
Sudah tiga bulan, Anindira tidak lagi canggung atau risih, Anindira sudah nyaman bersama Halvir. Walau dia sempat terkejut karena mendapat peringatan dari Halvir tadi, tapi, Hans tersenyum melihat kelakuan Halvir yang terlihat jelas kalau dia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
''Mana obatnya?! Kau sudah selesai kan?!'' seru Halvir bertanya, sambil mengendong Anindira dia meminta obat yang sudah di racik Hans.
Hans kesal karena Halvir tiba-tiba menghentikan perbincangan serunya, dengan kesal dia menyerahkan bungkusan obat dan menjelaskan aturan minumnya dengan ketus, Halvir tahu kalau Hans jengkel tapi dia tidak peduli, dia tidak mau wanita yang sudah di akui sebagai miliknya akrab dengan pria lain. Anindira dan Halvir pamit kemudian turun dari rumah Hans lalu berjalan menuju rumah Halvir.
''Kak ... Di dekat sini pasti ada sungai?'' tanya Anindira, ''Aku ingin mandi ... '' ujarnya Anindira melanjutkannya.
Penampilan Anindira memang berantakan, rambutnya kusut dan cepal, badannya lengket dan terasa kusi, tubuhnya kotor di sana-sini. Walau sulit untuk mengurus dirinya selama perjalanan panjang dengan Halvir, tapi dia cukup pintar untuk merawat dan menjaga tubuhnya, apa lagi ada banyak bahan alami dan natural melimpah tersedia di sepanjang perjalanannya. Anindira setiap malam mengoleskan kayu putih dan kadang-kadang kulit jeruk, membuat kesehatan dan kelembaban kulit Anindra cukup terjaga, selain bagus untuk mengusir nyamuk kayu putih membantu menjaga kelembaban kulit, mencegah kutu parasit dan ketombe di kulit kepalanya. Kulit jeruk membantu membersihkan pori-pori dan memberikan asupan vitamin C, ada juga sisa bahan lain dari sisa-sisa buah yang di makan Anindira.
Karena saat Anindira tiba adalah awal musim panas, selama perjalanan di hutan tidak ada hujan sama sekali. Air yang ada terbatas hanya untuk minum. Anindira hanya bisa membersihkan diri dengan daun-daunan setelah panggilan alam, itu sangat sangat tidak nyaman, apa lagi bagi wanita sepertinya.
''Ada ... '' jawab Halvir singkat.
''Yeay ... '' seru Anindira mengangkat tangannya. ''Bawa aku ke sana!'' seru Anindira dia bereaksi senang sekali.
''Baiklah kita akan ke sungai ... '' jawab Hans sambil tersenyum melihat kelakuan Anindira yang memang sangat mirip dengan Zia, kekanakan.
''Yeay ... Aku bisa mandi .... '' ujar Anindira kegirangan mengacuhkan Halvir yang terus tersenyum geli melihat kelakuannya.
''Kau sesenang itu?! ... '' seru Halvir bertanya sambil tersenyum memencet hidung Anindira.
''Hmmh ... '' angguk Anindira dengan sangat antusias. ''Tentu! ... '' seru Anindira menjawab, wajah Anindira berseri-seri penuh semangat.
''Tapi kita akan pulang dulu ... '' ujar Halvir.
__ADS_1
''Hah?!'' seru Anindira terkejut, ''Kenapa?'' tanya Anindira kecewa.
''Kita harus ambil baju ganti dulu, kau sudah tiga bulan tidak ganti baju ... Tenang saja tidak akan mengambil banyak waktu, lagi pula rumahku tidak jauh dari sungai'' ujar Halvir, menenangkan Anindira yang manmpilkan wajah kecewa.
''Benarkah?!'' seru Anindira kembali memekik kemudian senyum segera kembali di wajahnya, ''Baiklah'' ujar Aninidra dengan senandung anehnya.
Sejam kemudian mereka sampai ke tujuan, sama seperti yang lain, rumah Halvir ada di ketinggian di atas dahan pohon, Halvir menaikinya dengan sambil menggendong Anindira dengan cekatan seperti biasa naik dan masuk ke rumah yang sudah penuh debu.
''Kak ... Sudah berapa lama tidak pulang?'' tanya Anindira, dia melihat debu yang cukup tebal di sana sini.
''Mungkin ... Lima bulan''
''Uwah!! ... Lama! Apa kakak sering meninggalkan rumah?''
