WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"

WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"
cinta pertama


__ADS_3

Bayangan wajah tersurat dalam genggaman kuasa dan tersirat dalam dada sang penebar


cahaya. Indah wajah itu berseri ditaman hati, menebar wangi dipagi hari. Gambaran seseorang


yang memiliki paras yang diciptakan sang kuasa betapa sempurnanya mahluk yang disebut


manusia, aku ingin memiliki berparas melati indah dipandang semerbak menawan bak sang


bidadari surgawi.


Mulai nyaman melihat bintang di malam hari, mulai tenang mendengar gemuruh angin


yang menyelimuti, menyapa lalu hilang bagai peri. Aroma hujan yang jatuh pagi hari membuat


orang rindu, hujan itu turun dan menghilang terserap tanah amarah.


”Kau selalu menghilang disaat aku membutuhkanmu“,


“Aku benci berada di tempat kau tak ada, disaat kau tak ada aku selalu pergi dan kau tak bisa


menyusulku”.


“Aku tak akan merebut dan meminta masa lalumu sebab sekedar kupinang mimpimu saja sudah


membuatku meramu masa indahmuAku adalah anak dari kalangan orang yang memiliki kemampuan ekonomi rata-rata tidak


kaya, juga tidak miskin, namun cukup untuk menghidupi sehari-hari keluarga. Aku tinggal


didusun Desa Kawo. Sejak kecil tinggal bersama kakek dan nenekku. Dikarenakan orang tuaku


menikah pada umur yang sangat muda sehingga tak jarang perkelahian dirumah, terlibat cekcok


yang membuatku memilih nyaman tinggal bersama kakek dan nenek., Sani, adekku satu-satunya


tinggal dangan orang tua. Dari sinilah cinta pertama itu dimulai yaitu dari keluarga.


Sejak aku masih sekolah dasar, pada saat itu umurku tidak begitu paham akan cita, cinta


dan keindahan. Aku duduk dikelas lima, sejak saat itu aku sudah mengenal apa itu perkelahian


dalam keluarga. Sehingga masih terngiang–ngiang jelas menjalar setiap malam difikiranku,


bagaimana perkelahian antara suami-istri itu terjadi setiap hari. Aku tidak tahu dimana aku harus


melampiaskan rasa amarah, aku benci akan dunia pada saat itu. Setiap ada anak yang bahagia


didepan, aku buly mereka, dan ejekan dan umpatan selalu keluar dari mulut , bahkan tak sampai


disitu, aku pukul anak-anak itu sampai ia menangis, tak tahu jelas kesalahannya, yang jelas aku


benci melihat orang tersenyum didepanku, aku merasa diolok-olok olehnya.Aku menjadi anak-anak yang nakal, sering berkelahi dengan teman sekelas, bahkan sama


kakak kelas, saling cibir, saling jambak, bahkan tak jarang sampai berkelahi dengan laki-laki,


dengan alasan yang tidak jelas juga, bisa dikatakan senggol dikit-bacok, itulah aku dengan


kekuatan didalam tubuhku. Mungkin karena terbawa pengaruh dari orang tua yang setiap saat


berkelahi saling pukul-saling tendang, dan aku mungkin mengadopsi kekuatan dari bapakku,


cara berkelahi yang menjadi ciri khas dalam diriku.


Nilaiku dalam kelas juga tak ada yang bagus, jika aku mendapat nilai tujuh dalam kelas


itu berarti ada perubahan dalam diriku. Aku sering datang telat, masuk sekolah hanya untuk


mengganggu teman yang lain, tugas rumah juga tak pernah aku kerjakan, tak jarang guru- guru


juga memberikan hukuman padaku, namun aku tak kapok-kapok, selalu saja aku menjadi


sarapan guru, bahwa hukuman adalah makananku sebelum memuali pelajaran.


