WANITA UNTUK MANUSIA BUAS

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS
Perjalanan


__ADS_3

Anindira yang sudah mencerna makanannya, mulai merasakan lelah di sekujur tubuhnya. Waktu rileks dan perut yang kenyang membuat matanya mulai sayu. Kelelahan dan mengantuk, karena tidak ada lagi yang harus di lakukan, Anindira hendak merebahkan badannya. Tapi, Halvir segera menahannya, dia kemudian bangkit berdiri melepaskan pakaiannya. Anindira yang matanya tadinya sayu, tiba-tiba terbelalak kaget melihat pemuda tampan bertubuh kekar bugil di hadapannya.


''KAK HALVIR!'' seru Anindira menjerit, ekspresinya terkejutnya berbarengan dengan wajah marahnya.


Halvir tersentak melihat reaksi Anindira, apa lagi Anindira sempat hampir jatuh terpeleset karena terkejut dan refleks bergerak menjauhi Halvir.


''Hei! ... '' seru Halvir memekik, ''Hati-hati! ... '' seru Halvir terkejut, diamenghardik Anindira sambil meraihnya secepatnya agar dia tidak jatuh. ''Kenapa kau ketakutan begitu?'' tanya Halvir dengan wajah tegang.


''Kak-kak ... Kak ... '' panggil Anindira dengan degup jantung langsung berubah ritmenya jadi sangat cepat, ''Ma-ma-mau apa?! ... '' seru Anindira bertanya, dengan tubuh gemetar mencoba menjauhkan diri dari Halvir yang masih memegang tubuh Anindira. ''Ke-ke-kenapa di ... Di ... Di le-le-pas?!?? ... '' seru Anindira berteriak dengan terbata-bata. Anindira mendongak melihat Halvir yang bugil, tubuh Anindira bukan lagi kedinginan tapi panas sampai sampai rasanya bisa melihat uap panas mengepul di wajahnya.


''Ada apa?! ... '' tanya Halvir heran, ''Tenanglah! Apa yang membuatmu takut?'' seru Halvir bertanya, dia heran dengan kelakuan aneh Anindira yang tiba-tiba ketakutan.


Anindira dengan serampangan berusaha melepaskan diri dari Halvir yang mendekapnya, Anindira salah paham dan risi dengan tindakan tiba-tiba Halvir. Halvir yang memiliki perbedaan budaya dengan Anindira sama sekali tidak mengerti kenapa Anindira ketakutan, semuanya semakin kacau karena Anindira semakin panik.


Halvir sama sekali tidak tahu kalau Anindira memiliki berbagai pikiran buruk mengenai dirinya, karena saat ini Halvir bugil tanpa sehelai kain pun untuk menutupi tubuh besarnya yang terekspose jelas di hadapan Anindira. Gelapnya malam tidak bisa menutupi pemandangan vulgar di hadapannya sekarang, karena cahaya bulan purnama dengan indahnya menerangi tubuh Halvir yang tampak gagah dan berotot.


''A-a-aku ... Aku pikir ... Ka-ka-kau orang baik ... '' ujar Anindira masih terbata-bata dengan bibir bergetar, ''Aku ... Aku ... Tidak tahu, kalau ... Ternyata kau juga punya pikiran jahat ... '' ujar Anindira masih melanjutkan kegelisahannya. ''Jangan macam-macam! ... '' seru Anindira tia-tiba menghardik di tengah kepanikannya. ''Aku tidak peduli! ... Aku tidak suka di perlakukan seperti ini! ... Aku akan melompat kalau kau melakukannya padaku!'' seru Anindira mengancam Halvir yang masih keheranan.


''Anindira! ... '' seru Halvir memanggil dengan dahi mengernyit, ''Ada apa denganmu?! ... '' seru Halvir bertanya, dia sama sekali tidak mengerti ucapan Anindira. ''Tenanglah! ... Atau kau akan melukai dirimu sendiri nanti ... Ini gelap, kau tidak bisa melihat dengan baik saat ini ... ''seru Halvir memperingatkan Anindira dengan tegas.

__ADS_1


''Mundur!'' seru Anindira memekik tetap dengan kelakuan paniknya. ''Jangan mendekatiku! ... '' seru Anindira terus menghardik Halvir, dia memperingatkannya.


''Anindira, hati-hati!'' seru Halvir masih dengan lembut berusaha menenangkan Anindira.


''Jangan mendekat! Jauhi aku! ... '' seru Anindira menyahut, dengan marah.


