
Sungguh, rasanya aku benar-benar telah mengenalnya jauh sebelum bumi diciptakan-jauh
sebelum mata adam dan hawa dipertautkan. Bertemu dengannya melalui perantara dunia maya
saja itu sepertinya susah, membuatku menyadari dan mensyukuri kepintaran manusia yang
menciptakan tekhnologi. Dunia internet mempertemukan kami kembali disebuah pagi yang
hangat.
Saat itu ikan air payau hanya sekedar mengintip dan belum berani melesatkan anak panahnya.
Sepertinya ikan air payau ini masih kebingungan untuk memanah lewat arah mana, sebab
Lombok – Yogya bukanlah sekedar puluhan kilometer saja.
Nasib memabawanya ke Yogya. Malam ini aku merasa resah dilanda ketakutan, ditengah
sakit fisik yang aku derita, ia mulai memberikan perhatian kepadaku. “jangan takut Sri, aku
selalu ada untukmu”. Seolah dia tak berjarak denganku. Seolah-olah Yogya dan Lombok hanya
sejengkal saja. Saat itulah Ikan air payau mantap menancapkan anak panahnya. Tepat di ulu
hatiku dan menyemburkan mawar-mawar merah merekah yang dinamakan cinta ke dua. Setelah
sekian lamanya menunggu, akhirnya disebuah sore yang berkabut, dia melepaskanku dari
kebimbangan yang mengekang. Suaranya lirih meminta “maukah kau menungguku pulang?”
cukuppkah buku Bahagia terakhir sebagai hadiah sekaligus mahar?” pernyataan cinta yang amat
tersembunyi dan amat sederhana. Walau Cuma lewat telepon, tetap saja aku bergetar
mendengarnya. Terkadang ia tak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk
mengungkapkan perasaannya padaku, tapi dari getar suaranya diseberang sana, aku tahu betapa
ikan air payau pun telah memanahnya. Aku cinta. Mengapa harus berkolaborasi dengan jarak?.
Tapi tunggu dulu. Pernahkah kau merasakan resah yang tak berujung saat tak mendengar
suara renyah kekasih jiwa?” Harus aku namakan apa relung jiwa yang kehilangan cahaya saat ia
tak menyapa?”
Hari ini tepat hari ke 52 ia tak menghubungiku. Tak seperti biasanya. Normalnya satu
minggu sekali. Dia selalu menyapaku lewat udara, baik untuk sekedar menanyakan keadaanku
atau untuk menceritakan kegiatannya di kota seberang sana. Bahkan ketika aku sakit, dia
meneleponku sejumlah kali aku mium obat. Pagi, siang, malam hari, hany auntuk
mengingatkanku agar obatku jangann dibiarkan kadaluarsa. Kadang dokter yang selalu
mengingatku saja kalah telaten disbanding dia. Tapi hari ini… hari ini sudah 52 hari dia tidakmenelponku, “apakah yang terjadi?”, aku takut terjadi esuatu padanya, karena selama hampir
satu tahun kami membina lewat gugusan bintang dan jalinan awan, dia tak pernah menghilang
seperti ini. Apakah dia akan kembali menghianatiku lagi?’ pergi tanpa kabar dan menghilang
pelan-pelan. Oh jiwa.. berhentilah sejenak untuk cemas. Tidakkah engkau letih untuk merasai?..
Letihlah dan izinkanlah mata ini sekejap saja untuk lelap.
Sore ini aku basuh dengan sholat hajat dan do’a, berharap tuhan melirik gundahku. Tolonglah
wahai Allah, engkaulah yang paling mengerti bahasa jiwa. Lihatlah aku terkapar rasa. Jika ada
sesuatu yang buruk terjadi padanya maka berilah tanda, firasat atau apapun agar aku tahu
keadaannya.
Jangan bisu seperti ini”, kirimkanlah suaranya lewat angin atau lewat daun-daun yang gugur,
kemanakh dia wahai Allah yang maha?.
Habis kuyup sajadahku oleh cairan bening yang letih ditahan oleh kelopak mataku. Tertahan
sendiri disana, mengemis belas ingin turun membasahi pipi. Bujuklah wahai ikan air payau, atau
tidak malaikat lain yang membujuk Allah agar berhenti mencandaiku.
Tak lama kemudian suara HP ku berdering. Aku sontak kaget mendengar suara itu.
“Assalamualaikum”
Ya allah. Benarkah secepat ini do’aku terjawab?
