


''AAHH!! ... '' seru Aninidra memekik dengan wajah frustrasi, ''Menyebalkan! ... Itu artinya kak Halvir yang akan melihatku?'' seru Anindira menjawab, semakin kesal Anindira di buat oleh wajah polos Halvir.


''Apa yang salah dengan aku melihatmu? ... '' tanya Halvir menjawab pernyataan Anindira, masih dengan wajah datarnya, yang tanpa bersalah.


Halvir bisa melihat dengan jelas kalau emosi Anindira sedang dalam keadaan yang buruk, tapi egonya sebagai seorang pria mengacuhkan hal itu karena dia merasa tidak membuat kesalahan apa pun.

__ADS_1


''HAH!! ... TENTU SAJA SALAH!!! ... '' seru Anindira geram, antara marah dan bingung Anindira menanggapi Halvir yang terlihat sangat polos walau dengan wajah garanganya.


''Apa harus diucapkan sejelas-jelasnya?! ... Kanapa harus di jelaskan? ... Bukankah dia tahu kalau perempuan itu tidak bisa BUGIL DI PUBLIK! ... '' seru Anindira dalam hatinya, dia benar-benar jengkel dengan kelakuan Halvir sekarang.


''Apa yang salah?'' tanya Halvir, ''Aku walimu Anindira ... '' ujar Halvir kemudian.


''Hah!! ... Apa itu wali?... Maksudnya? Apa? ... Ah! ... Sudahlah ... '' seru Anindira bertanya dalam hatinya, dia sudah kesal dan ingin menyudahi perdebatan ini.


''BAIKLAH! ... '' seru Anindira ketus, sambil membalik tubuh Halvir agar berdiri membelakanginya. ''Jangan berbalik sebelum aku memberi ijin! ... Mengerti!'' seru Anindira memerintahkan, Halvir hanya mengangguk mendengar itu.


Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka duduk di depan api dan membakar ikan, Anindira memakai atasan Halvir yang terlihat persis seperti Daster kedodoran di tubuhnya yang kecil. Bahkan Anindira bolak-balik menaikkan kerahnya yang selalu turun dan memperlihatkan pundaknya, karena kerah bajunya terlalu besar.


''Maaf, bertahanlah sedikit, aku tahu itu tidak nyaman ... Aku akan segera menyiapkan segala keperluanmu secepatnya ... '' ujar Halvir menunjukkan wajah sedikit muram melihat ketidak nyamanan Anindira memakai pakaian kebesaran miliknya.


***


Anindira hanya bisa mengangguk dengan perasaan malu dan juga hati yang terluka, kalau ini di dunianya sudah pasti dia akan menolaknya, tapi sekarang, hanya ini yang bisa di lakukannya untuk bertahan hidup, dengan terpaksa dia harus bermuka tembok menerima semuanya, bergantung secara penuh padanya. Tiga bulan melakukan perjalanan di hutan, memberikannya pengalaman dan pelajaran yang lebih dari cukup. Sekuat apa pun dia, bahkan tidak sehari pun dia akan bertahan sendirian di hutan itu.


Selama tiga bulan, mereka bukannya menghadapi perjalanan yang mulus tanpa hambatan, ada banyak binatang buas yang mengintai dan siap memangsanya kapan saja. Bukan sekali atau dua kali mereka di hadang binatang buas dalam perjalanannya, bahkan pernah beberapa kali Halvir harus menghadapi kawanan anjing-anjing liar, juga gerombolan serigala yang selalu berakhir dengan meninggalkan beberapa luka di tubuhnya.

__ADS_1


Bahkan jika ada kakak-kakak laki-laki Anindira sekalipun, mungkin mereka tetap tidak akan bertahan, ukuran tubuh binatang-Binatang-binatang liar di sini lebih besar dari ukuran binatang di dunianya, anjing-anjing yang pernah menyerang mereka ukurannya sama seperti Harimau Siberia, bukan hanya itu, Anindira juga pernah melihat sekelompok kawanan Mammoth bahkan Sabertooth pun pernah menghadang dan berakhir di kuliti oleh Halvir. Ada pun tupai dan juga kelinci, jadi salah satu menu makan mereka selama di hutan.


Semakin Anindira menyadari keadaan di dunia ini, semakin Anindira terikat dan bergantung pada Halvir. Selama tiga bulan Anindira sebetulnya mulai sadar dengan perasaan di hatinya, semakin hari kekaguman semakin tumbuh di hatinya, bukan hanya karena kekuatannya tapi juga karena karakternya. Berkali-kali Halvir telanjang di hadapan Anindira dan hal itu selalu membuat Anindira panik ketakutan di awal-awal minggu, tapi akhirnya membentuk suatu kekaguman yang membuatnya terpesona.


__ADS_2