
Dilema
Aku terinsfirasi dari kisah sepupunya Wina bernama Mira. Sempat aku berfikir untuk
menikah diusia muda, namun menikah adalah proses yang sangat kompleks melibatkan fisik,
pikiran, mental, perasaan dan keberanian dalam menempuh kehidupan yang berbeda. Saat itu
seseorang mulai memvariasikan hidupnya dengan mencoba menjadi bagian dari hidup orang
lain, dan menjalin hubungan yang berasaskan saling melengkapi untuk mencapai satu
kebahagiaan yang ditempuh bersama-sama.
Di sebagian kebudayaan, menikah dan kawin di usia muda adalah hal yang tabu dan
asing, apalagi di zaman modern ini. Di negara lain, justru sebaliknya. Remaja zaman now kalau
belum punya pacar dan belum pernah berhubungan intim, GAK KEREN namanya.
Golongan pertama, lebih mementingkan karir yang belum tentu membahagiakannya dan
membuat hidupnya lebih tenang. Kelompok kedua, terlalu bodoh melihat hubungan seksual
sebatas bukti cinta dan kekinian. Mereka berusaha mencari sebanyak-banyaknya kenikmatan
dunia namun tanpa seseorang yang bisa diajak berbagi suka dan duka di sisinya. Aku merasa
dilema, dihadapkan pada situasi yang membuat saya harus memilih pilihan yang sulit aku pilih.
Pertanyaan semakin mendesakku,
“Membangun masa depan dengan menikah atau memilih (mencari ilmu)?. Keduanya memang
yang akan membuat hidup jadi lebih terarah.
Fikiran mendesakku, aku haus akan air ilmu, namun aku juga miris pada kisah cintaku. Aku
ingin melanjutkan studiku ke S2 agar lebih bisa membanggakan orang tua, namun kebahagiaan
orang tua kan melihat anaknya menikah. Kantor KUA terasa amat jauh ketika para mantan sudah
menuju gerbang pernikahan, aku masih terlentang dengan fikiran yang masih disitu-situ saja.
Laki-laki yang mengajakku menikah banyak, laki laki yang mengajakku untuk melanjutkan studi
juga banyak, ya tuhan. Dada ini sesak, minum sedikit hanya akan membuat rasa haus yang
berkepanjangan.
Menikah adalah ibadah, menuntut ilmu juga ibadah. Banyak menikah saat studi belum selesai
juga bahagia, namun aku kan wanita, rasa takut akan rasa minder laki-laki, jika lebih tinggi masastudiku maka laki-laki mungkin akan minder untuk mendekatiku karena pendidikanku lebih
tinggi darinya.
Aku serahkan ke pada Rab pemilik hati, sekiranya ada laki-laki yang siap meminangku
lebih cepat, maka tidak menutup kemungkinan aku juga akan siap untuk menjadi ratu.
Setiap wanita mungkin memiliki pemikiran yang sama denganku, mau menikah atau
melanjutkan sekolah.
__ADS_1
“Sekolah atau menikah,?”
“Memilih menikah atau kembali melanjutkan sekolah?”.
Pilihan pilihan ini semakin membuat hatiku galau, kata anak muda zaman sekarang, galau
disebabkan ini bulan juni dimana banyak teman dan sahabat menikah, tuntutan untuk menikah
semakin berdatangan baik kerabat ataupun keluarga, disisi lain geralngan untuk melanjutkan
pendidikan ke strata yang lebih tinggi juga semakin membani pikiran, pilihan-pilihan ini menjadi
tak terbendung dan membuatku perlu berhati-hati dalam menentukanya.
Dalam pemikiranku sekolah itu sangat penting sebab sekolah menjauhkan kita dari kemiskinan,
sekolah bisa mengangkat derajat manusia yang lebih tinggi dengan kata lain sekolah membuat
manusia berpikir dewasa dalam bertindak tentunya dalam batas kebenaran, sekolah juga bisa
membuat kita semakin sejahtera ketika ilmu yang kita dapatkan dipergunakan sebaik-baiknya
seperti pepatah “ tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina “
Lain halnya dengan menikah agama mengajarkan ketika kita sanggup dengan umur yang cukup
diwajibkan manusia untuk menikah kalaupun bisa dilaksankan secepat mungkin demi kebaikan,
Didalam agama juga diajarkan ketika menikah maka pintu rezeki akan semakin terbuka
pernyataan ini logis sebab 2 orang manusia menjadi satu hidup bersama, 2 orang manusia
digabung rezekinya sehingga berlipat ganda, ini sebuah keberkahan tersendiri ketika yang
pencipta. Tanpa kita sadar sebenarnya ada di sekeliling kita memilih untuk menikah pada usia
muda dengan berbagai alasan. Lebih-lebih lagi ketika masih berstatus pelajar atau mahasiswa.