Namun aku mulai sadar, bahwa sikapku itu memang tidak dibenarkan, guru mencoba


membujukku untuk mengajakku berbicara, aku mulai menceritakan kisahku apa yang telah


terjadi dirumah. Sehingga guru mendapat kesimpulan bahwa orang tualah yang menjadi


penyebab rusaknya masa depan bangsa. Guru mengirim surat untuk orang tuaku, dengan secarik


amplop yang didalamnya terdapat surat panggilan untuk orang tua. Aku tidak tahu kalau itu


adalah panggilan untuk orang tua, kalau aku tahu mungkin aku akan sobek dan buang ke klosek


sekolah. Dihari berikutnya orang tuaku datang sesuai dengan surat yang aku berikan sewaktu


pulang sekolah yang dikasih oleh guru kelasku. Orang tua datang ke sekolah, akupun dipanggil


oleh guru ke ruang kepala sekolah.


Setiap siswa yang dipanggil oleh kepala sekolah adalah siswa yang sangat nakal dan


bermasalah. Siswa yang lain takut jika akan dibawa ke ruang kepala sekolah, tapi tidak


denganku. Ada dua alasan biasanya kenapa siswa Sekolah Dasar itu dimasukkan kedalam ruang


kepala sekolah, kalau tidak karena pintar ya karena nakal. Dan aku adalah salah satu orang yang


dicap anak paling nakal disekolah. Sesampai diruang kepala sekolah, benar, yang hadir adalah


ibuku yang terlihat sudah duduk dikursi berhadapan dengan kepala sekolah. Aku tidak merasa

__ADS_1


takut, aku malah dengan bangga masuk keruangan itu, karena bisa saja nanti aku diberikan uang


saku disana, harapku. Uang menjadi motivasi untuk mengatasi rasa tegang saat itu.Aku duduk sebelah kiri ibu, dipeluknya dengan lemah lembut dan rambutku diraba-raba


dengan kasih sayang, serta berkata dengan tiada keputusasaan, “Nak, maafkan ibu, ibu akan


menjadi yang terbaik buatmu” dan seketika itu air mata dikelopak sudut mata yang tajam


mengalir deras, Tak ada kalimat yang terucap saat itu, hanya peluh dan air mata yang menjadi


penanda bahwa saat itu ada anak yang merindukan pelukan kasih sayang seorang ibu, dan semua


terharu melihat peristiwa itu. Kepala sekolah juga tak banyak berkomentar, hanya melihat kami


saling berpelukan dan sesekali menghapus mukanya, entah apakah kepala sekolah itu menangis.


Sejak saat itu juga, aku mulai diberikan kasih sayang cinta kasih yang besar kepadaku.


Aku mulai mengenal cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya dari ibu. Tak ada kata-


kata satupun dari guru kelasku. Beliau hanya duduk dan mengusap mukanya dengan kain halus


ditangannya.


“Nak, untuk hari ini, kamu pulang cepet dengan ibumu ya?” ujar kepala sekolah sambil suara


tersedu-sedu haru.


“Ya, Pak”, ucapku sambil kegirangan pulang.


Akupun berjalan pulang kerumah dengan tangan digenggam erat, dan tasku dibawakan


oleh ibu. Saat itu keluargaku mulai harmonis, entah apa yang membuat kedua orang tuaku


menjadi amat akur. Dan entah apa yang diucapkan kepala sekoah kepada ibuku. Aku tak tau,


yang jelas ibu berubah menjadi malaikat penebar rahmat.


Satu tahun berlalu aku beranjak naik kelas ke kelas enam. Aku menjadi sangat dewasa


dalam menghadapi segala hal, aku menjadi sangat bijak, entah tak tahu kenapa, oang-orang juga


berubah, mereka mulai tak berani padaku, tak ada satupun yang berani dekat. Aku mulai heran,


apakah aku bau badan, ataukah aku punya penyakit kusta?, tak tahu pasti, saat kejadian itu,


mereka mulai menghindariku. Aku tak terlalu memikirkan hal-hal kenaopa mereka menghindar,


yang jelas aku merasa ada yang berubah dari biasanya. Namun penampilanku tidak ada yang


jauh berubah, aku masih tetap dengan gaya pakaian seorang wanita namun tomboy. Lengan baju