“Waalaikumsalam” isakku hampir saja pecah saat mendengar suaranya lirih, namun suara itu tak
biasa ku dengar, namun taka sing bagiku. Ternyata nomor yang digunakan berbeda, dan
suaranyapun berbeda seperti aku mengenal dari suara itu, suaranya tak asing aku dengar.
“Sri?” suara lirih itu memanggilku dengan Sebutan Sri, dan suara itu aku mulai mencari-cari
dimemori otakku ternyata dia adalah Riko, sahabatku.
“Ya, ini siapa?.
”You see, I can always make you smile, right?”
Riko ya“Ya Sri, kok kamu tahu kalau ini aku?.”
“ya tahu lah dari suaranya sudah aku tanda”.
“Ada apa riko?”.
“Gak ada Sri, Cuma pengen tahu keadaanmu aja”. Tanya Riko dengan lembut.
“Ya, Rik, aku gak papa kok,”. Udah ya Rik, aku tidur dulu?.
“Oh ya, Sri, selamat malam semoga mimpi indah”. Belum sempat dia mengucap salam,
langsung aku matikan telponnya.
“Ya Allah, Bukan Riko yang aku inginkan, kenapa kau memilih Riko untuk menelponku?, aku
butuh Geral, dia yang selalu ku tunggu telponnya.”.
Ya Allah jika sesuatu buruk yang terjadi, maka mohon siapkan aku. Jika seandainya dia
menemukan wajah jiwa lain diseberang sana yang bisa lebih menentramkan hatinya, mohon
siapkan juga jiwaku.
Kring kring kring.. suara HP ku berbunyi, aku mulai mengintip pelan kali saja nomor yang tadi
__ADS_1
milik Riko, kalu benar Riko yang nalpon tak ku angkat. Ternyata setelah aku membuka mata,
ternyata nomornya Geral, kenapa menghilang selama ini?” maaf Sri, aku sengaja berfikir dan
merenung tentang kita, tentang semua”
Ya tuhanku, jika ia meukaiku, maka tolong bilang padanya jangan terlalu dalam sayatannya. Aku
tak ingin membencinya untuk kedua kalinya.
“Aku fikir…”
“Ya?” tak sabar aku mendengar kelanjutan ucapannya.
Aku lelah disini, apalagi yang harus dicari?”
K”uliah juga hampir selesai, aku akan pulang segera. Do’akan ya, insyaallah akhir tahun ini”,
“Maukah kau menunggu sebentar sampai akhir tahun?”Tangisku pecah dalam haru, duhai ikan air payau, tak sebesar ini bahagia yang aku minta, hanya
sederhana saja, aku hanya ingin sekuntum bunga mawar , bukan harta berlimpah seperti yang
dibayangkan.
Berhentilah waktu, dan hilanglah jarak, untuk saat ini saja. Aku ingin mencium tangan keksihku
ini. Sebagaimana Aisyah mencium tangan nabi Muhammad terkasih.
Sri, ?”
Ya, ada apa?. Ingusku menderas bercampur bening air mata.
“Maukah kau hidup sederhana nantinya?”
Ya Allah, senaif itukah aku dimatanya?” dia meragukanku untuk sesusah sebahagia bersamanya.
“Pulanglah. Bawalah dirimu dan cintamu saja, itu cukup bagiku. Burungpun dapat makan asal
mereka mau usaha, apalagi kita manusia, Pulanglah. Insyaallah, Kau akan menemukanku dalam
keikhlasanku untukmu.
“Tuuuutt….tuuuut…. tuuut”…. Pembicaraan terputus setelah beberapa sat lamanya menyemai
rindu yang merekah.
Jarak, maafkan aku. Tak lagi kusalahkan dirimu kini. Sebab mungkin jia kau tak tercipta,
tak akan bisa aku memaknai getar indah ini. Langit mnggantung membentuk banyak gugusan
awan. Ada satu hal yang menarik perhatianku, Kenapa waktu aku berdo’a Allah dengan cepat
mendengar do’aku, padahal aku ingin Geral untuk menelponku. Tapi kenapa Riko yang pertama.
Ahh, sudahlah, mungkin aku terlalu mempercayai tahayul. Tahayul yang dipercayai orang-orang
adalah kalimat pertama yang kamu ucapkan tanpa sadar itu yang benar, yang ke dua hanya
tipuan. Apa benar? Aku tak mau memandangnya terlalu menjadi kepercayaan, aku
berpendidikan tinggi, enggak percaya yang begituan zaman sekarang..Malam pukul delapan, temanku Yana membawa kabar yang tidak mengenakkan padaku,
bahwa temannya di Yogya bernama Dika melihat Geral diYogja jalan bersama dengan orang
lain.