''Ha?! ... Lalu kenapa butuh waktu tiga bulan saat denganku?'' tanya Anindira heran.
''Aku harus memperlambat, tubuhmu tidak akan bisa mengimbangiku'' jelas Halvir.
''Ah! Iya,yah ... '' ujar Anindira menjawab sambil menepuk dahi, ''Hehehe ... '' lagi-lagi tawa aneh Anindira muncul.
Sebetulnya, Halvir memberikan Amber emas pada Anindira saat dia tidur, setiap beberapa Hari sekali. Itu sebabnya staminanya tetap terjaga walau tempatnya ekstrem, dan perjalanan panjang, selama perjalanan Halvir menghabiskan lebih dari empat puluh Amber untuk bisa menjaga ketahanan fisik Anindira.
''Akh! ... '' seru Anindira kemudian memekik, ''Maaf, aku benar-benar sudah merepotkan dan menyusahkanmu ... '' ujar Anindira dengan wajah menyesal.
''Aku tidak mengatakannya untuk membuatmu murung, apa aku membuatmu kecewa?'' tanya Halvir menaggapi wajah murung Anindira.
__ADS_1
''Eh! ... Tidak!'' seru Anindira tegas, ''Mana mungkin! Kau sangat baik padaku'' seru Anindira membantah ucapan Halvir.
''Apa perjalanan yang kita lakukan berdua menyenangkan?'' tanya Halvir kemudian.
''Tentu saja! Saaangat senang ... Pengalaman yang sangat menakjubkan ... '' Anindira memberikan ekspresi berseri-seri dengan tersenyum lebar saat menjawabnya.
''Itu cukup ... Asal kau bahagia, aku akan sangat bahagia. Anindira aku senang bisa bertemu denganmu, perjalanan kita adalah perjalanan indah untukku, aku bahagia bisa membawamu bersamaku .... '' jawab Halvir sambil menepuk lembut kepalanya.
''Ini ... Aku menemukannya, memang akan terlalu besar untukmu, tapi kita bisa gunakan ikat pinggang agar kau bisa memakainya ... Tapi bertahanlah sedikit, aku akan pergi ke Kerajaan mencari penjahit dan membuatkanmu baju yang nyaman'' ujar Halvir sambil mengeluarkan baju dari dalam peti, dan memberikannya pada Anindira.
***
Halvir mengeluarkan sebuah baju dari kulit binatang, berkerah bulat dan tangan pendek, ternyata ada baju atasan di sini. Pikir Anindira hanya ada bawahan yang seperti rok yang mereka pakai. Rok panjang dengan beberapa aksesori dan ornamen di pinggang, dari yang terlihat waktu di gerbang tadi, juga yang di pakai Hans, mereka mengembangkan style mereka sendiri, sangat kreatif tampak seperti milik desainer. Ada yang pendek ada yang panjang, ada yang dililit, di ikat, di padu-padankan dengan beragam aksesori dan ornamen yang unik dan cantik tampak seperti para model. Anindira juga baru sadar dia hanya melihat pemuda-pemuda tampan rupawan dengan tampilan fisik tinggi dan gagah.
Karena ini musim panas, mereka tidak mengenakan baju atasan, suhu tubuh Manusia Buas sendiri sudah panas, 37-39 derajat Celsius adalah suhu normal tubuh mereka. Baju itu dari bahan kulit binatang yang tebal dan tidak menyerap keringat, akan membuat mereka tidak nyaman.
***
''Terima kasih'' tidak ada kata lain yang bisa di ucapkan Anindira, dia tidak bisa menolak karena dia memang membutuhkannya, ''maaf sudah merepotkanmu'' hanya bisa terucap di dalam hati.
''Ayo! ... '' seru Halvir pada Anindira, ''Aku akan membawamu ke sungai, kita akan membersihkan diri ... Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian untuk pergi berburu, sebentar lagi akan gelap, aku hanya akan mencari ikan saja di sungai untuk kita makan, apa kau keberatan? .... '' tanya Halvir sambil menggendong Anindira turun.
''Keberatan?! ... Tentu saja tidak .... '' ujar Anindira menjawab dengan segera.
Anindira segera masuk ke dalam air dengan bajunya, di tempat umum tidak mungkin dia bugil, lain halnya dengan Halvir, dia bugil dan langsung masuk ke dalam air. Dalam tiga bulan perjalanan mereka, setiap malam dan pagi Halvir pasti akan bugil di depan Anindira, sekarang melihat Halvir bugil sudah jadi keseharian Anindira.
__ADS_1