''ANINDIRA!'' seru Halvir berteriak, dengan aura yang tampak menyeramkan, wajahnya tidak lagi ramah seperti sebelumnya, dia kesal melihat Anindira bereaksi kacau tidak karuan.


Tubuh Anindira langsung membeku, telapak kakinya seperti di paku tidak lagi bisa bergerak seinci pun, dia ketakutan tapi kali ini rasa takutnya karena aura menyeramkan yang terlihat di sekeliling Halvir. Anindira berdiri mematung tidak bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan ujung jarinya sekali pun, untuk berkedip saja dia sulit.


Halvir menghampiri Anindira yang kaku mematung, membawanya untuk kembali duduk. Aura di sekitar Halvir tampak sangat menakutkan bagi Anindira tapi Anindira juga tidak menampik perasaan aman saat tangan Halvir dengan lembut membawanya perlahan dan hati-hati. Halvir kemudian menarik Anindira ke dalam dekapannya, Anindira berusaha meronta tapi kalah kuat dari Halvir dan malah di dekap lebih rapat dalam pelukannya.


Kurang dari satu menit, Kejadian tadi pagi yang sempat dilupakan Anindira kembali terjadi. Hanya kali ini sebaliknya manusia Halvir berubah wujud menjadi Jaguar hitam, lagi-lagi Anindira di buat syok. Keterkejutannya sudah mencapai batas yang bisa di terimanya, tidak lagi mampu berkata-kata, pikirannya pun kosong. Tubuhnya lelah, dan dia juga sangat mengantuk, pada akhirnya harus menyerah dengan keadaaan. Dia akhirnya tertidur di atas tubuh jaguar Halvir yang lembut dan hangat, pakaian Halvir yang walaupun hanya penutup bagian bawah tubuhnya tapi cukup untuk jadi selimut Anindira yang bertubuh mungil.


**


Kurang lebih sudah hampir 3 bulan semenjak Anindira melakukan perjalanan bersama Halvir, komunikasi di antara mereka pun sudah jauh lebih baik, Anindira sudah lancar berbicara dengan bahasa Halvir, tidak lagi perlu di dikte, bahkan obrolan panjang pun sudah di pahami dengan baik oleh Anindira. Jauh di depan sana sudah terlihat perbukitan raksasa gagah berdiri yang terlihat seperti benteng, beberapa pria-pria muda yang tampan dan gagah terlihat berdiri di puncak-puncak bukit memperhatikan sekeliling.


''Mereka adalah para penjaga desa ... Di belakang mereka, ada desa tempatku tinggal ... '' ujar Halvir menjelaskan, dia melihat Anindira yang memperhatikan para penjaga dengan serius.

__ADS_1


''Desa?! ... Ada banyak orang? ... '' tanya Anindira, dia begitu antusias mendengar ada desa, dia bisa menemui orang selain Halvir pikirnya.


''Eum ... '' jawab Halvir singkat sambil mengangguk.


''Kak ... Turunkan aku! Aku akan jalan sendiri ... '' pinta Anindira, sambil menepuk-nepuk bahu Halvir.


''TIDAK!'' jawab Halvir tegas.


''Kak ... '' panggil Anindira merengek.


''Kau melakukan perjalanan jauh, kau lelah. Akan kubawa kau memeriksakan diri dulu kepada Hans'' ujar Halvir menjawab dengan mengacuhkan Anindira yang cemberut.


Anindira hanya bisa bersungut, dengan dahi berkerut, dia menyerah tidak bisa membantah Halvir. Meski wajah Anindira tampak jelek karena bersngut tapi respons Anindira terlihat lucu dan menggemaskan bagi Halvir.


**


Beberapa saat kemudian mereka berdua telah memasuki gerbang desa, para penjaga itu menyapa dengan ramah dan penuh hormat pada Halvir, semua melihat ke arah Halvir sambil saling memandang di antara mereka, mereka penasaran tapi tidak ada yang mendekat atau bertanya.


Sebetulnya hal ini sudah biasa bagi mereka semua, melihat Halvir membawa wanita bersamanya tapi entah kenapa untuk kali ini kesan yang mereka dapat berbeda. Walau mereka merasa ragu saat melihat Halvir tampak dengan lembut bicara dan memandang Anindira, salah satu yang membuat mereka aneh adalah Anindira tampak sangat nyaman bersamanya dan Halvir juga terdengar aktif berbicara, tapi walau para penjaga itu melihat dan mendengarnya sendiri tapi mereka juga tidak merasa yakin.

__ADS_1


__ADS_2