“Cuusssssss”. Ubun-ubun ku seakan balon memuantahkan anginnya, begitu kaget aku
mendengarnya.
darimu.
Saat ini aku tak bisa lagi menganggap falsafah itu sebuah falsafah kosong belaka.
Bagaimana tidak kali ini aku yang menjadi sosok objek menderitanya. Seseorang yang aku cintai
harus rela ku lapas untuk mencari jati dirinya dan memperkokoh pondasi hidupnya sendiri
Mendengar ucapan Yana, aku mulai terkejut dan terdiam sejenak. Sesungguhnya hatiku
remuk redam, bagai kaca jatuh ke batu. Hancur remuk redam, gelisah galau merana. Hanya
karena ia pandai bermain peran saja maka hal itu menjadi tidak tampak pada raut mukanya. Akan
tetapi, air mata itu hampir-hampir tak dapat lagi ku tahan lagi. Iblis sudah datang mengeralng -
geralng dan memberikan hawa panas dalam dirkua. Laki-laki yang aku puja kini telah berpaling,
laki-laki yang sangat hebat itu telah menyayat-nyayat hati dan jantungku.
Dan hal itupun bertambah pula dengan satu perasaan lain yang lebih berbahaya akan perasaanku.
Batang leherku sudah membengkak mau menangis rasanya. Air mataku hampir keluar. Dengan
segera aku minta izin masuk kekamar.
“ Mohon maaf Yan, aku masuk kamar dulu ya, aku memastikan kebenarannya dulu”.
“ Oh ya Sri, kalau begitu aku pulang dulu”.
“Ya, Yan”. “hati-hati dijalan yan,”.
Akan tetapi baru sampai kedalam kamarku, kukunci pintu dari dalam. aku langsung tidur dengan
muka dibawah bantal diatas kasur menangis seedu sedan, menangis perlahan agar tidak terdengar
dari luar.
“Ya tuhaan”. Katanya,”Dia begitu tega, Geral memang sudah keterlaluan, apakah salahku padanya?”. Dalam hati selalu
bertanya tanya.
Beberapa lama kemudian ibu menyadari apa yang sedang aku alami, naluri seorang ibu
tidak pernah salah. Aku menangis kuat-kuat didalam kamar, apakah orang mendengar suaraku
ataukah orang sudah tidur, aku tak peduli namun aku sedikit menutup muka dengan bantal.
Namun dengan tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang diketuk sebanyak tiga kali yang
membuatku terkejut dan langsung duduk dari tempat tidur. Ketukan itu terdengar bersamaan
dengan suara lembut memanggilku
“Sri, Sri!”
“ Lagi dimana, ayo buka pintu. Aku lalu berdiri. karena aku mengetahui yang memanggil adalah
ibu, akupun berkata dengan pelan
__ADS_1
” ya bu, aku ada disini, aku ngantuk dan sakit kepala bu, tapi bentar dulu, aku siap siap ganti baju
dulu”.
“Ya”, jawab ibu.
Ibu memaklumi sikapku, aku memang selalu begitu jika sudah marah.
“Sri, ayo keluar kita makan, sudah larut malam ini”
“Ayo cepat keluar”, teriak ibu sangat kencang.
“Ya bu”.
Aku dengan cepat mengganti pakaian dengan pakian biasa pakaian sehari-hari dirumah. Aku
mencuci muka dan sedikit membasahi rambut disisir dank u sanggul agar terlihat sedikit rapi.
Kemudian ku pakai bedak harum tipis tipis sekedar penambah cahaya di wajah.
Aku berdiri dihadapan cermin besar dan ketika tampak bahwa wajahku sudah terlihat
segar bagai bunga yang baru mekar, perasaanku pun senang sedikit agar sedih diwajahku tidak
diketahui oleh ibu dan ayah, Namun mata agak sedikit membengkak namun ibu sudah tau
keadaanku. Dengan sedikit senyum lalu kubuka pintu kamar dan keluar berjalan keruang tengah
tempat mmeja makan, Aku melihat ibu sedang duduk bercakap-cakap dengan adik.“Tak usah engkau bersedih dengan perkataanya Yana tadi”,
“Jangan bersedih, sepertinya kalian tidak berjodoh”
“Tali yang sudah kita jalin dengan begitu teguh, mungkin akan sedikit kenGer dengan keadaan
yang seperti ini” ucap ibu menghibur, sambil mengabil piring dihadapannya.