Kita juga kerap kali membaca dan melihat kehidupan pasangan muda yang telah menempuh
alam rumah tangga. Ada yang berjalan baik dan ada juga sebaliknya.Banyak yang menilai, menikah di usia muda tidak dianjurkan karena berbagai faktor baik
dari segi psikoloy dan kemampuan ekonomi. Dan bagi yang masih berstatus pelajar bisa
berdampak terhadap pelajaran mereka. Terkait pilihan menikah muda. Berikut ini ada beberapa
pernyataan Yana yang membuatku bisa menentukan pilihan lagi.
'Dalam kelas tadi, ada seorang sahabat bertanya, namanya Rima
“Sri, Menurut anda, pantaskah seseorang yang masih statusnya pelajar dan usianya masih sangat
muda untuk menikah?"
Belum aku jawab, namun Desak Yana menjawab dan jawabannya sangat menarik untukku,"
Katanya.
“Kalau aku memiliki anak perempuan kelak yang minta kawin dalam masa belajar, jika
akhlaknya bagus, manajemen dirinya tersusun, hubungan dengan Allah terjaga, maka akan aku
menikahkan dia. Lebih-lebih lagi kalau satu kelas atau satu universitas. Tapi, kalau anak
__ADS_1
perempuanku yang minta izin menikah tapi akhlaknya buruk dan hanya bisa menyusahkan saja,
dan salatnya di ujung waktu, tentu saja aku tak izinkan ".
Mendengar jawaban itu, Rima ini langsung menilai kalau anaknya Yana nanti berarti belum siap
jadi tak diizinkannya menikah. Namun, pernyataan temenku disebelahku lagi itu berbeda dengan
anggapanku, jawabannya cukup berbeda.Wina namanya.
Katanya, “Kalau anak perempuan saya tu akhlaknya tak jaga, bangun tidur pun lewat lalu saya
izinkan menikah, apa yang bisa diharapkan suaminya?”
“Suami yang baik kah?” Sedangkan janji Allah adalah pria yang baik adalah untuk perempuan
yang baik . Anak perempuan saya belum cukup baik, jadi saya khawatir dia bawa balik calon
yang juga tidak baik.
"Yana pun memberikan nasehat kepada kami, pasangan-pasangan yang sudah menjalani
kehidupan rumah tangga tapi tak berjalan sesuai harapan sabar saja dulu sampai tiba saatnya,
alangkah indahnya berkarya dalam diam seperti kepompong, sehingga bila tiba saatnya kita akan
menjadi kupu-kupu yang indah.“Bila kalian sudah menikah namun kehidupan rumah tangganya kacau balau hal pertama yang
kita lakukan adalah shalat taubat. Karena sebab pernikahan tak harmonis karena suami istri
terlalu banyak dosa. Olah karena itulah perbaiki hubungan dengan sang pencipta,”.
Tandas"Yana"
Nah, “Sekolah atau menikah “ tandasku mengulang pertanyaan tadi kepada Yana,
“Jika kita amati dua kalimat yang masing-masing memiliki makna untuk dijalankan secepatnya
namun kadang yang akan menjalaninya bingung ketika kemudian diperhadpkan untuk memilih
salah satunya.
“Hehe, anda juga pasti akan galau?”. Tanyaku senyum tipis.
“Kalau menurutku, ya menikahlah dulu, baru melanjutkan kuliah”, celetukan Mira yang sontak
membuat kami kaget.
Jika kemudian persoalan sekolah yang manfaatnya sangat besar dibenturkan dengan
pernikahan maka itu tidaklah bijak, sebab kedua pilihan ini masing-masing memiliki manfaat
yang baik, lagi pula diajarkan oleh agama untuk dilaksanakan kedua duanya, menikah itu berkah
dan sekolah itu penting tinggal diri kita sendiri yang memutuskan apakah kemudian memilih
satu diantara dua pilihan ini atau memilih kedua duanya menikah kemudian lanjut sekolah
hehehe.
Selamat menentukan pilihan karena ini juni maka saranku“menikah jika anda punya calon dan
sekolah jika anda ingin berkarir, tetapi akan lebih baik jika menikah kemudian melanjutkan
__ADS_1
sekolah lagi ”.