yang di lipat, sepatu yang di pakai juga sepatu cowok, sempat ibu membelikan sepatu cewek


dipojok kelas paling belakang dengan beberapa mainan di tangannya. Aku mencoba


mendekatinya dan ikut duduk disampingnya. Aku tertawa dan diapun ikut tertawa, tertawanya itu


membuatku bahagia kala itu. Senyumnya menjadi penghias malamku. Anak laki-laki itu


bernama Geral. Geral yang aku lihat adalah sosok yang sulit bergaul, apalagi harus bergaul


denganku yang tomboy. Apa mungkin dia terpengaruh oleh teman-teman yang lain, aku juga


tidak tahu. Namun aku tak mau kalah, aku tetap memperhatikannya dikelas, dan mencoba


mencari teman. Karena kebetulan aku satu kelas dengannya. Aku selalu menggodanya berharap


dia suka padaku, laki-laki itu malah ketakutan, dia seolah melihat hantu disiang bolong.


Aku mulai berfikir, “Apa benar aku adalah hantu bagi anak-anak disekolah?” aku tak


begitu jelek, aku cantik menurut ibuku, aku juga pintar walau nilaiku tak pernah naik ke angka


tujuh, tapi buktinya aku tak pernah ketinggala kelas.


“Apa aku juga karena terlalu nakal, maka semua orang tak suka padaku?”,


Sudahlah, tak perlu aku fikirkan hal itu, yang jelas aku mulai tertarik dengan Geral, laki-laki


yang menjadi anak pendiam disekolah.


Teng.. teng..teng.. suara klakson bel bertanda keluar istirahat. Aku sengaja tidak keluar kelas,


karena aku tahu Geral pasti tak akan keluar kelas hari ini, karena aku tahu, diluar juga tidak ada


yang membuatnya merasa tertarik. Aku mencoba mendekatinya lagi, namun tetap dia


menghindar. Lari seperrti orang ketakutan.


Hey?, sapaku dengan lembut.


Dia tetap tak menegur balik,


“Kamu kenapa?” tanyaku sambil berjalan menghampiri.


Dia berlari dan keluar kelas. “Aneh”, aku teriak didepannya sesaat sedang lari keluar kelas..


“Anak-anak yang seperti ini harusnya dibuang dari peradaban”,


“Enggak cocok hidup dibumi”. Gumamku dalam hati .Ujian sekolah sebentar lagi, dan hari-hari dimana paling seru adalah Les sekolah. Aku suka les

__ADS_1


karea dari situ aku bisa bertemu dengan Geral lagi, menjadi wanita kriminal dalam hidupnya..


Kenapa tidak, anaknya baru didekati saja sudah kabur. Hanya sekedar tegur-sapa saja tidak


pernah. Laki-laki pendiam, itu julukannya.


Aku mulai serius masuk sekolah, datang tak pernah telat, PR selalu aku kerjakan,


berharap ada perubahan di sekolah, tak kunjung berubah, nilaiku hanya setandar, tidak pernah


naik-naik haya berkutit dengan angka enam, aku ingin nilai enam setengah saja dah, agar aku


bisa belajar lebih giat lagi, hanya dengan nilai standar?” aku tak mau hanya dengan nilai standar.


Ini masih jauh dari kata pintar, aku mencoba untuk mencari cara agar nilaiku tak berhenti di


angka enam, aku mulai mencari siapa nilai tertinggi daam kelas, dan benar, nilai itu disabet oleh


Geral anak laki-laki yang pendiam. Aku kembali kebangkunya dan minta bantuan agar


diajarkannya, dia sebenarnya mau kabur pindah, namun aku halangi dengan badan dan tidak


mungkin bisa kabur lagi dariku. Dan aku mencoba mengakrabkan diri dengan meminta bantuan


bagaimana cara mengerjakan soal matematika yang diajarkan tadi. Sebenarnya materi aku kuasai


Cuma karena soal latihan di papan yang dikasih guru berbeda dengan soal yang dibuku paket.


