WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"

WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"
ibu


__ADS_3

IBU


Selalu saja begini!


Perbincanganku dengan ibu selalu bermuara pada sebuah pertengkaran. Endingnya bisa


ditebak, aku membanting pintu kamar sementara ibu menangis diruang tamu. Tak pernah ada


satu titikpun kesepakatan yang mempertemukan kami dalam sebuah persamaan. Semua selalu


menjadi menu rutin perang antara aku dan ibu. Untuk hal yang terakhir ini, kerap menjadi


sorotan beliau. Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku


menjadi wanita yang sesungguhnya.Semua selalu


menjadi menu rutin perang antara aku dan ibu. Untuk hal yang terakhir ini, kerap menjadi


sorotan beliau. Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku


menjadi wanita yang sesungguhnya.

__ADS_1


Kadang aku kasihan pada ibu. Sebab sekian lama berusaha mengubahku, tetap saja aku nikmat


dengan kebengalan yang seperti kata kakek dari ibuku, merupakan penyakit kronis yang butuh


perhatian ekstra. Mungkin ada benarnya juga. Ibu selalu menginginkan segalanya berlangsung


secara instant, mengharapkan aku berubah dalam waktu singkat, sesuatu hal yang sangat


mustahil. Lagi pula, apa susahnya sih menerima orang lain apa adanya dan membiarkan


seseorang menjadi dirinya sendiri?.


Seminggu yang lalu, ibu membersihkan dinding kamarku dari poster-poster David


satu-satunya dirumah telah dilanggar kedaulatannya oleh ibu, dan tentu saja aksi itu tanpa


sepengatahuanku. Ketika aku pulang dan mendapati dinding kamarku telah bersih, aku geram


sekali. Sebagai bentuk protes, aku kelayapan seharian. Ibu merasa kehilangan anak gadisnya


karena tak didapatinya seharian.

__ADS_1


“Berbuatlah apa yang kamu anggap benar”.


“Toh kata-kata sudah lama tak mendapat tempat di telingamu.“


Gendang telingaku menangkap puncak kemaraan ibu, bercampur isak tangis yang tertahan. Jika


ada pemilihan rekor muri siapa anak-anak yang sering menumpahkan air mata ibu itu yang


menyabet medali juara adalah aku.


“Ibu adalah, pembohong ulung yang tidak pernah jujur tentang dukanya”Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku


menjadi wanita yang sesungguhnya.


ibu selalu sabar menghadapiku, terkadang menangis selalu ia gunakan untuk menghadapiku. ibu pahlawan dalam hidup, ia menjadi penopang hidup, ia menjadi penyandar keluh kesah, ibuku tersayang, maafkan aku, aku tak seperti yang kau harapkan, menjadi wanita terbaik seperti yang kau inginkan. teringat masa kecilku, kata mereka diriku selalu dimanja, kata mereka diriku selalu ditimang, kau kan selalu menjadi terbaik, fikirkupun melayang, jauhtak terbayang, ibuku sayang, maaih terus berjalan, walau telapak kaki penuh darah penuh nanah, setiap doa doa kau selalu mengucap namaku terbaik"ya allah jadikanlah anakku menjadi anak yang soleha berbakti kepada orang tua, menjadi generasi penerus bangsa". setiap sujudmu kau bersimpuh agar aku menjadi terbaik didunia. apalah daya, aku ingin menjadi selalu terbaik untukmu ibu. maafkan segala kesalahanku, maafkan segala khilaf dan tak tahu diriku ini. Tak pernah ada


satu titikpun kesepakatan yang mempertemukan kami dalam sebuah persamaan. Semua selalu


menjadi menu rutin perang antara aku dan ibu. Untuk hal yang terakhir ini, kerap menjadi


sorotan beliau. Ibu tak pernah menyerah dan tetap keukeuh dengan usahanya untuk merubahku

__ADS_1


menjadi wanita yang sesungguhnya. satu yang ku inginkan ya allah, jauhkan segala mara bahaya darinya, jadikan ia murah rezeki, panjang umur, sehat selalu, tetap jadi terbaik,


__ADS_2