
IBU
Selalu saja begini!
Perbincanganku dengan ibu selalu bermuara pada sebuah pertengkaran. Endingnya bisa
ditebak, aku membanting pintu kamar sementara ibu menangis diruang tamu. Tak pernah ada
satu titikpun kesepakatan yang mempertemukan kami dalam sebuah persamaan. Semua selalu
menjadi menu rutin perang antara aku dan ibu. Untuk hal yang terakhir ini, kerap menjadi
sorotan beliau. Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku
menjadi wanita yang sesungguhnya.Semua selalu
menjadi menu rutin perang antara aku dan ibu. Untuk hal yang terakhir ini, kerap menjadi
sorotan beliau. Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku
menjadi wanita yang sesungguhnya.
__ADS_1
Kadang aku kasihan pada ibu. Sebab sekian lama berusaha mengubahku, tetap saja aku nikmat
dengan kebengalan yang seperti kata kakek dari ibuku, merupakan penyakit kronis yang butuh
perhatian ekstra. Mungkin ada benarnya juga. Ibu selalu menginginkan segalanya berlangsung
secara instant, mengharapkan aku berubah dalam waktu singkat, sesuatu hal yang sangat
mustahil. Lagi pula, apa susahnya sih menerima orang lain apa adanya dan membiarkan
seseorang menjadi dirinya sendiri?.
Seminggu yang lalu, ibu membersihkan dinding kamarku dari poster-poster David
satu-satunya dirumah telah dilanggar kedaulatannya oleh ibu, dan tentu saja aksi itu tanpa
sepengatahuanku. Ketika aku pulang dan mendapati dinding kamarku telah bersih, aku geram
sekali. Sebagai bentuk protes, aku kelayapan seharian. Ibu merasa kehilangan anak gadisnya
karena tak didapatinya seharian.
__ADS_1
“Berbuatlah apa yang kamu anggap benar”.
“Toh kata-kata sudah lama tak mendapat tempat di telingamu.“
Gendang telingaku menangkap puncak kemaraan ibu, bercampur isak tangis yang tertahan. Jika
ada pemilihan rekor muri siapa anak-anak yang sering menumpahkan air mata ibu itu yang
menyabet medali juara adalah aku.
“Ibu adalah, pembohong ulung yang tidak pernah jujur tentang dukanya”Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku
menjadi wanita yang sesungguhnya.
ibu selalu sabar menghadapiku, terkadang menangis selalu ia gunakan untuk menghadapiku. ibu pahlawan dalam hidup, ia menjadi penopang hidup, ia menjadi penyandar keluh kesah, ibuku tersayang, maafkan aku, aku tak seperti yang kau harapkan, menjadi wanita terbaik seperti yang kau inginkan. teringat masa kecilku, kata mereka diriku selalu dimanja, kata mereka diriku selalu ditimang, kau kan selalu menjadi terbaik, fikirkupun melayang, jauhtak terbayang, ibuku sayang, maaih terus berjalan, walau telapak kaki penuh darah penuh nanah, setiap doa doa kau selalu mengucap namaku terbaik"ya allah jadikanlah anakku menjadi anak yang soleha berbakti kepada orang tua, menjadi generasi penerus bangsa". setiap sujudmu kau bersimpuh agar aku menjadi terbaik didunia. apalah daya, aku ingin menjadi selalu terbaik untukmu ibu. maafkan segala kesalahanku, maafkan segala khilaf dan tak tahu diriku ini. Tak pernah ada
satu titikpun kesepakatan yang mempertemukan kami dalam sebuah persamaan. Semua selalu
menjadi menu rutin perang antara aku dan ibu. Untuk hal yang terakhir ini, kerap menjadi
sorotan beliau. Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku
__ADS_1
menjadi wanita yang sesungguhnya. satu yang ku inginkan ya allah, jauhkan segala mara bahaya darinya, jadikan ia murah rezeki, panjang umur, sehat selalu, tetap jadi terbaik,