Jadi aku benar-benar merasa kesulitan cara mengerjakan soal itu. “Geral hanya bilang aku gak


bisa”.


Jelas!! anak kecil kelas enam mana bisa menjelaskan seperti guru, aku sebenarnya tak


butuh diajarkan matematika, yang aku butuhkan dia menjawab semua pertanyaan ringanku sudah


cukup membuatku bahagia.


Les menjadi sangat sering, dan aku mulai faham dengan soal-soal yang diajarkan berkat bantuan


Yana temanku yang mendapat juara bergilir dengan Geral anak laik-laki pendiam itu.


Yana selalu membantuku dalam hal matematika, aku tetap bertandang kerumahnya Yana


yang tidak jauh dari rumahku. Yana anak yang rajin, juga soleha, ia selau ikut mengaji di


mushola dekat rumah yang dipandu oleh ustad Man, kakak-kakaknya Yana juga ikut mengaji di


mushola, yang aku tidak suka dari Yana, dia selalu dipanggil oleh bapaknya pas sesaat sedang


bermain denganku, apakah aku punya pengaruh buruk padanya?, itu bapak-bapak kurang ajar,


melarang anaknya bermain denganku, kalau tidak sama Yana lalu aku bermain dengan siapa?,


semua anak menghindariku,. Namun Yana, tak tahu kalau aku iri padanya.Aku tak sebaik Yana, yang pernah ikut mengaji dimushola, selalu hadir tak pernah alfa.


Karena dengan keirianku padanya, maka aku ikut mengaji, disana aku melihat Geral, “wahh”,


”Ada Geral”. Semangatku kembali menggebu-gebu, aku menjadi semangat untuk ikut mengaji.


Motivasiku memang jelek, hanya karena ingin melihat Geral, anaknya tidak terlalu cakep, hanya


saja aku merasa tertarik karena orangnya pendiam, itu saja, tak lebih.


Hari kelulusan sekolah sudah diujung tanduk. Semua peroses sudah aku jalani, mulai


belajar mandiri, belajar berkelompok bersama Yana, belajar di waktu Les, tugas juga sudah aku


kerjakan dengan lengkap, namun nilaiku memang tak pernah naik selalu berkutit diangka


manusia terbalik yaitu enam. Ujian nasional juga kulalui dengan bahagia. Hari kelulusan sudah


tiba, kini aku mulai menunggu hasil ujian nasinal, dan aku Alhamdulillah mendapat nilai dengan


cukup tinggi, namun tak bisa mengalahkan Geral dan Yana. Mereka itu selalu menjadi yang


terdepan dikelas.


Hari perpisahanpun sudah tiba, sudah dirancang oleh guru kelas, setiap anak harus hadir


diacara perpisahan itu. Dan tentu saja aku tidak mau ketinggalan di acara bergengsi itu, harus


menggunakan pakaian seragam merah putih lengkap dengan dasi, aku hadir dengan gaya tomboy


yang selalu menjadi ciri khasku. Sebenarnya aku tak butuh bagaimana proses acara itu, yang aku


butuh adalah senyumnya Geral yang aku tunggu-tunggu selama beberapa tahun. Dan jelas saja


hari itu adalah hari terakhirku bertemu denganya, senyum itu kembali diberikan padaku ketika


hari dimana ada seksi poto-poto untuk poto di ijazah nanti, kebetulan harus menggunakan dasi,


maka ketika gilirannya Geral yang akan dipoto, ternyata dia tidak punya dasi, waktu itu dia tidak


memakai dasi, dan sontak aku langsung memberikan dasiku padanya, saat itulah senyum


terakhirnya aku lihat, bagaimana tidak, ternyata Geral akan masuk SMP diperaya dan aku akan


masuk di Pondok. Hari-hari aku jalani dengan pasti, tanpa pengharapan, dan tanpa penghianatan.


“Cinta itu bukan berapa lama kau bersamanya, tapi bagaimana saat kau pertama

__ADS_1


kali berjumpa dan tersenyum kepadanya”


__ADS_2