“Akan tetapi kita tak perlu marah dengan keadaan”.
“engkau harus ingat, bahwa bertunangan itu artinya hanya mengadu nasip antara orang tuanya
Geral dengan keluarga kita”:.
Aku memang memiliki rencana untuk mengadakan pertunangan dengan Geral, namun apa daya,
Geral lebih memilih wanita lain.
Perkataan ibu menambah cucuran pilu didada, dengan segera aku menatap wajah ibu dan
memotong pembicaraanya,
“sudahlah bu, tidak perlu dibahas lagi”.
“Kita makan saja, katanya lapar” ucapku dengan nada sedikit kesal. Ibu tersenyum dengan halus.
“Sri kau itu cantik, manis, putih, masih banyak kok yang mau sama kamu” kata ibu sambil
memandang kepadku dengan tenang.
“Kau sudah tau sendiri”. Ucap ibu dengan sedikit ngeledek.
Warna mukaku kemerahan. “aku?, aku cantik bu?, “ menegaskan ulang.
“Ya,”jawab ibu seraya memegang tanganku erat-erat.
“Meskipun kau tak kasih tau ibu, ibu mengerti juga akan hati dan batinmu nak”.
Ibunya tau akan perasaanku, dan ibu juga tahu perasaanku untuk Geral sangat dalam sekali.,
walaupun ibu tau memang Geral terlihat anak yang kurang ajar, memang anak yang kurang
sopan.“Nak, kau tau?”.
“Kau cantik, kau harus mencari suami yang terbaik lebih baik dari si dia, sehingga kau tak perlu
menaruh hati pada laki-laki yang tidak baik perangainya”. Mencoba menghibur lagi.
“Itu nyata bahwa kau dan ibu sudah tidak suka dengan sifatnya yang seperti itu, jangan merasa
bersedih, bukan kau yang merasa kehilangan, tetapi dia harus merasa bersalah dan menyesal
karena telah menyia-nyiakan wanita sepertimu”.
“Pertanyaan pertama, apakah Geral akan bahagia dengan wanita pilihannya bu?.
“Hai anakku, hal itu tidak bisa dipprediksi dan ditentukan sekarang. Tak seorangpun yang
mengetahui takdir”.
Didalam perkawinan, kerap kali terjadi hal hal yang tidak disangka-sangka. Berlainan
sekali dengan yang diharapkan. Hidup kita akan terus dilanda oleh cobaan, senantiasa dan selalu
memikirkan bagaimana jalan keluarnya, supaya dia bisa hidup dengan bahagia. Dia akan benar
benar bahagia jika ia menemukan orang yang benar-benar mencintainnya. Dan perempuan itupun
tak akan mendapatkan kebahagiaan jika ia hanya berorientasi pada fisik, harta dan kekayaan
semata”.
Maka dari itu, ibunya berpesan pada Sri, jangan memandang fisik, tapi lihatlah bagaimana
ibadahnya.”.
Ibu selalu berpesan untukku bahwa selalu berhati-hati terhadap orang yang mendekati kita.
“Namun kita juga harus doakan mereka berdua, kita selalu berharap, moga moga cinta diantara
mereka benar benar timbul sesudah menikah.”
“Sudah bicaranya bu?” Tanya Sri sambil menggelengkan kepalanya.
“Ibu kira, Geral akan memilih Sri diantara beberapa orang gadis yang ada di kampong ini”.
“Tak ada paksaan bu” biarkan dia memilih jalan hidupnya”.
Makanan dipiringku sudah mulai terlihat tinggal sedikit, akupun dengan cepat menghabiskan
makanan yang dihadapanku agar segera tidur dan tidak memikirkan apapun tentang seseorangAkupun selesai makan dan langsung minum dan masuk mengunci pintu. Sudah bisa ditebak, aku
mana bisa tidur dengan hati yang masih gundah, masih memikirkan ucapan Yana itu.
Karena merasa belum puas, Aku mencoba untuk menenangkan pikiran agar tidak menjadi
kesedihan yang teramat dalam. Kemudian aku memandangi ponsel didepan diatas bantal, namun
tak ada suara berdering ataupun pesan yang masuk. Sampai malam larut dan malam sudah
menua, aku masih saja belum bisa tidur dengan lelap, hanya mata yang tipis tipis terbuka
__ADS_1
sesekali terpejam.